Trip: Apa Yang Bisa Kamu Lakukan di Surabaya dan Malang dalam 3 Hari?

Minggu lalu saya kebetulan harus ke Surabaya untuk urusan kerjaan. Iseng, saya dan teman memperpanjang hari kami di Surabaya agar bisa liburan sebentar. Kami putuskan untuk menginap semalam di Surabaya dan semalam di Malang karena penasaran ingin mampir ke Jatim Park yang tersohor itu.

Hari pertama di Surabaya, yang kami lakukan hanya kuliner di pusat kota. Berikut nama tempat makan yang kami sambangi:

Warung Soto Wawan

Jln. Mayjend Sungkono 86, Surabaya
Harga: Mulai dari 20ribuan. Ramah di kantong 🙂

Letaknya tidak terlalu jauh dari Tunjungan Plaza. Menu andalan mereka adalah Soto Daging Campur yang berisi babat, paru, daging, hati, usus, dan telur rebus. Saya sendiri memesan Soto Daging tanpa jeroan karena saya memang bukan penggemar jeroan.

Saya sempat meminta koya, tapi dikasihnya malah bawang goreng. Jadi, ya, ternyata di Surabaya itu koya bisa berarti bawang goreng, bisa juga bubuk koya. Makanya kamu harus menjelaskan yang kamu minta itu koya apa.

Rasanya sendiri gurih, dagingnya juga lembut. Jadi nggak salah kalau Soto Madura mereka jadi andalan.

Selain itu saya juga memesan Nasi Goreng Mertua, Kangkung Pedas, serta Bebek Ndelik dan Ayam Ndelik. Dan untuk dua menu terakhir, ternyata enak banget! Bebek dan ayam-nya digoreng kemudian ditambahkan bumbu rempah yang gurih dan tidak terlalu pedas.

Kurangnya cuma satu di sini, pelayanannya agak mengecewakan. Koya/bawang goreng yang diberikan sudah bersemut. Pelanggan lain yang datang setelah saya mendapatkan pesanannya lebih dulu, sementara pesanan saya lama sekali datangnya.

Mie Tidar

Jl. Tidar no. 20A, Sawahan, Surabaya
Harga: Nyaris 30ribu, tapi karena porsinya jumbo dan rasanya cukup enak, jadi wajar saja lah.

Sebagai penggemar mie ayam, saya juga mencoba salah satu kuliner yang cukup direkomendasikan ini. Ternyata tempatnya tidak semenarik harapan saya. Khas warung makan ruko biasa.

Mienya sendiri menurut saya standar. Enak. Tapi standar. Karena saya sering nemu yang kayak gini di Jakarta. Ala mie ayam warung cina (no racist, ini pujian). Saya lebih suka mie ayam yang teksturnya keriting dan kenyal, sementara di sini walau sama kenyal, modelnya lebih halus dan lemas. Kalau boleh membandingkan, masih lebih enak Mie Luwes dekat Stasiun Sudirman. Hehehe…

Saya memesan mie ayam dengan bakwan, karena penasaran mie pake bakwan tuh gimana. Eh, ternyata di Surabaya itu bakwan adalah bakso. Iya, bakso sapi biasa.

Selain itu saya juga mencicipi es teler dan es campurnya. Rasanya biasa saja. Disajikan dalam piring instead of mangkuk. Kolang kalingnya keras. Mungkin saya lagi apes aja. Selain itu kurang higienis karena mereka pakai es batu balok yang besar, yang biasa dipake abang es campur gerobak. Udah gitu saya sempat melihat mbak yang bikin es campur cuci tangan di wadah penampungan es yang sudah diserut. Hehehe…

Tapi kalau soal pelayanan, Mie Tidar ini pelayannya ramah-ramah dan gesit. Jadi dengan mie yang cukup enak dan pelayanan yang cukup baik, boleh lah mampir ke sini kalau di Surabaya.

Boncafe

JL. Pregolan No. 2, Surabaya
Harga: Untuk steak, mulai dari 70ribuan. Untuk variasi es krim, mulai dari 30ribuan. Untuk ambient yang romantis serta rasa yang istimewa, layak banget!

Hasil ngecek-ngecek di google, restoran yang satu ini sangat direkomendasikan dan disebut-sebut sebagai legend. Akhirnya dengan ekspektasi tinggi, saya mampir ke sana. Dua kali. Siangnya makan steak, malamnya makan es krim.

Saya memesan steak tenderloin biasa, sementara teman-teman saya ada yang memesan steak kebab dan steak tenderloin import.

