Mengapa Sebaiknya Kita Tidak Diam?

Beberapa minggu belakangan ini, ada hal yang mengganggu saya.

Awal mula saya menulis tentang depresi, mungkin sekitar tahun 2014, dan saat itu saya belum sadar bahwa saya mengidap depresi, dan apakah sebenarnya depresi itu. Tahun 2014, saya mengalami relaps, dan menurut psikolog saya belakangan pada tahun 2015 akhir, apa yang saya alami saat itu adalah MDD, atau Major Depressive Disorder.

Saat itu, saya yang belum mengerti apa yang sedang saya alami, hanya memiliki menulis di blog dan twitter untuk mengekspresikan rasa sakit tak tertahankan yang saya alami. Tentu saja bukan hanya menulis yang saya lakukan untuk berusaha menyembuhkan atau setidaknya melarikan diri dari rasa sakit. Saya mengambil sidejob yang banyak, agar bisa melarikan diri dari pikiran saya. Saya menenggelamkan diri dalam alkohol agar bisa lupa dan tidur, ikut komunitas menggambar, traveling, meditasi, tidur sembari mendengarkan soundwave, menggunakan aroma therapy, berkencan, bermain dengan teman-teman saya, olah raga, menonton film, membaca buku, semuanya saya lakukan agar merasa lebih baik.

Menulis hanyalah satu dari sekian pelarian yang saya miliki.

Saya ingat pada masa itu, saya butuh wadah untuk mewujudkan rasa sakit saya dalam bentuk kata-kata. Dan blog ini adalah wadah saya.

Loh, kenapa tidak menulis di buku harian saja? Tentu saja saya punya buku harian, yang berisi pikiran-pikiran tergelap saya. Tapi bagaimana caranya saya bisa membuat orang lain mengerti atau setidaknya tahu apa yang sedang saya alami di kepala saya jika saya tidak menulis di blog?

Tentu saja, menulis di blog ada resikonya. Nggak semua respond positif, kok. Ada teman-teman yang menertawakan tulisan saya, ada yang menjadikan saya bahan ejekan, walau ada juga yang menyemangati saya dan meminta maaf karena tidak tahu apa saja yang saya alami selama ini. Dan jika saya tidak menulis di blog saya, ada kah yang akan datang dan meraih tangan saya?

Akhirnya, setelah hampir dua tahun hidup dengan depresi yang tidak ditangani dengan benar, saya memutuskan ke psikolog. Selain itu, saya juga membaca-baca artikel tentang depresi – bukan artikel pop yang memvalidasi dan meromantisasi depresi, melainkan artikel dan tulisan blog pribadi maupun komunitas yang mengajarkan bagaimana cara melawan depresi, bagaimana cara mengerti depresi, bagaimana cara mengenali gejala depresi dan cara menanganinya.

Tulisan- tulisan ini menolong saya. Menolong saya mengenali depresi, membantu saya tidak merasa sendirian, membantu saya lebih mengerti tentang penyakit saya. Sesuatu yang awalnya saya kira tidak memiliki jalan keluar dan bersifat permanen, sesuatu yang awalnya membuat saya takut untuk terus hidup. Ternyata, depresi adalah penyakit yang cukup banyak diderita orang, pengidapnya mencapai kira-kira 300 juta orang menurut WHO.

FYI, di tahun 2014-2015, ketika saya mencoba mencari informasi tentang depresi di media online, nyaris tidak ada informasi berbahasa Indonesia. Tidak ada tips, trik, penjelasan, info akses psikolog/psikiater yang jelas, komunitas yang bisa membantu. Tidak ada. Semua itu nggak ada. Ada info nomor telepon cegah bunuh diri, yang ternyata tidak aktif. Lalu hotline bunuh diri dari Depkes, saya telepon, tidak ada yang menjawab. Bayangkan betapa putus asanya saya waktu itu. Tidak ada satupun orang, komunitas, institusi, atau apapun yang bisa saya tanya soal apa yang saya alami.

