Sylvia Plath dan Overthinking Tengah Malam

Pertama kali saya mengenal Sylvia Plath, mungkin tahun 2014. Ketika depresi mayor saya relaps, namun saya belum menyadari bahwa saat itu saya depresi. Saat itu, saya kira, yang saya rasakan adalah galau. Meski saya tahu, seumur hidup saya belum pernah merasakan kesedihan sesakit itu.

Continue reading Sylvia Plath dan Overthinking Tengah Malam

Hidup dengan Bipolar dan Depresi

Hi, nama saya Lea. Saya didiagnosa dengan depresi pada tahun 2015, depresi saya relaps pada tahun 2014. Setelah terapi dengan psikolog pada tahun 2015-2016, saya beralih ke psikiater pada tahun 2018, ketika depresi saya kembali relaps, berlanjut hingga sekarang. Pada tahun 2019, saya mendapatkan diagnosa tambahan; bipolar. Tahun ini, 2020, saya beralih psikiater, dan mendapatkan diagnosa bipolar. Sejak 2018 hingga sekarang, saya mengkonsumsi obat penenang dan anti-depressant agar saya bisa berfungsi dengan normal.

Continue reading Hidup dengan Bipolar dan Depresi

Psikolog atau Psikiater?

Salah satu pertanyaan yang muncul pertama kali ketika saya sudah meyakini diri saya menderita depresi, adalah apakah saya harus mencari pertolongan ke psikolog, atau psikiater?

Ini mungkin salah satu pertanyaan awal yang paling esensial untuk orang yang merasa dirinya sakit mental.

Saran saya, ada baiknya sebelum memutuskan mencari bantuan professional, kenali dulu gejalamu dan coba lakukan tes/screening singkat.

Continue reading Psikolog atau Psikiater?

Hari di Mana Saya Mati

Masih segar di ingatan saya. Taipei, Januari 2014. Minggu yang sangat sibuk sekali. Bangun pagi, kemudian sibuk mengecek presentasi hasil market research di hari sebelumnya, mandi, dan harus sampai di hotel tempat workshop berlangsung pukul 8 pagi.

Sesampainya, kami langsung sarapan, pukul 9 mulai workshop hingga pukul 4 sore, dilanjutkan kembali ke hotel tempat kami menginap, buru-buru ganti baju, lalu berangkat lagi ke kota lain untuk melakukan market research. Pukul 10 malam kami kembali ke hotel, buru-buru menyusun hasil market research kami lengkap dengan foto.

Pukul 12 malam, sebelum tidur, saya menghubungi pasangan saya saat itu. Hanya bisa ngobrol sebentar. Saya tanya mengapa ia tidak responsif padahal saya hanya punya sedikit sekali waktu luang untuk menghubungi ia. Jawabnya, “Ya aku lagi me time aja mumpung kamu nggak di sini.”

Ada lubang yang tercipta di dada saya mendengar kalimat itu.

Continue reading Hari di Mana Saya Mati

Mengapa Sebaiknya Kita Tidak Diam?

Beberapa minggu belakangan ini, ada hal yang mengganggu saya.

Awal mula saya menulis tentang depresi, mungkin sekitar tahun 2014, dan saat itu saya belum sadar bahwa saya mengidap depresi, dan apakah sebenarnya depresi itu. Tahun 2014, saya mengalami relaps, dan menurut psikolog saya belakangan pada tahun 2015 akhir, apa yang saya alami saat itu adalah MDD, atau Major Depressive Disorder.

Saat itu, saya yang belum mengerti apa yang sedang saya alami, hanya memiliki menulis di blog dan twitter untuk mengekspresikan rasa sakit tak tertahankan yang saya alami. Tentu saja bukan hanya menulis yang saya lakukan untuk berusaha menyembuhkan atau setidaknya melarikan diri dari rasa sakit. Saya mengambil sidejob yang banyak, agar bisa melarikan diri dari pikiran saya. Saya menenggelamkan diri dalam alkohol agar bisa lupa dan tidur, ikut komunitas menggambar, traveling, meditasi, tidur sembari mendengarkan soundwave, menggunakan aroma therapy, berkencan, bermain dengan teman-teman saya, olah raga, menonton film, membaca buku, semuanya saya lakukan agar merasa lebih baik.

