CERPEN: Putus

Seperti waktu, mungkin suara juga konsep yang aneh. Ia selalu ada tapi tak selalu terasa. Seperti detik ini. Aku melihat gerombolan wanita di seberang meja kami tertawa, namun tak ada suara yang terdengar. Band di ujung sana memainkan lagu roman picisan, yang terdengar hanya sunyi. Mataku terpaku pada lelaki di depanku. Yang mengerutkan alis, meletakkan tangan kirinya di pelipis, seakan menahan sakit.

Lalu air matanya menetes, mengenai taplak meja makan yang berwarna putih, mengingatkanku akan warna rumah sakit.

Aku terdiam. Berusaha memproses segalanya. Otakku bekerja pelan, “Oke, Sarah. Emosi apa yang harusnya kamu rasakan sekarang? Hmmm… coba saya cek dulu, ya.” Mungkin begitu kata isi kepalaku.

Haruskah aku memasang wajah sedih, kemudian memeluknya? Namun aku tak merasa sedih, ataupun ingin memeluknya untuk membuat ia merasa sedikit nyaman. Apakah karena aku terbiasa melihat lelaki menangis?

“Semudah itu?” tiba-tiba ia berbisik lirih. Sungguh aneh bisikan itu terdengar jelas di telingaku, sementara gelak tawa wanita di seberangku hanya terasa seperti bunyi desir angin yang malas.

“Tidak ada yang mudah.”, jawaban yang sudah kulatih, dan sudah kupakai berkali-kali. Dan seperti yang sudah-sudah, pria itu mengangkat wajahnya, mencari-cari konfirmasi akan jawabanku. Ah, aku terlambat. Aku lupa memasang ekspresi sedih.

“Kenapa? Apa alasannya? Bukannya kita baik-baik saja?”

Tidak ada yang salah, aku hanya sudah berhenti mencintaimu. “Aku tidak tahan dengan keegoisan kamu.”

“Keegoisan yang mana? Apa nggak bisa kita bicarakan lagi?”

Apa yang harus dibicarakan jika memang rasa itu sudah tidak ada? “Aku nggak mau membicarakannya. Sudah cukup. Aku nggak mau lebih sedih daripada sekarang.”

“Kenapa kamu begitu egois?” Ia menutup wajahnya, menyembunyikan air matanya yang kembali berjatuhan. Berpura-pura memijit pelipisnya.

Aku bisa saja menjawab dengan menghitung “dosa-dosa”-nya. Seperti SMS berisi kata kangen ke mantan pacar, atau saat dia diam-diam jalan dengan wanita lain di belakangku, atau waktu-waktu ketika dia menghilang dan tidak bisa dihubungi tanpa bisa menjelaskan apa yang ia lakukan.

Sayangnya hal-hal tersebut tak pernah menggangguku. Aku tak akan sanggup mengatakannya sambil berpura-pura merasa sedih.

“Apakah ada lelaki lain?” tanyanya. Luka di wajahnya perlahan bertransformasi menjadi marah.

Akan sangat mudah mengatakan iya. Namun jika ia tanya siapa lelaki itu, aku tak akan punya jawaban. Ah, merepotkan sekali.

“Lihat, aku menangis. Aku menangis karena aku mencintaimu.”

Andai saja ia tahu ada berapa lelaki yang menangis di depanku karena katanya mencintaiku. Manusia menangis karena marah atau sedih, bukan karena cinta. Jangan pakai alasan bodoh macam itu di depanku.

“Kamu nggak secantik itu, jadi jangan angkuh kayak gini. Aku bisa dapat yang lebih dari kamu kalau aku mau.”

Lihat. Ia baru saja membuktikan isi pikiranku. Cinta tidak akan membuat seseorang mengatakan hal barusan.

“Tapi karena aku cinta kamu, makanya aku seperti ini.”

Aku tertawa keras di dalam hati. Begitu mudah kata-katanya berubah.

“Kamu nggak akan pernah bisa mendapatkan laki-laki seperti aku lagi!”

Aku justru tidak mau bertemu lagi dengan laki-laki sepertimu. “Aku tahu. Mungkin kamu sebenarnya laki-laki yang terbaik yang pernah aku temui. Tapi… aku tidak bisa mempercayaimu.” Dan sesungguhnya aku tidak mempercayai siapapun.

“Aku nggak pernah membohongi kamu.”

Kita tahu itu tidak benar.

“Mengapa kamu mudah sekali melepaskan aku?”

