Bahumu

Aku sudah berhenti bertanya mengapa dirimu selalu menangkapku ketika aku jatuh. Menyambutku di dalam rumahmu, membungkusku dengan selimut, dan menyediakan segelas kopi hangat di meja untukku. Kemudian dengan sabar kamu menjahit luka-lukaku yang tertoreh di atas luka-luka lama yang pernah kau sayat sendiri pada tubuhku.

Apakah itu maaf yang kau bayar menyicil karena kau sudah sadar maaf tak menyembuhkanku. Atau cinta yang tersisa namun keras kepala tak mau pergi padahal hanya ampas di sudut hatimu. Atau bahkan kamu sekedar menunggu waktu yang tepat untuk membunuhku yang ke empat kali. Seperti serigala yang selalu lapar dan menunggu korbannya lengah untuk kemudian dicabik sampai habis.

Dan mungkin bagiku kamu seperti alprazolam yang kata psikiater ku harus diminum jika aku mengalami serangan panik atau gelisah terlalu parah. Untuk mencegah diriku terlarut dalam depresi mayor. Ketika aku sakit, aku menenggakmu sesegera mungkin. Dan brengseknya kamu selalu berhasil menenangkanku. Padahal alprazolam sekalipun tidak seampuh itu.

Aku sudah tidak mau bertanya alasanmu atau menghitung seberapa berbahaya dirimu.

Aku pinjam dirimu sebentar saja sebelum aku lupa kamu bukan rumahku.

Tapi jaga aku sebentar. Sampai aku terlelap. Peluk aku sebentar agar aku ingat rasanya dikasihi. Biarkan aku menghabiskan kopiku dahulu.

Aku pinjam dulu bahumu

sejenak.

The Things That I Will Miss About You

  • Strolling around BSD in your car while listening to Metallica.
  • Drinking beers while talking about random stuffs with you.
  • Your scent.
  • Your voice.
  • Sleeping next to you.
  • Kissing your forehead and back while you’re playing mobile game.
  • Cuddling in your bed during the day because we’re too lazy to do anything and just enjoying each other’s company.
  • Preparing meals for you.
  • The stupid things you did unintentionally that make me laugh.
  • Getting panic when you’re tailing car in front of you too close. I hated it. But now i miss it.
  • That stupid song we sang a lot, “Kura kura mengapa jalanmu lambat atau tidak cepat…”
  • Your sexy angry face.
  • Combing your hair after you took bath or before we’re sleeping.
  • Your childish behavior when you’re sulking or want something from me.
  • Your puppy eyes.
  • The things you did to calm me after you made me upset.
  • When you said “Sini…” if i lay too far from your side when we’re about to sleep.
  • Watching you walking around the house only in short pants, i enjoyed seeing you half naked.
  • Of course. Your body.
  • How you stuff your face with snacks, lol.
  • That you don’t mind showing how clingy you were to me in front of my friends.
  • Your cute insecurities when i hang out with my friends without you.
  • Your voice tone when you call me “Aleee…”
  • When you put your arms around me, because you rarely did it.
  • Having meal with your mom and you at the dinner table as if we were already a family.
  • Your stupid Momoy and Bunbun. Please take care of Bunbun for me. It was one of my fav things in my room.

Pesan dan Doa Mama

“Mama, sih, bebas kamu mau sama cowok kayak gimana juga. Yang penting kamu bahagia. Yang penting itu cowok yang kamu senangi. Tapi, kalau bisa, Mama maunya kamu sama cowok yang bener-bener sayang sama kamu. Yang memperjuangkan kamu.

Belajar dari pengalaman Mama.

Mama menikah dengan orang yang Mama sayang banget padahal Mama tidak diperlakukan dengan baik. Kalau Mama sih, kuat hidup puluhan tahun dengan Papa walau diperlakukan seperti apa. Kan kamu tahu sendiri Papa gimana ke Mama.

Tapi kamu nggak.

Mama tahu kamu nggak akan bisa sekuat Mama kalau menikah dengan laki-laki yang salah.

Pilih laki-laki yang benar-benar sayang sama kamu dan peduli sama kamu. Yang bisa mengerti kondisi kamu. Yang bela-belain buat kamu.”