Menulis hanyalah satu dari sekian pelarian yang saya miliki.

Saya ingat pada masa itu, saya butuh wadah untuk mewujudkan rasa sakit saya dalam bentuk kata-kata. Dan blog ini adalah wadah saya.

Loh, kenapa tidak menulis di buku harian saja? Tentu saja saya punya buku harian, yang berisi pikiran-pikiran tergelap saya. Tapi bagaimana caranya saya bisa membuat orang lain mengerti atau setidaknya tahu apa yang sedang saya alami di kepala saya jika saya tidak menulis di blog?

Tentu saja, menulis di blog ada resikonya. Nggak semua respond positif, kok. Ada teman-teman yang menertawakan tulisan saya, ada yang menjadikan saya bahan ejekan, walau ada juga yang menyemangati saya dan meminta maaf karena tidak tahu apa saja yang saya alami selama ini. Dan jika saya tidak menulis di blog saya, ada kah yang akan datang dan meraih tangan saya?

Akhirnya, setelah hampir dua tahun hidup dengan depresi yang tidak ditangani dengan benar, saya memutuskan ke psikolog. Selain itu, saya juga membaca-baca artikel tentang depresi – bukan artikel pop yang memvalidasi dan meromantisasi depresi, melainkan artikel dan tulisan blog pribadi maupun komunitas yang mengajarkan bagaimana cara melawan depresi, bagaimana cara mengerti depresi, bagaimana cara mengenali gejala depresi dan cara menanganinya.

Tulisan- tulisan ini menolong saya. Menolong saya mengenali depresi, membantu saya tidak merasa sendirian, membantu saya lebih mengerti tentang penyakit saya. Sesuatu yang awalnya saya kira tidak memiliki jalan keluar dan bersifat permanen, sesuatu yang awalnya membuat saya takut untuk terus hidup. Ternyata, depresi adalah penyakit yang cukup banyak diderita orang, pengidapnya mencapai kira-kira 300 juta orang menurut WHO.

FYI, di tahun 2014-2015, ketika saya mencoba mencari informasi tentang depresi di media online, nyaris tidak ada informasi berbahasa Indonesia. Tidak ada tips, trik, penjelasan, info akses psikolog/psikiater yang jelas, komunitas yang bisa membantu. Tidak ada. Semua itu nggak ada. Ada info nomor telepon cegah bunuh diri, yang ternyata tidak aktif. Lalu hotline bunuh diri dari Depkes, saya telepon, tidak ada yang menjawab. Bayangkan betapa putus asanya saya waktu itu. Tidak ada satupun orang, komunitas, institusi, atau apapun yang bisa saya tanya soal apa yang saya alami.

Hanya ada satu artikel blog, dari seorang perempuan yang menderita mental illness dan harus ke psikiater. Artikel itu berhenti di sang perempuan tidak melanjutkan pengobatan karena biayanya terlalu mahal. Tidak ada tips atau penjelasan apapun.

Saat itu, saya merasa sangat sendirian.

Setelah beberapa kali terapi dan mulai bergabung dengan komunitas yang fokus pada mental illness, saya memberanikan diri berbagi tentang penyakit saya secara terbuka di blog ini. Dan tidak lama setelah itu, saya mulai melihat (atau mungkin saya baru menyadari) banyak orang dan komunitas yang berbicara tentang mental illness.

Tujuan awal saya menulis tentang mental illness pada mulanya hanya agar orang lain yang seperti saya tidak merasakan apa yang saya rasakan; tidak merasa sendirian dan kebingungan, dan tahu kapan harus ke psikolog/psikiater. Ditambah lagi saya kemudian bergabung dengan komunitas yang berfokus ke mental illness dan pencegahan bunuh diri, Into The Light.

Dari Into The Light, saya belajar banyak banget, dan mata saya terbuka soal hal-hal yang dihadapi penderita mental illnes. Salah satunya adalah STIGMA. Salah satu fokus dari kegiatan Into The Light; melawan stigma terhadap penderita mental illness. Dan memang itu juga yang saya alami.

