An Eulogy for Mr. I

*Post ini dipersembahkan untuk Mr. I, mantan sahabat dan kekasih yang pernah menemani saya berjuang dalam depresi dan menyayangi saya dengan sepenuh hati*

Mungkin saya bukan yang terbaik untukmu, dan jelas bukan yang pertama maupun yang paling lama. Namun kamu datang di saat yang tepat.

Ingatkah kamu malam-malam kita membicarakan bagaimana rasanya diselingkuhi? Hingga akhirnya kita memutuskan mengapa tidak kita coba saja bersama. Saya mengatakan, “Tapi kamu jangan berharap terlalu banyak dari saya.”, kamu tersenyum dan menjawab kamu mengerti.

Dan kamu memang mengerti.

Kamu memang bukan lelaki yang sempurna, akupun jelas tidak, dan mungkin kita sama-sama sedang mencari tempat bersandar karena sedang terlalu lelah. Tapi banyak hal yang kita lalui bersama, banyak hal yang kita bagi bersama.

Saya nggak akan lupa hal-hal kecil yang kamu lakukan untuk saya.

Ketika kita menginap di rumah seorang teman, aku mendengar kamu terbangun pukul dua malam. Lalu perlahan kamu bangun dan keluar. Aku mendengar suara motormu. Tidak lama kamu kembali, masuk ke kamar tempat aku beristirahat, kemudian mengeluarkan sebungkus autan. Sambil berusaha tidak mengganggu tidurku, kamu mengoleskan autan ke kulitku. Aku sebenarnya terbangun, tapi aku diam saja. Menikmati dimanja olehmu seperti anak kecil dimanja ibunya.

Atau ketika aku sakit, malam-malam kamu datang ke kosan, membawa makanan, menghibur aku dengan lelucon tololmu, kemudian menemani aku tidur sampai pagi.

Atau kengototanmu untuk menjemputku di kosan, kemudian mengantar ke kantor, dan menjemputku kembali pulang. Padahal aku sudah bilang tidak usah, mengingat tempat tinggalmu yang jauh.

Atau saat kamu berkenalan dengan sahabat dekatku laki-laki, lalu ketika kita tinggal berdua, kamu berbisik, “Aku cemburu.” dengan nada kekanak-kanakanmu. Aku nggak akan bisa marah dengan caramu mengekspresikan perasaanmu.

Atau di lain waktu, saat kita bertengkar di motor sepulang dari Kali Biru menuju Jogja, entah karena apa. Lalu aku terdiam. Tidak sampai satu menit, kamu meminta maaf dengan suara lembut. Seketika semua pertengkaran kita selesai.

Aku sempat kesal ketika kamu “menjebakku” untuk makan malam dengan keluarga besarmu, lalu mereka sibuk membahas soal nikah. Aku terkejut ketika mereka secara terang-terangan memintaku menikah denganmu dalam tiga bulan. Panik tepatnya. Namun, tanpa aku perlu berbicara apa-apa, kamu bisa membaca ekspresiku. Dengan nada tegas kamu membelaku dan mengatakan, “Jangan bahas nikah dulu. Lea masih muda, masih banyak yang mau dia kerjakan. Lihat saja dulu nanti.” Di bawah meja, tanganmu menggenggam erat tanganku, seakan ingin melindungiku.

Kamu pernah bilang, “Aku sudah capek patah hati, kalau bisa, aku mau kamu jadi yang terakhir.” – maaf aku tidak menjawab apa-apa waktu itu.

Mungkin tidak ada laki-laki yang menyayangiku selembut kamu menyayangi aku. Seterbuka kamu dalam berbagi masalah, dari soal keluarga, keuangan, hingga mantan pacar. Bahkan kamu begitu mengerti soal aku dan perasaan insecureku. Kamu selalu menyemangati aku, mengingatkanku bahwa aku adalah wanita yang layak disayangi dan diperlakukan dengan baik.

Waktu nenekku meninggal, kamu tetap datang ke pemakaman walau sadar dengan resiko dijutekkin oleh mendiang papaku yang saat itu masih segar bugar dan punya tenaga banyak untuk bersikap galak. Kamu nggak peduli. Kamu ingin ada buat aku. Dan jujur, aku senang melihat kamu tiba-tiba muncul di antara kerumunan, datang tanpa takut ditolak oleh Papa. Tentu saja Papa nggak mungkin berani marahin kamu, karena aku nggak akan mengijinkan itu terjadi.

Kamu yang terbang dari Jogja ke Jakarta dengan modal nekad agar bisa bertemu aku. Membelikan aku kalung dengan uang simpananmu yang seharusnya kamu pakai untuk biaya hidup di Jakarta. Dan katamu, ketika pertama melihatku, “Loh kamu ternyata lebih cantik daripada di video call. Kok bisa-bisanya kamu gak pede sama dirimu sendiri?” – aku yang saat itu punya masalah krisis kepercayaan diri hanya bisa tersenyum malu.

Dan semuanya itu, malah aku balas dengan membuatmu menangis di sebuah restoran ketika aku mengucapkan selamat tinggal.

Aku minta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk bertemu terakhir kali sebelum kamu beranjak dari Jakarta, meninggalkan kota yang membuatmu patah hati. Walau aku tahu, penolakanku membuatmu menangis. Maaf aku begitu keras kepala dan tidak berperasaan ketika meninggalkanmu.

Aku masih ingat kata-katamu ketika melihat aku sudah menemukan pasangan baru, “Dia mengubahmu menjadi seseorang yang berbeda. Dia nggak baik buatmu. Lebih baik kamu sama aku.”

Aku menyakitimu, dan kamu masih peduli padaku.

Aku nggak tahu apa yang terjadi setelah kamu pergi dari Jakarta selain akhirnya Mamamu pergi karena kanker rahim. Mama yang menyayangiku seperti anak sendiri. Yang masih kutelepon untuk mengucapkan selamat idul fitri dan meresponku dengan ceria ketika mendengar suaraku. Yang selalu gembira ketika melihat aku, dan tidak lupa harus selalu dandan dulu sebelum keluar kamar untuk menemuiku.

Papamu yang berwajah keras, tapi tidak pernah mempermasalahkan aku yang berbeda agama, dan aku tahu banget almarhum Papa kamu punya hati yang luar biasa sabar dan mencintai Mama sepenuh hati. Saking cintanya sampai tak lama menyusul kepergian Mama.

Tapi nggak sedikitpun aku mengira kamu akan pergi di usia semuda ini.

Aku terduduk di sisi tempat tidurku ketika membaca pesan dari seorang teman bahwa kamu sudah tiada. Aku terdiam, menyalakan sebatang rokok, dan mengingat kembali pembicaraan terakhir kita. Kamu mengingatkanku untuk jaga diri dan kesehatan, jangan sampai sakit seperti Mama. Kamu minta aku untuk lebih peduli sama kesehatanku lewat chat. Dan aku membalas seadanya karena saat kamu menghubungiku aku sedang sibuk menikmati pertunjukkan teater dengan pasanganku saat itu.

Seharusnya kamu yang lebih peduli sama kesehatan kamu, Mas.

Aku terpikir, bagaimana kamu selama 3-4 tahun belakangan ini? Apakah kamu menjaga kesehatan? Apakah kamu bahagia? Apakah kamu bertemu wanita lain yang bisa mengisi harimu dan mengurusimu yang manja dan ceroboh? Aku harap kamu sempat jatuh cinta dan dijaga oleh wanita yang baik.

