What a Day 2

Gue gak malu untuk bilang, gue masih sayang orang yg nyakitin gue. Gue juga bs bilang, meanwhile gue gak nutup hati gue. Gue cuma belum siap patah hati lagi.

Temen-temen gue tahu, gue gak benci sama org yg nyakitin gue. Gue masih sayang. Yes I am. Even setelah gue melihat dan mengalami dgn mata gue sendiri, isi dibalik topeng yg dia pakai selama ini.

I’m still thinking he was the best for me until he changed (atau topengnya kebuka, whatever). I’m still thanking him for the years when he made me feel stronger and loved. And I am proud to say that I loved him in the bad and in the good. Saat dia jelek dan bagus. Saat dia susah dan sukses. Saat dia bersikap manis dan being a jerk.

I even still love him after what he’s done to me this  past years.

But yeah I gotta go. Karena dia bkn orang yang sama yg ngejar gue bertahun-tahun lalu. Yang naik bis kota tengah malam ngejemput gue dr Cilandak atau Grogol bertahun-tahun lalu. Atau yang makan mie goreng sepiring berdua tengah malem krn nggak ada duit. Atau yg bela2in dtg dr Surabaya ke Jakarta tiap bulan. Dia bkn lg pria cerdas yang sederhana dan pemalu yang bikin gue jatuh hati dulu.

But I am proud to say, gue bertahan sekian tahun sama dia. Walau org mencemooh hubungan gue, ngetawain dia, ngejelek2in dia. Gue bs bertahan selama itu tanpa kepastian. Emang orang2 pada goblok2in gue sih… pd blg kok mau2nya digantungin 7 tahun. Pada blg gue kege-eran. Dan lain2nya. But I’m ok. Emang sih, rada kelamaan. Apalagi kalo endingnya ternyata gue diginiin. Seakan-akan 7 tahun yg kita punya nggak ada artinya. Seakan-akan ya… gue cuma sampah, tinggal dibuang gitu aja.

Sebagian diri gue emang gak terima diginiin sm dia. Tp ya… mau gimana lagi? Elo gak busa ngubah hati seseorang. Hati lo sendiri aja susah lo atur. Apalagi hati orang.

Ampe hari ini gue masih berantakan. But it’s ok. Mungkin besok bakal lebih berantakan lagi. Then be it. Jujur gue gak yakin gue sanggup ngejalaninnya apa nggak. Tapi gue sadar, gue gak punya pilihan lain selain keep moving on. Walau susah, walau harus sambil berdarah-darah.

Gue ga tau abis bangun tidur perasaan gue bakal gimana.

Gue cuma mikir… gue harus cepet sembuh. Karena semakin gue sedih, semakin mereka menari bahagia di atas kesedihan gue…

What a Day

Hari ini banyak hal yang… ummm… terjadi sama gue.

Mulai dari orang rumah nelpon, dan ngasi tau kalo ada masalah. And I answered, “If you asked me to do that, you’ll sacrifice me. Are you willing to sacrifice me?” Dan mereka diam.

Kemudian, seseorang ngajak gue ngobrol. Tentang kebiasaan gue yang suka tiba-tiba break down di kantor pas lagi kerja. Well, gue dapet sudut pandang yang beda banget hari ini.

Ceritanya, sebutlah X. Dia pernah deket sama pacar orang, katakanlah Y. Mereka sama-sama punya pacar. Akhirnya suatu hari mereka mutusin pacar mereka masing-masing, dan jadian secara resmi, bukan selingkuh lagi. Katanya, dia udah niat mau sampe nikah sama Y. Dia kira hubungan mereka bakal ended happily. Tapi ternyata, yang terjadi adalah dia insecure.

Bertahun-tahun dengan Y, dia menjalani hubungan yang resah *cieelah resaaaahh*, karena dia takut suatu saat mantannya Y bakal balik lagi ke dalam hidup dia. X nanya ke Y, kapan kita bakal nikah. Y selalu minta waktu. Sampai akhirnya mereka putus baik-baik. Tiba-tiba, beberapa bulan kemudian, dia found out, Y akan menikah dengan mantan pacarnya. Mantan pacar yang rela dia tinggalin demi X.

X mikir, “Gila, pas gue minta nikah, dia bilang butuh waktu. Tapi abis putus sama gue, dia langsung nikahin mantannya.” Dan dia grieving for like… months? Dan setelah 4 tahun pun dia masih dendam sama Y, walaupun dia udah move on sama yang lain.

Nggak, gue gak bilang gue merasa itu juga yang bakal terjadi sama gue. Gue bahkan gak berharap itu yang terjadi sama orang yang udah nyakitin gue. Gue malah nggak peduli sama apa yang terjadi sama dia. Mo hepi kek, bahagia kek. Gue cuma mikir, gue mau hepi.

Ya emang lah, susah banget pasti maafin orang yang udah bohongin elo, nyakitin elo. Tapi gue gak ada dendam. Kayaknya. Hahaha…

Justru gue mikirnya, he will marry her, like very soon. I am not longer in his mind. Even ngerasa bersalah atas apa yang dia lakuin ke gue pun nggak. Dia mencoba membayar kesalahannya ke gue, and I will never let him do that. Gue gak mau dia ngerasa kita udah even. Dia merasa bersalah karena gue sedih dan harus ancur karena apa yang dia lakuin. Bukan ngerasa bersalah karena apa yang sudah dia lakuin.

Susah untuk nerima kenyataan dia bisa ngejahatin gue dan bilang ini yang terbaik buat gue. Rasanya tuh kayak, baru tahu kalau orang yang lo kenal selama ini, yang lo agung-agungkan sebagai jenis manusia terbaik yang pernah lo temui, ternyata cuma cold blooded monster. Rasanya kayak, gila… kok bisa-bisanya gue ketipu. Kok bisa-bisanya gue nurut waktu dia minta gue stay dan nunggu. Kok bisa-bisanya gue mempercayakan hati gue sama orang yang diem-diem nyimpen niat jelek ke gue.

Bukan berarti nggak ada hal baik yang dia kasih ke gue. Dia sempet jadi orang yang ngasih gue kekuatan, kebahagiaan, sandaran. Kita sama-sama pernah mengalami susah, senang, sakit, dll. I treasure that.