Waktu saya belum mengerti bahwa saya mengidap depresi, saya melakukan banyak hal di luar nalar; abuse alkohol, oversharing di internet, dan ngetwit tanpa henti. Kenapa? Simply karena saya nggak bisa mengontrol diri saya dan pikiran saya. Pikiran saya jalan terus, dan saya nggak mungkin nelpon semua orang yang saya kenal selama 24 jam, although, i did call people every single day, to talk about what was going on in my head. Nangis-nangis 2 jam sambil ngomongin hal yang sama berulang-ulang kayak kaset rusak. Pagi, siang, sore, malam. Tapi itu nggak cukup. In between, i tweeted, a lot. Like… A LOT.

Saya jadi bahan ketawaan, dan kadang ada juga orang-orang yang nyuruh saya diem dan berhenti ngetwit. But i couldn’t help it. Saya nggak bisa kontrol diri saya dan isi pikiran saya. That time, i needed help, but no one understood. Yang mereka lihat hanya cewek galau berlebihan yang ngetwit karena caper. Masa itu, nggak ada orang yang ngerti depresi itu apa, termasuk saya sendiri.

Saya yang sekarang, jauh berbeda dengan saya yang dulu. Bertahun-tahun kemudian saya memutuskan ke psikiater (well nggak juga, sih, niatnya ganti psikolog aja tapi saya nggak lihat gelarnya, main bikin janji, tau-tau psikiater). Dan saya bersyukur sudah memutuskan ke psikiater. Apa yang tidak bisa dibantu oleh psikolog saya, ternyata bisa dibantu oleh psikiater. Saya jauh lebih baik.

Tapi keinginan saya untuk menulis tetap ada. Semakin saya mengenali penyakit saya, semakin saya ingin berbagi, agar orang-orang lebih mengerti, agar orang lain yang mengalami hal yang sama dengan saya, nggak merasa sendirian. Karena itu yang saya rasakan ketika akhirnya menemukan blog-blog penderita mental illness dari negara lain yang secara terbuka menjelaskan penyakitnya dan membantu mengajarkan bagaimana cara menanganinya.

Tentu saja, kadang saya menulis bukan karena itu, kadang saya menulis karena saya butuh katarsis untuk mengejawantahkan rasa sakit saya sebagai bentuk fisik yang bisa dilihat. Sebagai tulisan.

Dan mungkin… kadang merupakan permintaan pertolongan yang tidak saya sadari karena saya bingung harus cerita apa ke siapa.

Dalam menulis blog atau twit, bagi saya tantangan terbesarnya adalah stigma.

Itu lah yang akhir-akhir ini mengganggu saya. Saya semakin menyadari bahwa dengan meningkatnya awareness soal mental illness, arus stigmatisasi pun semakin kencang. Salah satu hal yang membuat saya sedih, kadang stigma itu datang dari teman sendiri, maupun dari penderita mental illness.

Kadang saya temukan komentar yang kira-kira seperti ini, “Ah, gue juga penderita mental illness, tapi gue gak se-drama elo, deh.” atau, “Gue penderita mental illness, tapi gak whining kayak lo. Gue fokus ke penyembuhan.”

Kamu punya mental illness dan bisa handle dengan baik? Then good for you.

Tapi apakah semua pengidap mental illness harus sama seperti kamu? Apakah menyuruh orang lain diam dan berpura-pura baik-baik saja bisa menyembuhkan orang lain?

Atau komentar lainnya dari teman-teman sendiri, “Daripada kamu ngetwit galau, mending kamu diem aja dan kontak temen-temen kamu.”

All i can say… Chester Bennington, Robin Williams, dan banyak orang lainnya yang memilih diam, tidak membicarakan tentang mental illnesnya secara terbuka, berakhir membunuh dirinya. Why do you try to silence people with mental illness if you’re not going to help them?

Mental illness nggak melulu soal galau kemudian curhat dan semuanya selesai.

Kadang mental illness adalah tentang keinginan aneh untuk nggak keluar kamar dan melakukan apapun selama berhari-hari, tentang tidak ingin berinteraksi dengan siapapun hingga kalian meng-uninstall whatsapp dan semua aplikasi chat, tentang duduk sendiri di sudut kamar menangis dalam gelap. Tentang tidak ingin melakukan hobi-hobi yang biasanya membuatmu senang, seperti menggambar atau berfoto. Tentang pikiran-pikiran aneh irasional di kepalamu, yang saking nggak masuk akalnya, kamu nggak berani cerita ke siapapun.

