Psikolog atau Psikiater?

Salah satu pertanyaan yang muncul pertama kali ketika saya sudah meyakini diri saya menderita depresi, adalah apakah saya harus mencari pertolongan ke psikolog, atau psikiater?

Ini mungkin salah satu pertanyaan awal yang paling esensial untuk orang yang merasa dirinya sakit mental.

Saran saya, ada baiknya sebelum memutuskan mencari bantuan professional, kenali dulu gejalamu dan coba lakukan tes/screening singkat.

Di bawah ini ada beberapa situs untuk melakukan tes singkat. Namun mohon diingat, tes ini BUKAN DIAGNOSIS. Hanya karena kamu mengisi kuisioner di bawah ini, bukan berarti kalian betul-betul mengidap penyakit mental.

Namun, tes ini bisa digunakan sebagai rujukan saat kalian nanti akan ke psikolog atau ke psikiater agar kalian lebih mudah menjelaskan tentang diri kalian.

Tes Depresi (dalam bahasa Indonesia)

Tes Gangguan Cemas (dalam bahasa Inggris)

Tes General (dalam bahasa Indonesia)

Setelah kalian melakukan salah satu tes di atas dan sudah yakin bahwa kalian membutuh bantuan professional, simpan hasil tes untuk nanti ditunjukkan kepada tenaga professional.

Kemudian, pertanyaan utamanya. Apakah saya harus ke psikolog atau psikiater?

Ketika awal menyadari diri saya depresi, saya memutuskan untuk ke psikolog karena saya tidak ingin mengkonsumsi obat. Selain itu, pada masa itu, ketika saya mencari informasi tentang harga kunjungan psikiater dan psikolog, yang saya dapat, harga kunjungan psikiater lebih mahal. Sayangnya, pada masa itu saya tidak menemukan artikel berbahasa Indonesia yang menjelaskan perbedaan antara psikolog dan psikiater. Akhirnya saya memutuskan ke psikolog.

Tahun ke-3, saya mengalami depresi kembali. Kali ini, tanpa sengaja saya malah pergi ke psikiater. Sampai sekarang, saya masih berobat jalan dan kontrol ke psikiater.

Sejauh ini, penanganan professional yang sudah saya jalani adalah sbb:

  • Satu psikolog selama 2x 3 bulan dimulai dari Oktober 2015.
  • Satu psikolog online via apps Riliv.
  • Satu konselor online via saveyourselves.id.
  • Dua psikiater yang berbeda. Yang pertama sekitas 1,5 tahun mulai dari November 2018, dan sejak bulan Mei saya beralih ke psikiater lain karena kesulitan jadwal yang disebabkan pandemi. Dari November 2018 hingga sekarang saya belum pernah putus obat.

Tentu saja saya tidak bisa mengatakan secara eksplisit mana yang lebih baik antara psikolog dan psikiater karena semua itu tergantung kebutuhan masing-masing, namun berdasarkan pengalaman saya sebagai pasien sejak 2015, saya bisa membantu memberikan gambaran sebagai pertimbangan.

Pilihlah Psikolog jika:

  • Anda ingin menghindari pemakaian obat-obatan.
  • Anda memiliki gangguan kognitif, misalnya, tidak bisa membedakan mana pemikiran yang paranoid, mana yang sesuai kenyataan.
  • Anda memiliki gejala trauma atau phobia.
  • Walau anda stress, tertekan, maupun sedih berlebihan, anda masih bisa bekerja, tidur, dan makan.
  • Apa yang anda rasakan, belum melewati jangka waktu 2 minggu.

Apa yang akan anda dapatkan dalam kunjungan ke Psikolog?

  • Assesment. Psikolog pasti akan mencari tahu apa yang Anda rasakan, apa saja hal yang mempengaruhi hal tersebut, dan bersama Anda, mencari tahu apa yang sebenarnya Anda rasakan/alami.
  • Terapi sesuai dengan gangguan yang Anda alami.
  • Anda akan dibantu menyelesaikan trauma (jika ada).
  • Anda akan dibantu untuk berpikir dengan lebih jernih.
  • Kesempatan yang cukup banyak untuk menceritakan keluh kesah Anda dan penanganan yang berfokus pada tiap masalah Anda.
  • Kunjungan 1x seminggu dengan biaya 350-650ribu tergantung pada Psikolog/Rumah Sakit pilihan Anda. Namun, jika kesulitan dalam biaya, Anda bisa negosiasi dengan psikolog untuk diubah menjadi 2x seminggu, bahkan 1x sebulan tergantung pertimbangan Psikolog Anda.
  • Jika kondisi Anda memang membutuhkan bantuan obat-obatan maupun kunjungan ke Psikiater, Psikolog pasti akan merujuk Anda untuk bertemu Psikiater. Yakin lah Psikolog Anda akan mampu menilai bantuan dan jenis pengobatan yang Anda perlukan.

