SMS dari Mama

“Tiara udah gede! Masa nggak boleh pulang malem??” pekik Tiara.

“Pokoknya Mama jemput kamu sekarang!” Ibu menjawab dengan tegas.

“Udah, deh! Mending gak punya Mama kalo kolot kayak gini.” Tiara memutuskan hubungan telepon mereka.

Hari ini acara ulang tahun Rini, sahabatnya di sekolah. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Ibunya sudah berisik menyuruh pulang, padahal acara baru akan selesai jam satu. Tiara kesal karena malu jika ia sampai dijemput Ibunya di depan teman-teman.

Dua jam kemudian, tepat pukul dua belas, sebuah pesan masuk ke selular Tiara.

Mama tidak bisa jemput. Mama sayang kamu. Selamat tinggal, Sayang.

Disusul pesan lain dari Ayah Tiara.

Tiara, Papa jemput sekarang. Polisi telepon, Mama sedang kritis di UGD. Jam 10 tadi Mama kecelakaan di jalan saat hendak menjemputmu.

______________

Flash Fiction ini diposting dalam rangka meramaikan Lomba Menulis Flash Fiction Blogfam

Jangan Tebang Pohon Itu!

Orang-orang menertawakan Nek Minah yang berulah ketika Djarwo hendak menebang pohon-pohon besar di pinggir jalan.

“Jangan ditebang! Ada anak kecil sedang tidur di sana.”

Tidak ada yang mau mendengarkan peringatan nenek renta itu, karena ia memang dikenal kurang waras. Sering berbicara sendiri, tertawa pada tiang listrik, tidur di jalanan.

Setelah pohon itu ditebang, tidak ada apa-apa. Hanya khayalan Nek Minah saja. Djarwo dan rekan-rekannya menggeleng kepala, mengingat betapa histerisnya Nek Minah menghalangi Djarwo tadi.

Malamnya, Djarwo didatangi oleh seorang pria yang membawa anak kecil berkepala botak, meminta pertanggungjawaban atas cedera anaknya karena jatuh dari pohon, “Kaki anak saya patah! Kamu harus tanggung jawab!”

Djarwo terdiam kaku melihat pria tersebut, makhluk hitam besar dengan rambut lebat menutupi wajahnya. Tersembul taring berwarna kekuningan sebesar jari telunjuk dari mulutnya.

______________

Flash Fiction ini diposting dalam rangka meramaikan Lomba Menulis Flash Fiction Blogfam