7 Tanda Bahaya di Akun Social Media Pacarmu

Social media itu barang kali sering jadi sumber masalah dalam relationshit. Tapi menurut saya pribadi, bagaimana cara pasanganmu menggunakan dan berinteraksi di social media sebenarnya bisa jadi indikator yang penting untuk kepribadiannya. Orang-orang yang sering selingkuh, misalnya, saya perhatikan memiliki kebiasaan yang sama dalam menggunakan social media.

Banyak alasan yang digunakan untuk tidak mementingkan perilaku di social media, salah satunya yang paling sering saya dengar adalah, “Ini cuma social media. Apa yang ditampilkan di social media kan berbeda dengan kehidupan nyata.”

Continue reading 7 Tanda Bahaya di Akun Social Media Pacarmu

With or without you

That I would be good, even if I did nothing

That I would be good, even if I got the thumbs down

That I would be good if I got and stayed sick

That I would be good even if I gained ten pounds

That I would be fine even if I went bankrupt

That I would be good if I lost my hair and my youth

That I would be great if I was no longer queen

That I would be grand if I was not all knowing

That I would be loved even when I numb myself

That I would be good even when I am overwhelmed

That I would be loved even when I was fuming

That I would be good even if I was clingy

That I would be good even if I lost sanity

That I would be good

Whether with or without you

That I Would Be Good – Alanis Morissette

*Hiding in my bathroom while trying to stop my tears and questioning why this pain still hurt after all these years. I wish I have the courage to kill myself and stop this pain. I’m tired.*

Sylvia Plath dan Overthinking Tengah Malam

Pertama kali saya mengenal Sylvia Plath, mungkin tahun 2014. Ketika depresi mayor saya relaps, namun saya belum menyadari bahwa saat itu saya depresi. Saat itu, saya kira, yang saya rasakan adalah galau. Meski saya tahu, seumur hidup saya belum pernah merasakan kesedihan sesakit itu.

Continue reading Sylvia Plath dan Overthinking Tengah Malam

Hidup dengan Bipolar dan Depresi

Hi, nama saya Lea. Saya didiagnosa dengan depresi pada tahun 2015, depresi saya relaps pada tahun 2014. Setelah terapi dengan psikolog pada tahun 2015-2016, saya beralih ke psikiater pada tahun 2018, ketika depresi saya kembali relaps, berlanjut hingga sekarang. Pada tahun 2019, saya mendapatkan diagnosa tambahan; bipolar. Tahun ini, 2020, saya beralih psikiater, dan mendapatkan diagnosa bipolar. Sejak 2018 hingga sekarang, saya mengkonsumsi obat penenang dan anti-depressant agar saya bisa berfungsi dengan normal.

Continue reading Hidup dengan Bipolar dan Depresi

Psikolog atau Psikiater?

Salah satu pertanyaan yang muncul pertama kali ketika saya sudah meyakini diri saya menderita depresi, adalah apakah saya harus mencari pertolongan ke psikolog, atau psikiater?

Ini mungkin salah satu pertanyaan awal yang paling esensial untuk orang yang merasa dirinya sakit mental.

Saran saya, ada baiknya sebelum memutuskan mencari bantuan professional, kenali dulu gejalamu dan coba lakukan tes/screening singkat.

Continue reading Psikolog atau Psikiater?

Hari di Mana Saya Mati

Masih segar di ingatan saya. Taipei, Januari 2014. Minggu yang sangat sibuk sekali. Bangun pagi, kemudian sibuk mengecek presentasi hasil market research di hari sebelumnya, mandi, dan harus sampai di hotel tempat workshop berlangsung pukul 8 pagi.

Sesampainya, kami langsung sarapan, pukul 9 mulai workshop hingga pukul 4 sore, dilanjutkan kembali ke hotel tempat kami menginap, buru-buru ganti baju, lalu berangkat lagi ke kota lain untuk melakukan market research. Pukul 10 malam kami kembali ke hotel, buru-buru menyusun hasil market research kami lengkap dengan foto.

Pukul 12 malam, sebelum tidur, saya menghubungi pasangan saya saat itu. Hanya bisa ngobrol sebentar. Saya tanya mengapa ia tidak responsif padahal saya hanya punya sedikit sekali waktu luang untuk menghubungi ia. Jawabnya, “Ya aku lagi me time aja mumpung kamu nggak di sini.”

Ada lubang yang tercipta di dada saya mendengar kalimat itu.

