With or without you

That I would be good, even if I did nothing

That I would be good, even if I got the thumbs down

That I would be good if I got and stayed sick

That I would be good even if I gained ten pounds

That I would be fine even if I went bankrupt

That I would be good if I lost my hair and my youth

That I would be great if I was no longer queen

That I would be grand if I was not all knowing

That I would be loved even when I numb myself

That I would be good even when I am overwhelmed

That I would be loved even when I was fuming

That I would be good even if I was clingy

That I would be good even if I lost sanity

That I would be good

Whether with or without you

That I Would Be Good – Alanis Morissette

*Hiding in my bathroom while trying to stop my tears and questioning why this pain still hurt after all these years. I wish I have the courage to kill myself and stop this pain. I’m tired.*

Something just crossed my mind as I was listening to Alanis Morissette’s Everything.

I’ve opened myself to him. I let him know my deepest secrets and fears. I let him know why I don’t eat well. I told him why I become what I am know.

In the night when I had my breakdown, I called him. He heard me crying.

I told him about my feelings and what scares me the most. I told him things that I can’t tell anyone because it would make me feel vulnerable.

I let him know everything.  And now it scares me. It scares me how a stranger knows everything about me. How could I let him know?

Yet he still got the heart to broke me into pieces.

And he told me exactly the same words with someone from my past.

“Thank you. I learn a lot from you.”

I bet you also see me as a strong woman and you think I will be just okay after what you’ve done to me. That’s how you found reasons for things you did to me. Just like him.

How to Move On

Teman-teman saya yang tahu fucked up-nya saya beberapa bulan belakangan ini, mungkin sekarang sudah bisa lega melihat saya. Saya udah bisa ketawa, udah bisa ngetawain hal-hal yang terjadi sama saya belakangan ini, bahkan udah bisa bahas cowok lain.

Ketakutan saya, bahwa saya akan terus-terusan sedih sampai hitungan tahun, ternyata tidak terjadi. Saya pun nggak nyangka sama sekali bahwa saya akan ada di state ini, dalam waktu sesingkat ini.

Aneh ya? Iya aneh. Saya aja kadang masih amazed dan mikir “how come?”.

Saya nggak berani bilang bahwa saya udah 100% move on. Mungkin ada bagian-bagian lain di alam bawah sadar saya yang masih menyimpan sedih dan takut. Misalnya sekarang. Good things happened to me dan saya merasa happy. Tapi saya sekaligus merasa scare as fuck. Saya takut. Takut nanti shit happened dan saya sedih lagi. Tapi lebih baik semua saya jalanin aja. Karena emang ya shit happens. You can plan a pretty picnic but you can never predict the weather, right? But would you cancel your picnics just because you’re afraid about the weather?  No.

Selama saya bersedih, saya bertemu banyak orang. Salah satu-duanya adalah orang-orang yang pernah (dan sedang) berada dalam kondisi yang sama dengan saya.

Rasanya ngilu mendengar apa yang mereka alami, rasakan, dan lakukan krn kondisi tersebut. And how it takes time to heal thd pain.

And how do I heal mine? Sini tante kasi tau..

1. Marah dan nangis.
Iya. Marah saat lo pengen marah. Nangis saat lo pengen nangis. Kasarnya gini. Kalo lo kebelet boker, harus dikeluarin. Kalo nggak, yang ada lo tambah sakit perut.

2. Jangan gengsi sama orang yg nyakitin lo
Pura-pura happy atau pura-pura kuat itu menurut saya konyol. Banyak yang bilang, jgn kasi liat ke mantan kalo lo lagi sedih. Nanti dia kepedean.
Did I give any fuck about that? No.
Saat kangen, saya hubungi, saat nangis, marah, cemburu, sedih, saya tetep nyari dia. Pada akhirnya, saya capek sendiri. Dan pada satu titik, lo akan muak dan berhenti. It happened to me.

