Mengapa Self-Diagnose Saja Tidak Cukup?

Dengan meningkatnya awareness yang berhubungan dengan kesehatan mental, saya bisa melihat bagaimana orang-orang mengakui bahwa mereka merasa memiliki isu dengan kesehatan mental. Dari self-diagnosis berdasarkan artikel dan informasi di internet, orang berani menyatakan dirinya mengidap depresi, anxiety, bipolar, bahkan penyakit mental yang terdengar lebih rumit seperti borderline personal disorder, post-traumatic stress disorder, dysthimia, dan lainnya yang jarang kita dengar sehari-hari. Untuk melihat macam-macamnya, bisa cek link ini.

Jangan salah sangka. Self-diagnose adalah langkah awal yang baik bagi penderita. Dengan menyadari bahwa diri sendiri memiliki kondisi yang berbeda, kamu sudah memulai proses menuju kesembuhan.

Tapi, ketika kamu menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirimu, jangan berhenti di situ. Kamu harus mencari pertolongan profesional.

Kenapa hanya bersandar pada self-diagnose tidak tepat?

Kemungkinan salah diagnosa sangat besar. Jika kamu nggak pernah mengalami mental illness, kamu nggak akan mengerti gejala-gejala yang dituliskan pada artikel mental health. Jika kamu nggak pernah dealing with the real illness, kamu biasanya akan meng-simpel-kan gejala-gejala tersebut agar terasa relevan dengan dirimu.

Misalnya pada artikel tentang penjelasan depresi di sini.

  • down, upset or tearful

SALAH PAHAM: Orang yang tidak pernah depresi, akan mengira ini sama saja dengan kesedihan pada umumnya. Sedih karena putus, sedih karena disakiti orang yang disayang.

YANG SEBENARNYA: Pada penderita depresi, perasaan down kamu bersifat permanen. Kamu menangis setiap hari padahal tidak ada masalah apa-apa. Dan perasaan sedih ini berlangsung sama berbulan-bulan.

  • restless, agitated or irritable

SALAH PAHAM: Mudah marah atau “sensi”. Mudah marah bisa saja bagian dari kepribadian atau kamu punya masalah dengan anger management (dan ini juga dikategorikan sebagai masalah mental, namun berbeda jauh dengan depresi) atau penyakit mental lainnya.

YANG SEBENARNYA: Merasa lelah terus menerus secara fisik dan mental, merasa semua hal di hidup ini tidak berjalan sesuai dengan yang kamu mau. Merasa semua orang membencimu, ingin menyakitimu, tidak ingin dekat-dekat denganmu. Hal sepele seperti message tidak dibalas padahal mungkin saja orang yang kamu kirimi pesan sedang sibuk, bisa membuatmu down karena mengira orang itu nggak ingin bicara denganmu.

  • guilty, worthless and down on yourself

SALAH PAHAM: Pemalu, tidak percaya diri, introvert.

YANG SEBENARNYA: Saya mudah merasa bersalah, tidak berani menghubungi teman karena takut menyusahkan mereka, takut dibenci karena keadaan emosi saya yang sedih terus. Kemudian saya menjadi benci diri sendiri karena saya merasa diri saya lemah, tidak berharga, cengeng, gendut, jelek, tidak punya kelebihan apa-apa. Dan perasaan ini permanen.

  • empty and numb

SALAH PAHAM: Kata-kata ini tidak bisa menggambarkan seberapa kuat perasaan kosong dan mati rasa yang dialami penderita depresi. Sering dikira sama dengan perasaan ignorant, tidak peduli dengan orang lain, atau tidak mau mengeluarkan emosi sehingga selalu bersikap pura-pura datar.

YANG SEBENARNYA: Contoh konkritnya adalah kamu nggak bisa menikmati makanan enak, nggak menikmati traveling ke luar negeri, tidak bisa merasakan excitement yang biasa kita miliki saat hendak pergi main, pergi jalan-jalan, mendapat hadiah, bertemu orang yang kita suka dll.

  • isolated and unable to relate to other people

SALAH PAHAM: Kamu bisa mengira ini rasanya sama dengan menjadi introvert. Senang sendirian, tidak suka bertemu orang-orang.

YANG SEBENARNYA: Merasa kesepian terus menerus. Ingin ada yang menemani, tapi kamu takut keluar rumah dan bertemu orang-orang. Saat kamu dengan teman-temanmu, kamu nggak bisa ngerti apa yang mereka bicarakan. Kamu merasa nggak nyambung. Dan kamu merasakan keinginan mendesak yang aneh untuk melarikan diri dan bersembunyi di lemari yang gelap sendirian. Padahal sebelumnya kamu nggak pernah merasakan kayak gitu.

  • finding no pleasure in life or things you usually enjoy

SALAH PAHAM: Tiba-tiba nggak mood jalan-jalan, main gitar, nonton konser, atau hal-hal yang kamu sukai karena kamu lagi bete atau galau.

YANG SEBENARNYA: Pada penderita depresi, perasaan ini bertahan lama dan berlaku terhadap banyak hal yang kami suka. Berhenti melakukan hobi yang kami suka, tidak tertarik pada seks, nggak merasa apa-apa saat jalan-jalan, melakukan kegiatan menyenangkan. Seperti nggak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa bikin kamu senang.

  • a sense of unreality

SALAH PAHAM: Bagi orang yang tidak pernah depresi, mungkin kata-kata ini doesn’t make any sense.

YANG SEBENARNYA: Saya juga susah menjelaskannya. Kira-kira begini. Kamu bangun, menghadapi kehidupanmu sehari-hari, bergerak, bekerja, berbicara, namun kamu merasa tubuhmu melakukan itu begitu saja, kamu tidak merasa terkoneksi dengan dunia ini, dengan orang-orang di sekitarmu. Muncul perasaan bahwa hal-hal di sekitarmu tidak relevan dengan dirimu. Bahwa hal-hal di sekitarmu tidak nyata dan bisa hilang begitu saja. Rasanya seperti berjalan di bawah air, semuanya buram, bergerak lambat, dan terasa tidak nyata.

  • no self-confidence or self-esteem

SALAH PAHAM: Merasa tidak percaya diri.

YANG SEBENARNYA: Merasa buruk rupa, yakin dirinya nggak berharga, tidak cocok dengan society. Merasa seperti sampah, seperti mesin rusak. Apapun pujian orang lain padamu, kamu benar-benar tidak mempercayainya. Nggak akan sedikitpun ada dalam pikiranmu bahwa kamu punya kelebihan atau sesuatu yang bisa dibanggakan. Apa yang kamu kerjakan, kamu lihat sebagai kegagalan. Kamu benci cermin karena yang kamu lihat hanya keburukan.

  • hopeless and despairing

SALAH PAHAM: Orang biasa mengira perasaan hopeless sama dengan pesimis. Atau keputusasaan sesaat akibat suatu masalah.

YANG SEBENARNYA: Bagi penderita depresi, yang kami rasakan adalah keyakinan bahwa hidup kami, kesedihan kami, nggak akan berubah. Kami akan selalu berada di lubang gelap ini, dengan penderitaan dan rasa sakit yang nggak akan hilang. Kami sangat yakin hidup kami nggak akan berubah. Nggak ada yang namanya, “semua akan indah pada waktunya”. Kami nggak mengerti kalimat itu. Tidak ada satupun kalimat motivational yang bisa membantu kamu mengubah pikiran seperti itu.

  • suicidal

SALAH PAHAM: Perasaan ingin melukai diri sendiri untuk “mengancam”/memanipulasi orang lain agar kasihan atau menuruti keinginannya.

YANG SEBENARNYA: Bagi penderita depresi, kami menyakiti diri kami karena ingin mengalihkan perasaan sedih kami ke sesuatu yang lebih real. Karena kami nggak tahu dari mana sumber rasa sakit di dada kami. Bagi yang ingin bunuh diri, biasanya simply karena ingin menghentikan rasa sakit kami dan karena kami merasa nggak ada jalan keluar.

Katanya tidak semua penderita depresi merasa suicidal. Saya sendiri merasakannya. Ketika sendirian, ketika nongkrong sama teman-teman, ketika bekerja, saya terpikir ingin bunuh diri. Saya mulai riset kecil-kecilan tentang cara bunuh diri paling efektif dan paling tidak sakit. Lalu saya mulai mengatur, barang-barang saya akan diberikan ke siapa saja. Kemudian saya mencari lokasi yang tepat untuk bunuh diri. Namun ini tidak pasti dilakukan semua orang.

