Why Modern Dating?

FWB atau friends with benefits adalah sebuah istilah yang sudah lama saya dengar. Sebuah konsep hubungan yang nggak bisa saya mengerti dan selalu sukses membuat alis saya mengernyit ketika mendengarkan teman-teman saya bercerita soal pengalaman mereka dalam fwb.

Secara garis besar begini. FWB adalah hubungan di mana kalian berteman seperti biasanya, namun seks dan sejenisnya termasuk dalam variabel pertemanan itu, and no strings attached.

Kadang, konsepnya bisa lebih mirip booty call. Kalian nggak ngobrol, nggak berteman, nggak dating, tapi ketika butuh aktivitas fisik, kalian bertemu. Setelah urusan selesai, kalian melanjutkan hidup masing-masing sampai kalian butuh lagi.

Terdengar sangat kejam, kalau bukan sangat dangkal.

Lalu sekarang ada lagi yang namanya modern dating. Sesuatu yang lebih rumit lagi.

Kalian ngedate, punya momen deep conversations, care for each other, kissing dan sejenisnya, terasa eksklusif, tapi kalian nggak punya label apapun untuk hubungan tersebut.

No, i’m not joking. This kind of relationship does exist. Dan nggak sedikit dari teman-teman saya yang terjebak dalam hubungan seperti ini. Bertanya-tanya, “What are we?”, atau sebaliknya, berdoa jangan sampai pertanyaan itu muncul dari partner hubungan ini.

I can’t tell you why modern dating is now a thing. But i can speculate.

1. Dating apps dan social media menciptakan ilusi bahwa kita memiliki banyak pilihan dan membuat kita ingin mencoba sebanyak-banyaknya. Wajah-wajah di instagram, twitter, facebook, terlihat seperti kumpulan produk di dalam katalog. Orang-orang yang secara fisik menarik perhatian kita dan membuat penasaran. Seakan “pacaran” menjadi sebuah konsep hubungan yang terdegradasi. Bahkan di saat seseorang sudah memiliki pacar atau menikah, sedikit fling di sana dan di sini menjadi terasa wajar.

Interaksi di social media membuat kita lupa melihat manusia sebagai individu yang perlu dihargai, individu yang memiliki perasaan dan bisa terluka.

2. Sebagian dari kita sudah lelah dengan dongeng-dongeng a la Disney tentang jodoh, atau cinta sejati, atau apa lah itu. Sehingga apa yang biasa kita sebut dengan cinta, tergerus oleh perasaan sekedar butuh sandaran emosional dan pelepas syahwat. Kita tidak tertarik pada tanggung jawab dalam komitmen; menjaga, merawat, berbagi, mendengar. Buat apa melakukan semua itu jika kita bisa mendapatkan kebutuhan utama tanpa memberi investasi apapun terhadap orang yang menjadi pengisi kebutuhan ini?

3. Kemungkinan ke tiga, mungkin karena memang kita udah nggak percaya lagi sama yang namanya cinta? Kita terlalu sering melihat pasangan suami istri yang selingkuh, hubungan pacaran yang kandas dengan begitu mudahnya despite investasi waktu dan perasaan yang sudah diberikan bertahun-tahun. Kita belajar bahwa nggak ada satupun manusia yang bisa dipercaya. Kemudian kita terjebak pada this s0 called modern dating, dengan keyakinan bahwa tanpa komitmen apapun, mungkin rasanya nggak akan sesakit itu ketika ditinggalkan.

4. Seberapapun kejamnya alasan ini terdengar, kadang seseorang memilih berada di dalam hubungan seperti modern dating, karena pasangannya nggak layak dijadikan “pacar”. Kita ingin merasa disayang, merasakan afeksi, tanpa harus menutup kemungkinan untuk bertemu “jodoh” kita kapanpun. Kasarnya, “You’re just not good enough to be my girlfriend, but i need you to take care of my feelings and needs.” Sampai kemudian akhirnya dia menemukan orang yang dia mau, dan dia bisa pergi begitu aja karena kalian toh bukan apa-apa.

5. Dan kemudian ada alasan bodoh ini. Orang-orang yang nggak suka modern dating, namun terlanjur terjebak di dalamnya. Kalian menyukai pasangan kalian, namun galau sendiri karena dia nggak memberikan komitmen apapun, tidak mengakui kalian sebagai pasangan, tapi memperlakukan kalian sebagai pacar. Dia menghindari pertanyaan, “What are we?”, kalau bukan sekalian ngomong, “We’re nothing and i want to keep it that way.”