3. Jangan balas dendam
Pura-pura happy, manas-manasin mantan, ngejahatin mantan, gangguin hubungan dia sama ceweknya, ngelabrak ceweknya…
All of them are useless. Saya nggak tertarik ngelakuin itu.
Gini gini… lo harus inget ini.
Mantan lo, gak sayang sama lo lagi. Apapun yang lo lakuin nggak akan ngaruh ke dia selain bikin dia kesel dan mikir elo yg jahat.
Elo mau mantan lo ngelakuin irony victimization (google it, don’t be lazy) dan menilai elo sebagai pihak yg jahat?
Saya sih nggak. I’d never give him the privilege :p

4. Acceptance
Mantan lo udah gak sayang dan gak peduli sama lo. Kalau masih sayang, dia gak bakal nyakitin lo. Udah. Terima aja. Susah emang. Susahnya kayak taik. Tapi tiap lo kangen, lo mikir aja “dia udah mati” atau “dia gak peduli lg sama gue”.
Inget itu terus-terusan di pikiran lo sampe diri lo sendiri yakin sama hal itu.
Apapun kebaikan dan perhatian yang mantan lo tiba-tiba berikan, bukan karena dia masih sayang sm lo. JANGAN KEGEERAN. Dia cuma ngerasa bersalah.

5. Express. Let it out. Don’t give any fuck.
Ini yang saya lakuin. Nulis di blog. Ngetwit marah, nyinyir, galau. Nulis cerpen, puisi, nyanyi, karaokean.
Stop giving any fuck to other people’s opinions about yourself. Takut orang ngira elo lebay, cengeng, norak, atau menyedihkan? Ah, bodo amat. Mereka bisa pergi kalau mereka mau kan. Bisa nyuekin elo atau gosipin elo di belakang. Apa elo harus gak enak sama mereka? Nggak. Mereka aja gak merasa segan untuk gosipim atau jelek-jelekkin elo.
Apa lo gak enak sama mantan? Takut dinilai ngejelek-jelekkin mantan? Tanya balik ke diri lo. Apa mantan lo ngerasa gak enak waktu nyakitin elo?
No.
Do what you wanna do. Say what you wanna say. Asal jangan nyakitin diri sendiri atau orang lain yang gak ada hubungannya sama masalah lo. Tuangin di twitter, tulisan, lukisan, nyanyian. Karena kadang curhat aja nggak sanggup mengekspresikan perasaan lo dalam kata-kata.

6. Friends are your best therapists
Hell fucking yeah!
Saya makin sayang sama semua teman-teman saya. Serius pake banget. Mereka hebat. Saya aja sampe heran. Kenapa saya dikelilingi banyak banget orang baik…
Saya akuin ada kalanya saya ingin sendirian. Udah capek-capek janjian sama temen
-temen, pas sama mereka saya malah ngerasa pengen lari masuk lemari trua nangis. Tahan aja. Sama temen-temen lebih baik daripada sendirian.

7. Dandan. Belanja. Dress up.
Because it feels great when you are able to love yourself. But don’t do it because you wanna make your ex regret what he’s wasted. Because they don’t. Inget ini. Lo mau tambah cantik kek, rusak kek, apa kek… itu gak ngaruh sama mantan lo.
Asal jangan tambah jelek aja. Nanti gak ada yang mau deketin. Dan elo malah makin eneg ngeliat diri lo sendiri.

8. Let yourself falling in love.
Anggep aja gini. Semua cowok itu brengsek dan pasti akan nyakitin lo.
Then you got nothing to lose. Elo tinggal pilih cowok mana yang layak untuk ngerusak hati.lo lagi.
Oh it does scare as fuck. Tapi gini aja. Selama masih ada yg mau deketin lo, sambut aja lah. Nanti juga lama-lama nemu yang pas di hati. Don’t rush things. Ngapain pacaran sama cowok kalau lo masih mikirin mantan? Cari yang bisa bikin lupain mantan. Kalo belum nemu, ya ttm aja dulu, atau apa kek istilah lo. Fuck buddy, friends with benefit, gebetan, apa aja lah. Sembari nunggu siapa yang bisa bikin lo klepek klepek.
Kalo cowok yang lo suka ternyata gak suka sama lo gimana?
Okay, say this together with me: “NEXT, PLEASE!”