Hal ini berlaku pada gejala penyakit mental lainnya. Karena saya sudah paham seberapa ekstrim gejala depresi yang sebenarnya, saya tidak mudah mengasosiakan diri saya dengan gejala penyakit lain seperti bipolar atau anxiety yang punya kecenderungan agak mirip dengan depresi. Saya sudah mengerti bahwa setiap gejala penyakit mental tidak muncul sesekali, tidak memiliki kadar “mild”, harus dialami terus menerus dalam jangka waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Karena itu, self-diagnose yang salah membuatmu merasa berganti-ganti penyakit mental. Hari ini kamu bisa mengira dirimu depresi, bulan depan kamu merasa gejalamu lebih mirip anxiety, lalu minggu depan kamu merasa memiliki gejala borderline personality disorder. Itu bahaya. Karena yang kamu lakukan adalah mencocok-cocokkan gejala secara buta. Jika self-diagnose mu berubah-ubah, ada dua kemungkinan, kamu tidak sakit sama sekali, atau mungkin saja kamu memiliki semuanya.

Tapi, jika kamu memiliki semua gejala penyakit tersebut, kamu pasti nggak akan bisa kerja, berbicara dengan normal, menyelesaikan pekerjaan, bahkan tidak bisa melakukan hal kecil dan mudah seperti mandi dan makan setiap hari.

Manusia itu punya kecenderungan menjadi conformist. Misalnya saat membaca artikel kepribadian tentang zodiak, atau komik kepribadian berdasarkan golongan darah.

Banyak yang mengucapkan, “Ih, ini gue banget.”

Dan tanpa kalian sadari, kadang kalian memaksakan sifat-sifat tersebut agar pas dengan kepribadian kalian karena kalian ingin konsisten dengan label yang kalian buat sendiri.

Hal yang sama bisa saja kalian lakukan saat kalian melabeli diri dengan penyakit mental tertentu. Kalian “memaksakan” memiliki gejala tersebut, kemudian mencari validasi dari orang di sekitar kalian dengan terus menerus menunjukkan gejala yang kalian paksakan itu.

Sementara, bagi orang yang memang menderita penyakit mental, self-diagnose tanpa professional treatment, justru jauh lebih berbahaya. Kamu bisa salah diagnosa, dan melakukan pengobatan sendiri yang salah juga. Saya bisa bilang begini karena saya termasuk dalam golongan ini.

Saat saya yakin saya menderita depresi, dengan bodohnya saya mencari sendiri tips-tips menyembuhkan diri dari internet. Ada yang bilang travelling, olah raga, piknik, bertemu teman-teman, memelihara binatang, yoga, dll. Yang terjadi adalah saya memboroskan uang, dan terjebak dalam depresi selama 2 tahun. Saya sampai di titik mengira apa yang saya rasakan bukan depresi, tapi bagian dari kepribadian. Dan saya tidak mengerti bahwa keinginan bunuh diri bisa terasa begitu mendesak, seperti sesuatu yang harus banget dilakukan.

Ketika saya ke psikolog dan akhirnya mengerti seperti apa rasanya menjadi normal, saya baru merasa betapa jauhnya perbedaan antara menjadi sekedar sedih dan jatuh ke dalam depresi. Saya baru mengerti bagaimana rasanya menyendiri di kamar tanpa merasa kesepian. Saya baru mengerti bagaimana rasanya menikmati makanan saya dan kembali menyukai hobi saya yaitu menggambar.

Karena itu, jangan pernah berhenti di self-diagnose.

Jika kalian merasa “sakit”, cari bantuan profesional. Cari psikolog atau psikiater berlisensi. Jangan curhat ke teman psikolog S1 dan minta dia nebak-nebak buah manggis kamu sakit apa. Kalau ke psikiater, kalian bisa pakai BPJS loh sekarang. Jangan menilai ke psikiater = kamu orang gila.

Dan yang pasti, tolong diingat. Kamu nggak sendirian.

Side notes: Saya menulis artikel ini dari sudut pandang penderita sehingga sangat mungkin ada koreksi di depannya karena saya bukan pakar kesehatan mental. Tulisan seperti ini banyak saya post di blog saya untuk membantu meningkatkan kesadaran terhadap mental health issue.

2016, Sejak 2014.

“What happened in 2014?”

Sebuah pertanyaan di sesi meeting review performance kerja saya. Atasan saya memasang wajah bingung. Bingung karena menurutnya performance saya selama ini tergolong bagus, stabil, target-target saya tercapai, peningkatan terlihat jelas. Performance tahun lalu pun sangat baik dan melampaui target. Tapi kantor principal menolak rekomendasi naik jabatan saya dengan alasan mereka takut saya kembali seperti tahun 2014.

Dan sejujurnya, ini adalah tahun kedua kenaikan jabatan saya ditunda.

Sejauh apapun saya melangkah, sebagian hidup saya tetap tertahan di tahun 2014.

Saya memberi sedikit penjelasan bagaimana performance saya di kantor saat itu hancur berantakan karena depresi yang tidak ditangani professional. Depresi yang tidak saya sadari. Saya baru kembali normal dan bahkan jauh lebih baik sejak ke psikolog dan mendapat penanganan. Kebetulan atasan saya ini baru menjabat setahunan, dia tidak tahu keadaan saya waktu depresi.

Saya paham, orang yang nggak pernah menderita depresi nggak akan mengerti bagaimana depresi bisa mempengaruhi hidup seseorang. Dan saya harus hidup dengan track record yang menunjukkan bahwa saya pernah menjadi manusia gagal. Alasan yang sama membuat saya sedikit takut menyeberang ke perusahaan lain. Saya takut sesuatu terjadi dan depresi saya kembali relaps.

Depresi dan sedih/stress adalah kondisi yang jauh berbeda. Dan saat itu saya kira saya hanya sedang dalam masa bersedih, saya belum sadar itu depresi.

Awalnya, yang saya rasakan adalah tidak sanggup konsentrasi. Karena komunikasi di kantor saya kebanyakan menggunakan Bahasa Inggris, saya mulai kesulitan menerjemahkan semua email-email itu. Kemudian, pekerjaan saya yang fokus pada memberikan creative review dan creative brief, sangat menuntut konsentrasi tinggi. Sebuah problem yang bisa saya selesaikan dalam setengah jam, saat itu baru bisa saya selesaikan dalam 4 jam karena saya tidak bisa konsentrasi, tidak mampu memikirkan solusi, kemudian disela dengan breakdown – menangis tanpa kontrol.

Saya sering hanya menatap kosong pada monitor, kemudian menangis, kemudian melamun, kemudian menangis.

Kemudian saya mudah lupa. Saya tidak bisa mengingat apa yang harus saya kerjakan. Saya tidak bisa mengingat apa deadline saya. Saya mencoba melawan dengan membuat to-do-list, reminder, catatan kaki. Mulai dari membuat list di kertas yang saya letakkan di atas meja, kemudian mengulang catatan yang sama di post-it note dan memasangnya di samping monitor, ditambah dengan mengulangnya lagi di handphone. Tidak berguna.

Semakin parah, saya lupa pada jadwal-jadwal meeting dan janji-janji nongkrong dengan teman. Beberapa meeting penting saya lewatkan, padahal saya sudah pakai reminder. Janji-janji nongkrong saya batalkan karena lupa, padahal sudah ada remindernya di kalender saya.

Saya tidak makan, tidak tidur, merokok 2 bungkus sehari, minum kopi 5-6 kali sehari, malamnya minum alkohol dengan harapan bisa tidur – kemudian tetap tidak bisa tidur. Berat badan hilang 10kg dalam 2 bulan.

Saya pikir kesedihan saya sementara. Tahu-tahu sudah 6 bulan saya hidup dalam kondisi seperti itu. Dan banyak pekerjaan yang terbengkalai. Masalah sekecil apapun di kantor, membuat saya panik dan menangis.

Hubungan pacaran saya pada masa itu terjadi karena emotional dependency. Saya butuh merasa disayang, diperhatikan, saya butuh merasa berharga. Untuk kemudian saya sadari, berakhir dengan menyayangi orang-orang yang salah. Dan itupun membuat pekerjaan saya terganggu. Cowok-cowok yang posesif menuntut waktu saya terlalu banyak. Saya menikmatinya saat itu karena saya butuh merasa diperhatikan. Sikap-sikap posesif membuat saya merasa disayang.

Ketika saya mengira bahwa saya sudah tidak sedih lagi, karena saya jatuh cinta dan merasa disayang, saya semakin tidak menyadari gejala depresi saya. Saya tidak menyadari bahwa saya masih sulit konsentrasi dan sering lupa. Saya pikir itu kondisi normal. Pekerjaan saya membaik, saya berpikir itu cukup, dan tidak memperhatikan gejala-gejala yang masih saya alami setiap harinya. Pada masa itu, performance saya sudah jauh lebih baik.

Setelah saya ke psikolog lah baru saya bisa melihat semuanya dengan lebih jelas. Bahwa kesulitan konsentrasi itu menunjukkan bahwa saya masih “sakit”. Emosi saya yang tidak stabil, perasaan kesepian dan tidak berharga yang permanen, dan pikiran-pikiran bunuh diri, bukanlah sesuatu yang dimiliki seseorang dalam kondisi normal.