Bagaimana caranya curhat ke teman kalau kondisimu seperti itu?

Belum lagi ketika sesama penderita mental illness saling membanding-bandingkan penyakitnya. Kayak, “Gue loh, bipolar + PTSD + depresi + panu kadas kurap, pokoknya penyakit gue lebih parah dari elo, tapi gue gak cengeng kayak lo.”

Saya sih, kalo ada yang ngomong begitu, bawaannya mikir, lah situ emang gak sakit kali? Kok ya bisa ngaku sakit tapi nggak empati? You’ve been there, but you can’t understand how hurt it is? How come?

Banyak cara dilakukan oleh orang-orang untuk merendahkan penderita mental illness dengan stigma. Dan kadang, dari pengalaman saya, stigma itu nggak cuma diberikan oleh orang normal, sesama penderita mental illness pun bisa loh saling discourage. Itu menyedihkan.

Buat saya nggak ada bedanya dengan perempuan yang berkomentar kepada sesama perempuan korban pelecehan seksual, “Saya juga pernah dilecehkan oleh laki-laki, tapi saya lawan. Mbak kenapa diem aja? Harusnya lawan juga, dong.”

Buat apa glorifikasi diri sendiri sebagai survivor mental illness kalau tujuannya adalah untuk menjatuhkan penderita mental illness lainnya?

Ada 2-3 orang dalam linimasa twitter saya, yang kerap melakukan shitposting soal mental illness, yang berteriak betapa mereka ingin mati saja, dan betapa sakitnya mereka. Saya nggak bisa nggak melihat itu sebagai permintaan tolong. Banyak yang bilang mereka caper. Apakah iya mereka caper? Well tentu saja. Karena mungkin hanya cara itu yang mereka tahu untuk menunjukkan ke orang lain bahwa mereka butuh pertolongan. Who am i to judge and to silence them?

Ada juga orang-orang dengan diagnosa bipolar dan mental illness lainnya yang nggak pernah posting apa-apa di socmed selain postingan yang hepi-hepi, tapi sesekali akan menelpon saya sambil menangis menjerit-jerit mengatakan mereka nggak sanggup lagi. Yang ketakutan bilang nggak boleh ada satupun kenalan mereka yang tahu penyakit mereka entah karena takut dipecat, atau takut diketawain bisa punya mental illness dan bereaksi berlebihan hanya karena masalah-masalah kecil.

Are we going to be that person who discourage them to express themselves?

I refuse to silence people with mental illness. I refuse to judge how they express their pain. And i refuse to stop writing just because some people in my life told me to do so. Other people’s writings have helped me through my darkest times. Dan ada pula orang-orang yang reach out ke saya via email, blog, DM di instagram dan twitter, yang menyatakan tulisan saya telah menolong mereka. I just don’t post it.

Saya nggak posting email dan DM yang saya terima karena saya nggak mau encourage orang untuk curhat sama saya, since i am not compatible for that. Dan saya juga nggak mau glorifikasi diri saya dan tulisan saya seakan apa yang saya lakukan ini istimewa. But at least i know… tulisan saya ternyata membuat beberapa orang merasa terbantu dan termotivasi. Membuat orang-orang seperti saya nggak merasa sendirian. Dan seenggaknya, membuat beberapa teman saya lebih sedikit mengerti tentang apa yang saya rasakan dan pikirkan.

Tentu, dibandingkan tahun lalu, tulisan saya jauh lebih sedikit karena saya memiliki banyak coping mechanism lain dan saya sendiri merasa jauh lebih baik. Dan kadang saya hanya menulis karena saya sedang mengalami fase yang buruk sehingga butuh katarsis.

Tapi apakah saya harus berhenti menulis? Apakah orang-orang seperti saya harus berhenti mengekspresikan dirinya sendiri hanya agar tidak dihakimi dan dicemooh orang lain?

Jalan menuju kewarasan memang berat, tapi saya rasa, selama kita nggak abuse orang lain, alkohol, apalagi narkoba untuk coping mechanism, seharusnya kita tidak perlu takut dan malu.