Dengan harga sekitar 80ribu, saya bisa bilang harganya sesuai dengan rasanya. Penyajian menarik, menggunakan kentang rebus marinated, dan dagingnya cukup banyak. Sekitar 170 gram kalau tidak salah. Dagingnya cukup empuk dan rasanya juga lumayan.

image

image

Untuk steak kebabnya, disajikan dengan atraksi tusuk dan bakar di depan meja kita. Kalau di Restoran Oasis jalan Raden Saleh, steak kebab kayak gini harganya lebih dari setengah juta. Sementara di Boncafe nggak lebih dari 100ribu rupiah. Mayan lah…

Namun yang paling saya suka adalah ambient restoran ini. Bergaya ala jaman kompeni dengan meja dan kursi kayu, lantainya juga kayu. Benar-benar makan a la nyonya belande.

Malamnya ketika saya kembali lagi, saya mencoba menu yang berbeda. Saya memesan es krim liquor mereka. Isi es krim saya adalah es krim coklat dengan kahlua. Es krimnya sendiri sudah enak ya, ditambah kahlua rasanya bikin saya meleleh.

Selain itu saya dan teman saya juga mencicip es krim liquor yang terdiri dari 3 scope es krim berbeda rasa ditambah jelly dan rum. Rasanya manis dan cocok sekali dengan jellynya karena rasa alkoholnya jadi lebih netral.

image

Kedua es krim tersebut masing-masing harganya sekitar 40ribuan dan menurut saya cocok sekali dengan penyajian yang manis serta rasanya yang enak.

Hari ke dua, kami berangkat ke Malang dari hotel tempat menginap menggunakan travel. Dengan membayar 95ribu rupiah, kami dijemput ke hotel menggunakan mobil Xenia. Tidak terlalu mewah. Kami duduk di kursi paling belakang dan AC-nya nggak nyampe ke belakang. Total penumpang ada 6 orang sudah termasuk driver, jadi minimal nggak sempit-sempitan. Selain itu drivernya lumayan ramah dan bisa diminta mampir ke sana ke mari. Kami bahkan mampir makan serta mencari hotel di Batu, Malang. Supir tidak mengeluh bahkan mengantar dengan senang hati. Hanya perlu menambah tip 20ribu serta traktir makan.

Bagi yang mencari travel untuk ke Malang, bisa langsung menghubungi Queen Travel. Operator mereka siap melayani 24 jam.

Sesampainya di Batu, Malang, kami menginap di Grand Batu Inn. Letaknya persis di sudut pertigaan jalan raya arah Jatim Park 1 dan Jatim Park 2. Dari sini bisa jalan kaki ke Jatim Park 2. Selain hotel ini, di sekitar Jatim Park 2 cukup banyak hotel dan guest house dengan harga lebih murah dari hotel saya. Jadi, kalau go-show ke Batu Malang, jangan takut kehabisan tempat menginap.

Anyway, kalau ditarik garis besarnya, Jatim Park 1 itu theme park yang lebih fokus ke tema budaya dan kesenian, sementara Jatim Park 2 fokusnya ke flora dan fauna. Di Jatim Park 1, kata teman saya, isinya kayak Taman Mini. Kalau Jatim Park 2, isinya kebun binatang, museum hewan, dan themed park yang terdiri dari berbagai macam atraksi yang cukup seru.

Di sekitar Jatim Park 1 dan 2, banyak tempat yang patut dikunjungi seperti Eco Green Park, Batu Night Spectacular, Museum Angkut, Predator Fun Park dan lainnya. Cocok untuk jalan-jalan bersama keluarga dan teman. Nggak perlu ke semua tempat, kok. Minimal Jatim Park 2, Museum Angkut, dan Batu Night Spectacular.

Menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam dari Surabaya ke Batu, kami sampai di hotel sekitar pukul 1 siang. Lanjut makan siang, check-in, beberes dan menunggu hujan, kami berangkat ke Jatim Park 2 pukul 3 sore. Dengan menunjukkan boarding pass tiket pesawat, kami mendapat diskon tiket sebesar 20%.

Untuk harga normal, kalian bisa masuk ke Jatim Park 2 dengan merogoh kocek sebesar 105ribu. Dengan tiket tersebut kalian mendapat akses ke Batu Secret Zoo dan Museum Satwa.

image

image

Oke, tanpa bermaksud lebay, Batu Secret Zoo adalah salah satu kebun binatang terbaik yang pernah saya datangi. Penataan layout dan jalur jalannya sangat baik, sehingga kalian pasti nggak akan melewati satupun kandang hewan. Selain itu, saya mendapat kesan bahwa hewan di sini diurus dengan baik. Secara garis besar hewan-hewannya sehat, kandang dan area pengunjung pun terjaga kebersihannya.