Lalu akhirnya kalian hanya bisa diam, mencoba menikmati hubungan nggak jelas ini, karena takut kalau bertanya malah akan kehilangan dia. Diam-diam berharap suatu saat dia memutuskan bahwa dia sayang sama kalian, dan akhirnya kata C dan request untuk naik tingkat jadi P diucapkan. Ended up kecewa karena hal itu nggak pernah terjadi.

Modern dating bukan hal baru juga. Dari dulu kita punya yang namanya TTM dan HTS, menurut saya nggak ada bedanya dengan modern dating. It’s totally ok kalau hubungan kayak gini dijalani oleh pasangan yang memiliki tujuan sama. Yang fucked up itu kalau salah satu pihak nggak being real dan upfront tentang hal yang dia mau, malah mislead pasangannya kemudian tiba-tiba bilang “We’re nothing.” setelah melakukan kegiatan ngedate, midnight calls, kissing, holding hands, etc.

Ditambah dengan adanya istilah “baper” (penemu kata baper kayaknya layak disundut pake piso daging).

Saat lo mulai merasa sayang, cemburu, insecure dll, dengan seenaknya lo dicap dengan kata “baper”, seakan memiliki perasaan adalah sebuah ketololan yang memalukan.

First of all, people do have feelings. If someone can’t deal with your feelings, it’s not your fault. It’s his/her fault for being an ultimate asshole by not respecting your feelings.

Despite betapa menyebalkannya modern dating, dan betapa kacaunya perasaan lo saat terjebak di dalamnya, lo harus sadar satu hal penting.

Lo selalu punya pilihan.

Lo bisa stay di situ dan nikmatin, stay sambil galau dan ngarep, atau pergi gitu aja. Lo nggak perlu terjebak di dalamnya. Lo ngerasa yang lo punya itu nyata, lo juga sayang ama dia, tapi lo merasa kayak berjalan di atas es tipis. Lo takut salah ngomong, lo takut kehilangan dia karena toh kalian bukan pacaran, dia bisa pergi gitu aja. Believe me. It doesn’t matter in the end. Emang kenapa juga kalau nggak ketemu dia lagi? Hidup lo nggak jadi susah, kok. Kalo sedih, palingan sedihnya juga sebentar doang.

Do never afraid of losing what’s never been yours.

Apa Yang Terjadi Setelah Diselingkuhi?

WARNING: Postingan panjang.

Ketika kamu diselingkuhi kemudian berakhir putus, apa yang kamu asumsikan akan terjadi selanjutnya? Biasanya sih, ada empat skenario

  1. Jatuh cinta sama orang lain kemudian pacaran lagi dan kali ini lebih bahagia sehingga kamu nggak ingat lagi sama mantan dan selingkuhannya.
  2. Bertemu seseorang yang menyelamatkan kamu dari keterpurukan, kemudian akhirnya kalian menikah. Walaupun kalian masih terluka karena perselingkuhan, tapi pasangan kamu menyadarkanmu bahwa ada cinta yang tulus buatmu.
  3. Mantan pacar akhirnya menyadari kalau pasangan selingkuhannya hanya sampah, berakhir tidak bahagia. Kamu tertawa penuh kemenangan.
  4. Mantan pacar nangis-nangis minta balikkan. Kamu tolak karena kamu udah nggak sayang dia lagi. Mantan berakhir nggak bisa move on dari kamu sama sekali.

Empat skenario idaman tentu saja. Tapi sayangnya, hidup nggak selalu berjalan seperti itu.

Saya memang sudah melihat orang-orang yang setelah diselingkuhi, mantannya malah nggak move on dan terus berjuang ngejar mereka. Atau yang akhirnya menikah, punya anak, hidup mapan, sementara mantannya hidupnya gitu-gitu aja kalau nggak bisa dibilang menyedihkan.

Tapi saya juga melihat mereka yang mantannya hidup bahagia dengan selingkuhannya sementara yang diselingkuhin masih susah payah berjuang untuk move on dan membangun kepercayaan diri. Atau yang trauma dan nggak berani pacaran lagi. Atau yang secara terburu-buru menikah karena berharap pernikahan bisa menyelamatkan mereka, berakhir lebih menderita karena terjebak seumur hidup dengan orang yang salah.