Pada titik ini, saya merasa “sembuh”. Tidak hanya dari segi kecepatan bekerja, kualitas desain yang saya buat pun jauh lebih baik. Ketelitian dan kemampuan saya mencari solusi pun sering membuat rekan kerja salut. Solusi-solusi yang saya buat semakin praktis namun detail. Berkali-kali saya mendapat pujian tertulis di email.

Sayangnya, itu nggak cukup.

Pada akhirnya kondisi saya di tahun 2014 akan kembali dibahas. Padahal 2016 sudah mau habis.

You know, saya nggak bisa nyalahin orang yang memicu depresi saya. Walau seberapapun saya ingin melemparkan kesalahan padanya. Walau banyak kerusakan yang nggak bisa saya perbaiki karena dia. Saya di sini terseok-seok dan harus berusaha membuktikan bahwa saya sudah tidak “rusak” lagi, saat dia enak-enakan menikmati kehidupannya.

Tahun akan berganti yang ke-tiga kalinya. Namun sebagian hidup saya berhenti di tahun 2014, sebagian diri saya tertinggal di sana. Dan hidup saya setelahnya adalah perjuangan mengejar waktu yang hilang, dan memperbaiki kerusakan yang terlalu parah.

Saat merayakan ulang tahun ke-30 kemarin, saya terpikir, saya masih berada di titik yang sama dengan 2014. Depresi saya belum sembuh benar, tidak punya hubungan yang settle, karir stagnan, belum ada pencapaian berarti dalam hidup.

Jika semuanya berbeda, akankah saya yang sekarang sudah menjadi seorang wanita karir yang sukses, menikah, dan memiliki anak? Tanpa depresi, tanpa trauma, tanpa ketakutan pada komitmen dan pernikahan, tanpa kebiasaan menyabotase kehidupan saya sendiri, tanpa kegagalan di karir.

Sungguh fatal efek dari menyia-nyiakan waktumu dengan orang yang salah, menaruh kepercayaanmu pada orang yang salah.

Tentang Depresi dan Bunuh Diri

Postingan ini ditulis karena saya baru merasakan yang namanya ditinggal karena saya membuka diri soal depresi saya (nggak sedih, biasa aja, saya lebih takut diselingkuhin daripada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya). Yah. Stigma masih banget jadi musuh besar pengidap depresi. Ini usaha kecil saya untuk membuka mata orang awam tentang apa itu depresi.

Depresi yang tidak ditangani professional bisa menyebabkan kematian; yaitu dengan bunuh diri. Lebay, lo Le. Lebay? Yakin? Menurut WHO, perkiraan tingkat bunuh diri di Indonesia bisa mencapai 10.000 jiwa per tahun. Itu nggak sedikit.

Dulu, saya termasuk orang yang menganggap orang yang bunuh diri adalah orang yang pengecut dan egois. Nggak bisa menyelesaikan masalah, malah bunuh diri. Bikin orang-orang berduka, dan mungkin trauma.

Tapi depresi mengajarkan saya, bahwa ternyata bunuh diri memang tidak sesimpel itu.

Sekitar setahunan lalu, saat saya mengalami relaps kedua, saya yakin sekali ingin bunuh diri. Padahal masalah saya nggak berat. Karena sebenarnya penyebab saya ingin bunuh diri, bukan lah masalah yang saya hadapi saat itu.

Saat relaps tahun lalu, saya merasakan sakit yang luar biasa di dalam hati saya. Insomnia, nafsu makan hilang, tidak bisa bekerja, tidak bisa melakukan apapun. Bahkan menggambar, hal yang paling saya sukai, tidak bisa saya lakukan. Saya merasa sedih sekali, setiap hari, setiap detik.

Setiap hari, saya berjalan kaki dari kantor ke tempat tinggal saya sambil menahan tangis. Sesampainya di kamar, saya langsung jatuh berlutut sambil menangis, saya memohon-mohon, “Tuhan, tolong ambil sakit ini. Tolong. Saya nggak tahan.”

Ketika ngobrol dengan teman-teman saya dan curhat, saya merasa seperti berbicara di dalam air. Semua terasa mengambang. Suara teman-teman saya terasa seperti gema. Saya merasa sakit, sekaligus mati rasa. Susah jelasinnya, tapi gitu, deh pokoknya.

Saya merasa, apa poinnya saya hidup. Mengapa hanya karena patah hati, rasa sakitnya bisa seperti ini? Ini nggak logis. Pasti salahnya di saya. Gimana kalau saya seumur hidup seperti ini?

Lebih baik saya mati saja daripada harus menghadapi sakit seperti ini.

Tidak masuk akal, ya? Sepertinya itu pemikiran yang tolol sekali.

Depresi dan bunuh diri itu rasanya kira-kira seperti ini.

Bayangkan kamu ada di gedung berlantai 60, dan sedang terjadi kebakaran. Kamu merasa bahwa tidak ada jalan keluar untuk selamat dari api tersebut. Satu-satunya jalan yang terasa lebih baik adalah loncat dari lantai 60. “Yang penting saya tidak perlu menunggu apinya melahap saya. Saya tidak perlu merasakan panasnya api, atau sesaknya asap. Nggak ada pemadam kebakaran yang bisa menyelamatkan saya karena saya di lantai 60. Dan apinya tidak mungkin mati begitu saja.” Kamu ingin rasa sakit dan ketakutanmu berhenti, walau caranya adalah dengan mempersingkat waktu hidupmu.

Karena kondisi seperti itu, loncat dan mati terasa seperti solusi yang lebih baik. Seperti yang dilakukan korban kebakaran WTC 911 dulu. Bagi mereka, loncat jauh lebih baik daripada harus menunggu dibakar oleh api. Itu insting manusia yang wajar banget. Keputusasaan membuat lo lebih memilih jalan pintas.

Seperti itu lah yang saya, dan penderita depresi lainnya rasakan.

Pada saat itu, saya sibuk mencari cara untuk bunuh diri yang paling cepat, aman, dan kemungkinan gagalnya paling sedikit.

Saya juga mengutarakan keinginan saya bunuh diri pada orang-orang terdekat. Ada 4 orang. Dua orang marah mendengarnya, satu orang menyuruh saya ke psikolog, orang terakhir mendukung keputusan saya. Dan saya malah senang waktu didukung sama dia. Akhirnya, ada orang yang menghormati hak saya untuk bunuh diri.

Masalahnya, kemudian dia nambahin, jangan nyusahin orang untuk bunuh diri. Dia bilang, kalau loncat dari gedung, saya bisa bikin orang lain trauma. Kalau bunuh diri di kosan, kasihan anak kosan dan yang punya kosan. Karena basically saya seorang empath, saya nggak mau bikin orang lain susah dan trauma karena saya. Padahal pada titik itu saya bahkan gak peduli kalau keluarga atau teman saya sedih kalau saya bunuh diri. Karena saya yang depresi berpikir, saya nggak punya solusi, nggak punya jalan keluar.

Akhirnya saya membuat rencana mendetail. Saya akan bunuh diri di mana, dengan cara apa, dan bagaimana mengatur barang-barang peninggalan saya.

Sementara teman-teman dekat lainnya masih terus mendorong saya ke psikolog.

Akhirnya saya mikir, kayaknya kok lebih ribet bikin perencanaan bunuh diri, ya. Saya pun ke psikolog.

Di bulan pertama saya terapi, saya bisa berhenti terobsesi dengan bunuh diri. Walau sesekali masih terpikir ingin melakukannya.

Sekarang, saya sudah hampir nggak pernah berpikir untuk bunuh diri. Walaupun masih ada pikiran itu. Saat ini, dalam kondisi sudah sembuh dari depresi, saya melihat bunuh diri seperti sebuah solusi yang bisa saya lakukan kapanpun. Jika satu saat saya relaps dan nggak tahan, udah gitu terapis saya tidak bisa membantu, saya bisa bunuh diri. Karena saya berhak untuk melakukannya, dan orang lain tidak berhak melarang. Dan pemikiran seperti ini, entah kenapa, membuat saya tenang. Membuat saya merasa siap untuk menghadapi masalah.

Selain itu, beberapa hal/cerita/image, masih bisa memicu keinginan bunuh diri.

Misalnya saya melihat instagram seorang illustrator yang mengalami depresi, saat saya sedang dalam episode bad days (bukan relaps, loh). Dia memajang foto pergelangan tangannya yang penuh luka sayatan silet yang baru dia lakukan beberapa jam sebelum foto diunggah. Hal itu, memicu saya. Entah kenapa, saya ingin mencobanya. Saya ingin menghilangkan rasa sakit di hati saya dengan membuat rasa sakit pada fisik saya. Tidak jadi saya lakukan karena cutter saya karatan, dan pisau dapur milik saya terlalu tumpul – tidak bisa dipakai buat nusuk-nusuk.

