All The Wrong People in Your Life

Feelings are very complicated things.

Add depression into that, and you got permanent storms in your mind.

Saya suka ketika kehidupan saya teratur. Bangun pukul 8, olahraga sedikit, hanya planking 2 menit. Dilanjut mandi, berangkat ke kantor, kerja, pulang pukul 7 malam. Dilanjut nongkrong dengan teman, 2 hari seminggu olah raga di Stadion Soemantri, pulang malam untuk santai, mengerjakan sidejob, atau maskeran sebelum mandi dan tidur.

Beberapa bulan belakangan ini, semua keteraturan itu mulai berantakan. Dari mulai ayah saya sakit, dan sebagai tulang punggung saya harus menyisihkan jam-jam saya untuk bekerja di luar jam kantor demi mencari uang tambahan untuk membiayai keperluan ayah saya. Selamat tinggal olah raga, selamat tinggal tidur nyenyak 8 jam. Tapi, sebenarnya sebelumnya saya baik-baik saja. I had everything managed. Double job? Easy. Paying for therapy for my dad and all the medicines he needs? Easy, my other jobs paid me well.

But things don’t always run that easy. Dengan semua hal yang harus gue lakuin, ternyata ada aja hal-hal yang masuk dalam hidup dan menambahkan masalah. Then here’s come overthinking that lead to more serious problems; penyakit-penyakit yang muncul dan mengacaukan keteraturan gue, dan orang-orang yang muncul dalam hidup gue dengan membawa masalah dan bukannya ketenangan.

Last week, i almost burst into tears when i told my friend, “I feel like shit. Hidup gue jadi berantakan karena penyakit-penyakit sepele gue.”

Gimana nggak sepele… mulai dari gejala tyfus, asam lambung, gondongan (like seriusly, gue gondongan dan bedrest 5 hari di umur segini), gue sudah menghabiskan semua jatah reimbursement kesehatan, mulai sering gak masuk.

Gue makin sering menghabiskan waktu overthinking tentang semua problem dalam hidup gue, yang sedang gue cari solusinya. Gue kerja kerja untuk ngurusin ortu gue, tapi jadinya gue sakit-sakitan. Dan karena sakit, banyak hal yang gak bisa gue capai sebanyak yang gue inginkan. Kemudian gue juga jadi overthinking karena stress nggak bisa ngelakuin hal-hal sesuai keinginan gue.

Gue merasa, kalo gue nggak depresi, mungkin gue bisa ngejalanin semua ini dengan lebih teratur.

Kadang gue diceramahin, mungkin gue sakit-sakitan karena makan gue gak bener. Susah ngejelasinnya, sih. Makanan gue sehari-hari adalah nasi merah, sayur, oatmeal, dan buah. Hanya sesekali gue makan junkfood dan indomie.

Lalu diceramahin, gue kurang olahraga. Sekedar jalan kaki 3 km sehari masih gue jalanin. Tapi di luar itu, gue gak punya waktu dan tenaga untuk olahraga teratur. Kalau ada waktu kosong, gue maunya istirahat. Literally doing nothing. Atau ketemu temen-temen gue untuk mengurangi stress. Ditambah lagi gue sakit-sakitan.

Atau diceramahin, gue kurang tidur dan kebanyakan kerja.

Errr… i got mouths to feed. How can i be relax and reduce my workload when i need all the money i can get? Bisa liburan beberapa hari tanpa di-judge “Papanya lagi sakit, kok bisa-bisanya dia liburan?” aja udah bagus.

Dan gue harus ngerasa overwhelmed dengan semua ini. Gue ngambil sidejob banyak-banyak, dibilang nggak sayang badan. Gue liburan, dibilang gak mikirin orang tua. Di antara semua masalah gue, gue masih harus menghadapi hal-hal sepele seperti ini.

On top of that, masih ada saja orang yang masuk ke dalam hidup saya dan ngacak-ngacak semuanya yang udah berantakan jadi tambah berantakan.

Di kepala saya, semuanya berputar tanpa henti, saya nggak dibiarkan istirahat.

I want to be calmed. I want my peace of mind.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s