Tapi ternyata tuh pas dilihat lagi, gue baru sadar kalo gue udah diperlakuin semena-mena. Waktu gue nyoba napak tilas *beugh, napak tilaaaaasss*, nginget-nginget gimana cara dia memperlakukan gue setahun dua tahun belakangan ini bersama sahabat gue, gue baru sadar. How shitty he has treated me. Temen gue, cowok, langsung bilang, “Sumpah Le, gue sih nggak bakal bisa kayak gitu sama cewek gue walaupun gue nggak sayang. Ada yang nggak beres dari dia. Kok lo bisa sih bertahan, padahal udah tau digituin? Nggak wajar lah cowok kayak gitu ke ceweknya.”

Pada intinya, jawabannya cuma satu. Sayang. Basi, sih. Prettt banget, sih. Tapi itu satu-satunya alasan, makanya gue bisa memaklumi gimana cara dia memperlakukan gue. Dan membuat gue berpikir, “he was the best for me”. Seriously, I can picture myself getting old with him.

Tapi hari ini, gue bener-bener dikasi liat berbagai macam sudut pandang. Dan pengertian.

Dari pagi, gue udah dikasi liat banyak hal. Oh, ternyata dia begini. Oh, ternyata orang yang memulai hubungan dengan cara yang salah, mengalami yang kayak gitu. Oh, ternyata selama ini gue diperlakukan kayak apa. It’s a lot to digest in one day. But hey, I’ve swallowed more bitter things. And I believe there will be more, and I should be ready for it.

Until this day, I’m still having bad dreams. Salah satu hal yang bikin gue susah move on. Karena gue selalu mimpi buruk. Ibaratnya, pas bangun gue berusaha gak mikirin, eh pas tidur, otak gue malah mengkhianati gue. But it’s ok. Bukankah ada tertulis di alkitab, “Jika pipi kirimu ditampar, berikanlah pipi kananmu”? (macam gue masih berdoa aja….)

Pada akhirnya, orang hanya akan mikirin kebahagiaan dia sendiri. Dia nggak bakal mikirin siapa yang harus dia korbanin, dan apa efeknya ke korban, cuma gara-gara dia ingin bahagia. I have to live with that fact. Gak semua orang, sebaik dan sesuci pencitraannya. Even if you’ve known them very well for years. You’re not. The more you know people, the stranger they become. It’s only a matter of time when their masks fell off at last. When that happened, you can’t ask them to put the mask again and pretend you never seen their true face.

I’m still asking why and how could he, while he already move on with his life. Putting all the things we had in a garbage can. Included me. Bahkan, mungkin dia ngelihat dirinya sebagai korban instead of pelaku? Well, that’s what a selfish people do, no? Creating ironic victimization in their mind. And put all the blame to the people they hurt. Something like… “You’re the one who made me did that.”

I can live with this thoughts, he can live with that thoughts. In the end, nothing can change what happened to me, to us. Nothing can wash away all the things he did to me. He’s the winner, I’m the loser. But he cheated to win, and I wasn’t. Gak ada ngaruhnya sama dia, sih. Ya dia mana peduli gimana cara dia ngedapetin kebahagiaannya (karena kalau dia peduli, dia nggak bakal ngelakuin itu dari awal). Tapi gue peduli, it matters to me, it affects me. Both in good way and bad ways.

I can’t wait the day to come, the day when I move on and can tell him that my middle finger says thank you, thank you for all the good things, and the bad things. And thank God we’re not even.

Ganti yang Baru

Di kantor, saya kerja pake iMac jadul. OSnya udah nggak bisa diapdet lg.

Awalnya nggak pernah ada masalah. Soalnya RAMnya 8gb. Dan masalah-masalahnya iMac jadul ini juga sepele.

Misalnya, nggak bisa pake apps apapun yang update-an 2012 ke atas. Apple Store-nya jg nggak ada. Trus kalau harus download apps system internal kantor atau WB, nggak bisa. Browser juga pake yang jadul.

Tapi gue mikirnya gak masalah lah. Toh selama ini gue baik-baik aja.

Belakangan ya itu… mulai muncul masalah yg menghambat kerjaan. Space HDD yg terbatas. Bikin gue hrs bulak balik pindahin data dr HDD ke external. Pas mau dipake kerja, dr external dicopy dulu ke desktop.

Trus pernah ada invite conference pakai apps apa gitu gue kurang paham, tp gue gak bisa ikutan krn OS gue gak bisa support appsnya.

Yah pokoknya banyak.

Kemudian semingguan lalu akhirnya gue dibeliin iMac baru. Bodynyaaa… beuh! Tipis bgt! Saking tipisnya sampe gak ada DVD writer (-____-). Memori sama 8gb, tp HDD 1TB.

Lemes gak lo?

Tapi apa yang gue lakuin? Gue gak mau ganti, donk.

Entah kenapa dengan tololnya gue malah gak tega pindah ke iMac baru. Rasanya kayak kasihan gitu sama desktop lama gue. Rasanya kayak ngaca sama diri sendiri. Iya… gue attached emotionally in strange way with my old iMac. Bego gak, tuh?

Gue ngerasa iMac yg lama itu kayak gue sekarang. Nggak menarik, terlalu banyak kekurangan, nggak bisa terus-terusan digunakan untuk ke depannya. Gue ngerasa kalo gue sama kayak dia. Dan gue gak mau pake iMac yang baru… krn gak tega sama iMac jadul.

Bos gue udah neriakkin, temen kantor gue udah neriakkin. “LEA, KAPAN MAU DIPAKE iMAC BARUNYA???”
Gue selalu jawab iya ntar masih ada kerjaan.

Kadang temen gue pamer. Nyalain iMac baru di depan gue dan ngiming-imingi gue biar move on dr iMac jadul gue. “Le… liat nih. Udah Maverick. Le, speakernya anjing, Leeee! Beuh bodynya!”

Gue cuma ngiler sambil jawab, “Tapi gue gak tegaaaa!”

Di dalam pikiran gue, gue ngerasa ada di posisi yang sama dengan iMac jadul itu. The things don’t work well anymore between me and this old iMac. He stayed in the past while I need to keep moving forward. Dengan iOS yang nggak bisa diupdate lg, ke depannya pasti akan makin banyak hal yg gak bisa gue lakuin.

Dan dalam kehidupan nyata gue, gue lah si iMac jadul.

Makanya gue gak mau ganti desktop gue. In a way gue ngerasa kejam. Tp yang lebih bikin gue gak mau ganti… itu karena gue ngerasa klo gue move on ke desktop baru, seakan gue setuju kalau barang-barang rongsok itu emang harus dibuang dan diganti dengan yg baru.

Have I ever told you that I see myself as garbage?

Itu makanya gue attached emotionally sama barang yg considered sbg rongsokan (Kecuali kalo sampah bekas bungkus makanan dan sejenisnya).