Dan selera humor orang-orang yang membangun kebun binatang ini juga sangat terasa. Misalnya, saat dia zona akuarium, saya melihat ada akuarium berisi ikan, dan kelinci. Lalu ada tulisan keterangan KELINCI LAUT. Saya cengok sebentar.

image

Nggak mungkin lah. KELINCI KAN GAK PUNYA INSANG!

Setelah melihat dengan teliti, baru saya sadar kalau akuarium kelinci dipisah namun diletakkan di tengah akuarium ikan. Jadi terlihat seakan ia sedang berada di tengah air. Saya pun tertawa sambil bersungut-sungut. Saya nyaris percaya ada kelinci yang bisa hidup di air. Kampret.

Selain itu, di area binatang savannah, dengan kurang ajarnya pengelola kebun binatang memasang foto-foto die cut orang-orang suku Afrika. Seperti di film God Must Be Crazy. Saya nggak bisa menahan diri untuk nggak nyengir-nyengir bego melihat die-cut orang-orang savannah yang sedang jongkok atau berdiri kebingungan di tengah kumpulan Zebra.

Setelah melewati area kebun binatang, kita digiring ke arena bermain yang berisi versi sederhananya Dunia Fantasi. Cemen? Nggak. Kalian harus coba main ke Horror House mereka.

Instead of pakai troli ala ala rumah hantu biasanya, di sini kita masuk harus jalan kaki. Kayak rumah hantu di Taman Safari, tapi percaya lah, ini lebih menegangkan. Saya sampai jerit-jerit di dalam karena banyak atraksi seram yang mengejutkan. Penataan momen elemen kejutnya pas banget. Kata teman nge-trip saya, tangan saya sampai kerasa banget kedinginan.

Akhirnya kami keluar dari Batu Secret Zoo setelah matahari terbenam. Tanpa basa-basi, menggunakan ojek, kami melipir ke Museum Angkut/Museum Transportasi yang lokasinya lebih jauh sedikit dari Jatim Park 1.

Harga tiketnya sekitar 80ribuan untuk masuk ke Museum Angkut dan Museum Topeng. Di area tersebut juga ada zona kuliner yang menyediakan cukup banyak pilihan. Saya makan nasi madura yang lumayan enak, dan teman saya makan bakso yang biasa-biasa aja.

Waktu kami berkeliling hanya 1,5 jam karena Museum Angkut tutup pukul 8 malam.

Museum ini adalah surganya penggemar mobil dan motor klasik. Fix. Semua jenis mobil klasik di film mafia, perang, dan balapan jaman dulu ada di sini. Semuanya dalam kondisi baik, terawat, bahkan sebagian besar masih bisa dioperasikan.
image

Tidak hanya mobil dan sepeda motor antik, di sini juga ada sepeda, becak, pesawat, diorama kapal, truk, lokomotif, hingga andong. Dengan rapihnya, kendaraan-kendaraan ini dibagi dalam tema terpisah. Mulai dari area khusus kendaraan kenegaraan, mobil antik jaman perang, hingga mobil ala film mafia. Beberapa lokasi bahkan disulap seperti suasana kota tertentu dan mengingatkan saya sama Universal Studio Singapura. Ada juga area yang dibuat seperti pecinan. Pokoknya, kalian siap-siap baterai handphone untuk foto-foto narsis di sini.

image

Baydeway, saya bahkan nemu Bat-Mobile dipajang di sini!

image

Sayangnya saya nggak sempat ke Museum Topeng karena kemalaman.

Waktu menunjukkan pukul delapan malam, dan tanpa lelah, kami lanjut ke Pasar Parkiran dengan berjalan kaki sekitar 1 km. Di sini isinya sama aja kayak pasar malam pada umumnya. Kulineran, dangdutan, arena permainan, food trucks, dan sebuah surga kecil bernama tempat dingdong. YAALLAH DI SINI ADA TEMPAT DINGDONG!

Harga koinnya seribu rupiah per piece, sementara semua permainan cukup pakai satu koin. Mesinnya sih sudah tua, jadi kadang koin bisa tertelan. Saya keasikan main dingdong sampai nyuekin temen ngetrip saya. Ada Street Fighter, King Of Fighter, 1942, dll.

Puas main dingdong dan ngemil lumpia+sosis bakar+bakso bakar ditemani kopi, kami lanjut lagi. Iya bos, kita gak ada capeknya nih walaupun Batu semalam itu sudah lumayan dingin.

