The Journey Of Learning To Love Myself

I’ve been having a lot of heart-to-heart discussions with some friends this past week. Some of those imprinted so deep in to my mind.

Tapi ada salah satu hal yang lumayan membuat saya tepikir lebih dalam dibanding diskusi lainnya.

We were talking about one of my exes and red flags. Kisahnya saya sedang bingung apakah saya telah membuat keputusan yang tepat dengan meninggalkan mantan saya. I mean, i loved him, hell, maybe i still love him. I don’t know. We had a lot of fun, i was happy when i was with him. We weren’t only just a lover, we’re best friends, partner in crime, each other’s supporters, or so i thought.

Continue reading The Journey Of Learning To Love Myself

BE YOURSELF BUT NOT SO MUCH YOURSELF

I can’t write what i want, draw what i want, because people keep telling me that i was being dramatic and alay with my personal expressions. Even though i tried to ignore it and been trying to remind my self that i am allowed to express my emotions in my own way, i can’t write anything that i want and it feels like i am caged.

Even in my own blog, or twitter, or instagram.

And to not be able to express my feelings, literally give me pain inside my chest. Like, pain that you have when you have gerd, or when you can’t breath.

I hate the fact that people have control over my thoughts and emotions only by things they said casually or jokingly.

I hate that i can’t express my feelings anymore in words just because i feel too ashamed and afraid that people will laugh at me.

Bahumu

Aku sudah berhenti bertanya mengapa dirimu selalu menangkapku ketika aku jatuh. Menyambutku di dalam rumahmu, membungkusku dengan selimut, dan menyediakan segelas kopi hangat di meja untukku. Kemudian dengan sabar kamu menjahit luka-lukaku yang tertoreh di atas luka-luka lama yang pernah kau sayat sendiri pada tubuhku.

Apakah itu maaf yang kau bayar menyicil karena kau sudah sadar maaf tak menyembuhkanku. Atau cinta yang tersisa namun keras kepala tak mau pergi padahal hanya ampas di sudut hatimu. Atau bahkan kamu sekedar menunggu waktu yang tepat untuk membunuhku yang ke empat kali. Seperti serigala yang selalu lapar dan menunggu korbannya lengah untuk kemudian dicabik sampai habis.

Dan mungkin bagiku kamu seperti alprazolam yang kata psikiater ku harus diminum jika aku mengalami serangan panik atau gelisah terlalu parah. Untuk mencegah diriku terlarut dalam depresi mayor. Ketika aku sakit, aku menenggakmu sesegera mungkin. Dan brengseknya kamu selalu berhasil menenangkanku. Padahal alprazolam sekalipun tidak seampuh itu.

Aku sudah tidak mau bertanya alasanmu atau menghitung seberapa berbahaya dirimu.

Aku pinjam dirimu sebentar saja sebelum aku lupa kamu bukan rumahku.

Tapi jaga aku sebentar. Sampai aku terlelap. Peluk aku sebentar agar aku ingat rasanya dikasihi. Biarkan aku menghabiskan kopiku dahulu.

Aku pinjam dulu bahumu

sejenak.

The Things That I Will Miss About You

  • Strolling around BSD in your car while listening to Metallica.
  • Drinking beers while talking about random stuffs with you.
  • Your scent.
  • Your voice.
  • Sleeping next to you.
  • Kissing your forehead and back while you’re playing mobile game.
  • Cuddling in your bed during the day because we’re too lazy to do anything and just enjoying each other’s company.
  • Preparing meals for you.
  • The stupid things you did unintentionally that make me laugh.
  • Getting panic when you’re tailing car in front of you too close. I hated it. But now i miss it.
  • That stupid song we sang a lot, “Kura kura mengapa jalanmu lambat atau tidak cepat…”
  • Your sexy angry face.
  • Combing your hair after you took bath or before we’re sleeping.
  • Your childish behavior when you’re sulking or want something from me.
  • Your puppy eyes.
  • The things you did to calm me after you made me upset.
  • When you said “Sini…” if i lay too far from your side when we’re about to sleep.
  • Watching you walking around the house only in short pants, i enjoyed seeing you half naked.
  • Of course. Your body.
  • How you stuff your face with snacks, lol.
  • That you don’t mind showing how clingy you were to me in front of my friends.
  • Your cute insecurities when i hang out with my friends without you.
  • Your voice tone when you call me “Aleee…”
  • When you put your arms around me, because you rarely did it.
  • Having meal with your mom and you at the dinner table as if we were already a family.
  • Your stupid Momoy and Bunbun. Please take care of Bunbun for me. It was one of my fav things in my room.

Pesan dan Doa Mama

“Mama, sih, bebas kamu mau sama cowok kayak gimana juga. Yang penting kamu bahagia. Yang penting itu cowok yang kamu senangi. Tapi, kalau bisa, Mama maunya kamu sama cowok yang bener-bener sayang sama kamu. Yang memperjuangkan kamu.