Pilihlah Psikiater jika:

  • Anda tidak memiliki masalah untuk mengkonsumsi obat.
  • Anda bersedia dan siap untuk disiplin meminum obat, terutama jika ternyata Anda diharuskan mengkonsumsi dalam jangka panjang (sejauh ini saya hampir 2 tahun mengkonsumsi obat agar bisa berfungsi dengan normal).
  • Kehidupan sosial dan pekerjaan Anda sudah terganggu secara signifikan sehingga Anda tidak bisa bekerja dengan baik, nyaris dipecat atau menerima teguran keras, kesulitan bertemu dan berkomunikasi dengan teman karena Anda merasa kacau dan ingin menyendiri.
  • Jika depresi, Anda menunjukkan gejala depresi berat seperti kesedihan yang bertahan lebih dari 2 minggu, tidak bisa makan berhari-hari, tidak bisa tidur berhari-hari, emosional berlebihan, suicidal bahkan melakukan self-harm.
  • Anda mengalami halusinasi atau mendengar suara-suara.
  • Hidup Anda sudah berantakan karena penyakit Anda (kehilangan pekerjaan, tidak mandi berhari-hari, ketergantungan alkohol, tidak membersihkan kamar/rumah berhari-hari hingga sampah menumpuk, tidak keluar kamar berhari-hari, etc)

Apa yang akan anda dapatkan dalam kunjungan ke Psikiater?

  • Tentu saja semua diawali assesment agar Psikiater mengetahui detail masalah kesehatan mental Anda.
  • Terapi sesuai dengan gangguan yang Anda alami, jika memang dibutuhkan.
  • Diresepkan obat sesuai dengan penyakit yang Anda alami. Perlu dipahami, karena kondisi tubuh dan mental manusia yang berbeda-beda, dalam prosesnya Anda akan harus mencoba-coba berbagai jenis obat maupun dosis hingga mendapat obat yang cocok.
  • Jika Anda mengalami ngantuk/lemas/teler dalam waktu lama setelah minum obat, jelaskan kepada Psikiater Anda agar obat/dosisnya disesuaikan.
  • Psikiater Anda akan menjelaskan tentang obat Anda, bagaimana cara mengkonsumsinya, dan apa efeknya. Jika Psikiater Anda tidak menjelaskan, Anda berhak menanyakan.
  • Kunjungan awal biasanya 1x dalam 1 atau 2 minggu dengan obat yang diresepkan sesuai dengan jangka waktu tersebut. Jadi, setelah Anda mendapat obat, anda tetap harus kontrol ke Psikiater. Jadwalnya bisa 1x seminggu, 2x seminggu, hingga 1x sebulan. Untuk saya yang pasien tahunan, saya sudah diperbolehkan kunjungan 1x sebulan, kecuali jika saya tiba-tiba mengalami gejala lebih parah dari biasanya.
  • Biaya kunjungan berkisar 180-650ribu tergantung Dokter dan Rumah Sakit.
  • Biaya obat sekitar 400ribu-2 juta perbulan tergantung penyakit Anda.
  • Jika membutuhkan terapi tambahan dengan Psikolog, pasti akan dikomunikasikan oleh Psikiater Anda.

Begitulah kira-kira hal yang bisa menjadi pertimbangan.

Sebagai penderita penyakit mental dan pasien, saya pribadi menyarankan agar Anda ke psikolog dahulu sebelum memutuskan ke psikiater. Agar Anda belajar dahulu mengenali penyakit Anda, akar masalah, dan menjernihkan kemampuan kognitif Anda.

Saat berkunjung ke professional, jelaskan lah kondisi Anda dengan jujur. Jangan dikurangi, ataupun dilebih-lebihkan. Jika Anda tidak memberi penjelasan yang jujur dan detail sangat mungkin terjadi misdiagnosis dan mendapat penanganan yang tidak efektif.

However, menurut pengalaman saya, jikapun Anda tidak jujur, pada akhirnya terapis Anda bisa mengetahui dan menilai sendiri.

Atau di lain hal, jika Anda tidak mengenali kondisi Anda sendiri, terapis Anda akan mampu mengenali itu walaupun mungkin dalam assesment yang berkali-kali. Pada 2015, saya didiagnosa dengan depresi. Namun, ketika saya ke Psikiater, pada kunjungan ke 7 atau 8, Psikiater saya mampu mengenali gejala lain yang tidak pernah saya sadari, yaitu Bipolar Tipe II. Saya sendiri tidak pernah merasa saya Bipolar. Namun itu lah fungsi kontrol ke dokter tiap minggu/bulan, agar terapis kita bisa melihat dengan jelas dan mengetahui semua masalah atau penyakit kita. Perkembangan maupun kemundurannya.

Semoga artikel ini bisa membantu teman-teman yang concern dengan kondisi mentalnya dan masih bingung untuk memilih ke psikiater atau psikolog. Pada dasarnya, keduanya sama-sama membantu. Mungkin semuanya tergantung preferensi, jenis penyakit, dan seberapa parah kondisimu.

Jika ingin dibantu memilih, silakan tinggalkan komentar di sini, atau kontak saya di twitter @marialnth. Tapi mohon diingat, saya bukan dokter. Saya hanya pasien. Saya hanya bisa memberikan saran berdasarkan pengalaman dan pada akhirnya semua kembali kepada diri kalian masing-masing.

Dan yang perlu diingat, ke Psikolog atau Psikiater tidak sama dengan mencap diri Anda gila. Kita berhak mencari pertolongan yang kita butuhkan agar bisa hidup dengan lebih baik. Jangan pernah mencap buruk orang yang pergi mencari bantuan professional.

Sekian, dan semoga lekas sembuh 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s