Tapi akhirnya… dengan berat hati, Jumat kemarin gue udah move on ke iMac baru. Alesannya, soalnya katanya klo hr senin gue masih pake iMac lama, bos gue bakal marahin gue. Udah capek-capek dibeli kok gak dipake.

Masih banyak yg tertinggal di iMac lama gue. Data dll. Selain itu di iMac baru belum ada adobe, outlook, software system untuk akses VPN (jd klo buka VPN – eh bener gak sih ini – gue hrs ngelewatin security berlapis-lapis dan juga pas udah di dalem, cm bisa buka datanya dgn menggunakan app yang terinstall di desktop gue).

Pada akhirnya toh, sekedar move on dr iMac lama aja susahnya minta ampun. Dan sampe detik ini gue masih ada perasaan gak pengen ganti desktop.

Gue masih ngerasa, dengan gue ganti iMac baru, seakan-akan gue membenarkan kalo diri gue pantes dibuang, sama kayak iMac jadul gue.

*fyuh*

Mungkin ada yg salah sama otak gue :))

Lupa Ingatan Aja, Deh!

Akhirnya saya sampai pada titik nggak bisa nulis apa-apa. Katanya mungkin ini titik terendah saya.

“Ya oke, sudah dapet closure kan lu sekarang? Bisa lebih sakit gimana lagi?”

Dan saya nggak tahu jawabannya. Kalau saya pikirin, banyak hal yang bisa bikin saya lebih sakit dari sekarang. Banyak. Dan itu justru bikin saya jadi lebih takut.

Kita emang nggak bisa nentuin apa yang terjadi sama diri kita di masa depan. Kita nggak bisa maksain orang lain jadi sesuatu yang kita mau. Katanya kita harus mulai dari diri sendiri dulu.

Kalau Tuhan emang ada, Tuhan tahu, I’ve tried everything. I’ve started it since the day I found out that everything has changed.

Recently I’m thinking about a movie starred by Jim Carrey. Eternal Sunshine of The Spotless Mind.

Waktu pertama nonton itu, beberapa bulan lalu, saya terpaku dengan kalimat ini:

What a loss to spend that much time with someone, only to find out that she’s a stranger.

Dalam film itu, ada Joel Barish yang jatuh cinta sama Clementine, jadian, and then things didn’t work as they wanted to be. Clementine pergi dan menyewa jasa menghapus ingatan. Khusus bagian ingatan yang menyangkut Joel Barish. Joel, yang marah dan kalut karena Clementine udah menghapus dia, akhirnya menyewa perusahaan yang sama untuk menghapus ingatannya sendiri tentang Clementine. Joel mikir, kok tega-teganya Clementine menghapus dia dalam hidupnya.

Pada saat proses penghapusan memori, di dalam pikirannya, Joel mendadak sadar, bahwa dia nggak ingin Clementine hilang dari ingatannya. Dia mati-matian mencoba menyelamatkan setidaknya satu bagian aja dari ingatannya tentang Clementine. Dan selanjutnya, kalian harus nonton sendiri.

You know what… I really need that kind of cure right now.

My friend said, “Ngapain, sih, elo sedih-sedih gini. Dia enak. Kalo sedih udah ada yang bisa dipeluk. Nah elo???”

That’s the point. That’s the point… Makanya, mungkin lupa itu lebih baik. Sayangnya otak ini lebih sering lupa hal penting, dan ingat hal yang bikin sedih. Kalau ditanya, siapa sih yang mau kayak gini. Nggak ada. Apalagi saya. Saya nggak mau stuck di sini. Tapi hati sama otak saya belum sinkron. Otak maju ke depan, hati mundur ke belakang.

Sumpah, cara kerja pikiran manusia itu aneh banget.

Dan kata temen saya, “Elo tuh emang emotionally unstable, Le.” Sedang? Atau emang? Saya nggak ngerti. Karena memang selama ini ada yang selalu membantu saya untuk stabil. Dan tiba-tiba dia hilang. Karena sebelum ada dia pun, saya ini memang adalah orang yang sedih.

Tapi life goes on… Dunia nggak akan berhenti hanya karena saya sedang bersedih. Tapi bener deh. Saya berharap dunia memperlambat langkahnya, biar saya nggak ketinggalan jauh. Saya nggak mau tertinggal sendirian di belakang.

Mungkin suatu hari saya akan sembuh. Saya sih, maunya cepet-cepet. Saya nggak mau terpaku sama pintu yang sudah ditutup di depan muka saya (pake dibanting pula, hahaha…). Tapi sebelum lihat pintu-pintu lain yang terbuka buat saya, saya harus nyembuhin diri sendiri dulu. Karena saya nggak mungkin mengharapkan orang lain menyembuhkan saya.

Temen-temen, jangan bosen sama saya, ya… Jangan ninggalin saya dulu. Sabar-sabar sama saya.

Mari kita menutup postingan ini dengan dua kutipan dari Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang mewakili isi hati saya saat ini *halah*

Joel, I really like you. I hate that I said mean things about you.

Dan satu lagi…

I thought I really knew her

Tentang Selingkuh dan Menjadi Pilihan

Pertama kali saya kenal kata selingkuh, mungkin usia SD atau SMP, saya kurang begitu ingat. Saya nggak bisa bicara banyak soal selingkuh yang pertama kali saya kenal, saya hanya bisa bilang dalam “perselingkuhan” ada begitu banyak orang yang disakiti. Dan itu menimbulkan trauma yang cukup berat buat saya yang kala itu masih sangat rapuh *halah*.

Kemudian, saya pacaran, kelas 3 SMP. Putus karena saya diselingkuhi. Pacar saya waktu itu ternyata berpacaran dengan 2 perempuan lain, yang mana kami bertiga ini beda sekolah. Bisa dibilang mantan pacar saya cukup populer; jago main gitar, banyak teman dimana-mana, ganteng. Pada akhirnya saya tahu karena sahabat-sahabat pacar saya mengadu. Kebetulan saya pacar yang paling disukai oleh mereka, entah kenapa, mungkin karena saya baik dan asik, bisa nyambung sama teman-teman pacar saya :p Pacar saya waktu itu aja kadang suka kesal karena teman-temannya sering main sama saya tanpa kehadiran dia. Wajar saja, pacar masa kecil saya itu punya terlalu banyak cewek yang harus di-maintain.