“Kasihan kamu. Masa muda kamu habis dipakai buat nyenengin orang tua. Semoga nanti kamu dapat suami yang nyenengin kamu.”


“Mama berdoa, semoga kamu mendapat laki-laki yang sayang sama kamu, yang membahagiakan kamu. Kasihan anak Mama hidupnya berjuang terus. Mama gak bisa bales apa-apa ke kamu, jadi cuma bisa berdoa aja semoga kamu dapat suami yang membalas kebaikan kamu sebagai anak berbakti.”

Thank You, 2020

Semoga, di tahun 2020, saya menemukan seseorang yang bisa menjadi kekasih sekaligus sahabat yang saya percaya. Semoga saya juga belajar ilmu baru, mungkin UI UX atau marketing. Menabung lebih banyak, olahraga lebih teratur, jaga pola makan, dan berhenti merokok. Lebih sehat juga secara fisik dan mental.

Semoga, tahun 2020 adalah tahun di mana segala luka, usaha, dan perjuangan kita semua terbayar. Semoga 2020 kalian lebih baik, ya.

Saya mengawali tahun 2020 dengan fokus berolahraga, mengatur makanan, dan berusaha mencapai target berat badan. Sayangnya pada bulan Maret, Indonesia harus melakukan semi-lock down karena pandemi, virus COVID19 yang memaksa kami semua harus tinggal di rumah selama beberapa minggu. Saya tidak bisa lagi pergi ke gym, tidak bisa keluar dari kamar kosan kecuali terpaksa, bahkan tidak bisa bertemu ibu saya sampai 3-4 bulan. Seminggu sebelum PSBB, saya dirawat inap di rumah sakit karena tyfus. Jadi, lumayan terasa.

Continue reading Thank You, 2020

7 Tanda Bahaya di Akun Social Media Pacarmu

Social media itu barang kali sering jadi sumber masalah dalam relationshit. Tapi menurut saya pribadi, bagaimana cara pasanganmu menggunakan dan berinteraksi di social media sebenarnya bisa jadi indikator yang penting untuk kepribadiannya. Orang-orang yang sering selingkuh, misalnya, saya perhatikan memiliki kebiasaan yang sama dalam menggunakan social media.

Banyak alasan yang digunakan untuk tidak mementingkan perilaku di social media, salah satunya yang paling sering saya dengar adalah, “Ini cuma social media. Apa yang ditampilkan di social media kan berbeda dengan kehidupan nyata.”

Continue reading 7 Tanda Bahaya di Akun Social Media Pacarmu

Sylvia Plath dan Overthinking Tengah Malam

Pertama kali saya mengenal Sylvia Plath, mungkin tahun 2014. Ketika depresi mayor saya relaps, namun saya belum menyadari bahwa saat itu saya depresi. Saat itu, saya kira, yang saya rasakan adalah galau. Meski saya tahu, seumur hidup saya belum pernah merasakan kesedihan sesakit itu.

Continue reading Sylvia Plath dan Overthinking Tengah Malam

Hidup dengan Bipolar dan Depresi

Hi, nama saya Lea. Saya didiagnosa dengan depresi pada tahun 2015, depresi saya relaps pada tahun 2014. Setelah terapi dengan psikolog pada tahun 2015-2016, saya beralih ke psikiater pada tahun 2018, ketika depresi saya kembali relaps, berlanjut hingga sekarang. Pada tahun 2019, saya mendapatkan diagnosa tambahan; bipolar. Tahun ini, 2020, saya beralih psikiater, dan mendapatkan diagnosa bipolar. Sejak 2018 hingga sekarang, saya mengkonsumsi obat penenang dan anti-depressant agar saya bisa berfungsi dengan normal.

Continue reading Hidup dengan Bipolar dan Depresi

Psikolog atau Psikiater?

Salah satu pertanyaan yang muncul pertama kali ketika saya sudah meyakini diri saya menderita depresi, adalah apakah saya harus mencari pertolongan ke psikolog, atau psikiater?

Ini mungkin salah satu pertanyaan awal yang paling esensial untuk orang yang merasa dirinya sakit mental.

Saran saya, ada baiknya sebelum memutuskan mencari bantuan professional, kenali dulu gejalamu dan coba lakukan tes/screening singkat.

Continue reading Psikolog atau Psikiater?