Maaf, aku tidak bisa menyayangimu dengan seharusnya, dan maaf, aku membuatmu menangis. Tapi kamu harus tahu, di hatiku ada tempat buatmu, lelaki yang menyayangi aku begitu tulus dan sabar. Yang membantuku membangun kepercayaan diriku dan menyembuhkan luka-lukaku.

Maaf, aku tidak ada ketika kamu sedang terpuruk… Tapi bukan berarti kamu benar-benar hilang dari pikiranku. Sesekali, aku masih teringat dengan kebaikan-kebaikan kamu. Lelucon-lelucon rahasia milik kita, yang hanya dimengerti oleh kita berdua. Dan ketika kamu tidak keberatan aku terus menggenggam tanganmu selama kita nonton film di bioskop walaupun aku tahu kamu pegal. Aku tidak akan lupa semua hal itu.

Semoga kamu tenang di surga sana. Aku berdoa untukmu. See you when i see you…

Mengapa Sebaiknya Kita Tidak Diam?

Beberapa minggu belakangan ini, ada hal yang mengganggu saya.

Awal mula saya menulis tentang depresi, mungkin sekitar tahun 2014, dan saat itu saya belum sadar bahwa saya mengidap depresi, dan apakah sebenarnya depresi itu. Tahun 2014, saya mengalami relaps, dan menurut psikolog saya belakangan pada tahun 2015 akhir, apa yang saya alami saat itu adalah MDD, atau Major Depressive Disorder.

Saat itu, saya yang belum mengerti apa yang sedang saya alami, hanya memiliki menulis di blog dan twitter untuk mengekspresikan rasa sakit tak tertahankan yang saya alami. Tentu saja bukan hanya menulis yang saya lakukan untuk berusaha menyembuhkan atau setidaknya melarikan diri dari rasa sakit. Saya mengambil sidejob yang banyak, agar bisa melarikan diri dari pikiran saya. Saya menenggelamkan diri dalam alkohol agar bisa lupa dan tidur, ikut komunitas menggambar, traveling, meditasi, tidur sembari mendengarkan soundwave, menggunakan aroma therapy, berkencan, bermain dengan teman-teman saya, olah raga, menonton film, membaca buku, semuanya saya lakukan agar merasa lebih baik.

Menulis hanyalah satu dari sekian pelarian yang saya miliki.

Saya ingat pada masa itu, saya butuh wadah untuk mewujudkan rasa sakit saya dalam bentuk kata-kata. Dan blog ini adalah wadah saya.

Loh, kenapa tidak menulis di buku harian saja? Tentu saja saya punya buku harian, yang berisi pikiran-pikiran tergelap saya. Tapi bagaimana caranya saya bisa membuat orang lain mengerti atau setidaknya tahu apa yang sedang saya alami di kepala saya jika saya tidak menulis di blog?

Tentu saja, menulis di blog ada resikonya. Nggak semua respond positif, kok. Ada teman-teman yang menertawakan tulisan saya, ada yang menjadikan saya bahan ejekan, walau ada juga yang menyemangati saya dan meminta maaf karena tidak tahu apa saja yang saya alami selama ini. Dan jika saya tidak menulis di blog saya, ada kah yang akan datang dan meraih tangan saya?

Akhirnya, setelah hampir dua tahun hidup dengan depresi yang tidak ditangani dengan benar, saya memutuskan ke psikolog. Selain itu, saya juga membaca-baca artikel tentang depresi – bukan artikel pop yang memvalidasi dan meromantisasi depresi, melainkan artikel dan tulisan blog pribadi maupun komunitas yang mengajarkan bagaimana cara melawan depresi, bagaimana cara mengerti depresi, bagaimana cara mengenali gejala depresi dan cara menanganinya.

Tulisan- tulisan ini menolong saya. Menolong saya mengenali depresi, membantu saya tidak merasa sendirian, membantu saya lebih mengerti tentang penyakit saya. Sesuatu yang awalnya saya kira tidak memiliki jalan keluar dan bersifat permanen, sesuatu yang awalnya membuat saya takut untuk terus hidup. Ternyata, depresi adalah penyakit yang cukup banyak diderita orang, pengidapnya mencapai kira-kira 300 juta orang menurut WHO.

FYI, di tahun 2014-2015, ketika saya mencoba mencari informasi tentang depresi di media online, nyaris tidak ada informasi berbahasa Indonesia. Tidak ada tips, trik, penjelasan, info akses psikolog/psikiater yang jelas, komunitas yang bisa membantu. Tidak ada. Semua itu nggak ada. Ada info nomor telepon cegah bunuh diri, yang ternyata tidak aktif. Lalu hotline bunuh diri dari Depkes, saya telepon, tidak ada yang menjawab. Bayangkan betapa putus asanya saya waktu itu. Tidak ada satupun orang, komunitas, institusi, atau apapun yang bisa saya tanya soal apa yang saya alami.

Hanya ada satu artikel blog, dari seorang perempuan yang menderita mental illness dan harus ke psikiater. Artikel itu berhenti di sang perempuan tidak melanjutkan pengobatan karena biayanya terlalu mahal. Tidak ada tips atau penjelasan apapun.

Saat itu, saya merasa sangat sendirian.

Setelah beberapa kali terapi dan mulai bergabung dengan komunitas yang fokus pada mental illness, saya memberanikan diri berbagi tentang penyakit saya secara terbuka di blog ini. Dan tidak lama setelah itu, saya mulai melihat (atau mungkin saya baru menyadari) banyak orang dan komunitas yang berbicara tentang mental illness.

Tujuan awal saya menulis tentang mental illness pada mulanya hanya agar orang lain yang seperti saya tidak merasakan apa yang saya rasakan; tidak merasa sendirian dan kebingungan, dan tahu kapan harus ke psikolog/psikiater. Ditambah lagi saya kemudian bergabung dengan komunitas yang berfokus ke mental illness dan pencegahan bunuh diri, Into The Light.

Dari Into The Light, saya belajar banyak banget, dan mata saya terbuka soal hal-hal yang dihadapi penderita mental illnes. Salah satunya adalah STIGMA. Salah satu fokus dari kegiatan Into The Light; melawan stigma terhadap penderita mental illness. Dan memang itu juga yang saya alami.

Waktu saya belum mengerti bahwa saya mengidap depresi, saya melakukan banyak hal di luar nalar; abuse alkohol, oversharing di internet, dan ngetwit tanpa henti. Kenapa? Simply karena saya nggak bisa mengontrol diri saya dan pikiran saya. Pikiran saya jalan terus, dan saya nggak mungkin nelpon semua orang yang saya kenal selama 24 jam, although, i did call people every single day, to talk about what was going on in my head. Nangis-nangis 2 jam sambil ngomongin hal yang sama berulang-ulang kayak kaset rusak. Pagi, siang, sore, malam. Tapi itu nggak cukup. In between, i tweeted, a lot. Like… A LOT.

Saya jadi bahan ketawaan, dan kadang ada juga orang-orang yang nyuruh saya diem dan berhenti ngetwit. But i couldn’t help it. Saya nggak bisa kontrol diri saya dan isi pikiran saya. That time, i needed help, but no one understood. Yang mereka lihat hanya cewek galau berlebihan yang ngetwit karena caper. Masa itu, nggak ada orang yang ngerti depresi itu apa, termasuk saya sendiri.