Setelah saya memutuskan dia, pada akhirnya dia yang ngejar-ngejar saya. Sampai dua perempuan lain itu datang ke rumah saya, untuk bilang bahwa cowok itu paling sayang sama saya dan nyuruh saya balikan sama dia. I was like, d’uh… why would I want to go back with that asshole? Yang pada akhirnya nggak lama setelah itu saya pacaran dengan cowok baik yang setia sama saya, tapi akhirnya saya tinggalin juga karena terlalu cuek. Oh ya, saya perempuan yang senang dikejar.

Ketika duduk di bangku SMA, saya berpacaran dengan kakak kelas yang cukup populer. Saya nggak tahu kalau untuk jadian sama saya, dia sampai meninggalkan pacarnya yang bersekolah di tempat lain. Saya tahu belakangan. Tapi pada akhirnya, ketika ia sudah kuliah dan saya masih duduk di bangku 2 SMA, ia muncul ke sekolah saya membawa cewek lain. Teman kampusnya. Akhirnya saat itu juga saya memutuskan pacar saya. Nggak pake bilang putus, pokoknya ninggalin aja gitu.

Sisanya, waktu kuliah saya berpacaran dan putus dengan beberapa cowok. Hanya sebulan dua bulan, selesai. Nggak cocok, bubar. Bubarnya juga nggak pake berantem. Ya bubar aja gitu baik-baik.

Kemudian saya ketemu cowok yang bisa bikin saya jatuh hati pada pandangan pertama. Pinter, ganteng, anak ITB *halah*, masa depan cerah, romantis, endeskrey endesbrey. Kalo ngobrol udah segala bahas nikah, dianya, bukan saya. Tiba-tiba, blah, dia udah punya cewek. Ternyata saya cuma selingkuhan. Putus lah udah, nangis bombay.

Saya pikir, saya ini kok apes banget, ya. Diselingkuhin melulu oleh orang yang saya sayang.

Di luar saya, saya pun menjadi saksi berbagai macam perselingkuhan. Misalnya teman saya, yang jadi simpenan suami orang. Pada akhirnya suaminya menceraikan istrinya dan meninggalkan sang istri beserta 3 anaknya untuk menikah dengan teman saya. Saya tidak pernah datang ke pernikahan mereka. Sudi memberi selamat pun nggak. Maaf-maaf aja.

Kemudian saya harus mendengar curhat sahabat, teman, kolega, tentang perselingkuhan mereka. Ada yang main-main, ada yang serius. Macam-macam. Sejak saya SMA sampai sekarang. Semakin dewasa dan tua pria, semakin mereka senang selingkuh. Belum lagi dengan teman-teman saya yang menjadi korban selingkuh. Ketika mereka curhat menangis ke saya, atau curhat via chat, hati saya ikut hancur bersama mereka.

Pada akhirnya, hal-hal seperti ini membuat saya menjadi orang yang menghargai hubungan dan komitmen. Nggak berlebihan kok ini. Selama saya pacaran, nggak bohong kalau banyak godaan untuk saya. Dari cowok-cowok yang ngasih perhatian, yang suka nelpon, yang nyelip-nyelip padahal tahu saya punya pacar. Ada yang menarik perhatian saya, ada juga yang nggak saya peduliin dari awal. Ada yang belum apa-apa udah kege-eran, padahal mah saya emang nggak nyangka dia naksir, kirain temen aja. Jadi pas saya pamer foto pacar, saya malah dibilang ngasih harapan palsu. Lah, mana saya tahu situ naksir. Saya mah ama laki lempeng aja.

Tapi nggak terpikir sedikitpun di pikiran saya untuk selingkuh.

Saya selalu mikir, kalau saya selingkuh, pasti bakal nyesel. Karena kita nggak akan pernah tahu, apakah orang kedua ini worth it? Apakah mereka lebih baik? Nggak mungkin saya menukar emas dengan batu. Kalau saya nggak suka sama pasangan saya, saya nggak akan segan untuk ngomong baik-baik dan mengajak pisah. Daripada selingkuh.

Saya tahu sakitnya diselingkuhi, makanya saya nggak mau selingkuh. Saya tahu rasanya sejak lama, sejak saya masih kecil.

Kalau kita ngejalanin hubungan yang cukup lama, bohong kalau kita bilang nggak pernah tertarik sama orang lain. Iya, itu pun saya akui. Tapi saya nggak pernah ngapa-ngapain. Nggak ngedeketin atau apa. Toh, pada akhirnya perasaan itu hanya bersifat sesaat, karena di dalam hati kita, kita tahu siapa yang kita sayang. Kalau kata temen saya, “Hati mah, selalu akan kembali ke yang punya.”. Itu bener. Saya rasain sendiri.

Masalahnya adalah ketika kita, ada di pihak yang dijadikan pilihan.

Saya merasa cycle hidup saya kok muternya ke situ-situ lagi.

I never fucked up a relationship. I always value my partner. Even itu partner yang nggak saya sayang sekalipun. Saya tetep care, tetep menghormati dia sebagai laki-laki. Oh you can ask my exes, I bet they would say nice things about me (palingan komentar miringnya cuma “susah diapa-apain, anaknya nggak mau-an”). Pada akhirnya mantan-mantan yang selingkuh itu menghubungi saya di kemudian hari. Cek cuaca doang…

Tapi ya itu… orang yang memilih untuk selingkuh, nggak pernah puas dengan apa yang mereka punya. Saya pernah nonton Oprah, tentang wanita-wanita yang diselingkuhi (-yang kemudian membunuh suaminya karena sakit hati, kemudian dipenjara seumur hidup – well bukan itu poin saya). Mereka adalah wanita cantik, yang mengurus suami, ngurus badan, setia, bahkan ada yang bekerja untuk membiayai suaminya. Dan pada akhirnya suami mereka malah selingkuh. Saya nggak habis pikir… gila, ni perempuan pada kurang apa, sih? Setia, cantik, ngurus suami de el el. Kok masih tega?

You know, menjadi pilihan, dan pilihan yang disisihkan pula, itu hal yang gak enak banget. I’ve been through this shits several times. I’ve improved myself. Yang tadinya cuek, jadi perhatian. Yang tadinya nggak pernah mesra, jadi mesra, mulai belajar ngomong pake “aku-kamu”, “sayang”, nanya kabar dll. Kekurangan saya mah emang cuma nggak cantik aja (sama bawel dan manja – oh wait, banyak ya). Tapi ternyata nggak pernah cukup.

Cowok-cowok tuh nggak sadar, cewek mereka juga ada kali yang deketin, tapi mereka nggak nanggepin.

