Psikolog atau Psikiater?

Salah satu pertanyaan yang muncul pertama kali ketika saya sudah meyakini diri saya menderita depresi, adalah apakah saya harus mencari pertolongan ke psikolog, atau psikiater?

Ini mungkin salah satu pertanyaan awal yang paling esensial untuk orang yang merasa dirinya sakit mental.

Saran saya, ada baiknya sebelum memutuskan mencari bantuan professional, kenali dulu gejalamu dan coba lakukan tes/screening singkat.

Continue reading Psikolog atau Psikiater?

4 Salah Paham tentang Depresi

Hampir setahun lalu, saat saya mulai membahas tentang depresi sedikit demi sedikit, saya belum menemukan banyak artikel berbahasa Indonesia yang membahas depresi secara personal, bukan secara klinis. Terutama di twitter.

Ketika saya dalam fase depresi major, saya banyak googling soal gejala dan cara penyembuhannya. Itupun saya masih belum yakin 100% bahwa saya memang mengidap depresi. Artikel berbahasa Indonesia kebanyakan membahas depresi secara klinis, atau menceritakan keadaan pasien. Ada juga artikel tanya jawab konsultasi yang diinisiasi pakar-pakar psikolog. Namun banyak yang tidak update. Saya mengirim email, tidak dibalas. Postingan pun tidak di-update sejak lama.

Jika ada postingan blog, kebanyakan adalah orang-orang yang sedang bersedih dan mengaku depresi. Saya mencocokkan gejala saya dengan mereka, kok beda jauh banget. Kenapa mereka nggak kayak saya? Akhirnya saya memutuskan mencari artikel berbahasa Inggris saja, dan saya menemukan banyak sekali blog personal yang membahas depresi mereka secara detail. Begitu juga tips dan trik dari mereka untuk melawan depresi. Yang sialnya saya ikuti tanpa ke dokter dahulu.

Akhirnya saya hidup dalam depresi nyaris selama 2 tahun. 2 tahun yang melelahkan. Sampai akhirnya saya memutuskan ke psikolog.

Kini depresi sudah biasa dibahas di socmed. Mungkin karena ada beberapa komunitas yang fokus pada kesehatan jiwa yang mulai aktif. Padahal setahun lalu saya tidak menemukan mereka di halaman google. God bless them!

Tapi seiring banyaknya orang yang membahas soal depresi, saya juga mendapati banyak yang masih salah kaprah soal penyakit mental yang satu ini.

Berikut ini beberapa salah paham soal depresi. Dan mohon diingat. Saya membahasnya dalam kapasitas sebagai penderita depresi, bukan sebagai ahli.

1. Depresi = Sedih Berkepanjangan

Sedih dan depresi itu beda. Beda jauh. Pada depresi, ada gejala-gejala lain yang mengikuti selain galau dan murung; perubahan nafsu makan, masalah tidur, gelisah, suicidal, kecenderungan mengasingkan diri, abusing alkohol, perubahan berat badan yang drastis, rasa sakit pada tubuh, dan masih banyak lagi. Dan depresi tidak selalu datang karena ada masalah. Tolong diingat. Kadang depresi datang begitu saja seperti maling, kemudian mencuri semangat hidup kami. Ketika depresi datang, justru kami menjadi sedih akan semua hal. Atau malah sebaliknya, kami nggak bisa merasakan apapun. Makanan nggak ada rasanya, hobi kami jadi tidak menarik, kami melupakan hal-hal yang kami sukai, bahkan kehilangan hasrat seksual.

2. Curhat dan Yoga Bisa Menyembuhkan Depresi

Curhat memang bisa membantu melawan depresi. Karena salah satu yang dibutuhkan pengidap depresi adalah merasa didengar dan dimengerti, melawan perasaan bahwa kami hanya sendirian di dunia ini. Yoga juga bisa membantu, bagi sebagian orang. Ada juga malah yang nggak ngefek pake yoga. Karena setiap orang punya pengalihan yang berbeda. Untuk saya, berenang lebih membantu daripada yoga.

Tapi kegiatan tersebut tidak dapat menyembuhkan depresi. Seperti misalnya kalau kamu sakit tyfus. Curhat, dan yoga, atau berenang itu kayak makan bubur, minum air hangat, sebatas membantu kita merasa lebih baik, nggak lebih. Hanya obat dan istirahat yang bisa benar-benar membuat kamu sembuh.

3. Orang yang Depresi Pasti Malu Mengakui Penyakitnya

Kalau kamu googling soal depresi, kamu akan menemukan banyak banget pengidap depresi yang secara terbuka membahas penyakit mereka.

Kenapa? Mungkin karena alasan yang sama dengan saya.

