Untuk Orang-Orang yang Disalahpahami

Saat saya masih duduk di bangku SMP, saya cukup populer. Bukan karena cantik atau pintar. Tapi karena bandel dan berteman dengan anak-anak bandel di sekolah saya. Selain itu, saya tergolong anak yang ramah dan tidak pilih teman. Anak-anak yang pendiam, terlihat aneh, atau tidak disukai kebanyakan orang pun tetap saya perlakukan dengan baik.

Namun mungkin karena cap bandel yang melekat pada saya, saya dua kali ditolak oleh ketua kelas ketika teman-teman sekelas saya mengajukan nama saya untuk menjadi kandidat anggota OSIS. Waktu kelas satu dan kelas dua, ditolak oleh dua ketua kelas yang berbeda, dengan alasan yang kira-kira sama: saya terlalu bandel untuk diajukan sebagai anggota OSIS. Waktu itu saya cuek saja, karena saya juga nggak sudi jadi anggota OSIS. Saya sama sekali nggak mengajukan diri, teman-teman saya yang entah kenapa ingin sekali saya masuk OSIS.

Ketika naik ke kelas tiga, saya masuk kelas unggulan karena selama kelas dua saya selalu masuk ranking tiga besar. Satu teman kelas saya yang tidak suka dengan hal itu dengan pedenya menghampiri saya dan menuduh saya bisa masuk kelas unggulan karena sering mencontek. Padahal sebenarnya saya anak yang terlalu malas untuk mencontek, dan seringan malah memberi lembar jawaban ujian saya ke teman-teman biar mereka bisa nyontek. Saya inget, ketangkep dua kali sama guru karena mengoper kertas ulangan ke teman-teman, saat nilai saya bagus, guru saya mengira karena saya mencontek. Kertas ujian saya dirobek dan disuruh ujian ulang sendirian sambil diawasi guru. Hasilnya nilai saya malah lebih baik dari nilai sebelumnya.

Setelah saya agak sedikit lebih dewasa, saya baru mengerti sebenarnya hal-hal itu cukup menyebalkan. Saya dinilai tidak kompeten hanya dari penampilan saya, hanya dari hal-hal yang terlihat di luar.

Ketika SMA, saya masuk sekolah negeri, yang mana aturannya jauh lebih bebas daripada waktu saya bersekolah di SMP Katolik. Saya jadi malas belajar dan suka bolos. Namun, tanpa saya niatin, pada semester pertama saya masuk ranking 10 besar. Teman-teman sekelas tidak menyangka anak se-slengean saya bisa dapat ranking 10 besar. Anak-anak pintar yang tadinya ngejauhin saya, tiba-tiba jadi ramah tamah ke saya.

Semakin dewasa, bukannya semakin mendingan, saya malah merasa semakin sering dinilai hanya berdasarkan tampilan luar. Packaging saya khas anak kreatif; kaus, celana jeans, rambut gondrong, cuek, merokok, minum. Orang yang tidak tahu saya, mungkin mengira saya tidak kompeten di bidang pekerjaan saya, atau mengira saya “perempuan nakal”.

Ketika saya putus dengan pacar, orang yang tidak mengenal saya biasanya berasumsi saya selingkuh, atau meninggalkan pasangan saya begitu saja. Padahal biasanya yang terjadi sebaliknya, atau saya punya alasan kuat kenapa saya meninggalkan mereka.

Dengan orang yang baru bekerja dengan saya, biasanya saya diremehkan. Dianggap tidak kompeten. Bahkan jika kolega saya melakukan kesalahan kemudian melemparkan kesalahannya pada saya, orang percaya saja. Karena hal seperti ini, saya membiasakan diri untuk detail pada pekerjaan, dan memiliki data tertulis untuk semua brief dan komunikasi berhubungan dengan pekerjaan. Beberapa kali saya berhasil selamat dari “jebakan betmen” rekan kerja karena saya punya bukti dalam bentuk email.

Atau ketika saya ditertawai dan disebut lebay dan drama ketika saya sedang bersedih setelah diselingkuhi mantan pacar yang telah bersama saya selama hampir 7 tahun. Belakangan saya didiagnosa dengan depresi oleh psikolog, dan harus menjalani terapi selama 2 bulan lebih. Saat itu, sebelum saya ke psikolog, kebanyakan orang yang menyebut diri mereka sebagai teman, malah menertawakan saya dan menjadikan saya bahan olokan. Tidak mencoba mengerti seberapa parah sebenarnya kondisi saya.

Ada kalanya saya kecewa ketika dinilai hanya dari tampilan luar, yaitu oleh orang-orang yang saya senangi, atau saya kira mengerti saya. Sampai detik ini, masih banyak orang-orang seperti itu.

Satu hari, pernah ada seseorang yang saya kira sudah mengenal saya cukup dekat, mengatakan hal ini, “Lo berubah dong, Le. Masa mau gitu-gitu aja. Introspeksi. Jangan mabok melulu, jangan boros, belajar masak dan ngurus rumah lah. Jangan suka gonta ganti laki sembarangan. Jangan bandel-bandel amat jadi perempuan.”

Saya bingung dari mana penilaian itu berasal. Karena begini. Sepanjan 2016, saya sudah berhenti mabok, hanya minum-minum secara casual saja. Urusan boros, sejauh ini saya nggak pernah minjem duit sama orang untuk belanja. Malahan, saya hampir nggak pernah minjem duit. Saya memang menghindari hal-hal kayak gitu. Kartu kredit aja nggak pernah nunggak, walau kadang bayarnya minimum, tapi nggak ada yang namanya nunggak.

Selain itu, soal memasak, saya sudah bisa sejak masih di bangku SMP, walau masih ada menu-menu yang belum bisa saya buat simply karena nggak pernah nyoba bikin. Soal beberes rumah, dari SD saya sudah biasa nyapu, ngepel, cuci piring. Di kosan, saya cuci baju dan nyikat kamar mandi sendiri.

Soal cowok, dilihat sekilas sih saya memang seakan-akan gonta-ganti cowok. Tapi sebenarnya saya hanya memilih menjadi perempuan yang tidak mau bertahan dengan orang yang salah dan tidak tahu cara menghargai saya. Saya tidak mungkin bertahan dengan lelaki yang tidak setia, atau suka berbohong, atau mengatur saya secara berlebihan.

Tapi dari situ saya tahu, orang yang tidak tahu soal hidup saya dan perjuangan saya, ternyata menilai saya seperti itu.

Gimanapun juga, dari orang-orang yang menghakimi saya, saya belajar satu hal. Untuk saya tidak menghakimi orang lain hanya karena apa yang terlihat dari luar, atau dari social media. Setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Nggak setiap orang juga senang pamer kelebihan dan kebaikan mereka. Sekali dua kali saya masih gagal melakukan ini, tapi saya berusaha agar saya tidak sesembarangan dan sepicik orang-orang yang suka menilai saya seenaknya.

3 responses to “Untuk Orang-Orang yang Disalahpahami

  1. Saya sih sedari awal kenal dirimu syukurnya tak pernah underestimate dgn dirimu, malah mungkin termasuk dalam jajaran pengagum karya2mu.

    Soal hidupmu yg ga pernah minjem itu malah nambah daftar kekaguman saya, dan soal temen yg menasihati tanpa tau latar belakang sebenernya duh saya malah ngerasa aneh.

    Tetaplah keren dlm hidupmu le. Smoga besok makin lebih dan lebih keren lagi (y)

    *btw aku jd inget pernah foto dgnmu waktu pesta blogger 6 th yg lalu, di folder mana ya naronya lupa, cari ah hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s