Saya yang sekarang, jauh berbeda dengan saya yang dulu. Bertahun-tahun kemudian saya memutuskan ke psikiater (well nggak juga, sih, niatnya ganti psikolog aja tapi saya nggak lihat gelarnya, main bikin janji, tau-tau psikiater). Dan saya bersyukur sudah memutuskan ke psikiater. Apa yang tidak bisa dibantu oleh psikolog saya, ternyata bisa dibantu oleh psikiater. Saya jauh lebih baik.

Tapi keinginan saya untuk menulis tetap ada. Semakin saya mengenali penyakit saya, semakin saya ingin berbagi, agar orang-orang lebih mengerti, agar orang lain yang mengalami hal yang sama dengan saya, nggak merasa sendirian. Karena itu yang saya rasakan ketika akhirnya menemukan blog-blog penderita mental illness dari negara lain yang secara terbuka menjelaskan penyakitnya dan membantu mengajarkan bagaimana cara menanganinya.

Tentu saja, kadang saya menulis bukan karena itu, kadang saya menulis karena saya butuh katarsis untuk mengejawantahkan rasa sakit saya sebagai bentuk fisik yang bisa dilihat. Sebagai tulisan.

Dan mungkin… kadang merupakan permintaan pertolongan yang tidak saya sadari karena saya bingung harus cerita apa ke siapa.

Dalam menulis blog atau twit, bagi saya tantangan terbesarnya adalah stigma.

Itu lah yang akhir-akhir ini mengganggu saya. Saya semakin menyadari bahwa dengan meningkatnya awareness soal mental illness, arus stigmatisasi pun semakin kencang. Salah satu hal yang membuat saya sedih, kadang stigma itu datang dari teman sendiri, maupun dari penderita mental illness.

Kadang saya temukan komentar yang kira-kira seperti ini, “Ah, gue juga penderita mental illness, tapi gue gak se-drama elo, deh.” atau, “Gue penderita mental illness, tapi gak whining kayak lo. Gue fokus ke penyembuhan.”

Kamu punya mental illness dan bisa handle dengan baik? Then good for you.

Tapi apakah semua pengidap mental illness harus sama seperti kamu? Apakah menyuruh orang lain diam dan berpura-pura baik-baik saja bisa menyembuhkan orang lain?

Atau komentar lainnya dari teman-teman sendiri, “Daripada kamu ngetwit galau, mending kamu diem aja dan kontak temen-temen kamu.”

All i can say… Chester Bennington, Robin Williams, dan banyak orang lainnya yang memilih diam, tidak membicarakan tentang mental illnesnya secara terbuka, berakhir membunuh dirinya. Why do you try to silence people with mental illness if you’re not going to help them?

Mental illness nggak melulu soal galau kemudian curhat dan semuanya selesai.

Kadang mental illness adalah tentang keinginan aneh untuk nggak keluar kamar dan melakukan apapun selama berhari-hari, tentang tidak ingin berinteraksi dengan siapapun hingga kalian meng-uninstall whatsapp dan semua aplikasi chat, tentang duduk sendiri di sudut kamar menangis dalam gelap. Tentang tidak ingin melakukan hobi-hobi yang biasanya membuatmu senang, seperti menggambar atau berfoto. Tentang pikiran-pikiran aneh irasional di kepalamu, yang saking nggak masuk akalnya, kamu nggak berani cerita ke siapapun.

Bagaimana caranya curhat ke teman kalau kondisimu seperti itu?

Belum lagi ketika sesama penderita mental illness saling membanding-bandingkan penyakitnya. Kayak, “Gue loh, bipolar + PTSD + depresi + panu kadas kurap, pokoknya penyakit gue lebih parah dari elo, tapi gue gak cengeng kayak lo.”

Saya sih, kalo ada yang ngomong begitu, bawaannya mikir, lah situ emang gak sakit kali? Kok ya bisa ngaku sakit tapi nggak empati? You’ve been there, but you can’t understand how hurt it is? How come?

Banyak cara dilakukan oleh orang-orang untuk merendahkan penderita mental illness dengan stigma. Dan kadang, dari pengalaman saya, stigma itu nggak cuma diberikan oleh orang normal, sesama penderita mental illness pun bisa loh saling discourage. Itu menyedihkan.

Buat saya nggak ada bedanya dengan perempuan yang berkomentar kepada sesama perempuan korban pelecehan seksual, “Saya juga pernah dilecehkan oleh laki-laki, tapi saya lawan. Mbak kenapa diem aja? Harusnya lawan juga, dong.”

Buat apa glorifikasi diri sendiri sebagai survivor mental illness kalau tujuannya adalah untuk menjatuhkan penderita mental illness lainnya?

Ada 2-3 orang dalam linimasa twitter saya, yang kerap melakukan shitposting soal mental illness, yang berteriak betapa mereka ingin mati saja, dan betapa sakitnya mereka. Saya nggak bisa nggak melihat itu sebagai permintaan tolong. Banyak yang bilang mereka caper. Apakah iya mereka caper? Well tentu saja. Karena mungkin hanya cara itu yang mereka tahu untuk menunjukkan ke orang lain bahwa mereka butuh pertolongan. Who am i to judge and to silence them?

Ada juga orang-orang dengan diagnosa bipolar dan mental illness lainnya yang nggak pernah posting apa-apa di socmed selain postingan yang hepi-hepi, tapi sesekali akan menelpon saya sambil menangis menjerit-jerit mengatakan mereka nggak sanggup lagi. Yang ketakutan bilang nggak boleh ada satupun kenalan mereka yang tahu penyakit mereka entah karena takut dipecat, atau takut diketawain bisa punya mental illness dan bereaksi berlebihan hanya karena masalah-masalah kecil.

Are we going to be that person who discourage them to express themselves?

I refuse to silence people with mental illness. I refuse to judge how they express their pain. And i refuse to stop writing just because some people in my life told me to do so. Other people’s writings have helped me through my darkest times. Dan ada pula orang-orang yang reach out ke saya via email, blog, DM di instagram dan twitter, yang menyatakan tulisan saya telah menolong mereka. I just don’t post it.

Saya nggak posting email dan DM yang saya terima karena saya nggak mau encourage orang untuk curhat sama saya, since i am not compatible for that. Dan saya juga nggak mau glorifikasi diri saya dan tulisan saya seakan apa yang saya lakukan ini istimewa. But at least i know… tulisan saya ternyata membuat beberapa orang merasa terbantu dan termotivasi. Membuat orang-orang seperti saya nggak merasa sendirian. Dan seenggaknya, membuat beberapa teman saya lebih sedikit mengerti tentang apa yang saya rasakan dan pikirkan.

Tentu, dibandingkan tahun lalu, tulisan saya jauh lebih sedikit karena saya memiliki banyak coping mechanism lain dan saya sendiri merasa jauh lebih baik. Dan kadang saya hanya menulis karena saya sedang mengalami fase yang buruk sehingga butuh katarsis.

Tapi apakah saya harus berhenti menulis? Apakah orang-orang seperti saya harus berhenti mengekspresikan dirinya sendiri hanya agar tidak dihakimi dan dicemooh orang lain?

Jalan menuju kewarasan memang berat, tapi saya rasa, selama kita nggak abuse orang lain, alkohol, apalagi narkoba untuk coping mechanism, seharusnya kita tidak perlu takut dan malu.