Diantar petugas Pasar Parkiran naik motor bertigaan kayak cabe-cabean, kami beranjak ke Alun Alun Batu (eniwei orang Malang baik-baik, ya :D). Kita kasih tips 20ribu sebagai tanda terima kasih.

Di Alun Alun, kami sempat bingung mau ngapain karena ternyata lebih ramai dari yang kami kira. Akhirnya kami memutuskan makan ketan. Kami menemukan tempat kecil dan sederhana dengan plang kecil Ketan Lorong. Dengan harga 5ribu per porsi, kami bisa menikmati ketan dengan toping kelapa serta gula merah cair, dan toping bubuk entah apa yang rasanya gurih. Makannya sambil duduk di gang senggol.

image

Sehabis itu, kami tertarik mencoba sebuah warung kopi bernama Kopi Letek. Soalnya tempatnya sempit banget, gedungnya jelek, hanya selebar dua meter. Terdiri dari 3 lantai, dan lantai 2 dan 3-nya tidak memiliki penutup di bagian depannya. Cuma lobang gede aja gitu, dan dari lubang menganga itu, kami bisa melihat anak-anak muda Batu duduk dan bercengkerama di pinggiran sambil melihat ke arah Alun Alun.

Kami masing-masing memesan segelas kopi hitam asli dari Malang tanpa gula seharga 7500 per cangking dan es krim. Nama es krimnya ngaco-ngaco. Saya memesan Es Krim Sembarang, yaitu es krim yang dicampur asal-asalan dengan remah oreo, wafer, roti kering, dan entah apa lagi. Tapi sumpah enak! Soalnya seru gitu makan es krim sambil ngunyah yang renyah-renyah gitu. Terus karena isinya macam-macam, jadi rasanya manis, asin, gurih.

Teman saya memesan Es Krim Ya Sudahlah. Isinya roti dengan selai nutella dan topping es krim.

Saat memesan, kalau kalian nanya “Ini es krim isinya apa?”, waiternya nggak akan jawab. Jawabnya “Ya suka-suka lah, isinya.” Jadi semacam penuh kejutan dan bikin penasaran gitu. Harganya sendiri sekitar 20ribuan, tapi patut banget dicoba.

image

Kami pulang dari Alun Alun menuju hotel menggunakan taksi. Untungnya di Alun Alun memang ada taksi yang selalu stand by. Bayarnya minimum, 30ribu rupiah.

Esoknya kami kembali ke Surabaya dijemput dengan travel yang sama. Dengan ramah, kami diijinkan untuk mampir ke tempat membeli oleh-oleh. Kita tinggal bilang mau beli oleh-oleh apa, nanti drivernya akan mencarikan tempat yang menyediakan oleh-oleh tersebut.

Buat yang nggak sempat berbelanja oleh-oleh, jangan sedih. Saya menemukan jasa pengantar oleh-oleh yang dengan senang hati mampir ke Bandara Djuanda membawakan pesanan kalian. Kalian bisa mampir ke blognya untuk melihat kontak mereka.

Melalui mereka, kalian bisa memesan oleh-oleh khas Surabaya seperti Sambal Bu Rudy dan Kue Lapis Spikoe (FYI ternyata Kue Lapis Spikoe ini enak banget. Cocok banget buat jadi oleh-oleh.) Harganya nggak dinaikkin terlalu jauh, kok. Saya malah merasa terbantu banget sama mereka. Mas yang nganterin juga ramah dan nggak lelet.

Sebenarnya, selain tempat yang saya kunjungi, masih banyak lagi yang menarik. Sayang waktunya nggak cukup.

Overall, Surabaya dan Batu adalah tempat wisata yang menarik. Terutama Batu. Dua hari satu malam itu nggak cukup banget! Semoga satu hari nanti saya bisa main lagi ke sana 🙂

Yogyakarta: Alternatif Makan Murah Sampai Mahal, Ada Semua

Kalau liburan ke Yogya, kalian biasanya makan di mana? Gudeg Yu Jum? Angkringan Tugu? House of Raminten? Bale Raos? Warung tenda sepanjang Malioboro? Ngebir di Oxen Free dan Lucifer? Atau nyicipin kopi klothok dan madu klothok di Terusan Mataram? Atau menyusuri kafe dan bar sepanjang Jalan Prawirotaman? Atau nyobain makan-makan ala orang tajir di Beukenhoff Kaliurang?