Hanya ada satu artikel blog, dari seorang perempuan yang menderita mental illness dan harus ke psikiater. Artikel itu berhenti di sang perempuan tidak melanjutkan pengobatan karena biayanya terlalu mahal. Tidak ada tips atau penjelasan apapun.

Saat itu, saya merasa sangat sendirian.

Setelah beberapa kali terapi dan mulai bergabung dengan komunitas yang fokus pada mental illness, saya memberanikan diri berbagi tentang penyakit saya secara terbuka di blog ini. Dan tidak lama setelah itu, saya mulai melihat (atau mungkin saya baru menyadari) banyak orang dan komunitas yang berbicara tentang mental illness.

Tujuan awal saya menulis tentang mental illness pada mulanya hanya agar orang lain yang seperti saya tidak merasakan apa yang saya rasakan; tidak merasa sendirian dan kebingungan, dan tahu kapan harus ke psikolog/psikiater. Ditambah lagi saya kemudian bergabung dengan komunitas yang berfokus ke mental illness dan pencegahan bunuh diri, Into The Light.

Dari Into The Light, saya belajar banyak banget, dan mata saya terbuka soal hal-hal yang dihadapi penderita mental illnes. Salah satunya adalah STIGMA. Salah satu fokus dari kegiatan Into The Light; melawan stigma terhadap penderita mental illness. Dan memang itu juga yang saya alami.

Waktu saya belum mengerti bahwa saya mengidap depresi, saya melakukan banyak hal di luar nalar; abuse alkohol, oversharing di internet, dan ngetwit tanpa henti. Kenapa? Simply karena saya nggak bisa mengontrol diri saya dan pikiran saya. Pikiran saya jalan terus, dan saya nggak mungkin nelpon semua orang yang saya kenal selama 24 jam, although, i did call people every single day, to talk about what was going on in my head. Nangis-nangis 2 jam sambil ngomongin hal yang sama berulang-ulang kayak kaset rusak. Pagi, siang, sore, malam. Tapi itu nggak cukup. In between, i tweeted, a lot. Like… A LOT.

Saya jadi bahan ketawaan, dan kadang ada juga orang-orang yang nyuruh saya diem dan berhenti ngetwit. But i couldn’t help it. Saya nggak bisa kontrol diri saya dan isi pikiran saya. That time, i needed help, but no one understood. Yang mereka lihat hanya cewek galau berlebihan yang ngetwit karena caper. Masa itu, nggak ada orang yang ngerti depresi itu apa, termasuk saya sendiri.

Saya yang sekarang, jauh berbeda dengan saya yang dulu. Bertahun-tahun kemudian saya memutuskan ke psikiater (well nggak juga, sih, niatnya ganti psikolog aja tapi saya nggak lihat gelarnya, main bikin janji, tau-tau psikiater). Dan saya bersyukur sudah memutuskan ke psikiater. Apa yang tidak bisa dibantu oleh psikolog saya, ternyata bisa dibantu oleh psikiater. Saya jauh lebih baik.

Tapi keinginan saya untuk menulis tetap ada. Semakin saya mengenali penyakit saya, semakin saya ingin berbagi, agar orang-orang lebih mengerti, agar orang lain yang mengalami hal yang sama dengan saya, nggak merasa sendirian. Karena itu yang saya rasakan ketika akhirnya menemukan blog-blog penderita mental illness dari negara lain yang secara terbuka menjelaskan penyakitnya dan membantu mengajarkan bagaimana cara menanganinya.

Tentu saja, kadang saya menulis bukan karena itu, kadang saya menulis karena saya butuh katarsis untuk mengejawantahkan rasa sakit saya sebagai bentuk fisik yang bisa dilihat. Sebagai tulisan.

Dan mungkin… kadang merupakan permintaan pertolongan yang tidak saya sadari karena saya bingung harus cerita apa ke siapa.

Dalam menulis blog atau twit, bagi saya tantangan terbesarnya adalah stigma.

Itu lah yang akhir-akhir ini mengganggu saya. Saya semakin menyadari bahwa dengan meningkatnya awareness soal mental illness, arus stigmatisasi pun semakin kencang. Salah satu hal yang membuat saya sedih, kadang stigma itu datang dari teman sendiri, maupun dari penderita mental illness.