Lalu saat mendengar cerita seorang depresi yang bunuh diri, saya juga tergoda. Saya merasa ada “temannya”. Saya berpikir, “Dia aja ngelakuin. Kenapa gue, nggak?”

Tapi, syukurnya saya tidak dalam kondisi relaps. Saat saya dalam kondisi baik-baik saja, saya punya pikiran logis yang bisa membedakan mana hal yang wajar dan tidak wajar untuk dilakukan.

Tapi, jika saya sedang dalam kondisi depresi, saya nggak akan punya pikiran logis itu. Saya nggak akan punya pikiran, “Kalau menyayat tangan, gak ada gunanya. Bekasnya gak ilang. Eh pisaunya karatan, nih.”

Logika yang seperti itu, yang dimiliki semua manusia sehat, akan hilang gitu aja. Tidak akan muncul. Otak saya akan berhenti menyampaikan hal-hal rasional yang natural kita pikirkan atas dasar insting bertahan hidup.

Seperti itu lah bunuh diri bagi penderita depresi.

Stigma, hanya memperparah kondisi penderita depresi yang ingin bunuh diri. Ketika kamu menghakimi orang yang ingin bunuh diri dengan kata-kata seperti “pengecut”, “lebay”, “drama”, penderita depresi akan semakin ingin melakukannya.

Jika temanmu mengatakan ingin bunuh diri, dengarkan curhatannya tanpa menghakimi. Ajak dia ke psikolog. Tapi tetap hormati haknya jika dia menolak. Tunjukkin postingan saya agar dia mengerti, dia nggak sendirian.

Kalau dia pengen bunuh dirinya karena caper doang, gimana? First of all. Don’t judge. Kita nggak pernah tahu whether someone is faking it or not. Saya pribadi kesal memang kalau ada orang yang bluffing ingin bunuh diri karena, misalnya, ingin membuat pacarnya merasa bersalah. Tapi. Kita kan nggak tahu. Kita nggak tahu apa orang itu hanya mengancam atau betul-betul niat bunuh diri. Tetap dengarkan, dan anjurkan ke psikolog. Psikolog pada umumnya tahu, how to handle mereka yang hanya mengancam bunuh diri dengan mereka yang memang ingin bunuh diri.

Lagi pula, orang yang pura-pura ingin bunuh diri karena ingin memanipulasi orang lain agar diperhatiin/menuruti keinginannya itu juga bisa saja punya sakit mental. Karena sakit mental itu nggak cuma depresi doang. Ada penyakit-penyakit lainnya seperti narsistik, pathological liar, dll. Which, perlu juga ditangani oleh profesional, loh.

Sementara, untuk teman-teman yang ingin bunuh diri karena merasa tidak ada solusi atas masalah atau rasa sakit yang ada di dada kamu, percayalah, itu hanya karena depresi. Bukan karena sudah benar-benar tidak ada solusi. Solusinya ada, tapi kamu sedang nggak bisa melihat itu. Itu hanya hasil manipulasi dari depresi. Depresi menipumu dengan membuat kamu percaya kalau apa yang kamu rasain nggak akan ada ujungnya. Nggak ada jalan keluarnya.

Itu bohong, kebohongan hasil produksi depresi kamu. Jalan keluar selalu ada. Sedihmu tidak permanen.

Reach out, coba cerita ke sahabat kamu. Kalau kamu rasa nggak ada yang ngertiin kamu, ke psikolog. Terapis bisa bantu kamu, jangan skeptis dulu kalau belum dicoba. Kalau nggak ada dana, please, please banget kontak komunitas yang fokus ke mental health atau suicide prevention.

Ini adalah beberapa akun twitter yang fokus pada kesehatan mental. Reach the fuck out. You need that! Dan kamu nggak sendirian kok. Kalau saya bisa lewatin ini, kalian juga bisa. Asal kalian mau reach out dan minta pertolongan.

@IntoTheLight

@GetHappyYuk

@YayasanPulih

Kalau kata terapis saya gini, “Depresi itu kayak pilek, kok. Dengan pengobatan yang tepat, pasti bisa sembuh.”

Kalimat itu saya pegang terus menerus sampai sekarang 🙂

It’s Not Me, It’s My Depression

Saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya pernah terbangun satu malam dengan perasaan begitu sedih dan kesepian, entah kenapa. Kemudian saya turun ke lantai satu dari kamar saya di lantai dua. Mengetuk pintu kamar orang tua saya, kemudian dibuka oleh ibu saya. Saya menangis sambil meminta untuk tidur dengan mereka, malam itu saja. Ayah saya marah dan menyuruh saya kembali ke kamar. Saya menangis sambil mengemis-ngemis agar bisa tidur bersama ibu saya. Jika tidak boleh tidur bersama mereka, minimal ibu saya mau tidur menemani saya di kamar saya.

Yang terjadi malah orang tua saya menutup pintu kamar sambil ngedumel, meninggalkan saya menangis-nangis di depan pintu mereka tengah malam. Usia saya saat itu 19-20 tahun, terlalu tua untuk merengek seperti itu tanpa alasan yang jelas.

Saat itu saya tidak tahu apa depresi. Saya pikir depresi sama dengan gila. Dan tidak pernah terpikirkan bagi saya bahwa apa yang saya lakukan bisa saja merupakan gejala depresi. Saya pikir, saya hanya seorang anak perempuan yang sensitif.

Saya memulai terapi sekitar Oktober-November 2015, berhenti di Januari 2016, padahal sebenarnya terapi saya belum selesai (kesalahan besar, jangan ditiru). Dari sesi terapi, saya diberi tahu bahwa kecenderungan depresi saya sudah ada sejak remaja.

Saya baru memberi tahu orang tua saya (tepatnya ibu) tentang kondisi saya pada pertengahan 2016. Namun saya tidak menceritakan isi terapi dan diagnosa dokter tentang sumber depresi saya. Saya belum siap untuk cerita soal itu.

Ibu saya menanggapi begini, “Mama sudah curiga ada sesuatu dengan kamu sejak dulu. Kamu dari dulu nggak bisa stress. Kalau lagi banyak pikiran, sikap kamu berubah banget. Kamu ingat, nggak, dari dulu mama suka bilang ke kamu, ‘Jangan stress, jangan banyak pikiran’? Soalnya mama khawatir ngeliat kamu suka panik sendiri.” – kira-kira seperti itu. Bukan dengan nada menghakimi, melainkan dengan penuh pengertian.

Beberapa hari sebelumnya, saya pulang dari kantor dalam keadaan yang begitu sedih. Saya mematikan lampu, menangis sambil berpikir ingin mati saja. Saya sempat ngetwit di akun twitter protected milik saya, sempat chatting dengan satu dua teman dekat, mengucapkan hal-hal yang ngelantur. Kemudian saya tidak tahan dengan pikiran saya sendiri, saya memutuskan menelan dua butir obat tidur agar bisa lelap dan melupakan semua pikiran saya. Paginya saya bangun dengan perasaan jauh lebih baik, saya bahkan tidak terpikir lagi soal bunuh diri. Mood saya kembali baik. Dan saya menyesali apa yang saya lakukan malam sebelumnya. Saya menyesal sudah ngetwit soal bunuh diri, saya menyesal sudah menghubungi teman-teman saya dan ngomong ngelantur. Menyesal sekaligus malu.

Hari ini, teman saya datang ke kosan. Tidak sengaja dia membaca satu halaman jurnal harian saya. Yang berisi pikiran-pikiran gelap saya. Ia menanyakan pada saya, mengapa saya menulis seperti itu. Saya jawab, saya menulisnya saat sedang dalam keadaan depresi. Saat ini saya tidak berpikir seperti itu, karena saya sedang baik-baik saja.

Lalu teman saya menjawab, “Yaelah, Le. Malah nyalahin depresi.”

Saya tertawa, tapi sebenarnya responnya membuat saya merasa malu dan bersalah.

Saya tidak ingin menjadi orang yang sedikit-sedikit nyalahin depresi. Saya nggak ingin menjadi orang yang bertingkah aneh, kemudian mengatakan “Itu bukan saya, itu depresi saya.”

Di postingan sebelum ini, yang saya tulis dalam keadaan down/bad days/relaps (you name it, tapi kalau boleh jujur saya nggak mau pakai kata relaps), saya menyalahkan mantan saya atas kondisi depresi ini. Di kondisi yang lebih baik, seperti sekarang, saya menolak menyalahkan dia. Saya tidak mau menyalahkan orang lain atas kondisi mental saya.

Dalam kondisi baik-baik saja seperti ini, saya nggak merasa mantan saya punya salah sama saya. Saya merasa bahwa ya shit happens. Deal with it and move on.