Continue reading Hari di Mana Saya Mati

SEXUAL COERCION IS RAPE

Sudah sebulan lebih saya stay di dalam kamar, hanya keluar 2 kali untuk ke rumah sakit dan belanja bulanan. Situasi masih belum membaik, bahkan diramalkan, puncak pandemi COVID-19 di Indonesia baru akan terlihat pada bulan Juni-Juli.

Mungkin saat ini sebagian besar orang sudah karantina mandiri di rumah, atau ada yang dipecat karena perusahaannya bangkrut, atau dirumahkan tanpa gaji. Dan kini pengguna social media menjadi lebih cerewet dan reaktif dibanding sebelumnya.

Anyway.

Ada salah satu topik di media daring yang mencuri perhatian saya. Mungkin istilahnya “sex and tell”? Beberapa kali saya melihat thread di twitter yang membahas isu tentang perempuan yang ditinggalkan begitu saja setelah berhubungan badan.

Saya nggak mau bahas gosipnya, tapi dari isu seperti ini, saya belajar mengenali sebuah term; sexual coercion.

Sexual coercion, menurut artikel ini, didefinisikan kira-kira sebagai berikut:

Aktivitas seksual yang tidak diinginkan yang terjadi karena tekanan non-fisik, termasuk diantaranya:

  1. Terpaksa dilakukan karena lelah dengan ajakan/permintaan untuk berhubungan seks yang berulang-ulang.
  2. Dibohongi/dibujuk/dirayu/dijanjikan sesuatu (yang tentu saja janjinya palsu) untuk memanipulasi korban agar mau diajak berhubungan badan. Misalnya; mengaku single, janji akan menikahi, pura-pura sayang dengan tulus, pura-pura baik dan perhatian, misleading dan manipulasi agar korban mengira bahwa mereka “berpacaran”, dan masih banyak lagi.
  3. Mengancam putus atau akan membuka aib/informasi pribadi korban jika tidak ingin melakukan hubungan seks.
  4. Relasi kuasa, menggunakan jabatan atau posisi otoritas untuk menekan seseorang agar mau berhubungan seks dengannya.

Ada berapa di antara kalian yang berhubungan seks karena alasan di atas?

Diancam putus, dijanjikan akan dinikahi, dirayu dengan kata-kata sayang, atau dimanipulasi dengan menciptakan situasi seakan-akan kalian berdua sedang dalam hubungan pacaran (lalu kemudian pelaku akan bilang, “Loh, kita kan gak pacaran. It’s just sex.”), atau bahkan dengan mengaku single padahal sudah punya pacar atau istri.

Ada beberapa kasus yang dialami oleh orang yang saya kenal.

Misalnya, katakanlah, Andi dan Ani. Andi mendekati Ani, mulai dari chat, kemudian ketemuan, kemudian ngedate, setiap hari teleponan, seminggu sekali jalan selayaknya orang pacaran biasa. Ani mengira status mereka berdua sudah menjadi “pacaran” karena semua treat yang dilakukan Andi seperti itu. Suatu hari, Andi mengajak Ani liburan ke luar kota, kemudian mereka berhubungan badan. Seperti itu selama berbulan-bulan.

Lalu Ani memergoki Andi ternyata juga jalan dan tidur dengan perempuan lain. Ani marah, ia langsung mengkonfrontasi Andi. Dan dengan enteng, Andi menjawab, “Loh, kita kan bukan pacaran. Memang aku pernah bilang kalau kita pacaran?”

Ani menjawab, “Tapi aku sudah berhubungan badan sama kamu! Harusnya kamu tanggung jawab.”

“Loh, tapi aku kan gak pernah maksa untuk berhubungan badan. Kita melakukan itu karena suka sama suka. Kamu gak pernah nolak, kok.” kilah Andi.

Tidak, Andi. Apa yang kamu lakukan adalah sexual coercion. Bagaimana jika sebelum kalian berhubungan badan, kamu bilang ke Ani, “Hi Ani, aku ingin bermesraan dengan kamu dan melakukan hubungan seks. Tapi perlu kamu ketahui, aku nggak ingin kita pacaran, dan aku juga memiliki partner seks yang lain selain kamu.”

Apakah jika Andi jujur dari awal seperti itu, Ani mau berhubungan badan dengan Andi?

Jika jawabannya Ani tidak akan mau berhubungan badan dengan Andi, apa yang dilakukan Andi adalah manipulasi dan dikategorikan sebagai “pemerkosaan”.