Kadang saya temukan komentar yang kira-kira seperti ini, “Ah, gue juga penderita mental illness, tapi gue gak se-drama elo, deh.” atau, “Gue penderita mental illness, tapi gak whining kayak lo. Gue fokus ke penyembuhan.”

Kamu punya mental illness dan bisa handle dengan baik? Then good for you.

Tapi apakah semua pengidap mental illness harus sama seperti kamu? Apakah menyuruh orang lain diam dan berpura-pura baik-baik saja bisa menyembuhkan orang lain?

Atau komentar lainnya dari teman-teman sendiri, “Daripada kamu ngetwit galau, mending kamu diem aja dan kontak temen-temen kamu.”

All i can say… Chester Bennington, Robin Williams, dan banyak orang lainnya yang memilih diam, tidak membicarakan tentang mental illnesnya secara terbuka, berakhir membunuh dirinya. Why do you try to silence people with mental illness if you’re not going to help them?

Mental illness nggak melulu soal galau kemudian curhat dan semuanya selesai.

Kadang mental illness adalah tentang keinginan aneh untuk nggak keluar kamar dan melakukan apapun selama berhari-hari, tentang tidak ingin berinteraksi dengan siapapun hingga kalian meng-uninstall whatsapp dan semua aplikasi chat, tentang duduk sendiri di sudut kamar menangis dalam gelap. Tentang tidak ingin melakukan hobi-hobi yang biasanya membuatmu senang, seperti menggambar atau berfoto. Tentang pikiran-pikiran aneh irasional di kepalamu, yang saking nggak masuk akalnya, kamu nggak berani cerita ke siapapun.

Bagaimana caranya curhat ke teman kalau kondisimu seperti itu?

Belum lagi ketika sesama penderita mental illness saling membanding-bandingkan penyakitnya. Kayak, “Gue loh, bipolar + PTSD + depresi + panu kadas kurap, pokoknya penyakit gue lebih parah dari elo, tapi gue gak cengeng kayak lo.”

Saya sih, kalo ada yang ngomong begitu, bawaannya mikir, lah situ emang gak sakit kali? Kok ya bisa ngaku sakit tapi nggak empati? You’ve been there, but you can’t understand how hurt it is? How come?

Banyak cara dilakukan oleh orang-orang untuk merendahkan penderita mental illness dengan stigma. Dan kadang, dari pengalaman saya, stigma itu nggak cuma diberikan oleh orang normal, sesama penderita mental illness pun bisa loh saling discourage. Itu menyedihkan.

Buat saya nggak ada bedanya dengan perempuan yang berkomentar kepada sesama perempuan korban pelecehan seksual, “Saya juga pernah dilecehkan oleh laki-laki, tapi saya lawan. Mbak kenapa diem aja? Harusnya lawan juga, dong.”

Buat apa glorifikasi diri sendiri sebagai survivor mental illness kalau tujuannya adalah untuk menjatuhkan penderita mental illness lainnya?

Ada 2-3 orang dalam linimasa twitter saya, yang kerap melakukan shitposting soal mental illness, yang berteriak betapa mereka ingin mati saja, dan betapa sakitnya mereka. Saya nggak bisa nggak melihat itu sebagai permintaan tolong. Banyak yang bilang mereka caper. Apakah iya mereka caper? Well tentu saja. Karena mungkin hanya cara itu yang mereka tahu untuk menunjukkan ke orang lain bahwa mereka butuh pertolongan. Who am i to judge and to silence them?

Ada juga orang-orang dengan diagnosa bipolar dan mental illness lainnya yang nggak pernah posting apa-apa di socmed selain postingan yang hepi-hepi, tapi sesekali akan menelpon saya sambil menangis menjerit-jerit mengatakan mereka nggak sanggup lagi. Yang ketakutan bilang nggak boleh ada satupun kenalan mereka yang tahu penyakit mereka entah karena takut dipecat, atau takut diketawain bisa punya mental illness dan bereaksi berlebihan hanya karena masalah-masalah kecil.

Are we going to be that person who discourage them to express themselves?