Ada satu temen saya, cowok, yang ngebangga-banggain selingkuhannya. Trus saya jawab “Hati-hati… elo lagi selingkuh ama dia, padahal di rumah lo bini lo lagi dideketin tetangga sebelah. Bini lo kurang cantik apa, sih?”

Dan dia jawab, “Jangan gitu dong ngomongnya, Le. Ya nggak boleh lah. Jangan sampe!”

I was like… WHAAAATTTTTT?????

Seumur hidup saya, cuma satu cowok yang ngomong, “Ya, kalau gue suatu saat selingkuh, gue akan relain cewek gue selingkuh juga sekali. Yang penting pada akhirnya kita sama-sama lagi. Bukan berarti gue rela dia sama cowok lain, tapi ya kan gue juga salah, gue nggak boleh egois.”

Cuma satu.

Ya gimana pun juga, korban yang diselingkuhi itu ya pahit lah. Lo harus tahu kalau ada orang yang lebih diperhatiin dari diri lo. Lo harus lihat dia memperlakukan orang lain lebih baik dari elo. Apa yang tadinya lo kira cuma milik lo berdua, ternyata diberikan juga ke orang lain. Bahkan kadang, si selingkuhan diberi lebih banyak daripada elo, maksudnya dalam bentuk perhatian, waktu, perlakuan manis dll. It’s not like you couldn’t do exactly the same, you just choose to not to. Tapi ya… susah juga. Hanya karena kalian berdua berjalan beriringan, nggak berarti kalian sama-sama value hubungan kalian dengan harga yang sama. Yang pasti, melihat pasangan kita memuja orang lain dengan cara yang sama atau mungkin lebih daripada dia ke kita, itu kayak… ada sesuatu yang direbut dari dalam dada kita dengan paksa.

It’s a sad truth, but it’s true.

Ketakutan terbesar saya dalam hubungan, ya itu, selingkuh. Saya tahu pahitnya, saya tahu sakitnya. Berkali-kali. Dari berbagai sudut pandang.

Kadang saya kesal dan marah, melihat teman saya selingkuh. Atau memilih jadi selingkuhan. Saat mereka melakukan itu, dimana orang ini, orang yang menjadi korban in?. Dia sedang happy, nyiapin hadiah buat kekasihnya, padahal kekasihnya lagi asik begini begitu sama orang lain.

Emang, kata temen saya, kita nggak bisa mengatur apa yang orang lain akan lakukan, seberapapun besarnya rasa sayang kita sama orang itu. Hanya karena kita sayang dia, bukan berarti kita bisa menuntut mereka menyayangi kita balik dengan perasaan yang sama besarnya.

Apakah emang harus sebegitu menyedihkannya?

To be honest, I lost my trust toward everything. Mostly about myself. Kita bisa berusaha jadi yang terbaik, kita bisa berusaha setia, jujur, dll. Tapi pada kenyataannya, itu nggak akan cukup. Nggak akan pernah cukup. Menyedihkan sekali…

Then… apa yang tertinggal buat kita? Orang-orang yang dijadikan pilihan, dan disisihkan. Karena buat saya, rasanya udah terbukti, berkali-kali… apapun yang kita lakuin, nggak akan pernah cukup. Nggak akan pernah cukup karena selalu akan ada yang lebih cantik, lebih baik, lebih menarik. Selalu akan ada. Dan kita nggak akan pernah cukup.

Harusnya baik cowok maupun cewek lihat dari dua sisi. Kalian merasa tertarik dengan orang lain, menurut kalian pasangan kalian nggak gitu juga? Kalian kesenengan ada orang lain yang deketin, emangnya pasangan kalian nggak ada yang deketin juga? Dan hanya, katakanlah, hubungan kalian masih pacaran, apakah itu berarti hubungan itu nggak boleh dihargai? Apakah itu berarti pasangan kalian nggak perlu diperlakukan selayaknya manusia yang udah bersedia nemenin hidup kalian selama beberapa waktu?

Karena yang namanya hubungan itu… nggak cuma satu orang yang harus berkorban. Nggak cuma satu orang yang berusaha untuk jadi lebih baik. Nggak cuma satu orang yang punya kekurangan. Tapi dua-duanya. Kenapa orang-orang yang selingkuh nggak bisa lihat itu?

Mimpi Buruk

Berminggu-minggu belakangan ini saya susah tidur. Tapi ketika saya bangun, sungguh susah beranjak. Karena semuanya sudah berubah untuk saya dan saya membenci perubahan itu.

Ketika menurut saya semua hal sudah terlalu buruk untuk saya dan nggak mungkin lebih buruk lagi, ternyata salah. Seminggu atau 2 minggu belakangan, entah saya lupa kapan tepatnya, saya mulai bermimpi buruk. Setiap kali saya tidur. Tanpa pernah absen satupun.

Satu kali saya coba mendamaikan hati saya, berpikir mungkin mimpi-mimpi buruk saya dikarenakan saya terlalu memikirkan satu hal. Yang terjadi saya tetap bermimpi buruk. Yang lebih seramnya, ternyata mimpi buruk saya jadi kenyataan.

Menakutkan ketika saya tahu hal-hal yang ada dalam mimpi saya ternyata menjadi kenyataan. Rasanya setengah mati ingin berhenti bermimpi. Karena sekarang, setiap saya bangun malah jadi stress dan sedih. Setiap saya bangun, saya mengingat kembali mimpi saya, dan saya berduka. Saya kembali menjalani hari dengan berat.

Sungguh menyedihkan jika kita harus terus memimpikan orang yang sama berulang-ulang kali menyakiti kita.

Rasanya seperti dilarang melupakan. Dilarang pergi. Dilarang beristirahat. Dilarang melepaskan.

Saya tidak ingin bangun, namun saya juga tidak ingin tidur. Apes sekali.

Am I Pretty?

Tiga hari terakhir ini saya stay di Medan untuk support Tante kesayangan saya yang sedang berjuang melawan cancer. She said she’s getting better now.

Selama di Medan, saya nginep di rumah om saya yang memiliki balita berusia 4 tahun, namanya Ika. Malam pertama dan kedua saya terlalu sibuk bulak-balik rumah sakit sehingga nggak bisa bermain dengan Ika. Padahal dia sudah caper-caper sama saya. Pikiran saya sendiri pun terlalu sibuk dengan berbagai hal sehingga saya cenderung menarik diri dan nggak mau berkumpul dengan saudara-saudara saya (saya nggak mau tiba-tiba breakdown di depan mereka).

