Terima Kasih, 2016

Tahun 2016 mungkin bisa dibilang tahunnya kabar buruk untuk semua orang. Banyak sekali postingan di socmed dari berbagai penjuru dunia yang menyatakan bahwa 2016 generally a fucked up year. So sad, but so true.

Represi terhadap minoritas di berbagai negara semakin keras; untuk kaum LGBT, muslim di negara-negara Amerika, minoritas di Indonesia, dan banyak lainnya. Trump terpilih. Perang di Syria, yang terjadi di depan mata kita tanpa kita bisa melakukan apapun yang berarti. Bencana alam. Terorisme. Ahok dipidana (eniwei saya nggak vote Ahok, KTP saya Bekasi). Hate speech dan hoax yang semakin menjamur.

Rasanya semakin gelisah, melihat dan mendengar hal-hal di sekitar saya semakin memburuk. Entah memang semakin memburuk, atau karena arus informasi yang semakin deras dengan semakin banyaknya pengguna socmed.

Di luar itu, tahun 2016 saya diawali dengan depresi yang jauh membaik karena saya akhirnya ke psikolog. Terapis saya membantu saya menyembuhkan trauma dan depresi saya dengan efektif. Dari sana, cara saya menghadapi masalah menjadi jauh lebih baik. Sempat sedikit drop di kuarter ke-dua dan ke-tiga, namun saya lekas kembali ke psikolog saya. Sekarang saya agak sedikit lebih percaya diri dalam menghadapi depresi, karena saya merasa bisa selalu kembali ke terapis saya.

Pertengahan tahun, saya mendapat cobaan yang cukup luar biasa. Menyebabkan saya menjauh dari orang tua selama beberapa bulan (dan di saat itu lah depresi saya mulai relaps). Pada akhirnya hubungan kami kembali membaik ketika ayah saya masuk RS karena serangan jantung. Walau begitu, saya tetap menjaga jarak, karena saya harus mempertahankan kondisi mental saya.

Di tahun ini, saya beberapa kali pendekatan dengan laki-laki, namun pada akhirnya tidak ada yang berlanjut. Karena saya yang belum sreg, dan ada juga yang mundur karena saya memberitahukan soal depresi saya (yang saya lakukan karena pria ini mengutarakan keinginan untuk menikah). Saya jadi lebih selektif untuk urusan cowok karena saya lelah bertemu dengan orang yang salah. Bagaimanapun, ketakutan saya untuk disakiti masih jauh lebih besar daripada keinginan saya untuk settle.

Lalu saya bertemu seseorang yang bisa membuat saya tersenyum, sekaligus murung. Yang mengenalkan hal baru yang kemudian saya sukai. Seorang lelaki egois yang naif, tapi nggak tega kalau melihat ekspresi muka sedih/kecewa saya. Saya menjadi rahasianya, dia menjadi rahasia saya. Tanpa dia tahu, dia juga menjadi salah satu penyebab gejala depresi saya keluar ke permukaan. Dan dari sana saya belajar lebih keras pada diri saya sendiri. Saya belajar menyayangi diri sendiri, belajar egois.

Secara garis besar, ini adalah tahun pertama yang saya jalani tanpa pacar. Kalau dihitung-hitung, mungkin ini pertama kali saya menjomblo setahun penuh sejak 10 tahun lebih. Saya kira akan menyedihkan, di luar dugaan, saya sangat menikmati menjadi single. Jadi lebih punya banyak waktu untuk diri sendiri, sering main sama teman, fokus ke hobi dan pekerjaan. Saya sungguh menikmati masa ini. Sekarang saya mengerti mengapa banyak kenalan saya, wanita berusia 30an, yang enggan menikah. Privilege menjadi wanita single mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan dengan uangnya sendiri sungguh menyenangkan.

Dulu saya sering merasa kesepian dan sendirian ketika sedang jomblo, atau pacar sedang terlalu sibuk. Sekarang, saya sering menikmati sendirian di kamar untuk menggambar, membaca, beres-beres kamar, main game. Kalau seminggu nggak punya me time, saya bisa stress. Sementara saat sendirian, chatting apps di handphone pun tidak saya sentuh.

Saya menyukai kebebasan saya, waktu yang saya habiskan sendirian, sekaligus waktu yang saya habiskan dengan teman-teman saya.

Saya sadar, semua kepositifan ini adalah efek dari sembuhnya depresi saya. Masalah mah tetap datang. Kenangan buruk juga tetap muncul. Namun masalah dan kenangan buruk tidak membuat saya jatuh dalam kesedihan berkepanjangan. Saya punya kemampuan menerima masalah dengan lebih baik. Buat saya, pencapaian terbesar saya tahun ini adalah kesembuhan saya. Akhirnya, saya tahu rasanya menjadi manusia normal yang sedih secukupnya, marah secukupnya, dan bahagia secukupnya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kesedihan dan rasa kesepian (sekalipun saat punya pacar), baru di tahun ini saya merasa hidup sebagai manusia yang penuh.

Saya nggak tahu 2017 akan seperti apa. Tidak optimis, juga tidak pesimis. Saya nggak berharap banyak. Kecuali tentu saja dalam karir dan keuangan. Saya ingin fokus ke sana. Biar bisa jalan-jalan ke luar negri, beli gadget, pokoknya menyenangkan diri sendiri, bukan bikin senang orang lain terus.

Semoga 2016 kalian juga cukup memuaskan, ya. Dan semoga 2017-nya jauh lebih baik!

Advertisements

2 responses to “Terima Kasih, 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s