Jujur, roller coaster emosi ini melelahkan buat saya. Tapi saya nggak mau jadi orang yang sedikit-sedikit menyalahkan depresi. Saya menolak menjadi orang yang melebih-lebihkan keadaan saya dan memposisikan diri saya sebagai korban.

Teman saya yang tadi tidak sengaja membaca jurnal saya, sempat mengatakan begini, “Serem juga ya kalo nikah sama lo. Harus ngadepin lo yang kayak gini. Kalo lo lagi kumat gimana coba?”

To be honest, I’ve been thinking about that for months. Tapi ketika ada yang mengucapkan itu pada saya, rasanya seperti ditampar. Bagaimana mungkin saya bisa menemukan pasangan yang bisa menerima saya dengan kondisi saya seperti ini? Saya nggak mau jadi perempuan yang whining; “Kamu harus mengerti saya. Kamu harus mengerti bahwa saya melakukan ini karena depresi.”

But i’m going to deal with it. It’s ok if i can’t find anyone who gets me. Nggak ada orang yang perlu bertanggung jawab dengan keadaan saya.

My depression doesn’t define me. Dan saya nggak mau membiarkan hal itu juga. Saya minta maaf pada semua sahabat saya yang mendengar saya menangis tengah malam, menerima chat-chat ngelantur saya, atau yang chat, telepon, dan ajakkan nongkrongnya justru saya diemin karena saya sedang ingin sendiri. Saya menolak untuk bilang, “It’s not me, it’s my depression.

It’s not my depression. It’s me, fighting my depression. And i am NOT my depression.

 

Egois Harusnya Ada Batasnya…

Semua orang bilang, bahagia itu pilihan, bahagia itu kita yang bikin. Bahkan saya sendiri ngomong gitu.

Seandainya memang semudah itu.

Ada yang bilang, kesedihan bisa pergi dengan mensyukuri hidup, berolah raga, ikut komunitas, jadi relawan, traveling, belanja, lakukan hobi kamu, sampai dengan hal kecil kayak coba aroma therapy.

Saya sampai lelah menjawab, semuanya sudah saya lakukan. Even pakai aroma therapy, setolol apapun hal itu terdengar.

Apa yang nggak saya coba lakukan untuk tidak fokus pada kesedihan? Nggak ada.

Sebelum kamu bilang ke saya untuk coba melakukan A, B, dan C, saya sudah mencoba semuanya bertahun-tahun lalu. Saya bukan orang yang suka whining tanpa melakukan apa-apa.

Ada tipe orang yang senang terjebak dalam kesedihan, dan bahagia memposisikan dirinya sebagai korban terus-terusan. Saya bukan orang seperti itu. Kesedihan membuat saya tidak konsentrasi bekerja, membuat saya menangis menjerit-jerit sendirian di kamar tanpa bisa sharing sama siapapun karena saya tidak tahu apa yang harus saya ceritakan, membuat saya berpikir tentang bunuh diri. Saya tidak ingin hidup dalam keadaan seperti ini terus menerus.

Tapi memposisikan diri sebagai korban memang candu. Seberapapun kita nggak ingin melakukan itu.

Kadang saya masih merasa nggak adil melihat orang yang membuat saya seperti ini hidup dengan bahagia. Memamerkan kebahagiaannya di social media, dengan pencitraannya yang maha suci dan maha baik. Rasanya ingin berteriak bahwa ia menghancurkan saya untuk mendapatkan kebahagiaannya. Dia membuat saya depresi, depresi klinis. Dia membuat saya merasa ketakutan setiap memiliki hubungan dengan laki-laki. Dia meninggalkan kerusakan permanen pada saya.

Bagaimana bisa seseorang hidup begitu bahagia setelah menghancurkan orang lain yang telah menemaninya dalam senang dan susah selama bertahun-tahun?

Seandainya sedih adalah pilihan, saya ingin memilih bahagia, saya ingin mengatakan bahwa saya turut bahagia. Saya ingin merasa bahwa saya bersyukur pernah ditemani olehnya. Saya ingin menghargai semua yang telah kami berdua jalani.

Tapi ketakutan-ketakutan saya tidak pernah pergi. Walaupun saya sudah menjalani sesi-sesi terapi dengan psikolog. Ketakutan dan luka saya tidak pernah pergi.

Apakah saya harus menyalahkan diri saya sendiri karena terlalu lemah? Apakah saya harus menyalahkan diri saya sendiri karena pernah percaya? Apakah saya harus menyalahkan diri saya sendiri karena tidak bisa menyingkirkan ketakutan dan kesedihan saya?

Mungkin itu sebabnya memposisikan diri sebagai korban adalah candu. Karena menyalahkan diri sendiri padahal saya nggak mau ada di dalam kesedihan ini, membuat saya semakin sedih dan merasa bersalah pada diri saya sendiri.

Tolong. Jangan pernah selingkuh. Jika kalian tidak bahagia dengan hubungan kalian, pergilah dengan baik-baik. Kalian nggak tahu, sedalam apa luka yang akan kalian tinggalkan. Kalian mungkin bisa dengan mudah move on, dan berbahagia dengan kehidupan yang baru. Tapi orang yang kalian lukai, mungkin harus struggling bertahun-tahun dalam kesedihan dan ketakutan.

Egois harusnya ada batasnya…

4 Salah Paham tentang Depresi

Hampir setahun lalu, saat saya mulai membahas tentang depresi sedikit demi sedikit, saya belum menemukan banyak artikel berbahasa Indonesia yang membahas depresi secara personal, bukan secara klinis. Terutama di twitter.

Ketika saya dalam fase depresi major, saya banyak googling soal gejala dan cara penyembuhannya. Itupun saya masih belum yakin 100% bahwa saya memang mengidap depresi. Artikel berbahasa Indonesia kebanyakan membahas depresi secara klinis, atau menceritakan keadaan pasien. Ada juga artikel tanya jawab konsultasi yang diinisiasi pakar-pakar psikolog. Namun banyak yang tidak update. Saya mengirim email, tidak dibalas. Postingan pun tidak di-update sejak lama.

Jika ada postingan blog, kebanyakan adalah orang-orang yang sedang bersedih dan mengaku depresi. Saya mencocokkan gejala saya dengan mereka, kok beda jauh banget. Kenapa mereka nggak kayak saya? Akhirnya saya memutuskan mencari artikel berbahasa Inggris saja, dan saya menemukan banyak sekali blog personal yang membahas depresi mereka secara detail. Begitu juga tips dan trik dari mereka untuk melawan depresi. Yang sialnya saya ikuti tanpa ke dokter dahulu.

Akhirnya saya hidup dalam depresi nyaris selama 2 tahun. 2 tahun yang melelahkan. Sampai akhirnya saya memutuskan ke psikolog.

Kini depresi sudah biasa dibahas di socmed. Mungkin karena ada beberapa komunitas yang fokus pada kesehatan jiwa yang mulai aktif. Padahal setahun lalu saya tidak menemukan mereka di halaman google. God bless them!

Tapi seiring banyaknya orang yang membahas soal depresi, saya juga mendapati banyak yang masih salah kaprah soal penyakit mental yang satu ini.

Berikut ini beberapa salah paham soal depresi. Dan mohon diingat. Saya membahasnya dalam kapasitas sebagai penderita depresi, bukan sebagai ahli.

1. Depresi = Sedih Berkepanjangan

Sedih dan depresi itu beda. Beda jauh. Pada depresi, ada gejala-gejala lain yang mengikuti selain galau dan murung; perubahan nafsu makan, masalah tidur, gelisah, suicidal, kecenderungan mengasingkan diri, abusing alkohol, perubahan berat badan yang drastis, rasa sakit pada tubuh, dan masih banyak lagi. Dan depresi tidak selalu datang karena ada masalah. Tolong diingat. Kadang depresi datang begitu saja seperti maling, kemudian mencuri semangat hidup kami. Ketika depresi datang, justru kami menjadi sedih akan semua hal. Atau malah sebaliknya, kami nggak bisa merasakan apapun. Makanan nggak ada rasanya, hobi kami jadi tidak menarik, kami melupakan hal-hal yang kami sukai, bahkan kehilangan hasrat seksual.

2. Curhat dan Yoga Bisa Menyembuhkan Depresi

Curhat memang bisa membantu melawan depresi. Karena salah satu yang dibutuhkan pengidap depresi adalah merasa didengar dan dimengerti, melawan perasaan bahwa kami hanya sendirian di dunia ini. Yoga juga bisa membantu, bagi sebagian orang. Ada juga malah yang nggak ngefek pake yoga. Karena setiap orang punya pengalihan yang berbeda. Untuk saya, berenang lebih membantu daripada yoga.