Hari ini lah yang agak berbeda. Pagi ini saya bangun, mandi, kemudian duduk sendirian di teras. Semua orang masih lelap krn kecapekan begadang semalam.

Kemudian Ika menghampiri saya, kami pun bermain dan mengobrol berdua. Saya tanya macam-macam. Dan kemudian ia curhat sama saya.

Ika bilang, beberapa anak jahat sama dia dan nggak mau main sama dia. Saya tanya kenapa. Kemudian lanjutan kalimatnya membuat saya benar-benar kesal.

“Mereka bilang ‘Jangan lah kita main sama Ika, kita-kita ini kan cantik, Ika jelek’. Anak-anak itu bilang gitu sama aku. Makanya aku nggak main kemana-mana. Di rumah aja sama mamak.”

I swear I almost kick the table in front of me. Fuck!

Dengan kesal saya beranjak ke kamar, saya ambil cermin lipat dari tas saya dan kembali duduk dengan Ika.

“Sini, Ka. Duduk sama kakak.” Saya bilang. Saya pangku gadis manis itu lalu saya buka cermin lipat saya menghadap wajah kami berdua.

“Menurut Ika, kakak cantik nggak?” Tanya saya. Oke saya tahu, di sini sih tampang saya standar banget. Gendut, kulit gelap, rambut keriting berantakan. Tapi di Medan sini, saya nggak kalah lah sama cewek lokal *halah*

Sambil tersenyum malu-malu, Ika menjawab saya cantik (so, di dunia ini udah ada 2 org yg blg saya cantik: nyokap sendiri, dan ika).

“Sekarang lihat ke kaca. Lihat sini.” Kami berdua pun memandang cermin di depan kami.

“Rambut Ika keriting, sama kayak kakak. Mirip kan?”

Ika mengangguk.

“Coba bulu matanya. Lentik begini. Mirip sama kakak, kan?”

Ika mengedip-ngedipkan matanya. Iya, katanya.

“Coba Ika senyum.” Kata saya. Ia pun tersenyum lebar. Memamerkan giginya yang putih, kecil, dan berderet rapi.

“Nah tuh cantik… lihat. Giginya rapih, putih, bersih. Senyumnya cantik. Jadi Ika cantik, kan?”

Dia tersenyum bangga sambil mengangguk malu.

“Nih cerminnya buat Ika. Kalo ada yang bilang Ika jelek lagi, Ika senyum aja sambil ngaca. Liat rambut keritingnya, mata lentiknya, sama senyumnya Ika. Nanti pas gede Ika pasti jadi kayak Kakak.”

Pada akhirnya cermin lipat pemberian saya, selalu ia pegang kemanapun ia pergi seharian ini.

It pissed me off. Dari umur segitu dia harus ngerasa dirinya jelek. Seharusnya dia baru mikirin itu 20 tahun lagi. Bukan sekarang. Nggak waktunya dia ngerti mana jelek mana cantik. Kan taik banget.

But on the other way… I felt so fake. I made her believe that she’s as beautiful as me while I believe that I am ugly. Saya benci apa yang saya lihat di dalam cermin setiap hari. Saya benci tubuh saya, saya benci wajah saya, perut saya yg buncit, payudara saya yang kecil, kulit saya yang gelap. Saya benci semua yang ada pada diri saya. Saya merasa jelek.

Kepercayaan diri saya dan ketidakpedulian saya pada penampilan saya sudah hilang entah kemana. Saya merasa tidak menarik dan menyedihkan. Saya melihat iri pada mbak-mbak kurus kecil dengan dandanan feminin. Kemanapun saya pergi, setiap saya melihat perempuan kurus kecil yang manis, saya membenci diri saya. Saya merasa seperti bagian yang tersisihkan di dalam society. Karena saya kalah dibandingkan mereka. Saya cuma badut jelek di antara mereka.

Tanpa sengaja saya pun melaparkan diri saya setiap hari…

Membayangkan perasaan ini dirasakan oleh anak seumur Ika membuat saya benar-benar kesal. Karena nggak seharusnya mereka merasa jelek. Nggak seharusnya mereka terpaksa ngumpet di rumah karena nggak pede main dengan teman-temannya.

What the fuck with you, society? What the fuck.

Fucked Up and the Other Things.

Dua tiga bulan belakangan ini adalah masa yang paling berat bagi saya. Banyak hal yang terjadi, dan keseluruhannya menjadi momen yang benar-benar nyakitin buat saya.

Hal yang sedikitnya cukup akurat untuk menggambarkan kondisi saya… mungkin kira-kira seperti dilempar ke tengah laut dan ditinggalkan sendirian di tengah badai sementara perahu saya direbut orang lain.

The worst part was, saya kira selama perahu itu masih terlihat, ada 0,01% kemungkinan bahwa perahu itu akan berbalik dan menyelamatkan saya. Tapi tentu saja, ketika seseorang dibuang dan ditinggalkan jauh, kembali adalah sebuah probabilitas yang nyaris mustahil.

In the end, semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka nggak akan pernah mau memikirkan apa yang terjadi pada orang yang tenggelam di belakang, karena mereka perlu menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu juga lah mereka melihat ke depan, bukan kepada saya.

Ada yang bilang sama saya, dunia toh gak akan ngasi kita dispensasi saat kita sedang fucked up. Kerjaan tetep dateng, masalah lain tetap dateng, mau makan tetep harus bayar, mau ngantor tetep harus ngeluarin ongkos. Dan most people won’t give a fuck. Apa yang terjadi sama kita nggak ada relevansinya sama orang lain.

Pretending to be happy, supposed to be a good solution. You know what they say, fake it until you believe it. Tapi pura-pura bahagia itu menyakitkan. Mencoba mengalihkan kesedihan menjadi kemarahan pun nggak mengubah apa-apa. Sementara whining pada akhirnya kan membuat orang lain capek dan gerah ngelihatnya.

Apapun yang kalian lakuin nggak akan pernah bener. Either buat orang lain, maupun buat diri lo sendiri.

Hal yang paling konyol buat saya adalah ketika orang mengatakan “Ini yang terbaik buat kamu.” Atau… “Ini jalan Tuhan.”

WTF. Kenapa sedikit-sedikit harua nyalahin Tuhan? Setiap orang punya pilihan. Bedanya cuma, apakah kamu bakal milih jalan yang menyakiti orang lain, atau nggak.

Dan kalaupun ini yang terbaik buat saya, kenapa hingga detik ini saya nggak merasa lebih baik?

Semua omong kosong kata mutiara ini bikin saya capek.