Tulis saja dulu. Lawan stigma dengan kejujuran dan niat baik. Selama kita nggak menjelek-jelekkan atau menghina orang lain, kenapa harus takut dan malu? Kalau tidak ada orang yang menulis tentang mental illness, saya nggak akan pernah belajar apa itu depresi dan maju melakukan sesuatu yang real untuk menyembuhkan penyakit saya. Kalau saya tidak menemukan blog orang-orang yang berjuang dengan mental illness dan jujur tentang kegagalan dan ketakutan mereka, saya nggak akan tahu bahwa saya tidak sendirian. Saya akan minder dengan orang-orang yang mengaku bisa melakukan hal-hal hebat disamping mengidap mental illness. Saya akan putus asa melihat orang-orang yang mengglorifikasi keberhasilan mereka melawan mental illness tanpa menjelaskan support dan privillege apa saja yang mereka punya dan perjuangan panjang yang mereka lalui.

Bagaimana dengan stigma? Diterima saja. Sesama penderita mental illness saja bisa melempar stigma, apalagi orang awam yang ngaku “dulu saya depresi, tapi sembuh setelah mendekatkan diri ke tuhan” tanpa mendapat diagnosa resmi dari professional. Bahkan temen deket sendiri pun bisa mencap kita dengan stigma.

Tapi, mungkin dengan menulis, sedikitnya ada 1 orang yang membaca dan dari tidak mengerti jadi mengerti. Dari skeptis menjadi simpati. Atau ada 1 penderita mental illness yang kesepian, kemudian jadi merasa tidak sendiri.

PS: Saya menolak self-diagnose yang tidak dilanjuti dengan penanganan professional. Jika kamu merasa memiliki mental illness dan tidak memiliki dana cukup untuk berobat, silakan hubungi puskesmas atau RSUD untuk penanganan dengan biaya yang lebih terjangkau. Hindari self-diagnose. Please.

Tentang Terjebak

Salah satu hal yang menurut saya paling menakutkan dari depresi adalah perasaan bahwa saya nggak akan pernah keluar dari kondisi ini. Bahwa saya akan seperti ini selamanya.

Hi. Saya Lea. Depresi saya relaps pertama kali pada tahun 2014 ketika saya diselingkuhi oleh kekasih saya yang telah bersama selama hampir 7 tahun, mendapat diagnosa depresi pada tahun 2015 ketika pertama kalinya saya mendatangi psikolog, dan dicurigai bipolar oleh psikiater saya pada tahun 2019. Sejak November 2018 hingga sekarang saya masih mengkonsumsi anti depressant dan obat penenang setiap hari.

Hingga hari ini, saya masih berjuang melawan keinginan untuk bunuh diri.

Dan kini, saya sedang tersesat.

Jangan bayangkan saya sebagai sosok yang murung dan selalu melamun. In daily basis, saya sering tertawa, melempar jokes, cerewet, nongkrong ke sana dan ke mari, bekerja dengan baik di kantor, makan teratur, dan mulai olah raga teratur. Saya punya mimpi dan ambisi.

Tapi sejujurnya, di dalam batin saya, saya sedang tersesat.

Ada lubang di dada saya yang kadang membuat napas saya sesak dan jantung saya berdebar kencang, namun saya tidak menemukan alasan atau pemicunya. Ketika saya terdiam sambil memandang kosong melalui kaca mobil taksi online di jalan, saya membayangkan kematian secara obsesif. Saya merasa kematian adalah satu-satunya solusi agar saya tidak merasa sakit di dada.

Akhir-akhir ini saya berjuang setiap hari agar sanggup bangun dari tempat tidur dan bergerak keluar dari kamar kosan saya. Saya merasa ingin selalu berdiam diri di kamar dan tidur tanpa terbangun.

Padahal tidak ada hal mayor yang bisa saya komplain dari kehidupan saya.

Penghasilan saya tidak besar, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup. Pekerjaan di kantor saya memang cukup membuat stress dan banyak tekanan tapi masih bisa ditangani, tubuh saya sehat secara umum, saya dikelilingi teman-teman yang baik dan sepemikiran, tidak punya hutang, dan masih banyak lagi yang bisa saya syukuri. Namun ada rasa lelah yang mengganggu saya, rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan ingin tidur dan tidak bangun lagi. Perasaan ingin berhenti menjalani hari dan berwujud menjadi nihil.