Hari di Mana Saya Mati

Masih segar di ingatan saya. Taipei, Januari 2014. Minggu yang sangat sibuk sekali. Bangun pagi, kemudian sibuk mengecek presentasi hasil market research di hari sebelumnya, mandi, dan harus sampai di hotel tempat workshop berlangsung pukul 8 pagi.

Sesampainya, kami langsung sarapan, pukul 9 mulai workshop hingga pukul 4 sore, dilanjutkan kembali ke hotel tempat kami menginap, buru-buru ganti baju, lalu berangkat lagi ke kota lain untuk melakukan market research. Pukul 10 malam kami kembali ke hotel, buru-buru menyusun hasil market research kami lengkap dengan foto.

Pukul 12 malam, sebelum tidur, saya menghubungi pasangan saya saat itu. Hanya bisa ngobrol sebentar. Saya tanya mengapa ia tidak responsif padahal saya hanya punya sedikit sekali waktu luang untuk menghubungi ia. Jawabnya, “Ya aku lagi me time aja mumpung kamu nggak di sini.”

Ada lubang yang tercipta di dada saya mendengar kalimat itu.

Continue reading Hari di Mana Saya Mati

SEXUAL COERCION IS RAPE

Sudah sebulan lebih saya stay di dalam kamar, hanya keluar 2 kali untuk ke rumah sakit dan belanja bulanan. Situasi masih belum membaik, bahkan diramalkan, puncak pandemi COVID-19 di Indonesia baru akan terlihat pada bulan Juni-Juli.

Mungkin saat ini sebagian besar orang sudah karantina mandiri di rumah, atau ada yang dipecat karena perusahaannya bangkrut, atau dirumahkan tanpa gaji. Dan kini pengguna social media menjadi lebih cerewet dan reaktif dibanding sebelumnya.

Anyway.

Ada salah satu topik di media daring yang mencuri perhatian saya. Mungkin istilahnya “sex and tell”? Beberapa kali saya melihat thread di twitter yang membahas isu tentang perempuan yang ditinggalkan begitu saja setelah berhubungan badan.

Saya nggak mau bahas gosipnya, tapi dari isu seperti ini, saya belajar mengenali sebuah term; sexual coercion.

Sexual coercion, menurut artikel ini, didefinisikan kira-kira sebagai berikut:

Aktivitas seksual yang tidak diinginkan yang terjadi karena tekanan non-fisik, termasuk diantaranya:

  1. Terpaksa dilakukan karena lelah dengan ajakan/permintaan untuk berhubungan seks yang berulang-ulang.
  2. Dibohongi/dibujuk/dirayu/dijanjikan sesuatu (yang tentu saja janjinya palsu) untuk memanipulasi korban agar mau diajak berhubungan badan. Misalnya; mengaku single, janji akan menikahi, pura-pura sayang dengan tulus, pura-pura baik dan perhatian, misleading dan manipulasi agar korban mengira bahwa mereka “berpacaran”, dan masih banyak lagi.
  3. Mengancam putus atau akan membuka aib/informasi pribadi korban jika tidak ingin melakukan hubungan seks.
  4. Relasi kuasa, menggunakan jabatan atau posisi otoritas untuk menekan seseorang agar mau berhubungan seks dengannya.

Ada berapa di antara kalian yang berhubungan seks karena alasan di atas?

Diancam putus, dijanjikan akan dinikahi, dirayu dengan kata-kata sayang, atau dimanipulasi dengan menciptakan situasi seakan-akan kalian berdua sedang dalam hubungan pacaran (lalu kemudian pelaku akan bilang, “Loh, kita kan gak pacaran. It’s just sex.”), atau bahkan dengan mengaku single padahal sudah punya pacar atau istri.

Ada beberapa kasus yang dialami oleh orang yang saya kenal.

Misalnya, katakanlah, Andi dan Ani. Andi mendekati Ani, mulai dari chat, kemudian ketemuan, kemudian ngedate, setiap hari teleponan, seminggu sekali jalan selayaknya orang pacaran biasa. Ani mengira status mereka berdua sudah menjadi “pacaran” karena semua treat yang dilakukan Andi seperti itu. Suatu hari, Andi mengajak Ani liburan ke luar kota, kemudian mereka berhubungan badan. Seperti itu selama berbulan-bulan.

