Tentang Depresi dan Bunuh Diri

Postingan ini ditulis karena saya baru merasakan yang namanya ditinggal karena saya membuka diri soal depresi saya (nggak sedih, biasa aja, saya lebih takut diselingkuhin daripada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya). Yah. Stigma masih banget jadi musuh besar pengidap depresi. Ini usaha kecil saya untuk membuka mata orang awam tentang apa itu depresi.

Depresi yang tidak ditangani professional bisa menyebabkan kematian; yaitu dengan bunuh diri. Lebay, lo Le. Lebay? Yakin? Menurut WHO, perkiraan tingkat bunuh diri di Indonesia bisa mencapai 10.000 jiwa per tahun. Itu nggak sedikit.

Dulu, saya termasuk orang yang menganggap orang yang bunuh diri adalah orang yang pengecut dan egois. Nggak bisa menyelesaikan masalah, malah bunuh diri. Bikin orang-orang berduka, dan mungkin trauma.

Tapi depresi mengajarkan saya, bahwa ternyata bunuh diri memang tidak sesimpel itu.

Sekitar setahunan lalu, saat saya mengalami relaps kedua, saya yakin sekali ingin bunuh diri. Padahal masalah saya nggak berat. Karena sebenarnya penyebab saya ingin bunuh diri, bukan lah masalah yang saya hadapi saat itu.

Saat relaps tahun lalu, saya merasakan sakit yang luar biasa di dalam hati saya. Insomnia, nafsu makan hilang, tidak bisa bekerja, tidak bisa melakukan apapun. Bahkan menggambar, hal yang paling saya sukai, tidak bisa saya lakukan. Saya merasa sedih sekali, setiap hari, setiap detik.

Setiap hari, saya berjalan kaki dari kantor ke tempat tinggal saya sambil menahan tangis. Sesampainya di kamar, saya langsung jatuh berlutut sambil menangis, saya memohon-mohon, “Tuhan, tolong ambil sakit ini. Tolong. Saya nggak tahan.”

Ketika ngobrol dengan teman-teman saya dan curhat, saya merasa seperti berbicara di dalam air. Semua terasa mengambang. Suara teman-teman saya terasa seperti gema. Saya merasa sakit, sekaligus mati rasa. Susah jelasinnya, tapi gitu, deh pokoknya.

Saya merasa, apa poinnya saya hidup. Mengapa hanya karena patah hati, rasa sakitnya bisa seperti ini? Ini nggak logis. Pasti salahnya di saya. Gimana kalau saya seumur hidup seperti ini?

Lebih baik saya mati saja daripada harus menghadapi sakit seperti ini.

Tidak masuk akal, ya? Sepertinya itu pemikiran yang tolol sekali.

Depresi dan bunuh diri itu rasanya kira-kira seperti ini.

Bayangkan kamu ada di gedung berlantai 60, dan sedang terjadi kebakaran. Kamu merasa bahwa tidak ada jalan keluar untuk selamat dari api tersebut. Satu-satunya jalan yang terasa lebih baik adalah loncat dari lantai 60. “Yang penting saya tidak perlu menunggu apinya melahap saya. Saya tidak perlu merasakan panasnya api, atau sesaknya asap. Nggak ada pemadam kebakaran yang bisa menyelamatkan saya karena saya di lantai 60. Dan apinya tidak mungkin mati begitu saja.” Kamu ingin rasa sakit dan ketakutanmu berhenti, walau caranya adalah dengan mempersingkat waktu hidupmu.

Karena kondisi seperti itu, loncat dan mati terasa seperti solusi yang lebih baik. Seperti yang dilakukan korban kebakaran WTC 911 dulu. Bagi mereka, loncat jauh lebih baik daripada harus menunggu dibakar oleh api. Itu insting manusia yang wajar banget. Keputusasaan membuat lo lebih memilih jalan pintas.

Seperti itu lah yang saya, dan penderita depresi lainnya rasakan.

Pada saat itu, saya sibuk mencari cara untuk bunuh diri yang paling cepat, aman, dan kemungkinan gagalnya paling sedikit.

Saya juga mengutarakan keinginan saya bunuh diri pada orang-orang terdekat. Ada 4 orang. Dua orang marah mendengarnya, satu orang menyuruh saya ke psikolog, orang terakhir mendukung keputusan saya. Dan saya malah senang waktu didukung sama dia. Akhirnya, ada orang yang menghormati hak saya untuk bunuh diri.

Masalahnya, kemudian dia nambahin, jangan nyusahin orang untuk bunuh diri. Dia bilang, kalau loncat dari gedung, saya bisa bikin orang lain trauma. Kalau bunuh diri di kosan, kasihan anak kosan dan yang punya kosan. Karena basically saya seorang empath, saya nggak mau bikin orang lain susah dan trauma karena saya. Padahal pada titik itu saya bahkan gak peduli kalau keluarga atau teman saya sedih kalau saya bunuh diri. Karena saya yang depresi berpikir, saya nggak punya solusi, nggak punya jalan keluar.

Akhirnya saya membuat rencana mendetail. Saya akan bunuh diri di mana, dengan cara apa, dan bagaimana mengatur barang-barang peninggalan saya.

Sementara teman-teman dekat lainnya masih terus mendorong saya ke psikolog.

Akhirnya saya mikir, kayaknya kok lebih ribet bikin perencanaan bunuh diri, ya. Saya pun ke psikolog.