Jika ada yang bertanya, “Are you okay?”, saya sulit menjawabnya. Nggak ada satupun hal yang bisa saya keluhkan selain ketakutan-ketakutan tidak beralasan yang berasal dari dalam pikiran saya. Bagaimana saya bisa menjelaskan ketakutan itu jika saya sendiri tidak mengerti apa yang saya rasakan?

Saya hanya ingin tidur dan tidak terbangun lagi. Saya merasa lelah dan seperti tidak menemukan jalan untuk menuju ke manapun. Dan saya tahu, pikiran seperti ini adalah pekerjaan dari depresi yang saya idap.

Banyak yang bilang olah raga bisa membantu penderita depresi. Dan mungkin ada benarnya karena kadang saya merasa lebih baik setelah olah raga. Tapi setelah itu apa? Sama seperti anti depressan saya, semuanya hanya sementara. At the end of the day, saya tetap merasa lelah dan ingin berhenti berjuang.

Saya olah raga, membaca buku, mencari kutipan motivasi, berdoa, dan minum obat. Tapi semuanya hanya sementara. Seperti menambal keran bocor dengan kapas.

Dan kadang saya bertanya, jika saya tidak pernah diselingkuhi oleh mantan kekasih saya, apakah hidup saya dan diri saya akan lebih baik?

Sayang aja dalam hidup tidak ada yang namanya putar balik. Yang terjadi sudah terjadi, damage been done, suck it up, move on.

I just wish that moving on is really that easy. I wish i can erase all these dark thoughts and pain forever. I wish i can wake up in the morning everyday with happy feelings, be more motivated, and love myself more.

Semoga suatu hari itu datang.

All The Wrong People in Your Life

Feelings are very complicated things.

Add depression into that, and you got permanent storms in your mind.

Saya suka ketika kehidupan saya teratur. Bangun pukul 8, olahraga sedikit, hanya planking 2 menit. Dilanjut mandi, berangkat ke kantor, kerja, pulang pukul 7 malam. Dilanjut nongkrong dengan teman, 2 hari seminggu olah raga di Stadion Soemantri, pulang malam untuk santai, mengerjakan sidejob, atau maskeran sebelum mandi dan tidur.

Beberapa bulan belakangan ini, semua keteraturan itu mulai berantakan. Dari mulai ayah saya sakit, dan sebagai tulang punggung saya harus menyisihkan jam-jam saya untuk bekerja di luar jam kantor demi mencari uang tambahan untuk membiayai keperluan ayah saya. Selamat tinggal olah raga, selamat tinggal tidur nyenyak 8 jam. Tapi, sebenarnya sebelumnya saya baik-baik saja. I had everything managed. Double job? Easy. Paying for therapy for my dad and all the medicines he needs? Easy, my other jobs paid me well.

But things don’t always run that easy. Dengan semua hal yang harus gue lakuin, ternyata ada aja hal-hal yang masuk dalam hidup dan menambahkan masalah. Then here’s come overthinking that lead to more serious problems; penyakit-penyakit yang muncul dan mengacaukan keteraturan gue, dan orang-orang yang muncul dalam hidup gue dengan membawa masalah dan bukannya ketenangan.

Last week, i almost burst into tears when i told my friend, “I feel like shit. Hidup gue jadi berantakan karena penyakit-penyakit sepele gue.”

Gimana nggak sepele… mulai dari gejala tyfus, asam lambung, gondongan (like seriusly, gue gondongan dan bedrest 5 hari di umur segini), gue sudah menghabiskan semua jatah reimbursement kesehatan, mulai sering gak masuk.

Gue makin sering menghabiskan waktu overthinking tentang semua problem dalam hidup gue, yang sedang gue cari solusinya. Gue kerja kerja untuk ngurusin ortu gue, tapi jadinya gue sakit-sakitan. Dan karena sakit, banyak hal yang gak bisa gue capai sebanyak yang gue inginkan. Kemudian gue juga jadi overthinking karena stress nggak bisa ngelakuin hal-hal sesuai keinginan gue.