Tulis saja dulu. Lawan stigma dengan kejujuran dan niat baik. Selama kita nggak menjelek-jelekkan atau menghina orang lain, kenapa harus takut dan malu? Kalau tidak ada orang yang menulis tentang mental illness, saya nggak akan pernah belajar apa itu depresi dan maju melakukan sesuatu yang real untuk menyembuhkan penyakit saya. Kalau saya tidak menemukan blog orang-orang yang berjuang dengan mental illness dan jujur tentang kegagalan dan ketakutan mereka, saya nggak akan tahu bahwa saya tidak sendirian. Saya akan minder dengan orang-orang yang mengaku bisa melakukan hal-hal hebat disamping mengidap mental illness. Saya akan putus asa melihat orang-orang yang mengglorifikasi keberhasilan mereka melawan mental illness tanpa menjelaskan support dan privillege apa saja yang mereka punya dan perjuangan panjang yang mereka lalui.

Bagaimana dengan stigma? Diterima saja. Sesama penderita mental illness saja bisa melempar stigma, apalagi orang awam yang ngaku “dulu saya depresi, tapi sembuh setelah mendekatkan diri ke tuhan” tanpa mendapat diagnosa resmi dari professional. Bahkan temen deket sendiri pun bisa mencap kita dengan stigma.

Tapi, mungkin dengan menulis, sedikitnya ada 1 orang yang membaca dan dari tidak mengerti jadi mengerti. Dari skeptis menjadi simpati. Atau ada 1 penderita mental illness yang kesepian, kemudian jadi merasa tidak sendiri.

PS: Saya menolak self-diagnose yang tidak dilanjuti dengan penanganan professional. Jika kamu merasa memiliki mental illness dan tidak memiliki dana cukup untuk berobat, silakan hubungi puskesmas atau RSUD untuk penanganan dengan biaya yang lebih terjangkau. Hindari self-diagnose. Please.

Learning to open up myself. Again.

I had this conversation with someone whom i used to be close with.

Me: I’m seeing someone right now. You know what… several days a go, he told me, he doesn’t like the way i took so long to reply his messages or pick up his calls.

Him: Well that’s funny.

Me: Why so?

Him: Do you remember? I told you exactly the same thing. I complained about that from you as well.

Me: Oh god… you’re right. Sorry i forget about that. Hahaha…

Mungkin karena terbiasa being single, enjoying myself, and some part of me sometimes still feel afraid to engage in conversations via text or phone call. I only feel comfortable responding on my closest friends.

But things should change. I need to learn to let people come into my life. To respect people. I need to learn to give people chances to reach me by opening up myself.

However, this also gives me an understanding about myself. Apparently, I don’t need a guy to make myself feel complete. I am comfortable being alone. And by letting him in, it means i am allowing someone to come into my comfort bubble.

Of course i don’t know whether he will stay or not. Esp if he one day see all my scars, traumas, and know my stories. But you know what, at least i let myself to be vulnerable.

I will learn how to communicate better, i will let myself be vulnerable, i will open up myself. Because he’s worth it.

Like what i used to think about starting a relationship… falling in love means giving a gun with bullets in it to someone you barely know. Whether he will pull the trigger or not, you will never know that until it happens.

I have no other choice except to trust him.

Tentang Terjebak

Salah satu hal yang menurut saya paling menakutkan dari depresi adalah perasaan bahwa saya nggak akan pernah keluar dari kondisi ini. Bahwa saya akan seperti ini selamanya.

Hi. Saya Lea. Depresi saya relaps pertama kali pada tahun 2014 ketika saya diselingkuhi oleh kekasih saya yang telah bersama selama hampir 7 tahun, mendapat diagnosa depresi pada tahun 2015 ketika pertama kalinya saya mendatangi psikolog, dan dicurigai bipolar oleh psikiater saya pada tahun 2019. Sejak November 2018 hingga sekarang saya masih mengkonsumsi anti depressant dan obat penenang setiap hari.

Hingga hari ini, saya masih berjuang melawan keinginan untuk bunuh diri.

Dan kini, saya sedang tersesat.

Jangan bayangkan saya sebagai sosok yang murung dan selalu melamun. In daily basis, saya sering tertawa, melempar jokes, cerewet, nongkrong ke sana dan ke mari, bekerja dengan baik di kantor, makan teratur, dan mulai olah raga teratur. Saya punya mimpi dan ambisi.

Tapi sejujurnya, di dalam batin saya, saya sedang tersesat.

Ada lubang di dada saya yang kadang membuat napas saya sesak dan jantung saya berdebar kencang, namun saya tidak menemukan alasan atau pemicunya. Ketika saya terdiam sambil memandang kosong melalui kaca mobil taksi online di jalan, saya membayangkan kematian secara obsesif. Saya merasa kematian adalah satu-satunya solusi agar saya tidak merasa sakit di dada.

Akhir-akhir ini saya berjuang setiap hari agar sanggup bangun dari tempat tidur dan bergerak keluar dari kamar kosan saya. Saya merasa ingin selalu berdiam diri di kamar dan tidur tanpa terbangun.

Padahal tidak ada hal mayor yang bisa saya komplain dari kehidupan saya.

Penghasilan saya tidak besar, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup. Pekerjaan di kantor saya memang cukup membuat stress dan banyak tekanan tapi masih bisa ditangani, tubuh saya sehat secara umum, saya dikelilingi teman-teman yang baik dan sepemikiran, tidak punya hutang, dan masih banyak lagi yang bisa saya syukuri. Namun ada rasa lelah yang mengganggu saya, rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan ingin tidur dan tidak bangun lagi. Perasaan ingin berhenti menjalani hari dan berwujud menjadi nihil.

Jika ada yang bertanya, “Are you okay?”, saya sulit menjawabnya. Nggak ada satupun hal yang bisa saya keluhkan selain ketakutan-ketakutan tidak beralasan yang berasal dari dalam pikiran saya. Bagaimana saya bisa menjelaskan ketakutan itu jika saya sendiri tidak mengerti apa yang saya rasakan?

Saya hanya ingin tidur dan tidak terbangun lagi. Saya merasa lelah dan seperti tidak menemukan jalan untuk menuju ke manapun. Dan saya tahu, pikiran seperti ini adalah pekerjaan dari depresi yang saya idap.

Banyak yang bilang olah raga bisa membantu penderita depresi. Dan mungkin ada benarnya karena kadang saya merasa lebih baik setelah olah raga. Tapi setelah itu apa? Sama seperti anti depressan saya, semuanya hanya sementara. At the end of the day, saya tetap merasa lelah dan ingin berhenti berjuang.

Saya olah raga, membaca buku, mencari kutipan motivasi, berdoa, dan minum obat. Tapi semuanya hanya sementara. Seperti menambal keran bocor dengan kapas.

Dan kadang saya bertanya, jika saya tidak pernah diselingkuhi oleh mantan kekasih saya, apakah hidup saya dan diri saya akan lebih baik?

Sayang aja dalam hidup tidak ada yang namanya putar balik. Yang terjadi sudah terjadi, damage been done, suck it up, move on.

I just wish that moving on is really that easy. I wish i can erase all these dark thoughts and pain forever. I wish i can wake up in the morning everyday with happy feelings, be more motivated, and love myself more.

Semoga suatu hari itu datang.

Batas Antara Wanita Percaya Diri dan Bucin Kronis

Memperebutkan pria adalah salah satu hal yang paling anti saya lakukan. You want my boyfriend? Take him. If he falls for you, he never mine since the beginning. (Walau habis itu diam-diam nangis darah di kamar kosan kemudian pergi ke psikolog/psikiater untuk menekan gejala depresi saya)

But hey… saya percaya kalau seseorang benar-benar sayang sama kamu, dia ga akan selingkuh atau menjadikan kamu selingkuhan.