Tapi kegiatan tersebut tidak dapat menyembuhkan depresi. Seperti misalnya kalau kamu sakit tyfus. Curhat, dan yoga, atau berenang itu kayak makan bubur, minum air hangat, sebatas membantu kita merasa lebih baik, nggak lebih. Hanya obat dan istirahat yang bisa benar-benar membuat kamu sembuh.

3. Orang yang Depresi Pasti Malu Mengakui Penyakitnya

Kalau kamu googling soal depresi, kamu akan menemukan banyak banget pengidap depresi yang secara terbuka membahas penyakit mereka.

Kenapa? Mungkin karena alasan yang sama dengan saya.

Ketika saya depresi, saya makin down menyadari bahwa hampir tidak ada orang yang mengerti kondisi saya. Saya sampai nyaris putus asa mencari tempat berbagi atau minimal informasi yang bisa membantu saya. Membaca blog para pengidap depresi merupakan semacam oase untuk saya. Saya merasa ada yang mengerti saya. Saya merasa terbantu dengan artikel-artikel mereka, termasuk tips yang mereka bagi.

Karena itu, saya terbuka perihal depresi saya, untuk berbagi dengan orang-orang yang merasakan apa yang saya rasakan. Saya tidak ingin orang lain merasakan apa yang saya rasakan dulu. Putus asa sendirian dan merasa tidak dimengerti. Tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan tentang apa yang saya rasakan.

Di lain pihak, saya nggak pernah sharing soal ini di facebook. Karena di facebook ada saudara dan tetangga. Ya, saya sendiri masih takut pada stigma dari orang-orang tertentu. Saya nggak ingin tetangga atau keluarga besar saya tahu. Karena saya takut dianggap “miring”. Saya takut orang lain juga memandang orang tua saya sebagai orang tua yang tak becus. Saya juga takut jika suatu saat saya pindah kerja, perusahaan baru nanti tidak bisa menerima kondisi saya.

Jadi jawabannya antara ya dan tidak. Untuk di beberapa kondisi, kami tidak malu mengakui mengidap depresi. Tapi mungkin di lingkungan tertentu, kami malah takut banget orang lain tahu.

4. Orang Depresi Selalu Terlihat Emo dan Galau

Seperti yang saya bilang di postingan sebelum ini, kenyataannya pengidap depresi justru sering terlihat aktif dan ceria. Tapiiii… kalau ini depresi major, memang nggak selalu terlihat seperti itu. Bisa aja dia nggak mau keluar kamar 3 bulan, atau terus-terusan membicarakan bunuh diri, atau mengasingkan diri, menangis terus-terusan, atau mabuk-mabukkan tanpa kontrol selama berbulan-bulan. Tapi pada intinya, jangan pernah termakan dengan akting-akting di televisi. Depresi lebih rumit daripada itu.

Pengidap depresi justru pejuang, kami nggak mau terjebak di dalam kondisi seperti ini terus menerus dengan whining, fokus membahas kesedihan kami, apalagi minta dikasihani. Memang sesekali kami drop dan murung. Tapi itu kami lakukan bukan dengan sengaja, bukan karena kami menikmati kesedihan kami. Kami simply kehilangan kemampuan untuk mengontrol pikiran-pikiran negatif atau mengalihkan ke hal lain. Apa yang biasanya berhasil bikin tenang, bisa jadi tidak berefek apapun, dan itu malah bikin kami tambah “down”.

Saya sadar, orang yang nggak pernah depresi nggak akan bisa mengerti kayak apa rasanya. Tapi karena itu lah saya menulis artikel kayak gini. Biar semakin banyak orang yang mengerti, semakin banyak yang aware.

Semoga mereka yang memiliki teman yang sedang depresi, bisa lebih mengerti kondisi pengidap depresi. Tidak menghakimi apalagi mentertawakan (saya soalnya sempat diketawain dan dijadiin bahan ejekan oleh teman-teman saya sendiri).

Dan saat ada seseorang yang nggak sadar dirinya depresi kemudian mencari jawaban di internet, mudah-mudahan dia nyasar ke blog ini, kemudian mengerti kalau dia nggak sendirian.

Untuk Seorang yang Depresi, Kamu Tidak Terlihat Depresi

“Tapi kok, elo nggak keliatan kayak orang depresi, Le?”

Ini kalimat yang diucapkan oleh seorang teman yang sudah 6 bulan nggak ketemu ketika saya menceritakan sebenarnya saat saya masih sering ketemu dia, saya mengikuti terapi di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta untuk mengatasi depresi saya. Teman saya ini melihat kondisi saya setiap hari saat sedang dalam fase depresi mayor; menangis setiap hari, tidak makan, minum kopi dan merokok secara berlebihan, lupa menghadiri meeting, lupa deadline, mengurus dengan drastis. Saat itu seperti saya, dia juga bingung dengan keadaan saya.

Saya nggak tersinggung mendapat pertanyaan seperti ini. Saya mengerti banget bahwa kebanyakan orang punya persepsi yang salah tentang depresi. Karena, sebelum saya ke psikolog, saya juga salah kaprah soal depresi.

Depresi itu nggak seperti di film-film hollywood. Terlihat seperti anak emo, penuh sayatan di tangan, mengurung diri di kamar, tidak mau ngobrol dengan siapapun. Oke. Memang hal-hal tersebut bisa terjadi. Saya kadang berada di fase mengurung diri di kamar dengan lampu dimatikan, hanya tiduran sambil melamun menatap langit-langit kamar. Ada juga orang lain yang menyayat-nyayat tangan. Intinya, behaviour depresi tidak sama pada semua orang. Dan ketika kamu hidup cukup lama dengan depresi, kamu jadi terbiasa dengan keadaan itu, sehingga kamu bisa tertawa, ceria, aktif, walau kamu mengidap depresi.

Tentang depresi, keadaan ini nggak sama dengan stress atau sedih. Stress dan tertekan sangat wajar dialami manusia. Beberapa hari drop, susah makan, susah tidur, dan murung saat ada masalah, merupakan emosi yang wajar.

Kamu baru bisa bilang dirimu depresi ketika keadaan seperti itu berlangsung hingga hitungan bulan, setiap hari. Iya setiap hari. Bukan hanya saat ada masalah. Dan keadaan itu membuatmu begitu putus asa sampai kamu percaya, kamu nggak punya solusi, dan bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar.

Kalau kalian googling soal depresi, kalian akan menemukan istilah bad days, good days, dan relaps. Itu bener banget.

Saya nggak terlalu mengerti definisi tepatnya ketiga istilah itu. Tapi saya mengkategorikan sendiri berdasarkan gejala saya.

Good days adalah hari di mana saya tidur dengan baik, konsumsi rokok dan kopi saya tidak banyak, kerjaan bisa saya selesaikan dengan cepat dan tetap teliti, makan dengan teratur dan bisa menikmati makanan saya, serta semangat olah raga.

Bad days adalah hari di mana saya susah tidur, tidak nafsu makan, merokok lebih sering, kopi lebih sering, susah konsentrasi di kantor, merasa kesepian dan murung tanpa alasan. Namun, pada fase ini, saya masih bisa nongkrong dan main dengan happy karena bertemu dengan teman-teman saya menjadi semacam obat. Perlu diketahui, bad days datang tanpa alasan. Saya tidak perlu memiliki alasan untuk murung. Semua itu datang begitu saja. Dan saya harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bangun, mandi, ganti baju, bekerja, bahkan sekedar nongkrong di kafe bersama teman-teman saya.

Relaps adalah ketika saya mulai ngaco. Nggak mau ketemu siapapun, sensitif, menangis tanpa alasan, insomnia, ingin bunuh diri, mimpi buruk, overthinking, teringat hal-hal menyedihkan, merasakan ketakutan-ketakutan berlebihan, tidak ingin melakukan apapun selain tidur dan melamun. Dan biasanya ini terjadi menjelang PMS karena pengaruh hormon, atau  ada trigger yang tidak saya sadari dan tidak saya cegah waktu masih dalam fase bad days.

Dalam fase ini kadang saya ingin bertemu terapis saya kembali. Tapi saya menahan diri dan mencoba mencari solusi sendiri karena ingin menghemat uang. Mengingat biaya ke psikolog cukup mahal untuk saya. Biasanya, fase ini akan hilang begitu saja. Terutama setelah saya dibantu kembali ke jalur yang benar oleh sahabat-sahabat saya.

Karena saya pernah berada dalam fase depresi mayor, saya jadi memiliki indikator kapan depresi saya sudah berbahaya. Jika saya menuju fase tersebut, tanpa pikir panjang tentu saja saya akan kembali ke psikolog. Untuk itu, saya belajar mengatur kartu kredit dan menyisihkan gaji untuk tabungan. Kalau-kalau suatu saat saya harus terapi dalam hitungan bulan lagi.

Namun, in general, saya memang terlihat baik-baik saja.