Gue merasa, kalo gue nggak depresi, mungkin gue bisa ngejalanin semua ini dengan lebih teratur.

Kadang gue diceramahin, mungkin gue sakit-sakitan karena makan gue gak bener. Susah ngejelasinnya, sih. Makanan gue sehari-hari adalah nasi merah, sayur, oatmeal, dan buah. Hanya sesekali gue makan junkfood dan indomie.

Lalu diceramahin, gue kurang olahraga. Sekedar jalan kaki 3 km sehari masih gue jalanin. Tapi di luar itu, gue gak punya waktu dan tenaga untuk olahraga teratur. Kalau ada waktu kosong, gue maunya istirahat. Literally doing nothing. Atau ketemu temen-temen gue untuk mengurangi stress. Ditambah lagi gue sakit-sakitan.

Atau diceramahin, gue kurang tidur dan kebanyakan kerja.

Errr… i got mouths to feed. How can i be relax and reduce my workload when i need all the money i can get? Bisa liburan beberapa hari tanpa di-judge “Papanya lagi sakit, kok bisa-bisanya dia liburan?” aja udah bagus.

Dan gue harus ngerasa overwhelmed dengan semua ini. Gue ngambil sidejob banyak-banyak, dibilang nggak sayang badan. Gue liburan, dibilang gak mikirin orang tua. Di antara semua masalah gue, gue masih harus menghadapi hal-hal sepele seperti ini.

On top of that, masih ada saja orang yang masuk ke dalam hidup saya dan ngacak-ngacak semuanya yang udah berantakan jadi tambah berantakan.

Di kepala saya, semuanya berputar tanpa henti, saya nggak dibiarkan istirahat.

I want to be calmed. I want my peace of mind.

Sulitnya Dimengerti

Suatu hari saya terjebak di dalam percakapan yang membuat saya tidak nyaman.

Teman-teman saya sedang membicarakan seseorang, sebut saja namanya Mawur. Ceritanya Si Mawur ini ditolak sama gebetannya dengan cara yang tidak enak – tidak bisa saya ceritakan lengkapnya. Dengar-dengar Mawur ini pengidap sakit mental, tapi saya kurang jelas apa. Entah depresi, entah bipolar… saya nggak tahu.

Komentar teman saya kira-kira seperti ini, “Aneh banget Si Mawur. Cuma digituin cowok aja lebay banget.”

Lalu ditanggapi yang lain, “Gue tahu sih, digituin gak enak. Tapi kan ya ga usah sampe nangis histeris trus drop gitu. Kan baru gebetan, bukan pacar.”

Sebagai penderita depresi, tentu saja percakapan ini membuat saya tidak nyaman. Karena saya tahu banget rasanya break down untuk hal yang nggak penting. Saya bisa nangis berjam-jam hanya karena menjatuhkan jemuran saya yang sudah mau kering ke genangan air kotor.

Saya sadar, banyak hal yang nggak akan dimengerti oleh orang yang tidak pernah merasakan sakit mental. Nangis karena hal sepele, breakdown karena masalah pacar atau gebetan doang, sampai yang paling ekstrim seperti mencoba bunuh diri hanya karena putus dengan pacar.

Dalam percakapan tersebut, saya memilih diam. Karena akan sulit bagi saya menjelaskan bagaimana hal sepele bisa mempengaruhi seorang penderita sakit mental. Hanya… kadang saya sedih mendengar percakapan seperti itu. Saya jadi berpikir, apakah mereka mencibir seperti itu juga di belakang saya?

Sudah berkali-kali saya mencoba menjelaskan, seperti apa ngaco-nya penderita sakit mental. Kami kehilangan kemampuan untuk melawan pikiran negatif, imajinasi kami beranak pinak dengan liar tanpa bisa kami kendalikan. Contoh yang paling simpel adalah ketika sms/chat kami tidak dibalas 10 menit saja, kami bisa menghabiskan 10 menit itu memikirkan mungkin orang tersebut benci sama kami, mungkin ia akan mendiamkan kami seumur hidup. Dan tanpa bisa dikontrol, kami yakin pikiran negatif tersebut adalah hal yang nyata.

