Mengapa Self-Diagnose Saja Tidak Cukup?

Dengan meningkatnya awareness yang berhubungan dengan kesehatan mental, saya bisa melihat bagaimana orang-orang mengakui bahwa mereka merasa memiliki isu dengan kesehatan mental. Dari self-diagnosis berdasarkan artikel dan informasi di internet, orang berani menyatakan dirinya mengidap depresi, anxiety, bipolar, bahkan penyakit mental yang terdengar lebih rumit seperti borderline personal disorder, post-traumatic stress disorder, dysthimia, dan lainnya yang jarang kita dengar sehari-hari. Untuk melihat macam-macamnya, bisa cek link ini.

Jangan salah sangka. Self-diagnose adalah langkah awal yang baik bagi penderita. Dengan menyadari bahwa diri sendiri memiliki kondisi yang berbeda, kamu sudah memulai proses menuju kesembuhan.

Tapi, ketika kamu menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirimu, jangan berhenti di situ. Kamu harus mencari pertolongan profesional.

Kenapa hanya bersandar pada self-diagnose tidak tepat?

Kemungkinan salah diagnosa sangat besar. Jika kamu nggak pernah mengalami mental illness, kamu nggak akan mengerti gejala-gejala yang dituliskan pada artikel mental health. Jika kamu nggak pernah dealing with the real illness, kamu biasanya akan meng-simpel-kan gejala-gejala tersebut agar terasa relevan dengan dirimu.

Misalnya pada artikel tentang penjelasan depresi di sini.

  • down, upset or tearful

SALAH PAHAM: Orang yang tidak pernah depresi, akan mengira ini sama saja dengan kesedihan pada umumnya. Sedih karena putus, sedih karena disakiti orang yang disayang.

YANG SEBENARNYA: Pada penderita depresi, perasaan down kamu bersifat permanen. Kamu menangis setiap hari padahal tidak ada masalah apa-apa. Dan perasaan sedih ini berlangsung sama berbulan-bulan.

  • restless, agitated or irritable

SALAH PAHAM: Mudah marah atau “sensi”. Mudah marah bisa saja bagian dari kepribadian atau kamu punya masalah dengan anger management (dan ini juga dikategorikan sebagai masalah mental, namun berbeda jauh dengan depresi) atau penyakit mental lainnya.

YANG SEBENARNYA: Merasa lelah terus menerus secara fisik dan mental, merasa semua hal di hidup ini tidak berjalan sesuai dengan yang kamu mau. Merasa semua orang membencimu, ingin menyakitimu, tidak ingin dekat-dekat denganmu. Hal sepele seperti message tidak dibalas padahal mungkin saja orang yang kamu kirimi pesan sedang sibuk, bisa membuatmu down karena mengira orang itu nggak ingin bicara denganmu.

  • guilty, worthless and down on yourself

SALAH PAHAM: Pemalu, tidak percaya diri, introvert.

YANG SEBENARNYA: Saya mudah merasa bersalah, tidak berani menghubungi teman karena takut menyusahkan mereka, takut dibenci karena keadaan emosi saya yang sedih terus. Kemudian saya menjadi benci diri sendiri karena saya merasa diri saya lemah, tidak berharga, cengeng, gendut, jelek, tidak punya kelebihan apa-apa. Dan perasaan ini permanen.

  • empty and numb

SALAH PAHAM: Kata-kata ini tidak bisa menggambarkan seberapa kuat perasaan kosong dan mati rasa yang dialami penderita depresi. Sering dikira sama dengan perasaan ignorant, tidak peduli dengan orang lain, atau tidak mau mengeluarkan emosi sehingga selalu bersikap pura-pura datar.

YANG SEBENARNYA: Contoh konkritnya adalah kamu nggak bisa menikmati makanan enak, nggak menikmati traveling ke luar negeri, tidak bisa merasakan excitement yang biasa kita miliki saat hendak pergi main, pergi jalan-jalan, mendapat hadiah, bertemu orang yang kita suka dll.

  • isolated and unable to relate to other people

SALAH PAHAM: Kamu bisa mengira ini rasanya sama dengan menjadi introvert. Senang sendirian, tidak suka bertemu orang-orang.

YANG SEBENARNYA: Merasa kesepian terus menerus. Ingin ada yang menemani, tapi kamu takut keluar rumah dan bertemu orang-orang. Saat kamu dengan teman-temanmu, kamu nggak bisa ngerti apa yang mereka bicarakan. Kamu merasa nggak nyambung. Dan kamu merasakan keinginan mendesak yang aneh untuk melarikan diri dan bersembunyi di lemari yang gelap sendirian. Padahal sebelumnya kamu nggak pernah merasakan kayak gitu.