Karena memang seperti itu lah penderita depresi.

Jika kamu sudah memiliki depresi dalam jangka waktu yang lama, kamu akan belajar menyembunyikan kegelisahan, ketakutan, dan kesedihanmu di depan umum. Bukan belajar juga, sih. Semuanya kamu lakukan sekedar karena terbiasa. Seiring waktu, kamu semakin selektif untuk curhat karena kamu sudah tahu mana orang yang mengerti kondisimu, mana yang nggak. Karena ketika kamu curhat lalu lawan bicaramu menanggapi dengan negatif atau skeptis dengan keadaanmu, yang ada kamu malah semakin sedih, merasa bersalah, dan membenci dirimu sendiri.

Mungkin kalau kamu ketemu orang yang sedang mengalami depresi mayor, baru terlihat. Ketika berat badan menurun atau meningkat drastis, ngomongnya mulai ngelantur, atau malah menyembunyikan diri dan tidak mau ketemu siapapun, bahkan sampai tidak mau berangkat kerja. Percayalah. Itu bukan pemandangan yang indah. Buat orang yang nggak paham tentang depresi, malah terlihat alay dan drama.

Dan ada juga yang seperti saya. Dengan kecenderungan depresi sejak usia remaja, tetap terlihat rame, berisik, tidak punya masalah dengan bersosialisasi. Bahkan saya bisa curhat masalah berat saya sambil ketawa. Karena hanya sedikit yang saya beritahu pikiran-pikiran gelap saya. Hanya sedikit yang mendengar saya menangis sambil meracau tentang hal-hal yang cuma ada di pikiran saya.

Depresi tidak seperti apa yang ditunjukkan dalam film atau novel. Dan depresi tidak cukup diatasi dengan berdoa, bersyukur, yoga, olah raga, curhat, travelling, atau menulis buku harian. Nasehat untuk melakukan itu nggak ada gunanya. Karena, percaya lah, kami mencoba melakukan hal-hal yang menurut kami bisa dilakukan untuk melawan depresi. Namun tiap orang memiliki pelarian yang berbeda, dan apa yang berhasil hari ini belum tentu berhasil minggu depan. Kadang, untuk melakukan hal simpel seperti menggambar dan menulis (untuk saya), menjadi terasa sangat sulit dilakukan walau 2 hal tersebut adalah katarsis yang paling saya sukai.

Setiap penderita depresi memiliki perilaku serta “pelarian” yang berbeda. Saya hanya kenal 1 orang yang didiagnosa depresi seperti saya. Tapi kami jelas memiliki sikap dan penenang yang berbeda. Satu yang pasti, kami sama-sama suka tertawa. Kamu nggak bisa memiliki standar general tentang bagaimana seorang depresi harus terlihat, because there’s no such thing.

Maka, lain kali, jika seseorang bilang padamu bahwa ia sedang depresi, jangan memberi penilaian sendiri. Kamu bukan psikolog. Lebih baik dengarkan jika ia ingin curhat. Anjurkan ia untuk mencari bantuan professional, tapi jangan dipaksa.

Mungkin orang itu bukan depresi. Mungkin cuma galau atau stress, dan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Walaupun itu hal yang normal dirasakan oleh siapapun yang sedang dalam masalah atau banyak pikiran, tapi nggak ada salahnya untuk menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi 🙂

Nightmares

Saat saya sedang dalam fase depresi 2 tahun lalu, selain insomnia, saya juga mengalami mimpi buruk setiap saat saya (bisa) tidur.

Sekarang, saya jarang mimpi buruk. Saya hanya mimpi buruk ketika mengalami anxiety atau sedang overthinking tentang masalah atau obyek tertentu.

Misalnya ketika saya membatalkan janji untuk berlibur ke Anyer yang sudah direncanakan berbulan-bulan hanya karena tiba-tiba saya anxious dan tidak ingin pergi. Saya membatalkan janji saya di malam sebelum kami akan berangkat, teman saya tidak menanggapi. Saya batal pergi benar-benar hanya karena serangan anxiety. Tiba-tiba saya takut pergi, saya takut akan susah berinteraksi dengan orang lain. Saya takut membayangkan harus menginap bersama 14 orang. Saya takut harus pakai baju berenang karena saya akan terlihat gendut. Saya takut saat tidur saya akan mendengkur dan mengganggu teman-teman saya. Saya membatalkan janji mendadak hanya karena hal-hal sepele seperti itu. Padahal saya sudah packing, membeli cemilan, dan menyiapkan uang untuk membayar patungan vila serta mobil minibus yang kami sewa.

Saya susah tidur karena teman saya tidak membalas pesan saya (tentu saja, karena saya baru mengabari pukul 12 malam). Ketika akhirnya bisa tidur, saya malah bermimpi teman saya marah-marah sama saya. Saya terbangun sejam kemudian, pukul 5.30 pagi. Kemudian saya curhat melalui chatting kepada teman saya yang lainnya. Saya butuh seseorang untuk diajak bicara dan menenangkan pikiran saya.

Teman saya, tentu saja, tidak bisa mengerti kepanikan dan cerita saya yang tidak masuk akal. Saya paham, nggak akan ada orang yang mengerti saat ada orang lain curhat pagi buta tentang membatalkan janji dan kepikiran sampai nggak bisa tidur. Orang pasti mikirnya, “Apaan, sih. Lebay.”

Akhirnya, dengan perasaan lebih buruk dari sebelumnya, saya mencoba tidur lagi.

Dan saya mimpi buruk lagi, mimpi yang sama.

Saya tidak bisa tidur dan hanya rebahan di kasur sambil melihat langit-langit. Membiarkan pikiran saya menyalah-nyalahkan diri saya yang tidak bisa memegang janji. Membayangkan teman saya marah dan tidak mau bicara dengan saya. Padahal dia akan pulang ke Prancis for good dalam 3 hari. Saya akan berpisah dengan teman saya dalam keadaan seperti ini.

Saya mengirim chat lagi, meminta maaf berkali-kali kepada teman Prancis saya ini.

Akhirnya ia membalas dan mengatakan ia tidak marah. Ia meminta saya datang ke rumahnya hari Senin, untuk farewell party kecil-kecilan.

Saya menangis karena lega setelah membaca pesannya. Kemudian saya bisa tidur. Tanpa bermimpi.

Hal-hal seperti itu kadang terjadi pada saya, dan saya belajar untuk tidak curhat sama siapapun jika sedang dalam keadaan itu. Karena saya tahu, reaksi orang-orang akan sama persis. Dan itu membuat saya merasa lebih buruk.

Akhir-akhir ini saya mengalami mimpi buruk lagi.

Saya belajar untuk merepresi overthinking saya dan mencoba mengalihkan pikiran saya ke hal lain. Saya kira saya berhasil melakukannya. Namun sudah 3 hari saya bermimpi buruk. Setiap terbangun, saya merasa pahit. Saya sadar mimpi buruk saya adalah perwujudan dari pikiran-pikiran buruk yang saya represi. Saya ingin berbagi tentang apa yang saya pikirkan kepada orang-orang terdekat saya, namun saya tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan hal-hal tidak masuk akal yang ada di kepala saya.

Dan saya takut saya akan dinilai berlebihan, kemudian tidak dihiraukan.

Hari ini saja saya tidur bangun tidur bangun, dan setiap tidur, yang hanya tidur ayam itu, saya selalu bermimpi buruk. Bagian otak saya yang waras mengingatkan saya bahwa mimpi saya tidak masuk akal dan hanya merupakan ketakutan-ketakutan saya sendiri. Seandainyapun ketakutan saya tersebut terjadi, seharusnya tidak usah saya pikirkan, karena itu adalah hal yang wajar terjadi dalam hidup seseorang.

Saya mencoba tidak memikirkannya. Karena menurut saya hal ini nggak penting untuk dipikirkan. Melelahkan memang ketika kamu kehilangan kontrol atas pikiranmu sendiri. Sementara ketika kamu mencoba mengontrolnya, ia datang di dalam mimpi-mimpimu saat kamu tidur.

Kadang, saya bertanya-tanya. Apakah semua orang mengalami apa yang saya alami? Dan bagaimana cara mereka melawan pikiran-pikiran buruk dan mimpi buruk mereka?

Piknik BUKAN Obat Depresi

Salah satu musuh terbesar depresi adalah stigma.

Sebelum didiagnosa oleh terapis, saya memang sudah memiliki dugaan bahwa saya mengidap depresi. Namun saat itu dugaan saya termakan oleh stigma negatif terhadap depresi.

Dulu, bagi teman-teman saya, saya aneh. Kesedihan dan kegelisahan saya diterjemahkan sebagai “lebay” dan “drama”. Dan saya percaya itu. Saya percaya bahwa saya lebay dan drama.