Belajar dari pengalaman Mama.

Mama menikah dengan orang yang Mama sayang banget padahal Mama tidak diperlakukan dengan baik. Kalau Mama sih, kuat hidup puluhan tahun dengan Papa walau diperlakukan seperti apa. Kan kamu tahu sendiri Papa gimana ke Mama.

Tapi kamu nggak.

Mama tahu kamu nggak akan bisa sekuat Mama kalau menikah dengan laki-laki yang salah.

Pilih laki-laki yang benar-benar sayang sama kamu dan peduli sama kamu. Yang bisa mengerti kondisi kamu. Yang bela-belain buat kamu.”


“Kasihan kamu. Masa muda kamu habis dipakai buat nyenengin orang tua. Semoga nanti kamu dapat suami yang nyenengin kamu.”


“Mama berdoa, semoga kamu mendapat laki-laki yang sayang sama kamu, yang membahagiakan kamu. Kasihan anak Mama hidupnya berjuang terus. Mama gak bisa bales apa-apa ke kamu, jadi cuma bisa berdoa aja semoga kamu dapat suami yang membalas kebaikan kamu sebagai anak berbakti.”

Thank You, 2020

Semoga, di tahun 2020, saya menemukan seseorang yang bisa menjadi kekasih sekaligus sahabat yang saya percaya. Semoga saya juga belajar ilmu baru, mungkin UI UX atau marketing. Menabung lebih banyak, olahraga lebih teratur, jaga pola makan, dan berhenti merokok. Lebih sehat juga secara fisik dan mental.

Semoga, tahun 2020 adalah tahun di mana segala luka, usaha, dan perjuangan kita semua terbayar. Semoga 2020 kalian lebih baik, ya.

Saya mengawali tahun 2020 dengan fokus berolahraga, mengatur makanan, dan berusaha mencapai target berat badan. Sayangnya pada bulan Maret, Indonesia harus melakukan semi-lock down karena pandemi, virus COVID19 yang memaksa kami semua harus tinggal di rumah selama beberapa minggu. Saya tidak bisa lagi pergi ke gym, tidak bisa keluar dari kamar kosan kecuali terpaksa, bahkan tidak bisa bertemu ibu saya sampai 3-4 bulan. Seminggu sebelum PSBB, saya dirawat inap di rumah sakit karena tyfus. Jadi, lumayan terasa.

Continue reading Thank You, 2020

7 Tanda Bahaya di Akun Social Media Pacarmu

Social media itu barang kali sering jadi sumber masalah dalam relationshit. Tapi menurut saya pribadi, bagaimana cara pasanganmu menggunakan dan berinteraksi di social media sebenarnya bisa jadi indikator yang penting untuk kepribadiannya. Orang-orang yang sering selingkuh, misalnya, saya perhatikan memiliki kebiasaan yang sama dalam menggunakan social media.

Banyak alasan yang digunakan untuk tidak mementingkan perilaku di social media, salah satunya yang paling sering saya dengar adalah, “Ini cuma social media. Apa yang ditampilkan di social media kan berbeda dengan kehidupan nyata.”

Continue reading 7 Tanda Bahaya di Akun Social Media Pacarmu

Sylvia Plath dan Overthinking Tengah Malam

Pertama kali saya mengenal Sylvia Plath, mungkin tahun 2014. Ketika depresi mayor saya relaps, namun saya belum menyadari bahwa saat itu saya depresi. Saat itu, saya kira, yang saya rasakan adalah galau. Meski saya tahu, seumur hidup saya belum pernah merasakan kesedihan sesakit itu.

Continue reading Sylvia Plath dan Overthinking Tengah Malam

Hidup dengan Bipolar dan Depresi

Hi, nama saya Lea. Saya didiagnosa dengan depresi pada tahun 2015, depresi saya relaps pada tahun 2014. Setelah terapi dengan psikolog pada tahun 2015-2016, saya beralih ke psikiater pada tahun 2018, ketika depresi saya kembali relaps, berlanjut hingga sekarang. Pada tahun 2019, saya mendapatkan diagnosa tambahan; bipolar. Tahun ini, 2020, saya beralih psikiater, dan mendapatkan diagnosa bipolar. Sejak 2018 hingga sekarang, saya mengkonsumsi obat penenang dan anti-depressant agar saya bisa berfungsi dengan normal.

Continue reading Hidup dengan Bipolar dan Depresi

Psikolog atau Psikiater?

Salah satu pertanyaan yang muncul pertama kali ketika saya sudah meyakini diri saya menderita depresi, adalah apakah saya harus mencari pertolongan ke psikolog, atau psikiater?

Ini mungkin salah satu pertanyaan awal yang paling esensial untuk orang yang merasa dirinya sakit mental.

Saran saya, ada baiknya sebelum memutuskan mencari bantuan professional, kenali dulu gejalamu dan coba lakukan tes/screening singkat.

Continue reading Psikolog atau Psikiater?