Ketika saya depresi, saya makin down menyadari bahwa hampir tidak ada orang yang mengerti kondisi saya. Saya sampai nyaris putus asa mencari tempat berbagi atau minimal informasi yang bisa membantu saya. Membaca blog para pengidap depresi merupakan semacam oase untuk saya. Saya merasa ada yang mengerti saya. Saya merasa terbantu dengan artikel-artikel mereka, termasuk tips yang mereka bagi.

Karena itu, saya terbuka perihal depresi saya, untuk berbagi dengan orang-orang yang merasakan apa yang saya rasakan. Saya tidak ingin orang lain merasakan apa yang saya rasakan dulu. Putus asa sendirian dan merasa tidak dimengerti. Tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan tentang apa yang saya rasakan.

Di lain pihak, saya nggak pernah sharing soal ini di facebook. Karena di facebook ada saudara dan tetangga. Ya, saya sendiri masih takut pada stigma dari orang-orang tertentu. Saya nggak ingin tetangga atau keluarga besar saya tahu. Karena saya takut dianggap “miring”. Saya takut orang lain juga memandang orang tua saya sebagai orang tua yang tak becus. Saya juga takut jika suatu saat saya pindah kerja, perusahaan baru nanti tidak bisa menerima kondisi saya.

Jadi jawabannya antara ya dan tidak. Untuk di beberapa kondisi, kami tidak malu mengakui mengidap depresi. Tapi mungkin di lingkungan tertentu, kami malah takut banget orang lain tahu.

4. Orang Depresi Selalu Terlihat Emo dan Galau

Seperti yang saya bilang di postingan sebelum ini, kenyataannya pengidap depresi justru sering terlihat aktif dan ceria. Tapiiii… kalau ini depresi major, memang nggak selalu terlihat seperti itu. Bisa aja dia nggak mau keluar kamar 3 bulan, atau terus-terusan membicarakan bunuh diri, atau mengasingkan diri, menangis terus-terusan, atau mabuk-mabukkan tanpa kontrol selama berbulan-bulan. Tapi pada intinya, jangan pernah termakan dengan akting-akting di televisi. Depresi lebih rumit daripada itu.

Pengidap depresi justru pejuang, kami nggak mau terjebak di dalam kondisi seperti ini terus menerus dengan whining, fokus membahas kesedihan kami, apalagi minta dikasihani. Memang sesekali kami drop dan murung. Tapi itu kami lakukan bukan dengan sengaja, bukan karena kami menikmati kesedihan kami. Kami simply kehilangan kemampuan untuk mengontrol pikiran-pikiran negatif atau mengalihkan ke hal lain. Apa yang biasanya berhasil bikin tenang, bisa jadi tidak berefek apapun, dan itu malah bikin kami tambah “down”.

Saya sadar, orang yang nggak pernah depresi nggak akan bisa mengerti kayak apa rasanya. Tapi karena itu lah saya menulis artikel kayak gini. Biar semakin banyak orang yang mengerti, semakin banyak yang aware.

Semoga mereka yang memiliki teman yang sedang depresi, bisa lebih mengerti kondisi pengidap depresi. Tidak menghakimi apalagi mentertawakan (saya soalnya sempat diketawain dan dijadiin bahan ejekan oleh teman-teman saya sendiri).

Dan saat ada seseorang yang nggak sadar dirinya depresi kemudian mencari jawaban di internet, mudah-mudahan dia nyasar ke blog ini, kemudian mengerti kalau dia nggak sendirian.

Piknik BUKAN Obat Depresi

Salah satu musuh terbesar depresi adalah stigma.

Sebelum didiagnosa oleh terapis, saya memang sudah memiliki dugaan bahwa saya mengidap depresi. Namun saat itu dugaan saya termakan oleh stigma negatif terhadap depresi.

Dulu, bagi teman-teman saya, saya aneh. Kesedihan dan kegelisahan saya diterjemahkan sebagai “lebay” dan “drama”. Dan saya percaya itu. Saya percaya bahwa saya lebay dan drama.

Dulu, bagi saya, teman-teman saya yang justru aneh. Saya mengira orang-orang hanya pintar dalam menyembunyikan kesedihan dan beban pikirannya. Saya yakin semua orang seperti saya, menangis sendirian di malam hari, overthinking di siang hari, melamun jika tidak ada yang memperhatikan. Mereka hanya lebih pintar dalam menyembunyikannya.

Sama seperti orang yang normal tidak mengerti jalan pikiran saya, saya juga nggak mengerti jalan pikiran orang normal. Mereka mengira saya lebay, saya mengira mereka jago untuk pura-pura kuat.

Hasil self-diagnose berdasarkan sebuah artikel psikologi di internet menunjukkan bahwa saya memiliki sembilan dari sembilan gejala depresi, dan memang saya merasa depresi. Tapi berkat hasil dihakimi oleh teman-teman saya sendiri, saya tidak mengacuhkan artikel tersebut. Saya cuma lebay, dan artikel psikolog tersebut cuma cucoklogi.

