The Things That I Never Had The Chance to Told You

I don’t want to change you.

Hence i leave.

I trusted you. But you lied to me so many times. I tried so many time after that, and you kept failing me. Maybe you are that kind of person. Maybe you are just not good on keeping your words. Maybe you only think about yourself, not considering how your actions could hurt people. People you said mean the world for you. People you said you love.

Maybe you just don’t understand what love actually is.

Maybe, you’ve lied so many times you forget how to just tell things as it is, and be a decent human.

And me. I am a sad person, and you know that. I’d rather hear painful honesty than beautiful lies.

You’ve seen my scars. You’ve heard my midnight cries. And i know, i know it hurt you when you heard me crying. But it wasn’t enough to move your heart and to treat me better. You used my weaknesses for your own entertainment instead.

I seek for a home in people. While you’re a moving vehicle, you go whenever whereever you like to. I wanted to trust and to feel love again. And all you wanted was being loved, without giving back the love you received.

I wanted to be someone’s priority, while you were looking for distraction when you are alone and bored. I wanted time, you just wanted to kill time.

See how that went?

We were looking for different things. It’s a waste of time to try settle everything between us.

And i don’t want to change you.

I don’t want you to be a better person for me. I want you to be a better person for yourself.

Maybe one day you will fall in love with a girl who can put up with your ignorances, who can bring the best out of you. A girl who will make you want to be the best man in her life. She’ll make you want to protect her, and you’ll be afraid to hurt her in any way. You’d rather die than seeing her crying.

I wish I could be that girl.

I broke my own heart to save you from a girl like me. I left to make you realise that what you had for me wasn’t love. It was just loneliness.

Precious one, you’ll heal. Believe me. Even without me.

You don’t have to change, you don’t have to do things you don’t want.

I love you. But being betrayed and broken, has taught me that love fades. And loving the wrong person, could break me more than i am now. I don’t want to be the kind of girl who seek cure from other people, and ended up dissapointed.

My precious, you will heal. You will fall in love. And someone will love you more than i love you, or any girl that has loved you before. You deserve someone who trust you, and understands you.

Please be happy. And please don’t ever forget about me.

Egois Harusnya Ada Batasnya…

Semua orang bilang, bahagia itu pilihan, bahagia itu kita yang bikin. Bahkan saya sendiri ngomong gitu.

Seandainya memang semudah itu.

Ada yang bilang, kesedihan bisa pergi dengan mensyukuri hidup, berolah raga, ikut komunitas, jadi relawan, traveling, belanja, lakukan hobi kamu, sampai dengan hal kecil kayak coba aroma therapy.

Saya sampai lelah menjawab, semuanya sudah saya lakukan. Even pakai aroma therapy, setolol apapun hal itu terdengar.

Apa yang nggak saya coba lakukan untuk tidak fokus pada kesedihan? Nggak ada.

Sebelum kamu bilang ke saya untuk coba melakukan A, B, dan C, saya sudah mencoba semuanya bertahun-tahun lalu. Saya bukan orang yang suka whining tanpa melakukan apa-apa.

Ada tipe orang yang senang terjebak dalam kesedihan, dan bahagia memposisikan dirinya sebagai korban terus-terusan. Saya bukan orang seperti itu. Kesedihan membuat saya tidak konsentrasi bekerja, membuat saya menangis menjerit-jerit sendirian di kamar tanpa bisa sharing sama siapapun karena saya tidak tahu apa yang harus saya ceritakan, membuat saya berpikir tentang bunuh diri. Saya tidak ingin hidup dalam keadaan seperti ini terus menerus.

Tapi memposisikan diri sebagai korban memang candu. Seberapapun kita nggak ingin melakukan itu.

Kadang saya masih merasa nggak adil melihat orang yang membuat saya seperti ini hidup dengan bahagia. Memamerkan kebahagiaannya di social media, dengan pencitraannya yang maha suci dan maha baik. Rasanya ingin berteriak bahwa ia menghancurkan saya untuk mendapatkan kebahagiaannya. Dia membuat saya depresi, depresi klinis. Dia membuat saya merasa ketakutan setiap memiliki hubungan dengan laki-laki. Dia meninggalkan kerusakan permanen pada saya.

Bagaimana bisa seseorang hidup begitu bahagia setelah menghancurkan orang lain yang telah menemaninya dalam senang dan susah selama bertahun-tahun?

Seandainya sedih adalah pilihan, saya ingin memilih bahagia, saya ingin mengatakan bahwa saya turut bahagia. Saya ingin merasa bahwa saya bersyukur pernah ditemani olehnya. Saya ingin menghargai semua yang telah kami berdua jalani.

Tapi ketakutan-ketakutan saya tidak pernah pergi. Walaupun saya sudah menjalani sesi-sesi terapi dengan psikolog. Ketakutan dan luka saya tidak pernah pergi.

Apakah saya harus menyalahkan diri saya sendiri karena terlalu lemah? Apakah saya harus menyalahkan diri saya sendiri karena pernah percaya? Apakah saya harus menyalahkan diri saya sendiri karena tidak bisa menyingkirkan ketakutan dan kesedihan saya?

Mungkin itu sebabnya memposisikan diri sebagai korban adalah candu. Karena menyalahkan diri sendiri padahal saya nggak mau ada di dalam kesedihan ini, membuat saya semakin sedih dan merasa bersalah pada diri saya sendiri.

Tolong. Jangan pernah selingkuh. Jika kalian tidak bahagia dengan hubungan kalian, pergilah dengan baik-baik. Kalian nggak tahu, sedalam apa luka yang akan kalian tinggalkan. Kalian mungkin bisa dengan mudah move on, dan berbahagia dengan kehidupan yang baru. Tapi orang yang kalian lukai, mungkin harus struggling bertahun-tahun dalam kesedihan dan ketakutan.

Egois harusnya ada batasnya…