Ada kalanya saya berpikir, kenapa nggak ada yang bisa dan mau menyelamatkan saya? But hey… orang lain nggak ada hubungannya dengan apa yang saya alami. Dan nggak pantes juga kalau kita mengharapkan orang lain fix the damage made by other people.

Ada pula kalanya saya bertanya-tanya. What did I do to deserve these? Dan saya menyimpulkan, nggak, nggak ada satupun hal yang bikin saya (atau juga jutaan orang lainnya) layak dibeginikan.

What is the worst part from this things?

Mungkin perasaan dibuang ini… lonely and wasted. Betrayed and loose.  Lost and hurt. Saya kehilangan kepercayaan diri. Saya kehilangan signal fire saya, yang selama ini membuat saya tetep sane.

Sebagian besar orang bilang, “Elo kuat, Le.” Atau, “Elo berhak bahagia.” Harus ikhlas, harus lupain, harus terus maju ke depan. Kalo bisa pun sudah saya lakuin dari kemarin.

Tapi sayangnya, elo nggak bisa memperbaiki kerusakan yang nggak terlihat.

Toh pada akhirnya saya fucked up dan struggling sendirian, sementara orang-orang-yang menyakiti saya sedang berbahagia. How do you overcome that?

Having support from people who loves you is great. Tapi mereka nggak ada 24 jam sama kita, dan kita berjuang penuh selama 24 jam. Tiap detik. Nggak ada satu detik pun yang lewat tanpa lo berjuang mati-matian untuk sekedar bernafas.

Ini lebay. Tapi ini kenyataannya.

Doing stupid things, go out with friends, minum-minum, curhat ke sana ke mari, nangis kayak keran bocor. Itu nggak menyelesaikan masalah. It makes you feel better, tapi cuma temporary.

Orang bilang, hey banyak orang yang ngalamin masalah lebih berat. Tapi hey lagi, I don’t give a fuck. Saya udah punya cukup banyak masalah dan ngelihat orang lain punya masalah lebih besar nggak membuat saya merasa lebih baik. Yang saya tahu cuma saya harus dikorbankan agar orang lain bahagia. How I suppose to overcome that?

Sampai detik ini saya masih struggling. Masih nangis setiap sendirian. Selera makan berantakan. Jam tidur semakin berkurang. Kerjaan ikut berantakan.

Masalah-masalah lain masih datang. Dan jadi akumulasi.

And I’m here asking, hey, where’s my silver lining. Harusnya kalian ada somewhere near kan?

Sekali lagi, seperti kalimat “Ini yang terbaik dari Tuhan.”, silver lining pun jadi konsep yang penuh omong kosong untuk saya.

I don’t care about what’s best for me. Or karma. Or what was God wanted. I don’t give a fuck for all those craps. Yang saya tahu cuma, saya berantakan, dan gak akan ada yang bisa memperbaiki ini semua. Nggak ada yang perlu juga. Karena semua orang punya masalahnya sendiri-sendiri.

Saya cuma bisa keep running. Keep swimming. Saya nggak tahu apa saya bisa survive. Berapa lama? Saya nggak tahu. Dan seperti yang sudah-sudah, saya juga harus siap-siap. Karena masalah akan tetap terus berdatangan tanpa bertanya “Are you ready?”.

Mengharapkan orang lain atau dunia ini untuk ngerti masalah saya juga sebetulnya terlalu egois. Menuntut orang lain memperlakukan saya seperti barang fragile pun terlalu manja.

You know… life goes on. People come and go. In the end, semua orang hanya mikirin kebahagiaan masing-masing, dan gak peduli seberapa hancurnya elo. Ada yang stay sebentar, ada yang gak peduli, dan ada yang bahagia ngelihat lo ancur.

Dan sementara saya sendiri nggak bisa egois kan…

So. Yeah…

The fuck with people and their selfishness. I’m going to enjoy my sadness. Whining and whatever. Trying to build my confidence that has been destroyed in to pieces.

Ok. Good bye.

Saran Menghadapi Patah Hati yang Paling Sering Gue Denger

Pernah patah hati parah banget sampe hati berdarah-darah? Be it diselingkuhin, diputusin sepihak, pacar dijodohin sama ortunya, mergokkin pacar jalan bareng cowok/cewek lain, atau baru ketahuan belakangan kalo pacar lo ternyata ringan tangan dan taik-taik lainnya?

Gimana rasanya, Ciyn?

Taik banget lah, ya. Gak terkatakan.

Biasanya apa hal pertama yang lo lakuin kalo dalam kondisi begitu? (Selain nyilet-nyilet tangan) Curhat? Pasti curhat lah, ya. Curhat ke temen, ortu, sahabat, gebetan baru, ban serep cadangan selama ini, siapa aja lah.

Gue baru sadar, kalo lo cerita masalah-masalah yang taik begini, pada dasarnya semua orang punya saran yang mirip-mirip. Mulai dari yang normal sampe radikal. Gue coba nyimpulin saran-saran yang sering gue denger selama ini. Dan bersiaplah, karena beberapa saran emang taik banget.

1. Go out and have fun with friends.

Standar. Perkaranya cuma satu. Kalo duit lo dikit, lama-lama pedes juga. Tapi yang pasti, di sini ini nih lo tahu seberapa pedulinya sahabat-sahabat lo sama diri lo. Value them, keep them forever.

2. Shopping! Buy all the stuff you want.

Doesn’t work for me. Tante masih harus nyetor uang belanja ke ortu, gak bisa seenaknya belanja.

3.Mabuk-mabuk’an (ducapkan dengan huruf “k” yang menggantung)

Ngabisin duit, hepinya cuma 3 jam. Gue masih lebih milih shopping, sih. Kecuali kalo mabu’-mabu’annya dibayarin :p

4. Travelling

Ini juga butuh duit, sih. Tapi patut dicoba. Apalagi kalo bisa travelling bareng temen-temen deket. Abis itu lo bisa ketawa bareng temen-temen semaleman sambil taik-taik-in mantan lo yang brengsek itu.

5. Cari pacar baru

Kalo lo seganteng Zumi Zola atau secakep Mariana Renata, sih, ini bisa banget. Lah kalo muka lo pas-pasan?

6. Jatuh cinta lagi

Coba, jelasin ke Tante. Mana yang bisa langsung jatuh cinta setelah diputusin dengan tidak terhormat?