Saya sendiri gimana?

Well. Let’s see.

Saya berakhir dengan gonta ganti pacar, hidup dengan depresi, punya trust issue, dan sudah nggak percaya konsep cinta dan jodoh. While, Mr.X, mantan ultimate yang menyelingkuhi saya, hidup bahagia dengan pekerjaan impian, istri impian, dan memiliki anak yang manis.

Belakangan saya menyadari, saya juga memiliki – entah apa tapi sebut saja – trauma. Dengan sedikit trigger, saya bisa kembali galau dan depresif sesekali. Ada hari-hari di mana saya galau nggak jelas karena teringat sesuatu yang berhubungan dengan apa yang pernah terjadi pada saya.

Misalnya, melihat postingan galau di sosmed dari wanita yang diselingkuhi. Atau saat pasangan saya menunjukkan gelagat aneh dengan cewek lain, padahal mah sebenernya nggak ada apa-apa. Atau mendengar lagu yang mengingatkan saya sama Mr. X. Dan yang pasti, ketika saya merasa diselingkuhi.

Nggak ada yang namanya pangeran berkuda putih yang datang dan menyelamatkan saya. Atau mantan mencari saya sambil menangis dan mengatakan pada saya ia menyesal kehilangan saya. Atau bertemu laki-laki yang benar-benar bisa saya percaya.

Setelah gonta-ganti pacar, hubungan saya yang paling serius bisa dikatakan dengan mantan terakhir saya. Kami (tepatnya dia) sudah merencanakan pernikahan, orang tua sudah bertemu, saya juga sudah sangat dekat dengan keluarganya.

Namun. Mungkin karena saat itu saya masih depresi dan ketakutan… Ketika kata menikah keluar dari mulut mantan saya (saat kami masih berhubungan), yang saya rasakan bukan bahagia, melainkan ketakutan. Saya dengan trust issue dan ketakutan saya pada komitmen.

Ketika saya curhat sama teman saya, yang melihat dengan mata kepalanya sendiri gimana kondisi saya dari awal sampai sekarang, ia berkata, “Lo sadar gak, sih? Tiap lo pacaran dan cowok lo ngomongin nikah, lo pasti freaked out dan langsung kepikiran pengen putus?”

 

Saya masih hidup dalam ketakutan. Despite in general saya punya hidup yang bahagia; pekerjaan dan penghasilan yang layak, teman dan sahabat yang seru, mantan yang masih perhatian dan mengelus-elus ego saya untuk merasa dicintai, memiliki partner ngedate yang membuat saya tidak merasa dikekang, orang tua yang perhatian – kasarnya, saya memiliki semua yang saya butuhkan.

Bahkan, kehidupan saya kini jauh lebih menarik dan penuh petualangan.

Tapi ada jenis-jenis luka yang nggak akan sembuh.

Ada survivor yang kayak saya, struggling sendirian dan nggak bertemu dengan ksatria berkuda putih yang mencintai saya tanpa syarat dan setia. Yang masih mengurung diri di kamar ketika kenangan-kenangan buruk melintas, kemudian malah jadi teringat dan merekonstruksi semua kejadian dengan mantan secara detail. Bahkan menambahkan detail-detail baru. Yang nggak peduli dengan karma dan udah menyerah sama yang namanya “cinta”. Bahkan kata itu terdengar cheesy dan menggelikan.

Ketika seseorang ngomongin soal true love ke saya, reaksi saya cuma, “Oh, lo masih percaya gitu-gituan, ya?” atau simply diem aja untuk menghormati perasaan lawan bicara saya.

Kita hidup di dunia nyata, bukan sinetron, apalagi film religi. Ketika kamu merasa disakiti, kamu menempatkan diri jadi korban. Lalu mendramatisasi hidupmu dengan meyakinkan bahwa, since, kamu orang baik dan jadi korban di sini, kamu juga akan mendapat hal-hal baik. While, Si Antagonis akan dapat karmanya suatu hari. Kamu menenggelamkan diri dalam ide bahwa tuhan ada untuk orang-orang yang disakiti, dan kamu adalah manusia kesayangan tuhan.

Dari tempat saya berdiri, hidup nggak berjalan seperti itu.