Banyak banget ya, yang bisa dinikmatin di Yogya dari segi kuliner 🙂 Semua yang saya sebut di atas pun udah saya cobain. Dan saya kira udah itu lah yang paling mantep di Yogya. Ternyata saya salah. Minggu lalu saya baru aja balik dari Yogyakarta. Ditemani oleh orang spesial yang sudah malang melintang 15 tahun di kota tersebut, plus tukang makan. Jadilah selama 6 hari di sana dihabiskan dengan wisata kuliner.

Ternyata, selain tempat-tempat makan yang saya sebut di atas, masih banyak lagi kuliner di Yogya yang patut dicoba.

Nasi Kuning Bu Tuti

Alamat: Jl. Perumnas Seturan, Yogyakarta

Jam Buka: 8-11am (kecuali kalau sudah keburu habis)

Range Harga: 8-15k per orang

Nasi Kuning Bu Tuti Mau sarapan nasi kuning? Kalau kebetulan menginap di daerah Seturan, Depok dan sekitarnya, bisa sarapan nasi kuning di sini. Murah meriah dan enak. Selain nasi kuning, di sini juga ada lontong sayur dan soto sapi. Saya cuma makan nasi kuning aja karena pas liat lontong sayurnya, langsung kenal; lontong medaaannn XD Tapi yang belum pernah ngerasain lontong sayur Sumatra, dicicip aja. Beda sama lontong sayur biasa.

Gudeg Sagan

Alamat: Jl. Prof. Herman Yohanes no. 53, Yogyakarta

Jam Buka: 3-12pm

Range Harga: 10-25k per orang

Gudeg Sagan Selain Gudeg Yu Djum dan Gudeg Permata, ternyata ada lagi tempat makan Gudeg yang enak. Dan menurut gue, dibanding Gudeg Yu Djum, yang ini lebih enak.

Berlokasi di Jl. Prof. Herman Yohanes, Sagan, Gudeg Sagan memiliki konsep yang lebih mewah dibanding tempat makan gudeg lainnya. Tapi rasa makanannya nggak gaya-gayaan, kok. Untuk saya yang sebetulnya nggak doyan gudeg, saya malah doyan makan yang satu ini.

Warung Indomie Persis Telap 12 (Telap Twelve)

Alamat: Jl Pandean (Kusumanegara), Yogyakarta, DI Yogyakarta

Jam Buka: 12am-11pm

Range Harga: 15 – 27k per orang

Mengusung tema “menyajikan Indomie persis seperti di bungkusnya”, warung Indomie ini salah satu yang paling bikin saya penasaran. Saya mencoba memesan Indomie goreng original, dan teman perjalanan saya memesan Indomie goreng rendang. Ternyata betulan persis seperti di bungkus. Telur mata sapi saya juga disediakan setengah matang, begitu tengahnya ditusuk, isinya meleleh XD

Saya sempat “nyolong” rendang dari piring Si Mas, dan ternyata rendangnya juga gak main-main enaknya.

Warung indomie dengan konsep seperti ini juga ada di Jakarta, namanya Mix Diner & Florist. Mungkin yang belum sempet ke Yogya, bisa nyicip dulu di situ.

Lesehan Maharani

Alamat: Jl. Melati Wetan No.46 A, Yogyakarta

Jam Buka: 10am-10pm

Range Harga: 10-25k per orang

Mana saya sangka, telur dadar disajikan di atas cobek bersamaan dengan sambal bawang bisa seenak ini. Kalau mau makan ayam goreng, telur dadar, ikan dll dengan sambel yang gak cuma sekedar pedas, di sini tempatnya. Saya hanya mencoba sambal bawang karena memang itu kesukaan saya :)) selain nendang, gurih juga. Belum lagi harganya murah meriah.

Kedai Rakjat Djelata

Alamat: Jl. Dr. Sutomo No.54, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta

Jam Buka: 11am-11pm

Range Harga: 10-25k per orang

Menu Makan Siang @ Rakjat Djelata

Konsepnya seperti persilangan antara angkringan dan warteg kalau dari segi menu. Ada segala jenis sayur dan lauk, termasuk sate usus, sate sosi, sate telur dll. Sayur dan lauknya mulai dari kangkung, kering tempe, sambel kentang dll. Interiornya pun unik, penuh dengan pajangan jadul, perkakas, mainan dll yang digantungkan di display dan tembok.

Roti Bakar Keju Strawberry

Kalau makan di sini, jangan lupa mencicipi roti panggang mereka. Rotinya beda dari roti biasa, bukan pakai roti tawar. Jadi kalau makan roti panggangnya, lebih baik rame-rame biar nggak kekenyangan.