I had this discussion with my (douchebag dickhead cheating asshole) ex early this year, i asked him, “If you love me, why did you sleep around with other girls?”

He replied, “For me, love and sex are two different things. You and the other girls are placed in different boxes. You are in my special box, the rest are in other box.” Atau kira-kira begitu lah. Intinya buat dia, cewek-cewek lain ga ada artinya, dan dia membedakan antara cinta dan bukan cinta.

Instead of flattered, yang biasanya akan dialami bucin (budak cinta) pada umumnya, saya bertanya balik, “Gimana kalau posisi kita dibalik? Gimana kalo aku yang jalan sama cowok-cowok lain?”

Percakapan selanjutnya tidak penting karena tidak ada hubungannya dengan isi pikiran saya hari ini.

So… lately, teman-teman perempuan saya datang dengan curhatan yang menurut saya menyebalkan: tentang berebutan cowok.

Like… bitches… seriously?

Ada yang jadi selingkuhan, ada yang jadi pihak yang diselingkuhi. Tapi intinya sama, mereka ga mau kalah sama cewek yang satu lagi.

First of all, euw, that’s disgusting.

Knowing what you want and fighting for it, is cool. Tapi kalau setelah kalian diselingkuhi atau dijadikan selingkuhan dan ngotot perjuangin cowok tersebut sementara si cowok masih entertain cewek satunya lagi, artinya kalian masuk kategori bucin. IMHO (ditambahkan agar tidak terkesan kasar).

Ketidakmampuanmu untuk mencintai diri sendiri sebaiknya dikenali dan diperbaiki sebelum mencintai orang lain.

Buat saya, ini adalah tanda-tanda kamu cewek bucin kronis:

– saat pasanganmu selingkuh atau menjadikan kamu selingkuhan, kamu malah sibuk nyalahin bahkan sampai nyerang cewek satunya lagi instead of nyalahin cowoknya

– kamu terima aja pas tahu si cowok masih jalan sama cewek lain dengan berhalusinasi bahwa mungkin suatu saat cowok itu sadar bahwa kamu lah yang terbaik buat dia

– effort kamu untuk perjuangin si cowok jauh lebih besar daripada effort si cowok untuk mempertahankan kamu

– sibuk mencari pembenaran atas sikap si cowok

– kamu membiarkan si cowok memanipulasi kamu dengan kebohongan dan gombalan yang cuma modal bacot doang

– modal bacot aja udah kamu anggap effort dan bisa bikin kamu pede dan merasa dicintai

– rebutan cowok. Anjir… Cowok bukan benda mati. Ga bisa direbut. Kalau dia jalan sama cewek lain, ya itu karena dia mau sama cewek itu. Bukan karena direbut. Bukan karena ceweknya ngejar-ngejar. Ya emang cowoknya juga doyan sama tu cewek. Deal with it.

– kamu nyari 1000 tanda bahwa dia sebenarnya cinta sama kamu. Nggak. Dia ga cinta sama kamu. Kalau dia cinta sama kamu, dia ga akan perlakukan kamu kayak sampah.

– sibuk membela dia di depan temen-temen kamu yang protes soal kelakuan si cowok. Gurl, he treats you like shit. How dare you defending him in front of your friends, who love you for who you are and been standing behind your back all this time…

Mungkin satu atau dua teman saya akan membaca postingan ini dan berpikir, “Oh, jadi lo ngejudge gue kayak gini, Le…”

Just so you know.

I don’t judge you. I merely stating facts and want you to love yourself and open your eyes.

Kita semua pernah jatuh cinta sama laki-laki brengsek dan memperjuangan lelaki yang memperlakukan kita kayak sampah. Tapi mau sampai kapan kayak gitu terus? Mau sampai kapan jadi bucin dan halu nyari pembenaran bahwa lelaki yang menyelingkuhi atau menjadikan kamu selingkuhan sebenernya sayang sama kamu?

He doesn’t love you. Deal with it, suck it up, move on.

Diselingkuhi, Sebuah Closure

Selingkuh itu mungkin salah satu hal paling jahat yang bisa dilakukan oleh manusia. Kenapa? Karena efeknya bisa saja permanen. Selain itu, kalau kalian sudah bersama-sama dalam hitungan tahun, sudah banyak investasi waktu dan emosi, kemudian hancur begitu saja karena selingkuh, kalian menyia-nyiakan waktu. Dan waktu, adalah obyek yang tidak bisa diganti.

Saya yakin banyak yang nyasar ke blog saya karena topik perselingkuhan ini. Selain itu, mungkin ada juga sebagian orang yang bertanya-tanya, apa yang terjadi setelah diselingkuhi.

Apakah peselingkuh ini menyesal? Apakah mereka mendapat karma? Apakah saya sebagai korban peselingkuhan bisa move on?

Jawabannya: tidak selalu.

Sebelumnya, saya ceritakan dulu secara singkat apa yang terjadi pada saya.

Saya berpacaran selama kurang lebih 7 tahun, kami beda agama, dan kesepakatan awal kami adalah kami siap untuk menikah beda agama. Lalu semuanya berubah. Pasangan saya mengalami lonjakan karir, lalu cara berpikirnya pun mulai berubah. Ia meminta saya untuk convert ke agama dia agar kami bisa menikah, namun saya tolak. Saya ajak putus baik-baik, namun ia menolak.

Sampai suatu hari di bulan Februari tahun 2014, saya memergoki pasangan saya, laki-laki yang paling saya sayang di dunia ini, bahkan melebihi rasa sayang saya pada Papa saya, ternyata selama beberapa bulan belakangan sibuk pendekatan dan berselingkuh dengan perempuan lain.

Luka saya karena diselingkuhi adalah luka yang tak tersembuhkan. Hingga hari ini, saya masih rutin ke psikiater karena apa yang dilakukan mantan saya meninggalkan trauma yang terlalu dalam. Awal mula saya ke psikolog dan didiagnosa depresi. Sekarang, saya minum obat dari psikiater, dan dicurigai mengidap bipolar.

Dan semua itu diawali dengan diselingkuhi oleh lelaki yang sudah saya perjuangkan bertahun-tahun.

Lalu, bagaimana dengan lelaki yang selingkuh ini? Apakah ia mendapat karma? Apakah wanita selingkuhannya ternyata brengsek? Apakah kemudian ia menyembah-nyembah saya minta balikan karena akhirnya dia menyadari bahwa saya lah wanita yang ia cintai?

Nggak. Sama sekali nggak.

Setelah kisah kami berakhir, lelaki ini melanjutkan hidup bersama wanita selingkuhannya. Menikah, memiliki 2 anak perempuan yang cantik, karir melesat tajam, sudah jadi “orang kaya” dan sukses. Namanya harum di dunia profesinya. Semua orang bilang dia baik dan pintar. Dan in general, menurut saya hidupnya bahagia. Dia pun nggak peduli sama perasaan saya, nggak ada yang namanya menyesal. Nggak ada yang namanya minta maaf sampai menangis-nangiems. Dia baik-baik saja dan bahagia.

Karma? Apa itu karma?