I refuse to silence people with mental illness. I refuse to judge how they express their pain. And i refuse to stop writing just because some people in my life told me to do so. Other people’s writings have helped me through my darkest times. Dan ada pula orang-orang yang reach out ke saya via email, blog, DM di instagram dan twitter, yang menyatakan tulisan saya telah menolong mereka. I just don’t post it.

Saya nggak posting email dan DM yang saya terima karena saya nggak mau encourage orang untuk curhat sama saya, since i am not compatible for that. Dan saya juga nggak mau glorifikasi diri saya dan tulisan saya seakan apa yang saya lakukan ini istimewa. But at least i know… tulisan saya ternyata membuat beberapa orang merasa terbantu dan termotivasi. Membuat orang-orang seperti saya nggak merasa sendirian. Dan seenggaknya, membuat beberapa teman saya lebih sedikit mengerti tentang apa yang saya rasakan dan pikirkan.

Tentu, dibandingkan tahun lalu, tulisan saya jauh lebih sedikit karena saya memiliki banyak coping mechanism lain dan saya sendiri merasa jauh lebih baik. Dan kadang saya hanya menulis karena saya sedang mengalami fase yang buruk sehingga butuh katarsis.

Tapi apakah saya harus berhenti menulis? Apakah orang-orang seperti saya harus berhenti mengekspresikan dirinya sendiri hanya agar tidak dihakimi dan dicemooh orang lain?

Jalan menuju kewarasan memang berat, tapi saya rasa, selama kita nggak abuse orang lain, alkohol, apalagi narkoba untuk coping mechanism, seharusnya kita tidak perlu takut dan malu.

Tulis saja dulu. Lawan stigma dengan kejujuran dan niat baik. Selama kita nggak menjelek-jelekkan atau menghina orang lain, kenapa harus takut dan malu? Kalau tidak ada orang yang menulis tentang mental illness, saya nggak akan pernah belajar apa itu depresi dan maju melakukan sesuatu yang real untuk menyembuhkan penyakit saya. Kalau saya tidak menemukan blog orang-orang yang berjuang dengan mental illness dan jujur tentang kegagalan dan ketakutan mereka, saya nggak akan tahu bahwa saya tidak sendirian. Saya akan minder dengan orang-orang yang mengaku bisa melakukan hal-hal hebat disamping mengidap mental illness. Saya akan putus asa melihat orang-orang yang mengglorifikasi keberhasilan mereka melawan mental illness tanpa menjelaskan support dan privillege apa saja yang mereka punya dan perjuangan panjang yang mereka lalui.

Bagaimana dengan stigma? Diterima saja. Sesama penderita mental illness saja bisa melempar stigma, apalagi orang awam yang ngaku “dulu saya depresi, tapi sembuh setelah mendekatkan diri ke tuhan” tanpa mendapat diagnosa resmi dari professional. Bahkan temen deket sendiri pun bisa mencap kita dengan stigma.

Tapi, mungkin dengan menulis, sedikitnya ada 1 orang yang membaca dan dari tidak mengerti jadi mengerti. Dari skeptis menjadi simpati. Atau ada 1 penderita mental illness yang kesepian, kemudian jadi merasa tidak sendiri.

PS: Saya menolak self-diagnose yang tidak dilanjuti dengan penanganan professional. Jika kamu merasa memiliki mental illness dan tidak memiliki dana cukup untuk berobat, silakan hubungi puskesmas atau RSUD untuk penanganan dengan biaya yang lebih terjangkau. Hindari self-diagnose. Please.

Mengapa Self-Diagnose Saja Tidak Cukup?

Dengan meningkatnya awareness yang berhubungan dengan kesehatan mental, saya bisa melihat bagaimana orang-orang mengakui bahwa mereka merasa memiliki isu dengan kesehatan mental. Dari self-diagnosis berdasarkan artikel dan informasi di internet, orang berani menyatakan dirinya mengidap depresi, anxiety, bipolar, bahkan penyakit mental yang terdengar lebih rumit seperti borderline personal disorder, post-traumatic stress disorder, dysthimia, dan lainnya yang jarang kita dengar sehari-hari. Untuk melihat macam-macamnya, bisa cek link ini.