Mengapa harus sulit? “Ini tidak mudah. Aku sudah memikirkannya berkali-kali. Aku bahkan nggak tahu, apakah aku bisa tanpamu.”

Dan seperti pengalamanku dengan laki-laki sebelumnya, aku mengulang kembali langkah-langkah yang sama.

Pertama, raih tangannya, genggam dengan erat.

Kedua. Jika ia balas meremas tanganmu, tatap matanya. Berusaha lah menangis bersamanya. Jika tidak bisa menangis, menunduklah. Agar kamu terlihat sedih, tanpa harus memasang ekspresi sedih.

Ketiga, katakan ini, “Aku sayang kamu. Tapi diam-diam aku sering sedih karena kamu.”

“Sedih kenapa? Selama ini kamu baik-baik saja. Nggak pernah ngeluh apapun.” – Tentu saja, aku sudah tahu semua laki-laki akan menjawab seperti ini.

Maka kita lanjut ke langkah nomor empat.

Sebutkan hal-hal yang pernah ia lakukan, yang seharusnya membuat perempuan pada umumnya marah, “Aku tahu kamu masih komunikasi dengan mantanmu. Terus aku nggak suka lihat kamu dekat dengan temanmu yang namanya Debby itu. Aku memang nggak pernah ngomong, tapi seharusnya kamu ngerti.”

Kalimat di atas bisa diubah menjadi “Kamu terlalu cuek.”, “Kamu terlalu mengaturku.”, “Kamu nggak pernah ada waktu buatku.”, “Kamu lebih mementingkan teman-temanmu daripada aku.”

Mudah sekali kan?

“Kalau kamu nggak suka, aku mau mengubah semuanya demi kamu.”

Ini mudah sekali.

Langkah ke lima, jawab saja seperti ini: “Sudah terlambat.” dengan suara sepelan dan sesedih mungkin.

Ia melepas tanganku. Sedikit kasar. Lalu ia berdiri dan meninggalkanku sendirian di meja restoran. Aku menunduk. Membiarkan ia melangkah jauh, hingga suara langkahnya tak terdengar. Pasti ia marah sekali. Seperti aku bilang di awal, lelaki menangis bukan karena mencintaimu, melainkan karena sedih atau marah.

Kebodohan perempuan adalah ketika ia mengira dirinya sangat berharga hanya karena seorang lelaki menangis untuknya. Semua anak laki-laki akan menangis ketika mainannya direbut orang. Namun jika ia mendapatkan mainan baru yang lebih bagus dan menarik, tangisannya akan berhenti.

Semudah itu.

Aku mengambil telepon genggam di dalam tas, membuka list buku telepon, kemudian memblokir nomor handphonenya. Incoming call, blocked. SMS, blocked. Whatsapp, Facebook, blocked. Twitter. Jangan.

Kuketik sesuatu untuk ditampilkan di twitter.

I love you, but you’ve let me go 😦

Biarkan ia membacanya dan mengira aku menyesali keputusanku.

Aku menyandarkan punggungku ke kursi, menyalakan rokok, dan menghisapnya penuh perayaan. Makan malam hari ini sebetulnya cukup mahal. Tapi tak apa. Malam ini patut dirayakan. Karena sekali lagi aku bebas.

 

Firasat

Telepon selular milik Chandra menjerit. Pemuda itu melirik jam dinding dengan mata menyipit, masih terkantuk-kantuk. Sedetik kemudian baru ia sadar, telepon selular miliknya memainkan “I Will” milik The Beatles. Itu panggilan dari dari kekasihnya, Mel. Jam dinding menunjukkan pukul tiga subuh, jarang-jarang Mel meneleponnya selarut ini.

“Halo?”

“Chandra…” suara Mel masih terseret karena baru terbangun, sama seperti Chandra.

“Kenapa? Kok, jam segini kamu bangun?” tanyanya khawatir.

“Aku mimpi…”

Chandra terdiam sesaat, ada sedikit rasa kesal karena dibangunkan selarut ini hanya karena hal sesepele itu, “Mimpi apa?” tanyanya malas.

“Aku mimpi kamu pergi ninggalin aku.” kemudian terdengar tangis Mel pecah.

Dada Chandra terasa sesak, ia bangkit duduk dari posisi tidurnya, “Kamu, nih… Jangan aneh-aneh. Itu cuma mimpi.”