  • finding no pleasure in life or things you usually enjoy

SALAH PAHAM: Tiba-tiba nggak mood jalan-jalan, main gitar, nonton konser, atau hal-hal yang kamu sukai karena kamu lagi bete atau galau.

YANG SEBENARNYA: Pada penderita depresi, perasaan ini bertahan lama dan berlaku terhadap banyak hal yang kami suka. Berhenti melakukan hobi yang kami suka, tidak tertarik pada seks, nggak merasa apa-apa saat jalan-jalan, melakukan kegiatan menyenangkan. Seperti nggak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa bikin kamu senang.

  • a sense of unreality

SALAH PAHAM: Bagi orang yang tidak pernah depresi, mungkin kata-kata ini doesn’t make any sense.

YANG SEBENARNYA: Saya juga susah menjelaskannya. Kira-kira begini. Kamu bangun, menghadapi kehidupanmu sehari-hari, bergerak, bekerja, berbicara, namun kamu merasa tubuhmu melakukan itu begitu saja, kamu tidak merasa terkoneksi dengan dunia ini, dengan orang-orang di sekitarmu. Muncul perasaan bahwa hal-hal di sekitarmu tidak relevan dengan dirimu. Bahwa hal-hal di sekitarmu tidak nyata dan bisa hilang begitu saja. Rasanya seperti berjalan di bawah air, semuanya buram, bergerak lambat, dan terasa tidak nyata.

  • no self-confidence or self-esteem

SALAH PAHAM: Merasa tidak percaya diri.

YANG SEBENARNYA: Merasa buruk rupa, yakin dirinya nggak berharga, tidak cocok dengan society. Merasa seperti sampah, seperti mesin rusak. Apapun pujian orang lain padamu, kamu benar-benar tidak mempercayainya. Nggak akan sedikitpun ada dalam pikiranmu bahwa kamu punya kelebihan atau sesuatu yang bisa dibanggakan. Apa yang kamu kerjakan, kamu lihat sebagai kegagalan. Kamu benci cermin karena yang kamu lihat hanya keburukan.

  • hopeless and despairing

SALAH PAHAM: Orang biasa mengira perasaan hopeless sama dengan pesimis. Atau keputusasaan sesaat akibat suatu masalah.

YANG SEBENARNYA: Bagi penderita depresi, yang kami rasakan adalah keyakinan bahwa hidup kami, kesedihan kami, nggak akan berubah. Kami akan selalu berada di lubang gelap ini, dengan penderitaan dan rasa sakit yang nggak akan hilang. Kami sangat yakin hidup kami nggak akan berubah. Nggak ada yang namanya, “semua akan indah pada waktunya”. Kami nggak mengerti kalimat itu. Tidak ada satupun kalimat motivational yang bisa membantu kamu mengubah pikiran seperti itu.

  • suicidal

SALAH PAHAM: Perasaan ingin melukai diri sendiri untuk “mengancam”/memanipulasi orang lain agar kasihan atau menuruti keinginannya.

YANG SEBENARNYA: Bagi penderita depresi, kami menyakiti diri kami karena ingin mengalihkan perasaan sedih kami ke sesuatu yang lebih real. Karena kami nggak tahu dari mana sumber rasa sakit di dada kami. Bagi yang ingin bunuh diri, biasanya simply karena ingin menghentikan rasa sakit kami dan karena kami merasa nggak ada jalan keluar.

Katanya tidak semua penderita depresi merasa suicidal. Saya sendiri merasakannya. Ketika sendirian, ketika nongkrong sama teman-teman, ketika bekerja, saya terpikir ingin bunuh diri. Saya mulai riset kecil-kecilan tentang cara bunuh diri paling efektif dan paling tidak sakit. Lalu saya mulai mengatur, barang-barang saya akan diberikan ke siapa saja. Kemudian saya mencari lokasi yang tepat untuk bunuh diri. Namun ini tidak pasti dilakukan semua orang.