Warung Rakjat Djelata

Sawah Resto Nologaten

Alamat: Jl. Melon 168 Nologaten, Belakang AMPLAZ, Yogyakarta

Jam Buka: 10am-12pm

Range Harga: 10-25k per orang

Sensasi makan murah meriah di pinggir sawah sambil duduk di bale-bale. Ini juga recommended karena enak dan murah meriah

Fuyung Hay + Brokoli Saus Tiram

Marry Anne’s Artisan Ice Cream and Resto

Alamat: Jl. Kebon Sari no. 2, Seberang Hotel Santika,Yogyakarta

Jam Buka: 10am-12pm

Range Harga: 20-30k per scoop tergantung variannya

Seumur-umur saya main ke Yogya, saya baru tahu kalau di Yogya ada tempat makan es krim seseru ini. Dan kalian harus mampir ke sini. Kenapa?

Ice Cream Baileys + Choco Rum Raisins

1. Mereka punya lebih dari 50 varian rasa yang unik, termasuk di antaranya: Nutella, Baileys, Ovamaltine, Banana Caramel, Choco Rum Raisins, Milo dan rasa makanan favorit kita yang lainnya. Jadi nggak cuma sekedar rasa buah dan susu.

Marry Anne's

2. Kalian bebas nyicipin es krimnya sebelum memesan. Jadi kalau bingung mau pesan yang mana, kalian akan diberikan beberapa sendok kayu dan tempat untuk menaruh sendoknya. Ingat ya, satu sendok hanya untuk satu jenis es krim. Jangan colokin sendok bekas kamu ke dalam ice cream containernya.

Segala macam es krim <3

3. Pelayanan yang luar biasa istimewa! Pelayan di sana ramah dan penuh inisiatif. Semuanya murah senyum dan baik. Nggak bakal dijutekin hanya karena kalian kebanyakan nyicip (ya tapi tahu diri juga ya, say). Saya selalu senang makan di tempat yang pelayanannya bagus 🙂

 

Bong Kopi Town

Alamat: Jalan Sagan Kidul No.4, Yogyakarta

Jam Buka: 10am-12pm

Range Harga: 25-50k per orang

Lagi bosen kulineran lokal? Bisa cobain Bong Kopi Town, di sebelah Sagan Huis Hotel. Di Jakarta juga ada, sih. Tapi siapa tahu sekali-sekali mau ngopi-ngopi normal kayak di Jakarta kalau kelamaan liburan di Yogya. Interiornya dibuat mirip penjara, makanya suka disebut “penjara di tengah kota”. Memang konsepnya dari situ, suasana penjara, lengkap dengan jeruji dan waiter/waitress berseragam napi. Ah, tapi nggak seheboh itu, kok.

However! Nasi Kungpao Chicken-nya recommended banget.

Kopi Ketjil

Alamat: Jalan Balirejo, Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Jam Buka: 8am-4pm

Range Harga: –

Nah, ada satu kafe yang saya penasaran banget! Interiornya menarik, sayangnya saya nggak bisa ke sana karena saat itu masih tutup.Katanya sedang direnovasi. Jadi saya sebenarnya nggak bisa review menunya.

Tapi on my next Jogja trip, I’ll definitely try this one 🙂 Yang sudah pernah ngopi-ngopi di Kopi Ketjil, bagi review, dong… rekomendasi nggak, nih?

Percaya deh, di Yogya itu yang asik nggak cuma seputaran Tugu, Malioboro, Keraton, dan Prawirotaman. Di daerah lainnya juga banyak tempat-tempat nongkrong maupun kulineran yang seru. Jangan ragu buat keliling-keliling dan mencari plesir kuliner selain yang sudah biasa kita samperin 🙂

Ada lagi rekomendasi kuliner lainnya di Yogya? Feel free to add your recommendation on the comment box.

Candi Cetho; Where Saraswati Stands

It was my brother who showed me this image of Saraswati statue located in Candi Cetho (Cetho Temple), Karanganyar. I literally fascinated by its beauty, then I told him, “I want to get there. I want to see it.”

Several days ago I went there with my friends by car. It took approximately five hours from Yogya because the traffic was pretty busy and also the road wasn’t really easy. A taxy driver told us that usually people could get there in three hours if the traffic is normal.

You can get to Karanganyar via Solo city, which on the way you can find some nice restaurants to rest or having meals.

When you arrived at Lawu Mountain area (there’s where the temple located), you’ll have to pass a gate and pay five thousands rupiah per car. I don’t really remember but I think we had to pass two gates and paid five thousands on each gate.