Lalu Ani memergoki Andi ternyata juga jalan dan tidur dengan perempuan lain. Ani marah, ia langsung mengkonfrontasi Andi. Dan dengan enteng, Andi menjawab, “Loh, kita kan bukan pacaran. Memang aku pernah bilang kalau kita pacaran?”

Ani menjawab, “Tapi aku sudah berhubungan badan sama kamu! Harusnya kamu tanggung jawab.”

“Loh, tapi aku kan gak pernah maksa untuk berhubungan badan. Kita melakukan itu karena suka sama suka. Kamu gak pernah nolak, kok.” kilah Andi.

Tidak, Andi. Apa yang kamu lakukan adalah sexual coercion. Bagaimana jika sebelum kalian berhubungan badan, kamu bilang ke Ani, “Hi Ani, aku ingin bermesraan dengan kamu dan melakukan hubungan seks. Tapi perlu kamu ketahui, aku nggak ingin kita pacaran, dan aku juga memiliki partner seks yang lain selain kamu.”

Apakah jika Andi jujur dari awal seperti itu, Ani mau berhubungan badan dengan Andi?

Jika jawabannya Ani tidak akan mau berhubungan badan dengan Andi, apa yang dilakukan Andi adalah manipulasi dan dikategorikan sebagai “pemerkosaan”.

Contoh kasus lain. Sebut saja Budi dan Bebi. Budi berkenalan dengan Bebi, dari perkenalan itu, Budi mendekati Bebi. Mulai dari chat, ngedate, akhirnya suatu hari Budi “nembak Bebi”. Beberapa bulan kemudian, akhirnya Budi dan Bebi berhubungan badan. Mereka bahagia. Sampai suatu hari… Bebi mengetahui bahwa Budi ternyata sudah punya istri/pacar.

Sambil menangis, Bebi bilang, “Kok kamu tega? Aku pikir kamu serius sama aku.”

Dan Budi hanya menjawab, “Maaf, aku betul-betul sayang sama kamu. Tapi aku nggak bisa meninggalkan pacar/istri aku. Hubungan seks kita kemarin-kemarin karena aku benar-benar sayang sama kamu.”

Apakah jika Budi jujur dari awal bahwa ia punya pacar/istri, Bebi akan mau berpacaran dan berhubungan seks dengan Budi?

Jika tidak, sekali lagi, itu adalah sexual coercion. Pemerkosaan.

Ada lagi, Cipto dan Citra. Citra belum pernah berhubungan badan, lalu bertemu Cipto. Pedekate dan jadian. Awalnya hanya pegangan tangan, lama-lama ciuman, lalu semakin lama berhubungan, mereka semakin jauh. Suatu hari Cipto dan Citra terlalu jauh, Cipto menarik celana dalam Citra.

Citra meminta Cipto tidak melakukan penetrasi, Cipto menjawab, “Aku nggak janji.” kemudian tiba-tiba ia melakukan penetrasi tanpa mempedulikan jeritan Citra. Citra dalam kondisi bingung. Ia sayang dan percaya pada Cipto, tapi ia tidak yakin ingin melakukan penetrasi. Namun detik itu, Citra tidak berani untuk melawan karena Cipto adalah pacarnya, dan mereka sudah terlanjur telanjang. Citra menyalahkan dirinya dan berpikir bahwa dia lah yang membuat hubungan badan ini terjadi.

Itu, sexual coercion. Cipto memanfaatkan status hubungan mereka, memanfaatkan situasi, dan memanipulasi Citra agar tidak berani untuk menolak berhubungan badan. Pemerkosaan.

Tentu saja, pembelaan yang paling common adalah, “Tapi saya tidak memaksa, kok. Kami sama-sama suka. Sama-sama menginginkan. Toh ceweknya gak nolak, malah doyan.”

Tapi jika pelaku jujur, terbuka soal ekspektasi, situasi, kondisi, dan statusnya, dan menjelaskan apa yang dia mau serta tidak menuntut, apakah pasangannya akan mau diajak berhubungan badan?

Jika tidak, maka, yang kamu lakukan adalah sexual coercion.

Jadi… sudah berapa perempuan yang kamu “perkosa”?