Contoh kasus lain. Sebut saja Budi dan Bebi. Budi berkenalan dengan Bebi, dari perkenalan itu, Budi mendekati Bebi. Mulai dari chat, ngedate, akhirnya suatu hari Budi “nembak Bebi”. Beberapa bulan kemudian, akhirnya Budi dan Bebi berhubungan badan. Mereka bahagia. Sampai suatu hari… Bebi mengetahui bahwa Budi ternyata sudah punya istri/pacar.

Sambil menangis, Bebi bilang, “Kok kamu tega? Aku pikir kamu serius sama aku.”

Dan Budi hanya menjawab, “Maaf, aku betul-betul sayang sama kamu. Tapi aku nggak bisa meninggalkan pacar/istri aku. Hubungan seks kita kemarin-kemarin karena aku benar-benar sayang sama kamu.”

Apakah jika Budi jujur dari awal bahwa ia punya pacar/istri, Bebi akan mau berpacaran dan berhubungan seks dengan Budi?

Jika tidak, sekali lagi, itu adalah sexual coercion. Pemerkosaan.

Ada lagi, Cipto dan Citra. Citra belum pernah berhubungan badan, lalu bertemu Cipto. Pedekate dan jadian. Awalnya hanya pegangan tangan, lama-lama ciuman, lalu semakin lama berhubungan, mereka semakin jauh. Suatu hari Cipto dan Citra terlalu jauh, Cipto menarik celana dalam Citra.

Citra meminta Cipto tidak melakukan penetrasi, Cipto menjawab, “Aku nggak janji.” kemudian tiba-tiba ia melakukan penetrasi tanpa mempedulikan jeritan Citra. Citra dalam kondisi bingung. Ia sayang dan percaya pada Cipto, tapi ia tidak yakin ingin melakukan penetrasi. Namun detik itu, Citra tidak berani untuk melawan karena Cipto adalah pacarnya, dan mereka sudah terlanjur telanjang. Citra menyalahkan dirinya dan berpikir bahwa dia lah yang membuat hubungan badan ini terjadi.

Itu, sexual coercion. Cipto memanfaatkan status hubungan mereka, memanfaatkan situasi, dan memanipulasi Citra agar tidak berani untuk menolak berhubungan badan. Pemerkosaan.

Tentu saja, pembelaan yang paling common adalah, “Tapi saya tidak memaksa, kok. Kami sama-sama suka. Sama-sama menginginkan. Toh ceweknya gak nolak, malah doyan.”

Tapi jika pelaku jujur, terbuka soal ekspektasi, situasi, kondisi, dan statusnya, dan menjelaskan apa yang dia mau serta tidak menuntut, apakah pasangannya akan mau diajak berhubungan badan?

Jika tidak, maka, yang kamu lakukan adalah sexual coercion.

Jadi… sudah berapa perempuan yang kamu “perkosa”?

A note from me about COVID-19

I want to write this, because i hope, when this shit pass, i can re-read it, and remember, there was this time. We’re officially having pandemic, and COVID-19 is the name of this pandemic.

I read about this virus in February. At first i thought this would be like SARS or MERS, like, it’s still huge and dangerous, but the impact still can be handled. Boy, i was wrong. The moment i heard Wuhan city (where’s the virus first found) being locked down, i knew it’s gonna get very ugly.

Today, is my 11th day of self-isolating. I only went out once, to the hospital, because before i had to be hospitalized for 4 days due to typhoid. I had to go back to hospital for control and medicines. I went to a cafe before that with my friends, a day after i got out from hospital. But then, nothing.

I can’t even see my friends or my mom because i’m afraid i may have the virus. Though, it’s been 11th day and i feel okay. But i heard and read a lot of bad news. By today, Indonesia, my country, has 1046 of COVID-19 cases, 46 people cured, but 87 people couldn’t make it. This country is one of the country with highest rate of mortality.

In world wide, we have total 552.598 cases, with more than 25.000 deaths, and and around 128.000 recovered.

I heard a lot of bad news in my country. How some people still hang out to bar and coffee shops, throw wedding ceremony and other events with large crown, not realizing how dangerous our condition is. This freaking virus spreads easily, and crowds are its favorite thing. Also how some people died in poor conditions, how bad is the hospital service, how poor is the patients being treated, how we are not ready for this condition.

I really don’t know if i can make it out from this. I mean, i may caught the virus from the food deliveries and stuffs. It’s also bad for money. We’re fucked up, and half of Indonesians can’t see how fucked up we are they keep hang out spreading viruses to other people.