Jangan salah sangka. Self-diagnose adalah langkah awal yang baik bagi penderita. Dengan menyadari bahwa diri sendiri memiliki kondisi yang berbeda, kamu sudah memulai proses menuju kesembuhan.

Tapi, ketika kamu menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirimu, jangan berhenti di situ. Kamu harus mencari pertolongan profesional.

Kenapa hanya bersandar pada self-diagnose tidak tepat?

Kemungkinan salah diagnosa sangat besar. Jika kamu nggak pernah mengalami mental illness, kamu nggak akan mengerti gejala-gejala yang dituliskan pada artikel mental health. Jika kamu nggak pernah dealing with the real illness, kamu biasanya akan meng-simpel-kan gejala-gejala tersebut agar terasa relevan dengan dirimu.

Misalnya pada artikel tentang penjelasan depresi di sini.

  • down, upset or tearful

SALAH PAHAM: Orang yang tidak pernah depresi, akan mengira ini sama saja dengan kesedihan pada umumnya. Sedih karena putus, sedih karena disakiti orang yang disayang.

YANG SEBENARNYA: Pada penderita depresi, perasaan down kamu bersifat permanen. Kamu menangis setiap hari padahal tidak ada masalah apa-apa. Dan perasaan sedih ini berlangsung sama berbulan-bulan.

  • restless, agitated or irritable

SALAH PAHAM: Mudah marah atau “sensi”. Mudah marah bisa saja bagian dari kepribadian atau kamu punya masalah dengan anger management (dan ini juga dikategorikan sebagai masalah mental, namun berbeda jauh dengan depresi) atau penyakit mental lainnya.

YANG SEBENARNYA: Merasa lelah terus menerus secara fisik dan mental, merasa semua hal di hidup ini tidak berjalan sesuai dengan yang kamu mau. Merasa semua orang membencimu, ingin menyakitimu, tidak ingin dekat-dekat denganmu. Hal sepele seperti message tidak dibalas padahal mungkin saja orang yang kamu kirimi pesan sedang sibuk, bisa membuatmu down karena mengira orang itu nggak ingin bicara denganmu.

  • guilty, worthless and down on yourself

SALAH PAHAM: Pemalu, tidak percaya diri, introvert.

YANG SEBENARNYA: Saya mudah merasa bersalah, tidak berani menghubungi teman karena takut menyusahkan mereka, takut dibenci karena keadaan emosi saya yang sedih terus. Kemudian saya menjadi benci diri sendiri karena saya merasa diri saya lemah, tidak berharga, cengeng, gendut, jelek, tidak punya kelebihan apa-apa. Dan perasaan ini permanen.

  • empty and numb

SALAH PAHAM: Kata-kata ini tidak bisa menggambarkan seberapa kuat perasaan kosong dan mati rasa yang dialami penderita depresi. Sering dikira sama dengan perasaan ignorant, tidak peduli dengan orang lain, atau tidak mau mengeluarkan emosi sehingga selalu bersikap pura-pura datar.

YANG SEBENARNYA: Contoh konkritnya adalah kamu nggak bisa menikmati makanan enak, nggak menikmati traveling ke luar negeri, tidak bisa merasakan excitement yang biasa kita miliki saat hendak pergi main, pergi jalan-jalan, mendapat hadiah, bertemu orang yang kita suka dll.

  • isolated and unable to relate to other people

SALAH PAHAM: Kamu bisa mengira ini rasanya sama dengan menjadi introvert. Senang sendirian, tidak suka bertemu orang-orang.

YANG SEBENARNYA: Merasa kesepian terus menerus. Ingin ada yang menemani, tapi kamu takut keluar rumah dan bertemu orang-orang. Saat kamu dengan teman-temanmu, kamu nggak bisa ngerti apa yang mereka bicarakan. Kamu merasa nggak nyambung. Dan kamu merasakan keinginan mendesak yang aneh untuk melarikan diri dan bersembunyi di lemari yang gelap sendirian. Padahal sebelumnya kamu nggak pernah merasakan kayak gitu.