“Tapi rasanya kayak nyata banget. Kamu ngelihat mukaku kayak mau nangis, terus kamu pergi ninggalin aku. Aku manggil-manggil kamu, tapi kamu nggak mau berhenti. Kamu terus pergi.” Susah payah Mel menjelaskan di antara sela tangisnya.

Lelaki itu terdiam sebentar, memberi jeda pada tangis Mel yang lirih, namun terasa nyaring di telinga Chandra. Ia menghela nafas, “Nggak, Mel. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Itu cuma mimpi.”

Kekasihnya masih terisak, beberapa detik yang panjang kemudian Ia berbisik, “Seandainya… seandainya kamu nggak sayang aku lagi, kamu bilang, ya. Jangan ninggalin aku gitu aja.”

“Ya ampun. Ini apa, sih? Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Nggak akan pernah!”

Hanya hening di seberang sana.

“Mel?”

“Jangan janji hal yang nggak kamu tahu pasti.”

Giliran Chandra terdiam.

“Aku sayang kamu… Seandainya suatu hari, kamu berhenti menyayangi aku, kamu hanya perlu bilang. Aku sadar, Yang. Kita tuh, nggak bisa maksain perasaan seseorang. Aku terima, aku akan terima dengan lapang dada, kalau suatu hari kamu memutuskan kita cuma sampai di sini. Kalau sayang kamu ke aku nggak sebesar sayangmu ke aku, aku terima.”

“Kamu ngomong apa, sih? Aku kan udah bilang, aku sayang sama kamu. Aku nggak akan ninggalin kamu.” Nada suara Chandra menajam. Sekali lagi hanya dijawab hening.

“Mel?” panggil Chandra pelan.

“Aku sayang kamu. Aku tidur dulu, ya.” Kata-kata Mel, entah mengapa terdengar sedih. Chandra kembali menghela nafas. Terjebak di antara rasa kesal dan rasa bersalah.

“Ya udah. Met tidur, ya. Udah. Jangan mikir yang aneh-aneh. Aku di sini buat kamu. Aku akan selalu ada di sini.”

Kekasihnya tak menjawab. Kemudian telepon terputus. Chandra terdiam. Ia menatap layar teleponnya, ada satu sms masuk.

Sayang, aku capek. Kamu harus milih. Mel atau aku? Kita nggak bisa kayak gini terus. Kamu udah janji mau nikahin aku. Aku nggak akan pernah terima kalau ternyata kamu cuma bohong.

Nama perempuan yang bukan Mel tertera di kolom pengirim. Chandra terpaku menatap layar telepon genggamnya. Pesan ini dikirim tiga jam yang lalu, sesaat setelah ia mengobrol di telepon dengan perempuan tersebut.

“Aku mimpi kamu pergi ninggalin aku.” Suara Mel di antara isak tangisnya terdengar kembali, seakan gadis itu masih ada di ujung telepon.

Chandra sendiri heran, betapa mudahnya ia mengucapkan kata sayang pada kekasihnya, padahal hatinya tidak merasa seperti itu lagi.

Tenang, Sayang. Aku akan bahas ini besok sama Mel.

Ia menekan tombol send. Di dalam hati ia sudah memutuskan, ia akan memilih pergi begitu saja. Ia tak sanggup menghadapi tangisan Mel. Lebih baik menghilang.

Semua orang berhak bahagia, semua orang berhak memilih kebahagiaannya masing-masing. Walaupun kebahagiaannya membuat Mel terluka. Tidak apa-apa. Tidak akan apa-apa.

Toh Mel sudah tahu ia akan pergi. Mel sudah merasakannya. Harusnya ia paham jika Chandra akhirnya benar-benar menghilang.

“Semua orang berhak bahagia, semua orang berhak memilih kebahagiaannya masing-masing.” Chandra mengucapkan kalimat itu di dalam hatinya berjuta kali hingga akhirnya ia terlelap. Mungkin mantra itu akan menghapuskan rasa bersalahnya, mungkin mantra itu akan membuat segalanya terasa benar. Mungkin mantra itu akan menghapus semua dosa-dosanya. Masa bodoh dengan Mel.

Hari Ke Tiga Ratus Enam Puluh

Ia terbangun, alarmnya menjerit setelahnya. Rima mematikan alarm yang terletak di nakas samping tempat tidurnya. Ia terdiam, memandang langit-langit kamarnya yang menguning karena berbulan-bulan dihajar asap rokok milik Rima.

“Hari ke tiga ratus.” Bisiknya dalam hati, “Dan luka ini masih ada.”

Continue reading Hari Ke Tiga Ratus Enam Puluh