Tomorrow i should go to hospital to get my depression meds. I am so afraid. Among other things, hospital is one of the places i scared the most. I’m afraid i would catch the virus here. But i also can’t afford to live without my medicines, especially in time like this where my anxiety kind of spiked up. I started getting trouble sleeping even though i’ve drink my meds for that.

I really hope, we could go through this as soon as possible. I hope, we don’t have to learn our lessons in hardest ways, like, lost one of our family members, or friends. I know people already went through that, or are still struggling with it. I hope you guys can through this.

Hopefully in couple months, or sooner, we can go out again, everything get back to normal.

When that day come, i want to gather with my friends, rent a villa, and have fun. I will take my mom to a very nice dinner.

Stay healthy, guys. Keep your distance from other people, stay at home, self-isolate when you think you got the virus, and, be safe.

An Episode

Saya melangkahkan kaki lebar-lebar. Bergegas pulang. Langkah saya terhenti beberapa detik ketika berada di atas jembatan penyeberangan. Satrio selalu macet seperti biasa, dengan lampu-lampu kendaraan berwarna merah dan kuning.

Dada saya sesak. Sesuatu seperti hendak meledak. Saya tahu perasaan ini. Saya tahu jika saya tidak lekas pulang, saya akan pecah di antara kerumunan.

Beberapa detik, saya terpaku memandang sepanjang Satrio. Saya merasa tidak nyata. Saya merasa mengambang di antara realita dan kekosongan.

Saya terisak. Buru-buru tangan saya mengatup erat mulut saya. Jangan dulu. Jangan sekarang.

Tergesa, saya melanjutkan langkah, sambil tetap menahan isak tangis saya, mati-matian menahan air mata yang memberontak. Kepala saya berteriak, Tuhan, saya ingin mati sekarang. Tolong. Bunuh saya sekarang.

Suara Chester Benningtong dari ear set blue tooth saya menyanyikan lirik yang sangat relevan.

But nobody can save me now
I’m holding up a light
Chasing up the darkness inside
‘Cause nobody can save me

Beberapa pesan di telepon selular berisi ajakan bertemu karena tahu ada yang salah sama saya. Saya tolak. Saya ingin sendiri, menutup pintu, berdiam di dalam kamar, tidur, dan semoga tidak usah bangun lagi.

Sepanjang perjalanan, saya melihat perempuan berkerudung dengan jaket parka, berdiri melamun menunggu bus. Perempuan lain, duduk sambil menikmati semangkuk mie ayam di pinggir trotoar. Mie ayam yang beberapa bulan lalu membuat saya diare, sehingga saya bersumpah tidak akan makan di situ lagi. Orang-orang lain terlihat seperti bayangan hitam yang berdiri dan bergerak tanpa suara, tanpa tujuan.

Dalam pikiran saya bertanya, apakah di antara mereka ada yang pernah merasakan apa yang saya rasakan saat ini.

Ketika saya sampai di tempat saya tinggal, saya membuka pintu, dan air mata saya tiba-tiba mengalir seperti sungai. Lekas saya kunci pintu, jatuh berlutut, dan saya menahan jeritan yang ingin berontak dari kerongkongan, air mata saya mengalir tak henti.

Dan yang paling menyedihkan dari semua ini, saya tidak bisa menyalahkan siapapun. Tidak ada yang salah. Saya tidak bisa menunjuk jari saya dan mengatakan, “Kamu yang membuat saya menjadi begini.” Saya tidak bisa marah pada siapapun.

Saya telan 2 butir Xanax. Lekas lah bekerja. Buat saya tidur.

Hanya butuh sebaris kalimat. Sebaris kalimat yang menyatakan saya adalah seseorang yang tidak layak untuk dicintai. Untuk menghancurkan saya.

Perjuangan saya bertahun-tahun untuk belajar mencintai diri saya apa adanya, hancur begitu saja dalam satu malam. Perjuangan saya menyembuhkan luka-luka saya, berantakan dalam satu malam.

Saya pernah melihat, jika tidak mendengar, bagaimana seseorang membenci orang lain yang meninggalkan luka pada dirinya. Saya belajar bahwa hidup tidak seperti itu. Yes, kita jatuh ke dalam lubang karena ada seseorang yang mendorong itu ke dalam lubang tersebut. Kita berdarah, karena ada seseorang yang menikam kita dari belakang. Tapi saya belajar untuk tidak menjadi orang itu, orang yang terus berteriak menunjuk lukanya dan menyalahkan pelakunya.