  • finding no pleasure in life or things you usually enjoy

SALAH PAHAM: Tiba-tiba nggak mood jalan-jalan, main gitar, nonton konser, atau hal-hal yang kamu sukai karena kamu lagi bete atau galau.

YANG SEBENARNYA: Pada penderita depresi, perasaan ini bertahan lama dan berlaku terhadap banyak hal yang kami suka. Berhenti melakukan hobi yang kami suka, tidak tertarik pada seks, nggak merasa apa-apa saat jalan-jalan, melakukan kegiatan menyenangkan. Seperti nggak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa bikin kamu senang.

  • a sense of unreality

SALAH PAHAM: Bagi orang yang tidak pernah depresi, mungkin kata-kata ini doesn’t make any sense.

YANG SEBENARNYA: Saya juga susah menjelaskannya. Kira-kira begini. Kamu bangun, menghadapi kehidupanmu sehari-hari, bergerak, bekerja, berbicara, namun kamu merasa tubuhmu melakukan itu begitu saja, kamu tidak merasa terkoneksi dengan dunia ini, dengan orang-orang di sekitarmu. Muncul perasaan bahwa hal-hal di sekitarmu tidak relevan dengan dirimu. Bahwa hal-hal di sekitarmu tidak nyata dan bisa hilang begitu saja. Rasanya seperti berjalan di bawah air, semuanya buram, bergerak lambat, dan terasa tidak nyata.

  • no self-confidence or self-esteem

SALAH PAHAM: Merasa tidak percaya diri.

YANG SEBENARNYA: Merasa buruk rupa, yakin dirinya nggak berharga, tidak cocok dengan society. Merasa seperti sampah, seperti mesin rusak. Apapun pujian orang lain padamu, kamu benar-benar tidak mempercayainya. Nggak akan sedikitpun ada dalam pikiranmu bahwa kamu punya kelebihan atau sesuatu yang bisa dibanggakan. Apa yang kamu kerjakan, kamu lihat sebagai kegagalan. Kamu benci cermin karena yang kamu lihat hanya keburukan.

  • hopeless and despairing

SALAH PAHAM: Orang biasa mengira perasaan hopeless sama dengan pesimis. Atau keputusasaan sesaat akibat suatu masalah.

YANG SEBENARNYA: Bagi penderita depresi, yang kami rasakan adalah keyakinan bahwa hidup kami, kesedihan kami, nggak akan berubah. Kami akan selalu berada di lubang gelap ini, dengan penderitaan dan rasa sakit yang nggak akan hilang. Kami sangat yakin hidup kami nggak akan berubah. Nggak ada yang namanya, “semua akan indah pada waktunya”. Kami nggak mengerti kalimat itu. Tidak ada satupun kalimat motivational yang bisa membantu kamu mengubah pikiran seperti itu.

  • suicidal

SALAH PAHAM: Perasaan ingin melukai diri sendiri untuk “mengancam”/memanipulasi orang lain agar kasihan atau menuruti keinginannya.

YANG SEBENARNYA: Bagi penderita depresi, kami menyakiti diri kami karena ingin mengalihkan perasaan sedih kami ke sesuatu yang lebih real. Karena kami nggak tahu dari mana sumber rasa sakit di dada kami. Bagi yang ingin bunuh diri, biasanya simply karena ingin menghentikan rasa sakit kami dan karena kami merasa nggak ada jalan keluar.

Katanya tidak semua penderita depresi merasa suicidal. Saya sendiri merasakannya. Ketika sendirian, ketika nongkrong sama teman-teman, ketika bekerja, saya terpikir ingin bunuh diri. Saya mulai riset kecil-kecilan tentang cara bunuh diri paling efektif dan paling tidak sakit. Lalu saya mulai mengatur, barang-barang saya akan diberikan ke siapa saja. Kemudian saya mencari lokasi yang tepat untuk bunuh diri. Namun ini tidak pasti dilakukan semua orang.