Sudah dua tahun lebih sejak saya diselingkuhi, dan walau saya sudah jauh lebih baik daripada saat itu, saya juga nggak bisa dibilang sudah 100% sembuh. Saya nggak bisa bilang tuhan sudah melunasi kesedihan saya, dan membayar karma mantan saya. The thing is, saya nggak percaya karma. Dan karena saya nggak punya perasaan apa-apa sama mantan, saya nggak peduli dia dapet karma atau bahagia. Hal itu nggak ada pengaruhnya sama saya.

Yang ingin saya sampaikan adalah, hidup nggak berjalan kayak sinetron. Manusia nggak terbagi jadi antagonis dan protagonis. Tuhan nggak punya anak kesayangan. Dan semua itu berjalan gitu aja, bukan karena kamu spesial atau justru dibenci tuhan. Dan hanya karena kamu merasa menjadi korban, hidup nggak bakal jadi lebih istimewa buatmu.

Gimana hidupmu setelah diselingkuhi, tidak ditentukan dari posisimu sebagai korban. Kebahagiaan itu kita yang bikin. Lo kerja yang bener, cari duit, beli baju baru, dandan, keluar rumah dan bertemu teman-teman, sisihkan waktu untuk hobi, hati-hati milih pasangan. Selama lo nggak apes kena depresi, lo bisa milih untuk bahagia. Lo bisa milih untuk melupakan masa lalu dan mantan, maafin mereka, dan nikmatin hidup lo.

Walau nggak ada cowok ganteng baik hati yang datang menyelamatkan kamu, atau mantan kamu nggak tiba-tiba muncul dan nangis minta maaf, nggak berarti hidupmu fucked up. Shit happens. As much as good thing happens. Nggak berarti kamu sial permanen kayak Suzu Aizawa di tv serial Rindu-Rindu Aizawa (#anak90an).

Saya tahu banget, semua orang yang diselingkuhin pasti berharap sama yang namanya karma baik. Berharap kesedihan kalian terbayar. Tapi jangan terlalu berharap sama hal-hal abstrak kayak gitu. Gimana hidup kalian setelah diselingkuhi itu kalian sendiri yang milih.

Mau move on dan fokus sama hal-hal yang ada di depan mata, atau terus menatap ke belakang sambil mikir kapan semua karma dibayar?

Kalian yang milih.

5 Cara Mempertahankan Pasangan yang Paling Nggak Banget

Kadang, ada masanya, pasangan kamu udah nggak mau ngejalanin hubungan kalian lagi. Simply karena bosan, gak sayang lagi, atau nggak tahan dengan kamu, atau ketemu gebetan lain yang lebih menarik. Dan seringnya kita nggak mau ngelepas gitu aja. Ya wajar, kita punya investasi perasaan, dan nggak enak banget rasanya jadi orang yang ditinggal.

Pedih, Jendral.

Banyak cara orang lakukan untuk mempertahankan hubungannya. Mulai dari ngemis-ngemis, janji mau berubah jadi lebih baik, ngajak ngobrol cari solusi danlainsebagaibagainya. Bebas sih, mau gimana caranya untuk memperjuangkan orang yang kamu sayang, hubungan yang udah kalian bangun. Wajar.

Tapi, jangan sampai melakukan salah satu dari 5 hal di bawah ini…

1.Mengancam bunuh diri.

Mohon maaf sebelumnya.

LO CAPER BANGET, ANJIS!

*uhuk*

First of all, kalian harus ngerti. Cinta itu nggak bisa dipaksain. Kalian ngancem bunuh diri, kemudian pasangan kalian nggak jadi ninggalin karena takut. Tapi kalian tahu kan, itu bukan sayang, bukan cinta? Itu namanya KA-SIH-AN.

Yah, kalau menurut kalian “Gak apa-apa dia gak cinta gue, yang penting dia gak boleh ninggalin gue!”, saya cuma bisa bilang… kalian adalah jenis manusia paling egois di dunia. Kalian nggak mikirin perasaan pasangan, gak mikirin kalau dia stress dan tertekan karena ulah kalian, gak mau peduli kalau pasangan kalian gak bahagia. Dengan ego sebesar itu, berani-beraninya kalian ngaku sayang.

2.Nyakitin diri sendiri.

Lo caper banget, anjis.