Dulu, bagi saya, teman-teman saya yang justru aneh. Saya mengira orang-orang hanya pintar dalam menyembunyikan kesedihan dan beban pikirannya. Saya yakin semua orang seperti saya, menangis sendirian di malam hari, overthinking di siang hari, melamun jika tidak ada yang memperhatikan. Mereka hanya lebih pintar dalam menyembunyikannya.

Sama seperti orang yang normal tidak mengerti jalan pikiran saya, saya juga nggak mengerti jalan pikiran orang normal. Mereka mengira saya lebay, saya mengira mereka jago untuk pura-pura kuat.

Hasil self-diagnose berdasarkan sebuah artikel psikologi di internet menunjukkan bahwa saya memiliki sembilan dari sembilan gejala depresi, dan memang saya merasa depresi. Tapi berkat hasil dihakimi oleh teman-teman saya sendiri, saya tidak mengacuhkan artikel tersebut. Saya cuma lebay, dan artikel psikolog tersebut cuma cucoklogi.

Stigma “lebay”, “drama”, dan “caper”, membuat saya hidup dua tahun di dalam kondisi depresi. Dan nggak ada satupun orang normal di dunia ini yang bisa mengerti gimana menderitanya hidup seperti itu. Saat kalian sendiri bahkan nggak yakin bahwa kalian depresi. Akhirnya nangis sendirian sambil mikir bego, kalau ini cuma lebay, kenapa sakitnya nyata banget?

Kesedihan dan keadaan saya yang berantakan hanya dijawab dengan, “Mungkin kamu kurang piknik.”

Dan saat itu saya percaya bahwa saya memang kurang piknik. Saya menghabiskan uang segitu banyak untuk jalan-jalan keluar kota, belanja, dan mabuk. Saya bahkan percaya bahwa saya sudah sembuh, bahwa piknik, belanja, dan curhat berhasil menyembuhkan saya.

Saya tidak menganggap serius malam-malam di mana saya menangis sendirian di kamar dan nggak bisa curhat sama siapapun karena saya nggak tahu apa penyebab saya menangis. Atau insomnia yang datang dua tiga hari setiap minggu. Atau nafsu makan yang kadang hilang berhari-hari. Atau hari-hari di mana saya ngumpet di toilet atau tangga darurat saat jam kerja hanya untuk menangis. Karena bagi saya, saya hanya lebay.

Gila aja udah ngabisin uang jutaan buat travelling, curhat dan nangis ribuan kali, masa iya saya ngasi tahu orang-orang kalau saya masih suka nangis sendirian?

Terpikir untuk ke psikolog, tapi, saya terlanjur percaya kata-kata teman-teman saya; SAYA CUMA DRAMA DAN LEBAY, SAYA HANYA PERLU PIKNIK.

Sampai akhirnya ada beberapa sahabat saya yang percaya saya depresi. Dan karena mereka lah, saya memutuskan untuk ke psikolog. Karena ada mereka yang percaya bahwa saya butuh bantuan professional. Karena ada orang-orang ini, yang nggak meremehkan kesedihan dan kegelisahan saya.

Ketika saya akhirnya memutuskan pergi ke psikolog, baru saya mengerti semuanya. Tentang depresi saya, tentang gejala dan sumber penyakit saya. Dan saya hanya butuh dua bulan untuk mengalahkan monster yang nggak bisa saya lawan selama dua tahun.

Bayangin. Penderitaan saya selama nyaris dua tahun, yang dengan sombongnya saya coba sembuhkan sendiri, dengan uang yang dihamburkan begitu saja hingga tabungan habis, ternyata bisa disembuhkan hanya dalam dua bulan. Di tangan orang yang tepat; seorang psikolog.

Stigma “lebay”, “drama”, “caper”, dan “kurang piknik”, benar-benar musuh besar depresi. Stigma ini bikin pengidap depresi membuang uang untuk hal-hal yang nggak bakal bikin sembuh. Stigma ini bikin pengidap depresi merasa nggak butuh ke psikolog.

I was this close to death. Karena saat itu saya yakin saya lebay, dan saya mikir kalau lebay merupakan bawaan saya sejak lahir, dan saya nggak kuat dengan kondisi itu. Saya sempat percaya, satu-satunya solusi untuk saya adalah bunuh diri.

Demi tuhan saya nggak bisa jelasin kenapa saya dulu berpikir seperti itu. Saya nggak tahu. Saya nggak bisa jelasin logika saya saat itu sedikitpun.

Nggak bermaksud dramatis, tapi tanpa dukungan sahabat-sahabat saya untuk ke psikolog, saya nggak akan ada di dunia ini pada detik ini. Karena pada saat itu, bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar yang terasa logis, dan saya tidak merasa takut sedikitpun untuk melakukannya.

My point, stigma negatif terhadap penderita depresi, bisa dan sangat bisa, menyebabkan kematian.

Jika ada sahabat atau teman anda yang sedih berlebihan, berat badan meningkat atau turun drastis, membicarakan hal-hal aneh seperti bunuh diri, kesepian, atau topik-topik restropektif padahal biasanya nggak begitu, performance di kantor menurun, sarankan mereka untuk ke psikolog. Jangan dipaksa. Tapi tunjukkan bahwa kalian percaya pada kesedihan mereka, dan buat mereka mengerti bahwa psikolog mungkin bisa membantu. Jika mereka nggak mau ke psikolog, biarkan, hormati hak mereka.

Please, don’t be a selfish judgmental asshole. Stop stigmatizing people who live with depressions. You have no idea the battles we need to face everyday.

Happy Birthday

Dear you,

Happy birthday.

Do you remember your birthday surprise party at my favorite cafe? Or the other surprise party at my office? Or our last birthday dinner at this happening steak restaurant?

Have you ever counted how much birthday surprises i’ve prepared for you? I always wanted your birthday celebrations to be special because you said you never had a birthday party.

And then i counted mine. Ah. You never prepared a birthday party to me. But hey, we shared when i treated my friends on my birthday dinner. And i felt very happy and thankful.

Do you also count how many times i asked for break up because we were not going anywhere with our relationship? And how many times you rejected it and asked me to wait? And then i agreed. Every time.

Do you also remember my face when i found out about her?

It’s almost 2 years. But the scars stayed.

I had a hard time trying to heal myself. Did you see my struggles? I know you did. Did you ever ask yourself “why is it so hard for you, nie?”

Oh. You asked me once. And i’ve explained why.

I imagine you have a very happy life now. I’d like to say i’m happy for you. But i don’t. The truth is, i don’t feel anything toward you or about you. It’s strange. It’s like… We’ve never been together. It’s like, i never knew you. I feel literally nothing.

There are times, when i’m jealous toward you. Your dreams, the one you always told me, now you’re living it. You married the woman you love. And i felt, it’s kind of unfair because i never find the right man, and definitely not living the life i’ve been dreaming about. But i’ve walked away from that feelings.

My life’s been a roller coaster these past two years, and i don’t have time to think about you. I fell in love so many times. And i got a lot of broken-hearts. Feels like, there are so many names in my heart, except yours.

But i do have one thing about you in my mind.

With you, i know exactly how it felt to be loved.

It’s kind of strange, how things changed so much only in two years.

It’s kind of strange how heart can change in a blink. Mine and yours. And how both of us have moved on from our stories. Like it never happened.

I can’t believe that i’ve spent 25% of my life with you. With our ups and downs. Tears and smiles. Struggles and happiness. We’ve been through a lot. And look at us now. We’re now just strangers.

Weird isn’t it?

Tonight i’m very far from my hometown. And i’m struggling with my life. And then i remembered, yesterday was your birthday. It doesn’t mean i’m still remembering you in romantic way. I just realised that i’ve moved on this far. And i’ve moved on from so many broken-hearts.

Do you know that what you’ve done to me, leaves an unhealed pain? No. I don’t blame you. It’s something i can’t control. Neither you. But i’ve been living with it for almost two years.

But i’m here. Living and shit. And i have great friends that always support me. They witness my battle. And they’ve been very very very patience toward me. Sometimes i see myself as a selfish asshole, as a selfish crybaby. They don’t deserve me and my whining behaviours.

But you see. I’ve changed. I’m a totally different woman now. I believe you’re also a different person now.

Consider this as your birthday gift. Or birthday surprise party. That i’m letting you know, it’s okay to move on. It’s part of our life. We’re merely a chapter in a one complete book. A thick one. And what we had, was a great chapter. No matter how it ended, it doesn’t mean those great stories were fake.

Hey, birthday boy. Let’s keep be strangers. As i don’t want any piece of you in my life. Not because i hate you. But because i’ve closed that chapter a long time a go. And this is the only time where i open it, just to check how far i’ve moved on.

I’m happy about the progress. Hope you’re also happy about yours.

I’m sorry, i don’t remember your age anymore. Anyway. Happy birthday. Make your wish. Blow your candles.