Kecuali.
Kecuali elo sadar kalo he’s worth the efforts. Then stay a bit longer. Sampe lo sadar kalau lo gak akan punya kemungkinan sama dia. At least. At least lo gak mikirin mantan lo lagi. But always ya babe, always keep your options wide opened. Seperti saya bilang, shit happens.  If shit happened,  you gotta keep.pair of tissues to wipe them, right?

When I said tissues, it means courage. Courage to move on and keep walking. Elo gak tahu, apa aja yang bakal terjadi di depan lo. Siapa yang selama ini sebetulnya merhatiin elo. Kasih kesempatan untuk diri lo bahagia dgn cara ngasih kesempatan untuk orang lain bikin lo bahagia.

So… give yourself a try. Gak perlu ngabisin duit jutaan untuk travelling atau operasi plastik. Coba aja cara saya.

Dan kalau kalian butuh seseorang untuk curhat, kalian bisa ngomong ke saya kok 🙂  Nanti di next post, saya akan share artikel psikologi yang saya baca dan cukup bermanfaat.

Jadi… yang lagi struggling, don’t stop ya. And go see your friends. Mereka itu malaikat malaikat tanpa sayap yang dikasih Tuhan buat lo *tsaaahhhhh*

Another Curhatan Random

My parents don’t understand how painful is being at home for me.

Rasanya kayak kepala saya dimasukkan ke dalam air dengan paksa.

Dan betapa ibu saya senang sekali membicarakan gimana kabar Mr.X, dan saya harus berpura-pura menjawab dengan cuek seakan saya nggak peduli. Kemudian dilanjutkan membahas kapan saya akan mulai dating sama orang lain. Bahwa saya kali ini harus cari pacar yang serius buat nikah.

Rasanya semacam kayak luka saya dikasih garem, terus jeruk nipis, trus diurek-urek pake sapu lidi.

Banyak yang bilang kalau bersama keluarga rasanya akan lebih nyaman, dan gak akan feeling lonely. Salah. My sadness and loneliness become worse.

I don’t want to talk about guys and feelings with my mom. It’s just… I hate to pretend that I am okay.

I hate how bad memories consume my brain. When I wake up in the morning, saat mandi, makan, di jalanan, baca buku, kerja, bahkan saat lagi sama temen-temen.

The night when I found out about her, the words he says, how he treated me these past years,… semuanya kayak kilatan film yang terus-terusan muter di kepala saya dan mati-matian saya ignore. Tapi mereka tetap ada di kepala saya.

It amazes me how bad memories in 1 year able to erase all the good memories I once had. I can’t remember anything good about him. Only the bad parts. Even the good ones, it can only hurt me because now I know they were fake.

Dan ini nyiksa banget. I am so tired.

What do you call it?

Saat elo melihat/mendengar sesuatu yang sebetulnya nggak ada hubungannya sama lo, tapi itu memicu kesedihan dan bisa bikin lo pecah.

Saat elo begitu ketakutan untuk sendirian, tapi begitu lo lagi sama temen-temen lo, elo malah merasa pengen kabur dan ngumpet di dalam lemari.

Saat elo melihat orang-orang yang menyakiti orang lain, yang mirip dengan apa yang seseorang lakukan ke diri lo, dan lo  menjadi begitu emosional. Padahal itu bukan urusan lo, dan bukan elo juga yang digituin.

Saat elo, secara nggak beralasan, tiba-tiba begitu takut sama masa depan. Lo takut lo bakal disakiti lagi, tapi lo juga takut bakal mati tua sendirian, tapi lo tetep takut kalau misalnya harus merasakan sakit yang sama kayak sekarang. Dan terus begitu aja, bulak balik bulak balik.

Saat elo begitu ingin seseorang datang dan menyelamatkan lo, tapi di saat yang sama lo juga skeptis dan ingin melarikan diri dari orang-orang yang nyelametin elo karena lo takut orang tersebut akan nyakitin lo.

Saat lo sedetik yang lalu baik-baik aja, eh tiba-tiba di detik berikutnya lo anxious, gelisah, atau mau nangis, atau malah mau marah-marah.

 

 

Sumpah deh ini aneh banget.

Capek gue…