Percayalah. Yang ada pasangan kalian makin ilfil pas dikirimin foto tangan kalian dengan bekas sayatan silet, plus caption, “Kamu yang bikin aku jadi begini 😥 ”

3.Ngemis-ngemis

Saya percaya banget dengan kutipan di bawah ini.

best-love-quotes-if-you-have-to-beg-someone-to-be-in-your-life-they-dont-belong-there

Karena saya tahu rasanya menyayangi seseorang, dia nggak perlu ngemis-ngemis juga saya bakal bertahan di sampingnya. Mau dia nyebelin, keras kepala, cuek, saya nggak ninggalin. Karena saya sayang. Dia nggak perlu nangis-nangis minta jangan ditinggal.

Tapi kalau misalnya udah nggak sayang, mau dia beliin pesawat terbang juga, tetep aja nggak sayang.

Lagian, lebih menarik orang yang bilang, “Aku gak mau putus. How can we fix this?” daripada, “Please jangan tinggalin aku. Please. Tanpa kamu aku cuma bekas bungkus bumbu indomi.”

4.Dari pacar jadi satpam

Saking nggak mau kehilangan banget, trus kamu berubah jadi pacar rasa satpam. Tiap ketemu, cek handphone, cek email, sms, DM di twitter, facebook, sampe ngecek tititnya masih ada di tempatnya atau nggak. Tiap jam, ngecek lokasi pacar, di mana, sama siapa, pake baju apa, bawa duit berapa, lagu kesukaannya apa, trus cita-cita, hobi, sama kata mutiara. Minta send location, foto lokasi, nomor hape temen-temennya, fotokopi akte kelahiran, ari-ari waktu baru lahir, sebelah ginjalnya. Abeessss…..

Kalo orang udah nggak sayang, mau dikontrol kayak gimana juga, isi hatinya mah nggak akan berubah.

5.Alih profesi jadi tukang teror

Mention cewek-cewek yang suka caper sama si pacar di twitter, ngamuk-ngamuk, nyuruh jangan gangguin pacar.

Nanya no hape cewek-cewek yang ada di phonebook pacar. Ditelponin satu-satu.

Saya pernah ditelepon sama pacarnya sahabat, pacarnya mantan, yang marah-marah sama saya. Nanya saya siapa, hubungannya apa. Yang ada, abis itu saya hubungin teman saya dan bilang, “Bisa didik cewek lo dikit, gak?”

Lo (cewek maupun cowok) kalo kayak gitu, cuma bikin malu diri lo dan pasangan lo. Sebagai orang yang pernah diteror begitu, saya malah jadinya ngetawain keduanya. Si ceweknya maupun cowoknya. Kadang malah iseng sengaja manas-manasin kalo ceweknya masih ribet.

Sekarang, kalo pacar lo emang gatel, lo mau neror orang, mo jadi kayak anjing herder yang gonggongin tiap orang yang deketin pasangan lo, gak akan ngaruh. Kalau pasangan lo respek sama lo, sayang sama lo, dia gak akan ngejatuhin lo di depan orang. Dia gak akan gatel sama orang lain.

Dont-Force-Pieces-That-Dont-Fit-1

Trus kalo kalian nanya, “Lah, Le… kalo gitu cara mempertahankan pasangan yang bener, gimana?”

Saya nggak bisa jawab, karena saya selalu percaya, kita cukup berusaha jadi pasangan yang terbaik aja. Kalau misalnya kita udah berusaha setia, ngasih perhatian, menahan marah, kompromi, dan ngertiin pasangan tapi masih nggak cukup buat dia… ya udah. Biarin aja dia pergi. Mungkin emang kita simply gak diciptakan untuk satu sama lain. Nanti pasti bakal nemu orang yang bisa nerima kekurangan kita 🙂

Kalo saya lihat ada cewek genit-genit sama pasangan saya, saya cuma nanya sama pasangan “Ni cewek siapa? Dan apa hubungan kalian?” Abis itu saya diem aja dan merhatiin, mau sampe mana nih. Saya nggak akan repot-repot ngelarang atau ngelabrak ceweknya. Bukan karena nggak sayang, tapi karena saya tahu, kalau dia sayang sama saya, dia gak akan kegatelan sama cewek lain. Karena saya nggak akan pernah kayak gitu sama dia.

Saya lebih takut buang-buang waktu dengan orang yang salah. Patah hati kan sakitnya cuma sebentar. Menghabiskan sisa umur dengan orang yang salah, sakitnya seumur hidup.

Kalau misalnya ada yang punya saran untuk mempertahankan pasangan tanpa ngelakuin 5 hal di atas, silakan aja di-share. Kali-kali ada yang butuh.

Have a great weekend, all!