Hal ini berlaku pada gejala penyakit mental lainnya. Karena saya sudah paham seberapa ekstrim gejala depresi yang sebenarnya, saya tidak mudah mengasosiakan diri saya dengan gejala penyakit lain seperti bipolar atau anxiety yang punya kecenderungan agak mirip dengan depresi. Saya sudah mengerti bahwa setiap gejala penyakit mental tidak muncul sesekali, tidak memiliki kadar “mild”, harus dialami terus menerus dalam jangka waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Karena itu, self-diagnose yang salah membuatmu merasa berganti-ganti penyakit mental. Hari ini kamu bisa mengira dirimu depresi, bulan depan kamu merasa gejalamu lebih mirip anxiety, lalu minggu depan kamu merasa memiliki gejala borderline personality disorder. Itu bahaya. Karena yang kamu lakukan adalah mencocok-cocokkan gejala secara buta. Jika self-diagnose mu berubah-ubah, ada dua kemungkinan, kamu tidak sakit sama sekali, atau mungkin saja kamu memiliki semuanya.

Tapi, jika kamu memiliki semua gejala penyakit tersebut, kamu pasti nggak akan bisa kerja, berbicara dengan normal, menyelesaikan pekerjaan, bahkan tidak bisa melakukan hal kecil dan mudah seperti mandi dan makan setiap hari.

Manusia itu punya kecenderungan menjadi conformist. Misalnya saat membaca artikel kepribadian tentang zodiak, atau komik kepribadian berdasarkan golongan darah.

Banyak yang mengucapkan, “Ih, ini gue banget.”

Dan tanpa kalian sadari, kadang kalian memaksakan sifat-sifat tersebut agar pas dengan kepribadian kalian karena kalian ingin konsisten dengan label yang kalian buat sendiri.

Hal yang sama bisa saja kalian lakukan saat kalian melabeli diri dengan penyakit mental tertentu. Kalian “memaksakan” memiliki gejala tersebut, kemudian mencari validasi dari orang di sekitar kalian dengan terus menerus menunjukkan gejala yang kalian paksakan itu.

Sementara, bagi orang yang memang menderita penyakit mental, self-diagnose tanpa professional treatment, justru jauh lebih berbahaya. Kamu bisa salah diagnosa, dan melakukan pengobatan sendiri yang salah juga. Saya bisa bilang begini karena saya termasuk dalam golongan ini.

Saat saya yakin saya menderita depresi, dengan bodohnya saya mencari sendiri tips-tips menyembuhkan diri dari internet. Ada yang bilang travelling, olah raga, piknik, bertemu teman-teman, memelihara binatang, yoga, dll. Yang terjadi adalah saya memboroskan uang, dan terjebak dalam depresi selama 2 tahun. Saya sampai di titik mengira apa yang saya rasakan bukan depresi, tapi bagian dari kepribadian. Dan saya tidak mengerti bahwa keinginan bunuh diri bisa terasa begitu mendesak, seperti sesuatu yang harus banget dilakukan.

Ketika saya ke psikolog dan akhirnya mengerti seperti apa rasanya menjadi normal, saya baru merasa betapa jauhnya perbedaan antara menjadi sekedar sedih dan jatuh ke dalam depresi. Saya baru mengerti bagaimana rasanya menyendiri di kamar tanpa merasa kesepian. Saya baru mengerti bagaimana rasanya menikmati makanan saya dan kembali menyukai hobi saya yaitu menggambar.

Karena itu, jangan pernah berhenti di self-diagnose.

Jika kalian merasa “sakit”, cari bantuan profesional. Cari psikolog atau psikiater berlisensi. Jangan curhat ke teman psikolog S1 dan minta dia nebak-nebak buah manggis kamu sakit apa. Kalau ke psikiater, kalian bisa pakai BPJS loh sekarang. Jangan menilai ke psikiater = kamu orang gila.

Dan yang pasti, tolong diingat. Kamu nggak sendirian.

Side notes: Saya menulis artikel ini dari sudut pandang penderita sehingga sangat mungkin ada koreksi di depannya karena saya bukan pakar kesehatan mental. Tulisan seperti ini banyak saya post di blog saya untuk membantu meningkatkan kesadaran terhadap mental health issue.

Nightmares

Saat saya sedang dalam fase depresi 2 tahun lalu, selain insomnia, saya juga mengalami mimpi buruk setiap saat saya (bisa) tidur.

Sekarang, saya jarang mimpi buruk. Saya hanya mimpi buruk ketika mengalami anxiety atau sedang overthinking tentang masalah atau obyek tertentu.

