Tentang Trauma

“I’m happy to see you being content even when you’re single.”, ujar sahabat saya suatu hari.

Saat itu saya sadar, iya juga, ya… Saya single, dan bahagia. Tidak merasa kesepian, atau sedih. Saya menikmati kesendirian saya. Walau tidak ada lagi percakapan tengah malam dengan lawan jenis, ngedate saat weekend, dan hal-hal seperti itu.

Sudah hampir satu tahun saya benar-benar selibat. Tanpa pacar, tanpa so-called FWB, HTS, TTM, dan sejenisnya. Well memang masih ada hal-hal kecil seperti flirty chatting, atau casual dating, tapi jarang. I always ended up sibuk sendiri dan melupakan teman ngobrol “lucu-lucuan” saya.

I thought i was being content, i was full, i was mentally healthy.

Until one day, someone came into my life.

To this person, i told him, don’t expect anything from me. He said he loves me. I said i’m sorry. I asked him to just enjoy what we had. I thought i can handle him. But i gotta admit, i started to grow feelings over him.

Dari sana, saya menjadi “rusak” kembali.

Nightmares, concentration problems, loneliness, paranoia, negative thoughts, anxiety, self-loathing, suicidal tendency, they came back. Dan mereka datang dengan perlahan-lahan tanpa saya sadari. Sedikit demi sedikit, tiba-tiba saya menemukan diri saya kembali ke tahun di mana saya diselingkuhi 4 tahun lalu.

Saat itu, saya menyadari. Saya bukan “tetap bahagia tanpa memerlukan pasangan”. Saya justru takut pada relationship itu sendiri.

Saya merasa nyaman ketika memiliki kontrol terhadap perasaan saya. Ketika saya mulai merasakan yang namanya “sayang”, hal-hal horror yang pernah saya lalui seperti kembali lagi. Ketakutan akan ditinggalkan, ketakutan akan dibohongi dan diselingkuhi. Pikiran saya penuh dengan hal-hal negatif yang memutar ulang semua kejadian pahit yang pernah saya alami.

I’ve been playing save by not letting myself to fall in love. Because when i do, all those pain, they come back.

I feel fucked up, and i want to runaway from these feelings. But it’s too late. I already felt it. It’s inside me now. Saya tidak menyangka bahwa saya segitu traumanya dengan hubungan dan perselingkuhan.

I wish i can fix myself. I wish i can just shut myself down and not feeling anything.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s