7. Kiss someone else

Bagus kalo gak ditampar :p Tapi gak ada salahnya lah kalo lo coba nyium orang lain (ya itu juga kalo ada yang mau ya dicium sama lo. hahahah…)

8. Get laid

Hellooo, situ pikir sini cewek apaan. Segel masih ada, nih. Sayang banget kalo dilepas cuma buat ngelupain mantan. Tapi kalo yang udah sexually active, mungkin bisa dipraktekkan. Menurut temen gue, saat lo get laid, kegiatan tsb melepaskan hormon-hormon yang bisa bikin lo merasa happy dan abis itu lo bakal gak inget lagi sama mantan lo.

Yang udah pernah nyoba, Tante dikasi tau, dong. Ini bener gak, sih? Penasaran aja…

9. Get laid with so many people until you feel numb

Well, ati-ati HIV sama bunting ya, Kak!

10. Date whoever you can find, and have another heart break

Menurut sahabat gue, lebih baik nimpain rasa sakit yang parah dengan rasa sakit yang lebih ringan. Kalo patah hati yang parah sembuhnya lama kan tuh. Lo jadian sama orang, siap-siap patah hati lagi. Nanti pas patah hati sama orang baru itu paling sakitnya sebentar. Yang penting lo lupa sama sakit yang lama.

Bagus kalo lupa, lah kalo sakitnya dobel? Mamam, tuh…

Nah, silakan ya. Yang lagi struggling, nangis-nangis, coba baca dulu tips dari Tante (ya dari temen-temen gue, sih, maksudnya). Kalo ada yang sukses, mau dong gue dikasi tau (sambil gosipin mantan lo).

Tahun Baru dan Ritual Basa Basi

Apa ritual malam tahun baru kalian? Kumpul bersama keluarga besar? Clubbing dengan sahabat? Jalan-jalan ke luar kota bersama teman-teman?

Keluarga saya sendiri punya ritual yang hampir tidak pernah dilewatkan sepanjang ingatan saya, yaitu berkumpul dan berdoa bersama lima menit sebelum pergantian tahun. Kemudian diikuti diskusi resolusi dan napak tilas tahun sebelumnya. Well, pada dasarnya saya mengingatnya sebagai judgement day, hari dimana ayah saya memberi omelan tentang kenakalan kami. Karena itu lah, saya sangat membenci malam tahun baru.

Dulu, saat saya kecil, sebenarnya cukup menyenangkan. Karena biasanya saudara-saudara saya yang seumuran akan datang dan menginap. Diam-diam mengambil gelas-gelas berisi wisky cola yang sebenarnya disiapkan oleh ayah saya untuk saudara dan tamu yang lebih tua. Menonton TV sambil ngobrol, main kartu atau monopoli, kadang berkeliling komplek menggunakan sepeda, kemudian main kembang api.

Beranjak remaja, saudara-saudara seumuran saya sudah tidak pernah datang lagi. Saya menyimpulkan itu karena ayah saya sudah tidak semapan dahulu, dan saudara sepupu saya sebaliknya sudah mulai mapan. Tentu mereka lebih memilih berlibur bersama teman-temannya daripada ngedeprok di rumah saya yang sederhana.

Tapi saya masih punya teman-teman komplek, sahabat saya sejak masih piyik. Biasanya kami akan berkumpul di pos karang taruna atau rumah salah satu dari mereka. Menyiapkan ayam dan sosis untuk dibakar, dan bir beserta vodka murah meriah dan anggur merah kemudian makan dan minum sampai setidaknya pukul 4 subuh.

Pada akhirnya ritual ini lama-lama menghilang ketika satu per satu dari mereka menikah atau pindah rumah. Mulanya satu orang yang menikah, dan saat malam tahun baru, pukul 9 malam ia sudah ditelpon istrinya. Diomelin, disuruh pulang. Biasanya kami akan mengejek dan menertawakan teman kami yang malang itu. Tapi akhirnya kami mulai menghilang satu per satu. Mereka semua pada akhirnya menikah dan disuruh pulang cepat oleh istrinya.

Pada akhirnya, tinggal lah saya dengan ritual tahunan keluarga. Karena teman-teman saya yang lain, teman kampus, rumahnya terlalu jauh. Saya tidak bisa lagi kabur keluar setelah ritual doa tutup tahun. Makanya saya sebal dengan tahun baru. Saya sebal karena tidak pernah bisa merasakan tahun baru bersama sahabat di luar kota. Saya sebal dengan saudara-saudara saya yang tidak pernah nongol lagi di rumah karena ayah saya tidak sanggup lagi menyediakan wisky cola, dunkin donut edisi spesial natal, dan angpaw.

Tapi entah kenapa, buat saya tahun ini berbeda. Saya tidak sebal dengan ritual tahun baru keluarga ini. Sedikit banyak, keluarga saya juga memang berubah karena berbagai macam hal yang terjadi beberapa tahun belakangan ini.

Tahun ini malah saya sedikit banyak bersyukur karena masih bsia berkumpul bersama keluarga. Ayah dan Ibu saya masih sehat. Adik-adik saya tidak berubah menjadi anak kurang ajar yang menghilang dari keluarga karena sibuk bergaul dan berpesta. Dan setelah berbagai hal terjadi pada keluarga kecil ini, ternyata, kami masih ada. Kami masih berkumpul dalam keadaan sehat dan gembira. Dan kami lebih dekat dan lebih saling mengerti dibandingkan dahulu.

Keluarga, adalah segelintir orang yang menerima kamu apa adanya, jelek, buruk- baik, sukses – miskin, sakit dan sehat. Di antara keluarga, saya tidak perlu berpura-pura senang, berpura-pura manis, atau berlagak tertarik pada topik yang mereka bicarakan. Yah, tentu saja saya tetap harus berlaku sopan, nggak bisa ngomong “anjing-babi-titit” di depan orang tua. Tapi setidaknya saya tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.

Ritual tahun baru yang menyebalkan ini, tahun ini terasa berbeda. Bukan ritual yang saya benci. Saya malah tersenyum mendengar ayah saya mengomel tentang berbagai hal, yang lalu kami komentari dengan candaan, ngeles ke sana sini, dan dibalas dengan geleng kepala ayah saya – yang gagal dalam berusaha menyembunyikan tawa. Di antara obrolan kami, saya baru sadar, betapa keluarga saya telah melalui banyak hal, dan ini mendekatkan kami. Saya bahagia, masih memiliki rumah dan keluarga yang menyayangi saya.

Bagaimana ritual tahun baru kalian? Jangan lupa mengucapkan selamat tahun baru dan menyatakan sayang pada keluarga. Karena pada akhirnya, di dunia ini, hanya mereka lah yang kalian punya.

Happy New Year 2014 🙂