Saat kita sibuk melakukan itu, mereka sudah beranjak pergi dan menikmati hidupnya.

Saya nggak mau jadi manusia yang seperti itu.

Tapi Tuhan pasti tahu. Kalau Tuhan memang ada. Luka tidak terjadi begitu saja.

Dan saya terjebak bersama seseorang yang tahu harus menikamkan pisaunya di sebelah mana. Karena ia sudah berkali-kali melakukannya terhadap saya.

Ingin saya menatap matanya, dan berbisik, “Mengapa tidak kamu bunuh saja saya, agar saya tidak perlu menghabiskan hidup dengan berusaha menyembuhkan luka ini?”

Mengapa ia selalu tahu bagaimana cara menghancurkan saya? Bahkan di saat saya sudah berlari jauh dari dirinya.

Alih-alih marah, saya hanya menjawab terima kasih.

Jika satu hari saya tidak ada, dan kalian membaca lagi halaman ini, saya hanya minta satu hal… If you decide to hurt someone, please just kill them. It would be easier for them.

Some scars don’t heal. Don’t let people live that kind of life.

And no, this message is not for those people who use their pain to black mail others. To hurt and guilt tripping others. If you do that, you’re a piece of selfish shit.

Good bye. Wish me heal, or die in peace.

Thank You, 2019

It’s that time of the year again. Saatnya saya menulis review 2019 saya. Kali ini agak sedikit awal karena mungkin beberapa hari di akhir 2019 ini saya akan agak sibuk.

Saya ingat doa saya di awal tahun,

Semoga 2019 ini lebih ramah kepada kita semua, dan semoga, saya bisa membalas semua kebaikan kalian.

Syukurnya, tahun 2019 memang lebih ramah untuk saya.

Sejak akhir tahun 2018, saya mulai berobat ke psikiater, dan pada tahun 2019 saya langsung merasakan perubahannya pada mood saya, kinerja saya, hingga psikosomatis saya. Kesehatan saya membaik, kinerja saya di kantor meningkat pesat.

Sementara momen terbaik saya di 2019 adalah pernikahan adik lelaki saya dengan wanita Prancis favorit saya. Sebuah pernikahan yang kecil, sederhana, manis, namun hangat. Keluarga dan sahabat saya ada di sana merayakan perayaan kecil tersebut. Tiga hari dua malam kami menikmati perayaan di sebuah vila megah di Bali dengan pesta wine dan keju yang tak pernah habis. Dalam hati saya, saya berniat, seandainya suatu hari saya menikah, saya ingin menggunakan konsep yang sama.

Salah satu hiburan terbaik saya di tahun 2019 ini mungkin adalah Mr. V, seorang pengacara, tipikal bajingan ibu kota dengan lagaknya yang sesuka dia, tapi selalu ada ketika saya membutuhkan pertolongan. Saya bersyukur mengenal Mr. V. Ia yang selalu mampu membuat saya tertawa di saat saya sedang down. Anyway, pada akhirnya saya harus melepaskan dia karena, well, life goes on…

Selain itu, saya berusaha lebih hadir untuk sahabat-sahabat saya. Walau saya tahu, apapun yang saya lakukan nggak akan bisa membalas dukungan mereka saat saya jatuh di tahun 2018. Mereka, selalu ada. Saya bersyukur mengenal sahabat-sahabat saya. Saya bersyukur Tuhan mempertemukan kami.

Saya pun jatuh cinta di tahun ini. Jatuh cinta pada kamera analog. Saya pun bersyukur memiliki teman-teman dengan hobi yang sama. Saya menikmati kembali fotografi. Setelah akhirnya saya sanggup membeli kamera mirrorless digital incaran saya, saya menambahkan kamera analog dalam koleksi saya.

Semuanya diawali dari pria yang membuat saya patah hati di tahun 2018. Ia memberikan saya kamera analog instan. Saya merasa jatuh cinta setelah pertama kali mencuci dan meng-scan hasil foto saya. Setelah itu saya menemukan kamera analog milik mendiang ayah saya saat sedang merapikan rumah. Dari situ, saya mulai serius mendalami fotografi analog. Saya sampai belajar mencuci film sendiri.

Setelah itu saya juga diundang yang kedua kali untuk menjadi pembicara pada workshop Katapel oleh Bekraf, sebuah kehormatan dan kebanggaan untuk saya. Mungkin salah satu pencapaian terbaik saya di tahun 2019.

