Dating as a 30 Something Virgin

Nowadays, to admit that you’re a virgin is somewhat humiliating. I don’t feel comfortable telling people the truth about this. I even said to my friends, “Orang sekarang lebih malu ngakuin masih prewong di usia 30 daripada udah sexually active di usia 15.”

However, that’s not my point.

Usia saya sudah kepala tiga, pengalaman berkencan saya juga bisa dihitung dengan dua tangan kalau tidak lebih. Belum dihitung dengan casual dating, atau hubungan tanpa status tapi sudah seperti pacaran.

Selain itu, saya perokok, minum alkohol (tapi bukan peminum), dan berpenampilan metal (meminjam istilah dari beberapa teman). Sehingga, kebanyakan lelaki yang mendekati saya akan terkejut ketika mengetahui saya belum pernah berbuat.

Dan dari situ lah saya menjadi banyak mengalami keraguan dan ketakutan sebelum memutuskan berhubungan dengan laki-laki.

Kalau seorang perempuan sudah sexually active (maksud saya sudah terbiasa melakukan hubungan sexual yang melibatkan kegiatan penetrasj), memulai hubungan biasanya terasa lebih mudah. Karena untuk orang-orang seumuran saya, hubungan seks adalah hal yang wajar untuk dilakukan bersama pacar sendiri. Atau pacar orang.

Atau yang bukan pacar siapa-siapa.

Sementara, untuk saya, aktivitas seksual yang menjadi mandatory dalam perpacaran malah bisa menjadi alasan saya meneruskan dan tidak meneruskan sebuah hubungan.

Ketakutannya ada banyak. Apakah calon pasangan saya menerima kondisi saya yang masih perawan? Apakah ia akan menghormati batasan saya? Jika saya menciumnya dan kita melakukan aktivitas fisik, apakah ia akan mencoba melakukan hal yang lebih dari batasan saya? Apakah jika akhirnya saya memutuskan melakukan hubungan seksual, saya akan siap pada semua konsekuensinya?

Beberapa date saya sebelumnya, saya temukan dari aplikasi dating. Dan kadang saya mendapatkan mereka memiliki asumsi ini terhadap saya: karena saya pakai online dating, maka saya siap berhubungan seksual.

Ketika saya menjelaskan soal kondisi saya, ada yang menerima dan tetap ingin meneruskan hubungan dengan saya, namun ada juga yang langsung mundur. Bahkan ada yang berpendapat saya masih perawan karena mantan-mantan saya “kurang jago”, kemudian bragging kalau saya berhubungan dengan dia, saya pasti mau berhubungan seksual.

Yang terakhir itu sungguh menjijikkan.

Semua laki-laki yang pernah berpacaran dengan saya, tidak pernah berasal dari dating apps. Itu membuat semuanya lebih mudah tentu saja. Kenal, ngobrol, kencan, kemudian saling membuka diri, memaklumi kondisi saya, dan akhirnya jadian.

Namun tentu saja, saya beberapa kali dekat dengan lelaki kemudian mentok di isu keperawanan, dan akhirnya memilih tidak berlanjut karena memahami kami memiliki keinginan yang berbeda dalam soal hubungan.

Isu keperawanan ini semakin menjadi problem dengan bertambahnya usia saya. Membuat saya akhir-akhir ini menyadari bahwa memulai hubungan ternyata lebih sulit bagi wanita yang mengaku masih perawan.

Hampir semua laki-laki selalu menanyakan tentang sexual availability sebelum memulai hubungan. Sebuah topik yang membuat saya tidak nyaman, namun bagaimanapun harus dibicarakan agar saya tidak terjebak dalam situasi awkward saat sedang bermesraan. Atau lebih buruk, terjebak dalam situasi di mana saya dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ingin saya lakukan hanya karena atas nama cinta.

It sucks when you like a guy, and he definitely likes you, but then you have to back off because you’re afraid of him. Afraid when he tries to kiss you on first date, when he touches your waist in a sexual way, or when he looks at you with thirsty eyes.

Dan lo bahkan ga bisa jelasin kenapa lo takut. You like him. But you’re just not ready for any physical things. You need time. You need to build trust. Sementara calon pasangan lo malah mengira lo hanya mencari alasan. Bahwa lo nggak tertarik sama dia.

I used to think, it should be easy. Kalau pasangan lo ga menghargai pilihan lo, ga menunggu consent lo, then it means he just want to have sex with you, not in love with you. If he does, leave.

Tapi semakin ke sini, semakin susah. As sexual activities now a mandatory for relationship. At least untuk orang seumuran saya. You are expected to be ok to do it.

I don’t want to do things just because everybody does it. I want to do it because i want to. I want to do it because i am ready.

It’s so weird to explain my situation everytime i start dating a guy. Even weird when i saw the reactions. Some okay with it, which is good and i ended up dating them. But the ones who are not, makes me thinking if most guys only able to love when sex is on the menu.

Saya merasa gelisah ketika memulai proses pendekatan. Kapan saya harus bilang bahwa saya masih perawan? Apakah jika saya jelaskan, malah akan terlihat seperti sedang sok jual mahal atau sok jadi wanita baik-baik? Apa jika saya biarkan semuanya mengalir, saya akan ended up melakukan hubungan seksual pertama kali hanya karena terpaksa? Apakah ia akan berbuat kasar pada saya jika saya menolak berhubungan?

To find a date as a 30 year old woman is already hard. You’re getting old, sementara banyak gadis muda cantik dan berpengalaman di luar sana. Atau kadang apes ketemu pria yang langsung bilang ingin menikah padahal sebagai wanita yang sudah cukup matang justru saya lebih memilih untuk pelan-pelan. Dan sama seperti pria yang selektif memilih perempuam, wanita berusia 30an juga menjadi lebih selektif. Kami punya karir, penghasilan, hobi, dan cukup content dengan kehidupan kami, sehingga “asal lakinya mau ama gue” sudah tidak cukup.

Ditambah lagi jika kamu seorang perawan.

Tapi kan masih ada cowok yang juga maunya sama perawan?

This is the truth, cowok yang mengidam-idamkan nikah sama perawan justru cowok yang paling harus dihindari.

Lah malah babbling…

Intinya. It sucks when you met a guy you like, but you can’t be with him because you’re not ready for the actual sex.

Advertisements

One response to “Dating as a 30 Something Virgin

  1. I feel you. Too afraid to be pushed to perform the sexual act, and too afraid to be judged when the act has been done. Both pulling from different sides. And relationship not supposed to mean the agreement of doing sexual things. Yes, the sexual tension is there, but it really need a huge trust and consciousness to take a decision. Loving someone should not mean let that person overrule our decision-making process, should it?

    hug

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s