Namun, dari awal saya memang nggak mengharapkan hidupnya menderita. Begitu dalam luka dan trauma yang saya alami, hingga saya tidak sempat berpikir ingin melihat mantan saya menderita. Kebetulan saya juga nggak percaya dengan karma. Yang penting saya bisa survive. Itu saja.

Beberapa tahun belakangan ini, saya berusaha keras belajar memaafkan. Belajar menerima kenyataan. Belajar untuk fokus memberbaiki diri dan menyembuhkan luka. Walau terbukti luka saya ternyata nggak bisa sembuh dan malah trauma yang saya alami menganggu kehidupan saya terutama soal kerjaan dan relationship.

Kemudian, sekitar Oktober-November tahun lalu, kami mulai berkomunikasi lagi walau via email. Dan topik pembicaraan kami fokus ke curhat kisah percintaan saya yang tragis dan karir.

Ya, saya dan Mas Mantan Ultimate yang meninggalkan trauma yang dalam untuk saya, sudah “baikan”. Kami menjadi teman email saja. Saya tidak ingin masuk lebih dalam ke hidupnya. Sekalipun hanya sebagai teman. Tentu saja, Mas Mantan Ultimate hidup bahagia, mapan, dan content. Sementara saya struggling antara menjadi bread-winner, berobat ke psikiater, melawan keinginan bunuh diri, berusaha berdamai dengan trauma saya…

Rasanya nggak adil, ya?

Tapi hidup memang begitu. Bukan seperti sinetron atau drama romantis. Nggak ada yang namanya karma atau pembalasan dari tuhan. Nggak ada yang namanya saya akhirnya bertemu lelaki yang tepat, yang menyembuhkan luka-luka saya dan membuat saya belajar percaya lagi pada hubungan.

Itulah kehidupan nyata.

Mas Mantan mengakui kalau sampai sekarang dia masih memantau saya di social media, masih mencari tahu soal saya. Tapi Mas Mantan yang sekarang, bukan lah Mas Mantan yang pernah saya cintai begitu tulus bertahun-tahun lalu. Saya melihatnya sebagai orang yang berbeda, orang asing yang baru saya temui.

Saya sudah memaafkan Mas Mantan Ultimate, namun lukanya tetap ada dan saya tahu nggak akan sembuh. Tapi saya lebih memilih berdamai. Tuhan boleh nggak adil sama saya, tapi saya harus adil sama orang-orang di sekeliling saya. Nggak mungkin saya terus–terusan menjalani hidup dengan menyesali waktu yang terbuang sia-sia karena Mas Mantan. Nggak mungkin saya terus-terusan menyalahkan Mas Mantan atas penyakit mental saya, luka dan trauma saya, dan ketakutan saya akan relationship.

Saya bahkan sudah ada di tahap menganggap Mas Mantan Ultimate adalah lelaki terbaik yang pernah menjadi pacar saya. Sejauh ini, mantan-mantan saya setelah Mas Mantan Ultimate, jauh lebih brengsek daripada dia.

Kesimpulannya, ini lah closure dari perselingkuhan yang mampu merusak saya secara permanen.

Mas Mantan melupakan saya dan hidup bahagia.

Saya melupakan Mas Mantan dan struggling setiap hari.

Nggak adil? Ya memang hidup gak selalu adil. Yang bisa kita lakukan hanya menerima dengan lapang dada, dan fokus ke masa depan dari pada ke masa lalu. Memaafkan, kemudian move on.

Jika kalian mengharapkan sebuah closure di mana saya hidup bahagia bersama lelaki yang lebih baik dan mampu menyembuhkan trauma saya, sementara mantan menderita serta menyesali keputusannya, ya maaf saja. Hidup nggak selalu berjalan seperti template film drama romantis.

So… saya harap, postingan ini menjadi jawaban untuk kalian, jiwa-jiwa yang sedang terluka karena diselingkuhi. Terima lukanya, dan maafkan mereka yang menyakiti kamu.

Saya nggak tahu apakah setelah ini saya masih akan menulis blog lagi atau tidak. Membicarakan hal ini masih begitu sakit untuk saya karena saya terpaksa mengingat lagi hal-hal yang menyakiti saya. Semoga kalian nggak mengalami apa yang saya alami. Semoga kalian nggak perlu sampai harus mengkonsumsi 5 obat setiap hari hanya untuk bisa bekerja dan hidup normal.

Hangin’ there. Semoga luka kalian lekas sembuh.

PS: Biar tidak ada salah paham, saya tambahkan lagi penjelasan. Mas Mantan Ultimate memang berselingkuh dan meninggalkan luka permanen untuk saya. Tapi, Mas Mantan yang sekarang, bukan lah Mas Mantan yang dulu. Mungkin dia lelaki yang tidak memegang janjinya dan tidak setia. Tapi itu dulu. Dia yang dulu berbeda dengan dia yang sekarang.

Sekarang, menurut saya ia adalah ayah dan suami yang baik. Lagipula, Mas Mantan sempat menjelaskan, ia ingin berakhir dengan saya, namun ia mentok di perbedaan agama dan restu orang tua. Perkara dia selingkuh, mungkin karena saat itu dia belum cukup dewasa untuk memilih jalan putus baik-baik sebelum memulai hubungan dengan wanita lain.

Luka-luka saya adalah milik saya. Perkara saya kemudian mengalami relaps mental illness dan menyimpan luka batin, mungkin tidak dia perhitungkan dari awal. Mungkin ia pikir saya hanya akan sedih 1-2 bulan lalu baik-baik saja. Saya juga ngiranya gitu, kok.

Jadi… jangan salahkan Mas Mantan Ultimate, ya. He’s a different person now 🙂

Terima Kasih 2018

Akhirnya saya sempat lagi menulis blog setelah sibuk dengan pekerjaan, patah hati, kumpul dengan teman-teman, dan main game.

Sudah masuk bulan Februari, tapi rasanya ada yang salah kalau saya tidak menulis napak tilas 2018 ya. Seperti tahun-tahun dalam hidup saya sebelumnya, tahun 2018 adalah tahun yang sangat berat untuk saya. Ya, mungkin memang ada beberapa orang yang nasibnya kurang bagus aja. Dan saya salah satu dari orang tersebut.

Akhir 2017 lalu, seseorang di masa lalu kembali ke dalam hidup saya. Sepanjang akhir 2017 hingga awal 2019, orang dari masa lalu ini sukses menghancurkan hidup saya. Tapi nanti saya cerita soal dia.

2018 saya diisi dengan kehilangan terbesar dalam kehidupan saya yang pernah saya alami. Setelah berjuang sebisa saya untuk pengobatan Papa saya yang stroke, akhirnya Papa menyerah pada tanggal 22 Agustus 2018. Saya tidak akan pernah lupa hari-hari terakhir kepergian beliau.

Saya ingat bagaimana saya melihat Papa mulai menyerah. Hati saya patah setiap hari. Bagaimana ia semakin lemah, semakin tidak mau makan, dan terus-terusan menunjuk jari manis saya, menanyakan mana pasangan saya.

Satu malam saya bertanya pada Papa, “Papa khawatir kalau nanti nggak ada yang jagain aku, ya?”

Dengan wajah sedih, ayah saya mengangguk.

Saya hanya bisa tersenyum belagak kuat dan menjawab, “Aku nggak perlu dijagain siapa-siapa. Kan selama ini aku yang jagain Papa Mama. Papa tenang aja. Aku bisa jagain Mama.”