Banyak hal baru yang saya coba di tahun 2019 ini, dan bisa dibilang saya sudah menjadi orang yang berbeda dibanding tahun lalu.

Ada juga satu rahasia kecil yang saya simpan dari tahun 2019, dan seandainya ia membaca postingan ini, saya hanya ingin bilang padanya… buat kamu, mungkin rahasia kecil kita nggak berarti, tapi buat saya, saya berterima kasih. It was a beatiful brief of moment that i will treasure.

Selain hal-hal indah tersebut, ada juga momen di mana saya cukup down. Ketika saya mulai tidak teratur minum obat dan pikiran saya mulai mengacau. Ketika berat badan saya meningkat drastis. Ketika harus kehilangan sepupu saya karena kanker otak. Atau kepusingan saya mengatur keuangan sebagai breadwinner. Dan salah satu kabar buruk datang menjelang penghujung tahun ketika salah seorang mantan saya harus pergi mendadak. Orang yang sempat begitu berharga untuk saya.

Di tahun 2019, saya mencoba fokus untuk memperbaiki diri. Saya ikut gym class dan mengatur pola makan. I lost some weight. Walau masih kurang 2kg dari target saya di akhir tahun. Semoga tahun depan bisa lebih konsisten. Selain itu, saya mulai melakukan ritual skin care. Setelah diceramahi oleh cewek-cewek di kantor saya, “Make up murah nggak apa-apa, yang penting skin care! Kesehatan kulit adalah investasi masa tua.”

Yang belum kesampaian ya berhenti merokok. Saya coba beralih ke vape dan rokok elektrik, tapi ternyata belum bisa. Semoga 2020 saya bisa berhenti merokok!

Pada 2019 juga, saya akhirnya melepaskan sosok paling toxic dalam hidup saya. Saya memutuskan untuk mau bertemu dengannya sebagai perpisahan. Saya memaafkan dia dan mengecupnya untuk terakhir kali. Semoga, ke depannya, Tuhan tidak akan mempertemukan kami lagi. Banyak pelajaran yang saya petik darinya, beberapa di antaranya adalah saya harus menyayangi diri saya sendiri, dan belajar melepaskan orang-orang yang tidak akan pernah berubah menjadi lebih baik.

Sayapun sempat bertemu dengan seorang lelaki yang membuat saya ingin serius memulai hubungan. Pada akhirnya kami menemukan bahwa kami tidak bisa bersama. Sebagian diri saya menyesali itu, namun sebagian lagi menerima. Mungkin memang kami tidak bisa bersama. Hingga sekarang, kami masih berhubungan baik sebagai teman. Saya juga bersyukur bertemu dengan lelaki ini. Saya jadi tahu, lelaki yang baik itu seperti apa. Mungkin dia adalah salah satu lelaki yang paling baik yang pernah saya temui dalam hidup saya.

Oh, dan tidak lupa… akhirnya saya memaafkan Mr. X, mantan yang paling ultimate dalam hidup saya. Lelaki yang membuat depresi saya relaps karena menyelingkuhi saya setelah berjuang bersama selama hampir 7 tahun. Depresi saya belum sembuh, trauma saya masih menghantui saya, tapi bukan berarti saya tidak bisa belajar memaafkan. Kami sudah bisa mengobrol sebagai teman walau hanya sebatas lewat email, karena, tentu saja, dia tetap lah sumber luka saya, saya tidak akan membiarkan dia masuk lebih dalam ke hidup saya sekalipun sebagai teman.

2019 adalah tahun yang cukup ramah. Saya bersyukur untuk 2019. Saya belajar membaca orang yang hadir secara tulus, maupun memanfaatkan saya. Saya belajar mengatakan tidak. Saya belajar menyayangi diri saya dan menolak diperlakukan kurang dari apa yang pantas saya terima. Saya belajar melepaskan tanpa mendendam. Saya belajar mengasihi tanpa terobsesi. Saya juga belajar bahwa saya masih lah seorang mediocre dan harus belajar lebih banyak lagi.

Semoga, di tahun 2020, saya menemukan seseorang yang bisa menjadi kekasih sekaligus sahabat yang saya percaya. Semoga saya juga belajar ilmu baru, mungkin UI UX atau marketing. Menabung lebih banyak, olahraga lebih teratur, jaga pola makan, dan berhenti merokok. Lebih sehat juga secara fisik dan mental.

Semoga, tahun 2020 adalah tahun di mana segala luka, usaha, dan perjuangan kita semua terbayar. Semoga 2020 kalian lebih baik, ya.