Stigma “lebay”, “drama”, dan “caper”, membuat saya hidup dua tahun di dalam kondisi depresi. Dan nggak ada satupun orang normal di dunia ini yang bisa mengerti gimana menderitanya hidup seperti itu. Saat kalian sendiri bahkan nggak yakin bahwa kalian depresi. Akhirnya nangis sendirian sambil mikir bego, kalau ini cuma lebay, kenapa sakitnya nyata banget?

Kesedihan dan keadaan saya yang berantakan hanya dijawab dengan, “Mungkin kamu kurang piknik.”

Dan saat itu saya percaya bahwa saya memang kurang piknik. Saya menghabiskan uang segitu banyak untuk jalan-jalan keluar kota, belanja, dan mabuk. Saya bahkan percaya bahwa saya sudah sembuh, bahwa piknik, belanja, dan curhat berhasil menyembuhkan saya.

Saya tidak menganggap serius malam-malam di mana saya menangis sendirian di kamar dan nggak bisa curhat sama siapapun karena saya nggak tahu apa penyebab saya menangis. Atau insomnia yang datang dua tiga hari setiap minggu. Atau nafsu makan yang kadang hilang berhari-hari. Atau hari-hari di mana saya ngumpet di toilet atau tangga darurat saat jam kerja hanya untuk menangis. Karena bagi saya, saya hanya lebay.

Gila aja udah ngabisin uang jutaan buat travelling, curhat dan nangis ribuan kali, masa iya saya ngasi tahu orang-orang kalau saya masih suka nangis sendirian?

Terpikir untuk ke psikolog, tapi, saya terlanjur percaya kata-kata teman-teman saya; SAYA CUMA DRAMA DAN LEBAY, SAYA HANYA PERLU PIKNIK.

Sampai akhirnya ada beberapa sahabat saya yang percaya saya depresi. Dan karena mereka lah, saya memutuskan untuk ke psikolog. Karena ada mereka yang percaya bahwa saya butuh bantuan professional. Karena ada orang-orang ini, yang nggak meremehkan kesedihan dan kegelisahan saya.

Ketika saya akhirnya memutuskan pergi ke psikolog, baru saya mengerti semuanya. Tentang depresi saya, tentang gejala dan sumber penyakit saya. Dan saya hanya butuh dua bulan untuk mengalahkan monster yang nggak bisa saya lawan selama dua tahun.

Bayangin. Penderitaan saya selama nyaris dua tahun, yang dengan sombongnya saya coba sembuhkan sendiri, dengan uang yang dihamburkan begitu saja hingga tabungan habis, ternyata bisa disembuhkan hanya dalam dua bulan. Di tangan orang yang tepat; seorang psikolog.

Stigma “lebay”, “drama”, “caper”, dan “kurang piknik”, benar-benar musuh besar depresi. Stigma ini bikin pengidap depresi membuang uang untuk hal-hal yang nggak bakal bikin sembuh. Stigma ini bikin pengidap depresi merasa nggak butuh ke psikolog.

I was this close to death. Karena saat itu saya yakin saya lebay, dan saya mikir kalau lebay merupakan bawaan saya sejak lahir, dan saya nggak kuat dengan kondisi itu. Saya sempat percaya, satu-satunya solusi untuk saya adalah bunuh diri.

Demi tuhan saya nggak bisa jelasin kenapa saya dulu berpikir seperti itu. Saya nggak tahu. Saya nggak bisa jelasin logika saya saat itu sedikitpun.

Nggak bermaksud dramatis, tapi tanpa dukungan sahabat-sahabat saya untuk ke psikolog, saya nggak akan ada di dunia ini pada detik ini. Karena pada saat itu, bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar yang terasa logis, dan saya tidak merasa takut sedikitpun untuk melakukannya.

My point, stigma negatif terhadap penderita depresi, bisa dan sangat bisa, menyebabkan kematian.

Jika ada sahabat atau teman anda yang sedih berlebihan, berat badan meningkat atau turun drastis, membicarakan hal-hal aneh seperti bunuh diri, kesepian, atau topik-topik restropektif padahal biasanya nggak begitu, performance di kantor menurun, sarankan mereka untuk ke psikolog. Jangan dipaksa. Tapi tunjukkan bahwa kalian percaya pada kesedihan mereka, dan buat mereka mengerti bahwa psikolog mungkin bisa membantu. Jika mereka nggak mau ke psikolog, biarkan, hormati hak mereka.

Please, don’t be a selfish judgmental asshole. Stop stigmatizing people who live with depressions. You have no idea the battles we need to face everyday.