Hal ini berlaku pada gejala penyakit mental lainnya. Karena saya sudah paham seberapa ekstrim gejala depresi yang sebenarnya, saya tidak mudah mengasosiakan diri saya dengan gejala penyakit lain seperti bipolar atau anxiety yang punya kecenderungan agak mirip dengan depresi. Saya sudah mengerti bahwa setiap gejala penyakit mental tidak muncul sesekali, tidak memiliki kadar “mild”, harus dialami terus menerus dalam jangka waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Karena itu, self-diagnose yang salah membuatmu merasa berganti-ganti penyakit mental. Hari ini kamu bisa mengira dirimu depresi, bulan depan kamu merasa gejalamu lebih mirip anxiety, lalu minggu depan kamu merasa memiliki gejala borderline personality disorder. Itu bahaya. Karena yang kamu lakukan adalah mencocok-cocokkan gejala secara buta. Jika self-diagnose mu berubah-ubah, ada dua kemungkinan, kamu tidak sakit sama sekali, atau mungkin saja kamu memiliki semuanya.

Tapi, jika kamu memiliki semua gejala penyakit tersebut, kamu pasti nggak akan bisa kerja, berbicara dengan normal, menyelesaikan pekerjaan, bahkan tidak bisa melakukan hal kecil dan mudah seperti mandi dan makan setiap hari.

Manusia itu punya kecenderungan menjadi conformist. Misalnya saat membaca artikel kepribadian tentang zodiak, atau komik kepribadian berdasarkan golongan darah.

Banyak yang mengucapkan, “Ih, ini gue banget.”

Dan tanpa kalian sadari, kadang kalian memaksakan sifat-sifat tersebut agar pas dengan kepribadian kalian karena kalian ingin konsisten dengan label yang kalian buat sendiri.

Hal yang sama bisa saja kalian lakukan saat kalian melabeli diri dengan penyakit mental tertentu. Kalian “memaksakan” memiliki gejala tersebut, kemudian mencari validasi dari orang di sekitar kalian dengan terus menerus menunjukkan gejala yang kalian paksakan itu.

Sementara, bagi orang yang memang menderita penyakit mental, self-diagnose tanpa professional treatment, justru jauh lebih berbahaya. Kamu bisa salah diagnosa, dan melakukan pengobatan sendiri yang salah juga. Saya bisa bilang begini karena saya termasuk dalam golongan ini.

Saat saya yakin saya menderita depresi, dengan bodohnya saya mencari sendiri tips-tips menyembuhkan diri dari internet. Ada yang bilang travelling, olah raga, piknik, bertemu teman-teman, memelihara binatang, yoga, dll. Yang terjadi adalah saya memboroskan uang, dan terjebak dalam depresi selama 2 tahun. Saya sampai di titik mengira apa yang saya rasakan bukan depresi, tapi bagian dari kepribadian. Dan saya tidak mengerti bahwa keinginan bunuh diri bisa terasa begitu mendesak, seperti sesuatu yang harus banget dilakukan.

Ketika saya ke psikolog dan akhirnya mengerti seperti apa rasanya menjadi normal, saya baru merasa betapa jauhnya perbedaan antara menjadi sekedar sedih dan jatuh ke dalam depresi. Saya baru mengerti bagaimana rasanya menyendiri di kamar tanpa merasa kesepian. Saya baru mengerti bagaimana rasanya menikmati makanan saya dan kembali menyukai hobi saya yaitu menggambar.

Karena itu, jangan pernah berhenti di self-diagnose.

Jika kalian merasa “sakit”, cari bantuan profesional. Cari psikolog atau psikiater berlisensi. Jangan curhat ke teman psikolog S1 dan minta dia nebak-nebak buah manggis kamu sakit apa. Kalau ke psikiater, kalian bisa pakai BPJS loh sekarang. Jangan menilai ke psikiater = kamu orang gila.

Dan yang pasti, tolong diingat. Kamu nggak sendirian.

Side notes: Saya menulis artikel ini dari sudut pandang penderita sehingga sangat mungkin ada koreksi di depannya karena saya bukan pakar kesehatan mental. Tulisan seperti ini banyak saya post di blog saya untuk membantu meningkatkan kesadaran terhadap mental health issue.