The car park located exactly in front of the temple’s gate which is nice actually. We don’t have to walk that far. But there were so many steps because the temples are multi-staged (am I using the right words?). As you can see in below image.

Candi Cetho has nine stage and each stage has stairs and gapura or gates. What you see below is some kind of the front yard of the temple.

Candi Ceto

Some people says that Candi Cetho is a “candi mesum” or “pornographic temple” as you’ll find symbols of man and woman’s genital here. Like the one you see below, it’s a symbol of man’s penis.

Candi Ceto

Well, if it’s meant to be a penis, I think the balls are too close to its head.

Ok, I’ll behave myself.

At every gate/gapura there’s statues that placed on each side of the gate. Every statue has flowers as offerings. Which means, please behave yourself since this temple still treated as place of worship for the Hindus and Kejawen adherents. Those people treats the place and statues with respect.

Candi Ceto

gapura candi ceto

 

To get to the Saraswati statue, once you reach Candi Kethek, just go to the left and find a small gate that will take you to a small pathway. From there, just follow the pathway and steps then you’ll find a gate to an opened area. In the middle of the field, you’ll find a pond, with human-sized statue in the middle. That is the Saraswati Statue.

Candi Ceto016

 

I was fascinated by its beauty, and it was indeed as beauty as shown in the image my brother showed me previously.

 

Candi Ceto017

Surrounded by trees and nature, with sounds of the water flows from the fountain, I could feel the mystical effect that made me believe in God and Goddesses. Like, they are actually really close with us, with me.

Candi Ceto019

 

We can also throw coins into its fountain and make a wish, well, I don’t know that actually, but people seems believe in it. So I tried to throw a coin and make a wish. I won’t tell you what was my wish, but I’d let you know if it’s granted :p

 

Candi Ceto018

Later I found out that Saraswati is the Hindu Goddess of knowledge, arts, music, wisdom, and nature. Mostly well known as Goddess of knowledge and arts, which are two objects that I love the most. Omaygoat. Saraswati, from now on you are my God and I’ll pray for you! *dilempar tombak*

She’s part of trinity Goddesses in Hindu, besides Laksmi (Goddes of wealth, love, and prosperity) and Parvati (Durga, Mother of all God and Goddesses). So, most likely Saraswati is the coolest among them. I’ll definitely will named my daughter with Saraswati one day.

The trip to Candi Cetho was worth it, and I’m glad I could see the beautiful statue before my eyes. Too bad I didn’t have enough money to buy souvenir from there. I was in love with some necklace which the seller said was created using special kind of woods and already blessed. It was too expensive for me, around 150k (-_____-). If I ever be able to get there again, I’d buy that necklace. I want it so bad.

Hopefully there’ll be another visit to Candi Cetho 🙂

 

A Note from Yogyakarta: Ullen Sentalu

Ullen Sentalu is a private museum located on Jalan Kaliurang, Yogyakarta – Indonesia. The museum is initiated by Haryono family and now is managed by Ulating Blencong Foundation. I forgot what Ulating Blencong stands for  but as far as I remember the foundation was also founded by the family.

We can reach the museum from Yogyakarta by using public transportation, but the bus is rarely come. I suggest you to just rent a car to get there. It only took you 45-60 minutes to go to Ullen Sentalu from Yogya. The museum located on high land, hence it kinda remind you of Puncak, but it’s better than Puncak.

To enter the museum you have to pay IDR 25k per person. Also, you have to queueing since to enter you have to be in team consist of 15 to 20 persons and guided by 1 tour guide. The interval per team is approximately 10 to 15 minutes, therefore, after you buy the ticket, I suggest you to stay on the line. You know… because some people has no manner and won’t bother to cut off the line when there is a chance.

Please ensure you follow all the rules at the Ullen Sentalu Museum:

– no photo

– no video

– no food or snack

– don’t touch anything in the museum

In the museum, as i told you before, you will be guided by 1 person. The tour guide will explain you the history and the philosophy of the heritages in the museum. The tour took 30-45 minutes per round. At the end of the tour, you will get to taste a special drink from the museum. Why is it so special? Because they said the drink was formulated years a go by the ancestors and believed can make you stay young. I only took a sip of the drink because some greedy person took more glass than he or she has to. I was busy taking picture (that was the only room where you allowed to take picture) and when i got back to the table, all the glasses were already empty (-____-) Anyway, the taste was like a beras kencur herb drink.