Misalnya ketika saya membatalkan janji untuk berlibur ke Anyer yang sudah direncanakan berbulan-bulan hanya karena tiba-tiba saya anxious dan tidak ingin pergi. Saya membatalkan janji saya di malam sebelum kami akan berangkat, teman saya tidak menanggapi. Saya batal pergi benar-benar hanya karena serangan anxiety. Tiba-tiba saya takut pergi, saya takut akan susah berinteraksi dengan orang lain. Saya takut membayangkan harus menginap bersama 14 orang. Saya takut harus pakai baju berenang karena saya akan terlihat gendut. Saya takut saat tidur saya akan mendengkur dan mengganggu teman-teman saya. Saya membatalkan janji mendadak hanya karena hal-hal sepele seperti itu. Padahal saya sudah packing, membeli cemilan, dan menyiapkan uang untuk membayar patungan vila serta mobil minibus yang kami sewa.

Saya susah tidur karena teman saya tidak membalas pesan saya (tentu saja, karena saya baru mengabari pukul 12 malam). Ketika akhirnya bisa tidur, saya malah bermimpi teman saya marah-marah sama saya. Saya terbangun sejam kemudian, pukul 5.30 pagi. Kemudian saya curhat melalui chatting kepada teman saya yang lainnya. Saya butuh seseorang untuk diajak bicara dan menenangkan pikiran saya.

Teman saya, tentu saja, tidak bisa mengerti kepanikan dan cerita saya yang tidak masuk akal. Saya paham, nggak akan ada orang yang mengerti saat ada orang lain curhat pagi buta tentang membatalkan janji dan kepikiran sampai nggak bisa tidur. Orang pasti mikirnya, “Apaan, sih. Lebay.”

Akhirnya, dengan perasaan lebih buruk dari sebelumnya, saya mencoba tidur lagi.

Dan saya mimpi buruk lagi, mimpi yang sama.

Saya tidak bisa tidur dan hanya rebahan di kasur sambil melihat langit-langit. Membiarkan pikiran saya menyalah-nyalahkan diri saya yang tidak bisa memegang janji. Membayangkan teman saya marah dan tidak mau bicara dengan saya. Padahal dia akan pulang ke Prancis for good dalam 3 hari. Saya akan berpisah dengan teman saya dalam keadaan seperti ini.

Saya mengirim chat lagi, meminta maaf berkali-kali kepada teman Prancis saya ini.

Akhirnya ia membalas dan mengatakan ia tidak marah. Ia meminta saya datang ke rumahnya hari Senin, untuk farewell party kecil-kecilan.

Saya menangis karena lega setelah membaca pesannya. Kemudian saya bisa tidur. Tanpa bermimpi.

Hal-hal seperti itu kadang terjadi pada saya, dan saya belajar untuk tidak curhat sama siapapun jika sedang dalam keadaan itu. Karena saya tahu, reaksi orang-orang akan sama persis. Dan itu membuat saya merasa lebih buruk.

Akhir-akhir ini saya mengalami mimpi buruk lagi.

Saya belajar untuk merepresi overthinking saya dan mencoba mengalihkan pikiran saya ke hal lain. Saya kira saya berhasil melakukannya. Namun sudah 3 hari saya bermimpi buruk. Setiap terbangun, saya merasa pahit. Saya sadar mimpi buruk saya adalah perwujudan dari pikiran-pikiran buruk yang saya represi. Saya ingin berbagi tentang apa yang saya pikirkan kepada orang-orang terdekat saya, namun saya tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan hal-hal tidak masuk akal yang ada di kepala saya.

Dan saya takut saya akan dinilai berlebihan, kemudian tidak dihiraukan.

Hari ini saja saya tidur bangun tidur bangun, dan setiap tidur, yang hanya tidur ayam itu, saya selalu bermimpi buruk. Bagian otak saya yang waras mengingatkan saya bahwa mimpi saya tidak masuk akal dan hanya merupakan ketakutan-ketakutan saya sendiri. Seandainyapun ketakutan saya tersebut terjadi, seharusnya tidak usah saya pikirkan, karena itu adalah hal yang wajar terjadi dalam hidup seseorang.

Saya mencoba tidak memikirkannya. Karena menurut saya hal ini nggak penting untuk dipikirkan. Melelahkan memang ketika kamu kehilangan kontrol atas pikiranmu sendiri. Sementara ketika kamu mencoba mengontrolnya, ia datang di dalam mimpi-mimpimu saat kamu tidur.

Kadang, saya bertanya-tanya. Apakah semua orang mengalami apa yang saya alami? Dan bagaimana cara mereka melawan pikiran-pikiran buruk dan mimpi buruk mereka?