Ketika akhirnya chat tersebut dibalas, kami langsung merasa lega luar biasa.

Tentu saja hal di atas akan sulit dimengerti oleh orang yang tidak pernah mengalaminya.

Walaupun dijelaskan berkali-kali, orang yang tidak pernah mengalami nggak akan pernah mengerti. Saya nggak bilang yang nggak ngerti itu jahat. Tapi akan sangat membantu sekali kalau orang-orang mencoba mengerti.

Bener banget kata Lady Gaga…

you-never-know-how-it-feels-until-it-happens-to-you“‘Til it happens to you, you don’t know how it feels
‘Til it happens to you, you won’t know
It won’t be real
No it won’t be real
Won’t know how it feels”

Tentang Trauma

“I’m happy to see you being content even when you’re single.”, ujar sahabat saya suatu hari.

Saat itu saya sadar, iya juga, ya… Saya single, dan bahagia. Tidak merasa kesepian, atau sedih. Saya menikmati kesendirian saya. Walau tidak ada lagi percakapan tengah malam dengan lawan jenis, ngedate saat weekend, dan hal-hal seperti itu.

Sudah hampir satu tahun saya benar-benar selibat. Tanpa pacar, tanpa so-called FWB, HTS, TTM, dan sejenisnya. Well memang masih ada hal-hal kecil seperti flirty chatting, atau casual dating, tapi jarang. I always ended up sibuk sendiri dan melupakan teman ngobrol “lucu-lucuan” saya.

I thought i was being content, i was full, i was mentally healthy.

Until one day, someone came into my life.

To this person, i told him, don’t expect anything from me. He said he loves me. I said i’m sorry. I asked him to just enjoy what we had. I thought i can handle him. But i gotta admit, i started to grow feelings over him.

Dari sana, saya menjadi “rusak” kembali.

Nightmares, concentration problems, loneliness, paranoia, negative thoughts, anxiety, self-loathing, suicidal tendency, they came back. Dan mereka datang dengan perlahan-lahan tanpa saya sadari. Sedikit demi sedikit, tiba-tiba saya menemukan diri saya kembali ke tahun di mana saya diselingkuhi 4 tahun lalu.

Saat itu, saya menyadari. Saya bukan “tetap bahagia tanpa memerlukan pasangan”. Saya justru takut pada relationship itu sendiri.

Saya merasa nyaman ketika memiliki kontrol terhadap perasaan saya. Ketika saya mulai merasakan yang namanya “sayang”, hal-hal horror yang pernah saya lalui seperti kembali lagi. Ketakutan akan ditinggalkan, ketakutan akan dibohongi dan diselingkuhi. Pikiran saya penuh dengan hal-hal negatif yang memutar ulang semua kejadian pahit yang pernah saya alami.

I’ve been playing save by not letting myself to fall in love. Because when i do, all those pain, they come back.

I feel fucked up, and i want to runaway from these feelings. But it’s too late. I already felt it. It’s inside me now. Saya tidak menyangka bahwa saya segitu traumanya dengan hubungan dan perselingkuhan.

I wish i can fix myself. I wish i can just shut myself down and not feeling anything.

02.45

I can’t sleep and found myself crying in the middle of the night because of what he did to me years ago.

It’s been 4 years, 1 month and 2 days since the day i found out my most important person in the world cheated on me. I’ve been fall in love and got my heart broken to several guys since then. But i still find myself crying over the same person…

I wasn’t even thinking about him. But those sad memories still can find its way to climb to the surface.

Maybe there were triggers that i wasn’t aware of earlier today.

I wish there was a shut down button in my brain. I wish i were in that movie where Kate Winslet able to remove her memories. I want to erase these memories. I want to erase everything about him so i don’t have to feel like this anymore.

Or maybe because i am so scared to start a relationship… It’s like… Everytime i try to open up myself to someone, all those bad memories suddenly popping out like warnings. Stopping me from falling in love.

This. Is. A fucked up thing to be happened to a person.

Anyone who read this… Please. Please. Don’t ever cheat to your partner. You don’t know what kind of pain you’d leave to that someone. No one deserves pain like this. If you’re not happy with your partner, leave. Don’t cheat. Cause you might leave him/her a permanent damage.