aku tidak pernah menjanjikan
bahwa aku tidak akan pernah melukaimu
-kamu masih ingat?

aku tidak pernah mengatakan
bahwa aku tidak akan meninggalkan kamu
-kita tidak akan pernah tahu

aku mungkin akan melukaimu berkali-kali
aku mungkin akan merobek-robek sayapmu
aku mungkin akan membuatmu menjadi semakin rapuh

tapi aku tidak pernah akan menyakitimu dengan sengaja

nanti…
di setiap luka yang aku buat,
biar aku yang membalutnya

saat kamu lelah menghadapiku,
aku akan memberi kamu waktu sejenak untuk beristirahat dari egoku

andai kamu begitu marah dan membenciku
aku akan pergi jauh
dan menunggumu di sana
sampai bencimu hilang

dan apabila kamu tidak pernah datang menjemputku
aku akan tahu, saat itu aku harus beranjak

tapi sayang…
jika di semua waktu yang tersepikan
di semua episode yang penuh elegi
ternyata kamu masih ada di sana
bertahan dan terengah-engah

aku akan datang memelukmu
dan membisikkan

“in the confusion and the aftermath..
i will always be your signal fire
at least… ill always try…”


…dan saat itu, aku tidak akan pernah berniat untuk melepaskanmu…

nafas

nafas kita kini makin sempit
bukan karena udara yang mulai habis
atau ruang yang semakin padat
tapi justru karena sepi
kita semakin menyesak
merabun menjadi buih yang tak bersenandung
berguling cepat di rotasi ini
dan pecah
pecah yang sepi
nafas kita menjadi semakin sesak
yang setiap saat menyublim menjadi tangis hampa
sepi ini darimana?
dari embun pagi yang dilupakan oleh malam
dari srigala jantan yang dihengkang kawanannya
dari sinar bulan yang redup karena mendung
atau dari sengal nafas diri yang meregang nyawa?
kita telah lelah menyangkal segala sepi
dan ia menjadi begitu dekat
tertelan utuh ke dalam nadi
membaur larut menjadi jiwa kita
sepi ini laknat
dan nafas kita semakin meregang