Malam menjelang kepergian Papa, mata beliau sudah tertutup, tidak bisa bergerak, hanya napas satu-satu. Saya pulang ke rumah, duduk di samping Papa, dan berbisik, “Aku maunya Papa nggak pergi, tapi kalau Papa capek, ya udah… Papa boleh istirahat duluan.”

Mungkin nggak ada patah hati yang lebih sakit selain mengatakan kepada orang lain bahwa kita ikhlas ditinggalkan oleh orang yang kita sayang, padahal hati kita tahu, kita nggak mau mereka ninggalin kita.

Air mata ayah saya jatuh ketika saya berbisik seperti itu. Saya yang sedang menangis, langsung menghapus air mata saya dan mencoba tertawa, “Idih Papa kenapa nangis? Jangan nangis, dong. Kan enak, Papa mau istirahat duluan. Aku bisa kok jaga Mama. Tenang aja. Kan selama ini Papa lihat sendiri aku udah ngurusin Papa Mama dengan baik.”

Mama bertanya dengan ekspresi bingung, “Kok kamu malah ketawa?”

“Biar Papa nggak pergi dalam keadaan sedih.”, jawab saya dengan senyum yang saya paksakan.

Paginya Papa pergi, bertepatan dengan suara Adzan sembahyang Idul Adha. Mama menangis, kerabat menangis, saya duduk diam nggak tahu harus merasa apa.

Saya ingat, hari itu saya mencari lelaki yang sedang dekat dengan saya. Saya mengabari dia sejak malam, sepertinya Papa akan pergi. Tapi ia tidak ada. Kemudian paginya saya mengabari Papa saya sudah pergi. Beberapa waktu kemudian baru dia merespon saya dan bilang ingin menelepon saya. Dalam pikiran saya, sudah terlambat. Dia tidak ada ketika saya membutuhkan dia. Saya jawab tidak usah.

Di hari itu, saya melihat sahabat-sahabat, teman, keluarga, berdatangan, mengontak saya, membantu saya. Mengingatkan saya makan, membawa makanan, menghibur saya, mendoakan saya. Saya berpikir, ini lah orang-orang yang menyayangi saya. Orang-orang yang ada saat saya jatuh. Saya melihat wajah mereka, dan saya sadar, mereka yang peduli, mereka yang tulus, ada di sini, ada bersama saya. Yang tidak bisa datang, ada di handphone saya. Memastikan saya baik-baik saja. Menunjukkan pada saya bahwa mereka peduli.

Belakangan saya mengetahui, lelaki ini, lelaki yang selama setahun beranjak dari sekedar mantan menjadi orang spesial saya, ternyata saat itu sedang sibuk bersama perempuan lain. Di bulan Papa saya bergelut antara hidup dan mati kemudian meninggal, di bulan saya sedang jatuh, ia sedang sibuk liburan di kota lain bersama perempuan lain.

Itu adalah patah hati kedua saya di tahun 2018.

Kembali ke lelaki ini. Sebutlah Mr. A. Ia muncul dalam hidup saya, menyatakan ingin kembali dengan saya. Meyakinkan saya bahwa ia ingin menikahi saya, ingin bertemu dengan orang tua saya. Dan hati saya tidak nyaman. Saya butuh hampir setahun untuk akhirnya memutuskan, oke, mari kita coba. Ketika saya sudah menawarkan padanya, mari kita mencoba, tiba-tiba Mr. A mengatakan ia tidak bisa. Ia menyayangi saya, namun tidak bisa bersama saya.

Dan entah mengapa, suatu hari, Mr. A berani mengaku dengan jujur bahwa selama ini ia dekat dengan banyak perempuan. Sejak awal ia masuk ke dalam hidup saya kembali, dia sudah dengan perempuan lain. Saya bingung harus menanggapi ini semua dengan perasaan apa. Saya merasa sia-sia. Lalu untuk apa selama ini Mr. A mengejar saya dan meyakinkan saya bahwa ia menyayangi saya?

Tentu saja ini kenyataan berat untuk saya terima. Ketika saya struggling dengan kondisi keuangan, dengan kondisi Papa, dengan penyakit saya sendiri, dengan pekerjaan, ternyata lelaki yang saya kira menyayangi saya sedang sibuk dengan perempuan-perempuan lain, karena saya tidak cukup untuk dia.

Bulan November 2018 saya kembali terapi, dan diharuskan meminum obat anti depressant dan penenang minimal selama 6 bulan. Depresi saya kumat lagi karena Mr. A membuat saya merasa diselingkuhi, hal yang paling membuat saya trauma dan trigger depresi saya yang paling kuat.

Saya menghabiskan akhir 2018 dengan berpikir penuh sakit, mengapa Mr. A tega melakukan ini ke saya? Dia tahu saya pengidap depresi, dia tahu perjuangan saya, dia tahu masalah-masalah dalam hidup saya, tapi dia tetap muncul dan menghancurkan saya.

Untungnya, saya jadi tersadar. Selama ini, selama Mr. A sibuk menghancurkan saya, saya punya sahabat, teman, rekan, keluarga, yang justru sibuk mendukung saya. Sibuk memberi saya semangat, meluangkan waktunya untuk mendengar keluh kesah saya. Mereka ini, mereka ini lah sumber kekuatan saya.

2018 adalah tahun yang mengubah saya. Mulai dari cara saya mengatur keuangan, hingga cara saya menanggapi laki-laki yang mendekati maupun meninggalkan saya.

Banyak orang yang muncul dan memberi pertolongan ketika saya putus asa nggak tahu harus melakukan apa. Ketika saya menghadapi masalah keluarga dan diancam akan dilaporkan ke polisi, ketika Mama saya diteror, ketika saya masuk rumah sakit, ketika Papa pergi. Bahkan kadang pertolongan itu datang dari orang yang tidak saya duga. Laki-laki yang sudah saya ghosting lebih dari 6 bulan, Mr. Mantan Ultimate yang sudah hilang dari hidup saya selama 4 tahun, laki-laki yang sudah saya tolak berkali-kali selama bertahun-tahun. Mereka justru ada ketika saya nggak tahu harus lari ke mana, dan memberi bantuan tulus sebagai teman. Bukan karena ada maunya.

Ada juga pencapaian-pencapaian lain yang membuat diri saya bangga di tahun 2018. Namun, buat saya 2018 bukan tentang saya. 2018 adalah tentang siapa yang tulus, dan siapa yang ular. 2018 adalah tentang belajar merelakan, mengikhlaskan, memaafkan, dan menghargai mereka yang ada bersama saya.

Terima kasih untuk semua yang bertahan dalam hidup saya, semua yang menopang saya di saat saya jatuh. Terima kasih kalian yang tidak menusuk saya dari belakang. Yang sudah stay real sama saya. Yang tidak menambah duka dan malah menyuntikkan semangat untuk saya ketidak kalian sendiri struggling dengan hidup kalian.

Saya nggak akan pernah lupa.

Semoga 2019 ini lebih ramah kepada kita semua, dan semoga, saya bisa membalas semua kebaikan kalian.

Terima kasih telah ada.