Langit-langit ruangan rekreasi, satu-satunya area yang boleh difoto
You will see this pond at the closing of the museum tour
Artificial lake
Picasso-styled tiles – as told by the tour guide
You can buy souvenirs in this building
The back side of Beukenhof Restaurant

Continue reading A Note from Yogyakarta: Ullen Sentalu

A note from Yogyakarta: Borobudur on Vesak Day

Kenapa kamu ingin ke Borobudur saat perayaan Waisak? Apakah kamu seorang Buddhist? Reporter? Fotografer? Atau termasuk golongan orang yang terpesona pada scene pelepasan lampion di film Arisan atau Tangled? Saya termasuk golongan terakhir. Saya sangat ingin menghadiri acara Waisak di Borobudur dan ingin mengabadikan momen pelepasan lampion. Mungkin itu sebuah alasan yang dangkal sekali, mengingat heboh-hebohan kekurangajaran para pengunjung upacara Waisak di Borobudur yang sempat ramai di social media.

Tapi saya dan teman-teman saya datang dengan niat baik. Kami mencari tahu peraturan dan tata tertib yang perlu dituruti di lokasi sebelum berangkat ke Yogya. Secara spesifik, saya mencari aturan bagi pehobi fotografi dan fotografer beneran; berpakaian sopan karena acara tersebut merupakan upacara keagamaan, tidak memakai blitz, tidak membuang sampah, tidak merokok, tidak mengganggu jalannya upacara.

Karena itu, kalau ada yang menganggap saya sama saja dengan para alay-alay atau anak orang kayak bermodal DLSR atau iPhone yang datang ke sana untuk sekedar mengikuti trend, saya nggak mau 😐 Saya dan teman-teman saya berusaha mematuhi seluruh peraturan yang ada. Mulai dari berpakaian sopan, tidak buang sampah sembarangan, tidak merokok, bahkan kami tidak duduk di area para umat berdoa. Saya sempat menyalakan rokok krn melihat semua orang merokok, tapi diteriakkin sama teman-teman saya. Dibentak di depan orang-orang. Hahaha… Tapi nggak apa-apa, saya malah senang sudah diingatkan.

Yogya, subuh.

Continue reading A note from Yogyakarta: Borobudur on Vesak Day

Sigur Ros, Mystically Beautiful Sounds

I remember when my best friend, Nunu,  introduce me to Sigur Ros, a post-rock band from Iceland. Their music didn’t impress me, to be honest. I love to hear guys singing in falsetto, which that is why I love Radiohead and Muse so much (who doesn’t?). But Jonsi and Sigur Ros didn’t impress me like those bands did, at first.

I keep hearing their songs because I already had them in my playlist, it takes time until i realized how beautiful are their songs. Festival, Hoppipola, Illgresi, Gobbledigook, in my opinion, not kinda song that can make you fall in love at first listen. Maybe because i don’t have any clue what they’re singing about in those songs. But as i keep playing their songs in my playlist, I understood gradually, how magical Sigur Ros are.

I can’t describe how happy I was when I got their concert ticket in my hand. I even went to the concert by myself, not knowing whether i will get to buy the ticket  or not. I was like, “Nekad aja, lah”. Luckily the ticket seller wasn’t a liar (plus he was not ugly; gondrong, brewokan, with huge biceps and wide chest, also, a gamer). So we got into Istora Senayan together, both excited of seeing Sigur Ros.

Once i got in, i wait patiently. I didn’t care how tired I was because when i saw Jonsi’s silhouette behind the curtain on stage, I forgot of all the other things. The show started at  9.30 pm i think. Me and thousands people inside Istora Senayan, screamed spontaneously. They played Yfirboro behind a white curtain hence we can only saw their shadow, after that, the ambience changed as colorful lasers started to dancing on the curtain, with Jonsi, Goggi, and Orri’s shadows.

Sigur Ros on opening
Jonsi behind the curtain

Continue reading Sigur Ros, Mystically Beautiful Sounds

Perjalanan Untuk Melupakan Sesaat

Mungkin itu tujuan saya dan sahabat-sahabat saya nekad berangkat ke Yogya walau deadline banyak menumpuk di belakang kami. Selain tentu saja untuk menghadiri pernikahan seorang teman yang diadakan di Gunung Kidul.

Melewati jalur selatan karena ingin menghindari jalur utara yang konon katanya macet, kami menghabiskan tidak kurang dari 18 jam di dalam kendaraan kami. Berangkat tengah malam, tertidur ketika menjelang subuh, dan paginya terbangun oleh sambutan matahari.

Matahari mengintip dari jendela mobil

Continue reading Perjalanan Untuk Melupakan Sesaat