Pembunuhan di Satu Malam yang Diam

Aku menyambut seorang pembunuh

Yang pernah memuntahkan pelurunya di jantungku

Ketika aku bangkit dari mati

Ia muncul sebagai lelaki yang kalah perang

Padaku ia meminta ruang

Padaku ia memintaku menjadi rumah

Aku menyambut seorang pembunuh

Yang pernah memperkosa harga diriku

Aku bangkit dengan satu kaki

Dan ia muncul sebagai pria penuh kasih sayang

Padaku ia menawarkan pulang

Ujarnya, biarlah aku yang menjadi rumah

Lelaki yang pernah mengarahkan moncong senjatanya

Di depan wajahku

Lelaki yang pernah pergi tanpa rasa

Membawa jantungku

Ia kembali tanpa kembali membawanya

Katanya, telah hilang tak sengaja

Dan di atas semua rasa takutku

Kupersilakan ia masuk

Kubasuh kakinya, kuusap wajahnya, kukecup keningnya

Pada lelaki yang pernah membunuhku

Dan meninggalkanku membusuk

Padanya kuserahkan kembali senjata

Jika hari ini aku harus mati

Biarlah aku mati terakhir kali

Dan tak bangkit lagi

Pada lelaki yang pernah menghancurkan rumahku

Kuberi puing yang tersisa

Apa yang bisa kau ambil

Jika aku tak punya apa-apa

Padanya kuperlihatkan semua lukaku

Mungkin kali ini dia bisa merasa

Tidak ada yang bisa dia ambil

Jika aku hanya punya luka

Padanya ku serahkan apa yang tersisa dariku

Ambil lah jika itu membuatmu bahagia

Dari dalam lubang di dadaku

Ia ambil apa yang terakhir kupunya

Iapun menarik picu senjata

Moncongnya kembali menempel di dahiku

Baginya dunia memiliki hutang

Dan aku hanya sekedar

Kamu tak boleh bahagia, ujarnya

Dan di satu malam yang tak memiliki kata

Aku terbujur kaku

Ketika ia beranjak pulang

Aku telah menjadi buyar

Aku hanya ingin bahagia, desisnya

Tuhan sedang tidak ada malam itu

Dan pembunuhku pergi tanpa karma

Kematianku tak ada di koran esok

Karena aku adalah rahasia

Ia menguburku di dalam kepalanya

Tuhan tidak bilang sesuatu

Dan pembunuhku pergi tanpa duka

Kematianku tak ada di koran esok

Karena mereka tak tahu aku siapa

Ia membawaku di dalam genggamannya

Dan pembunuhku pergi penuh suka

Sungguh sia-sia

Sungguh sia-sia

Tentang Lelaki yang Saya Cintai Apa Adanya

Sudah 44 hari sejak Papa pergi.

Banyak hal yang nggak pernah sangka-sangka akan terjadi dalam hidup saya, hal yang nggak pernah terpikir. Salah satunya adalah kepergian Papa.

Papa saya mengalami stroke sejak tahun lalu, ini stroke ke-3, dan serangannya cukup berat. Papa menderita dementia sekaligus lumpuh sebelah. Papa kehilangan kemampuan berkomunikasi dan menelan makanan karena lidahnya kaku. Papa juga kehilangan pendengaran dan penglihatan sebelah.

Pertama kali saya melihat Papa di rumah sakit akibat serangan stroke ke-3 ini, saya patah hati. Papa tidak bisa bicara, sempat tidak mengenali saya, dan bertingkah aneh. Hanya menatap saya dengan tersenyum lebar, diajak bicara apapun tidak mengerti. Ketika semua orang pulang dan tinggal saya sendiri menjaga Papa, saya menangis diam-diam tengah malam. Nggak ada orang yang bisa saya ajak bicara, nggak ada orang yang bisa saya jadikan tempat berbagi kedukaan saya.

Untungnya setelah itu, Papa membaik. Walau tidak bisa berbicara, Papa akhirnya bisa diajak berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Makannya pun lahap, tenaganya masih kuat, dan terlihat bersemangat. Saya pun jadi semangat. Saya bekerja 2 kali lipat untuk mengumpulkan uang demi membiayai pengobatan dan terapi Papa, dan membeli semua keperluan Papa selama sakit. Saya bahkan sempat optimis, Papa pasti sembuh. Minimal, bisa duduk di kursi roda dan bicara sedikit-sedikit.

Tapi sekali lagi saya patah hati.

Menurut saya, tidak ada yang lebih membuat patah hati daripada melihat orang yang kamu kasihi perlahan semakin lemah dan akhirnya memilih untuk menyerah.

Papa bukan ayah yang sempurna. Saya pun tak pernah menjadi anak favoritnya, apapun yang saya lakukan, tidak pernah cukup baik untuk Papa saya. Masa kecil hingga dewasa saya dipenuhi oleh tindakan abusive secara mental (dan secara fisik ketika saya masih kecil), dan hal ini yang menjadi salah satu penyebab saya mengidap depresi. Namun, setelah serangkaian konflik besar antara saya dan Papa, hubungan kami malah membaik. Bahkan Papa sampai mengijinkan saya merokok bersama beliau. Tumbuh pengertian di antara kami berdua. Minum kopi di kafe bersama Papa dan Mama sambil merokok dan ngobrol adalah hal yang kami lakukan saat berakhir minggu. Dan saya selalu menyukai momen seperti itu.

Rasanya tidak adil Tuhan mengambil Papa di saat kami sudah berdamai.

Saat Papa sakit dan terbaring, Papa tidak pernah absen bertanya mana pacar saya, kapan saya menikah. Papa terus menunjuk jari manis saya. Setiap saya menjawab tidak ada, Papa akan memasang wajah sedih. Menjelang Papa pergi, beliau bahkan sempat memegang jemari saya dengan erat, kemudian mengguncang jari manis saya dengan panik, seakan sudah tahu beliau akan pergi dan tidak rela jika saya masih sendiri.

Dulu, ada yang pernah bilang sama saya, saya pasti akan menyesal kalau orang tua “pergi” di saat saya belum menikah.

Saya baru tahu, memang begini rasanya… Papa pergi sebelum sempat menikahkan anak perempuannya. Padahal menikahkan anak adalah sebuah kebanggaan untuk orang Batak. Dan mengingat wajah sedih Papa ketika tahu anaknya masih sendiri, sebenarnya membuat saya menyesal. Tentunya sebagian karena kesalahan saya sendiri. Saya memilih bertahan selama 7 tahun dengan orang yang tidak direstui Papa, kemudian akhirnya saya malah diselingkuhi. Ironisnya, itu terjadi justru setelah Papa merestui hubungan kami, dan bertanya kapan pasangan saya akan menikahi saya. Sampai Papa pergi, nggak satu kalipun pernah saya sebut bahwa kami berpisah karena saya diselingkuhi. Karena saya nggak mau Papa merespond, “Tuh benar kan. Papa selalu bilang sama kamu, dia laki-laki yang tidak bisa dipercaya.”

Sampai sekarang, saya masih sesekali terpikir. Seandainya saya menuruti Papa saya waktu itu, mungkin sekarang ceritanya akan berbeda.

Sayangnya, kita nggak bisa memutar waktu.

Seandainya saya selalu tahu, jalan mana yang sebaiknya saya pilih, keputusan apa yang seharusnya saya buat. Seandainya saya bisa tahu, mana orang baik, mana orang jahat. Mana lelaki yang memegang kata-katanya, dan mana yang pembohong belaka.

Tapi kita nggak hidup di dunia yang ideal seperti itu.

Dan menangisi Papa saya tidak akan membuat beliau kembali.

Saya rindu weekend di mana saya mengajak orang tua saya ke mall, menyuruh mereka memilih mau makan di restoran apa. Kemudian belanja, dan dilanjutkan duduk-duduk di kafe sambil berbicara soal hal-hal tidak penting.