Di bulan pertama saya terapi, saya bisa berhenti terobsesi dengan bunuh diri. Walau sesekali masih terpikir ingin melakukannya.

Sekarang, saya sudah hampir nggak pernah berpikir untuk bunuh diri. Walaupun masih ada pikiran itu. Saat ini, dalam kondisi sudah sembuh dari depresi, saya melihat bunuh diri seperti sebuah solusi yang bisa saya lakukan kapanpun. Jika satu saat saya relaps dan nggak tahan, udah gitu terapis saya tidak bisa membantu, saya bisa bunuh diri. Karena saya berhak untuk melakukannya, dan orang lain tidak berhak melarang. Dan pemikiran seperti ini, entah kenapa, membuat saya tenang. Membuat saya merasa siap untuk menghadapi masalah.

Selain itu, beberapa hal/cerita/image, masih bisa memicu keinginan bunuh diri.

Misalnya saya melihat instagram seorang illustrator yang mengalami depresi, saat saya sedang dalam episode bad days (bukan relaps, loh). Dia memajang foto pergelangan tangannya yang penuh luka sayatan silet yang baru dia lakukan beberapa jam sebelum foto diunggah. Hal itu, memicu saya. Entah kenapa, saya ingin mencobanya. Saya ingin menghilangkan rasa sakit di hati saya dengan membuat rasa sakit pada fisik saya. Tidak jadi saya lakukan karena cutter saya karatan, dan pisau dapur milik saya terlalu tumpul – tidak bisa dipakai buat nusuk-nusuk.

Lalu saat mendengar cerita seorang depresi yang bunuh diri, saya juga tergoda. Saya merasa ada “temannya”. Saya berpikir, “Dia aja ngelakuin. Kenapa gue, nggak?”

Tapi, syukurnya saya tidak dalam kondisi relaps. Saat saya dalam kondisi baik-baik saja, saya punya pikiran logis yang bisa membedakan mana hal yang wajar dan tidak wajar untuk dilakukan.

Tapi, jika saya sedang dalam kondisi depresi, saya nggak akan punya pikiran logis itu. Saya nggak akan punya pikiran, “Kalau menyayat tangan, gak ada gunanya. Bekasnya gak ilang. Eh pisaunya karatan, nih.”

Logika yang seperti itu, yang dimiliki semua manusia sehat, akan hilang gitu aja. Tidak akan muncul. Otak saya akan berhenti menyampaikan hal-hal rasional yang natural kita pikirkan atas dasar insting bertahan hidup.

Seperti itu lah bunuh diri bagi penderita depresi.

Stigma, hanya memperparah kondisi penderita depresi yang ingin bunuh diri. Ketika kamu menghakimi orang yang ingin bunuh diri dengan kata-kata seperti “pengecut”, “lebay”, “drama”, penderita depresi akan semakin ingin melakukannya.

Jika temanmu mengatakan ingin bunuh diri, dengarkan curhatannya tanpa menghakimi. Ajak dia ke psikolog. Tapi tetap hormati haknya jika dia menolak. Tunjukkin postingan saya agar dia mengerti, dia nggak sendirian.

Kalau dia pengen bunuh dirinya karena caper doang, gimana? First of all. Don’t judge. Kita nggak pernah tahu whether someone is faking it or not. Saya pribadi kesal memang kalau ada orang yang bluffing ingin bunuh diri karena, misalnya, ingin membuat pacarnya merasa bersalah. Tapi. Kita kan nggak tahu. Kita nggak tahu apa orang itu hanya mengancam atau betul-betul niat bunuh diri. Tetap dengarkan, dan anjurkan ke psikolog. Psikolog pada umumnya tahu, how to handle mereka yang hanya mengancam bunuh diri dengan mereka yang memang ingin bunuh diri.

Lagi pula, orang yang pura-pura ingin bunuh diri karena ingin memanipulasi orang lain agar diperhatiin/menuruti keinginannya itu juga bisa saja punya sakit mental. Karena sakit mental itu nggak cuma depresi doang. Ada penyakit-penyakit lainnya seperti narsistik, pathological liar, dll. Which, perlu juga ditangani oleh profesional, loh.

Sementara, untuk teman-teman yang ingin bunuh diri karena merasa tidak ada solusi atas masalah atau rasa sakit yang ada di dada kamu, percayalah, itu hanya karena depresi. Bukan karena sudah benar-benar tidak ada solusi. Solusinya ada, tapi kamu sedang nggak bisa melihat itu. Itu hanya hasil manipulasi dari depresi. Depresi menipumu dengan membuat kamu percaya kalau apa yang kamu rasain nggak akan ada ujungnya. Nggak ada jalan keluarnya.

Itu bohong, kebohongan hasil produksi depresi kamu. Jalan keluar selalu ada. Sedihmu tidak permanen.

Reach out, coba cerita ke sahabat kamu. Kalau kamu rasa nggak ada yang ngertiin kamu, ke psikolog. Terapis bisa bantu kamu, jangan skeptis dulu kalau belum dicoba. Kalau nggak ada dana, please, please banget kontak komunitas yang fokus ke mental health atau suicide prevention.

Ini adalah beberapa akun twitter yang fokus pada kesehatan mental. Reach the fuck out. You need that! Dan kamu nggak sendirian kok. Kalau saya bisa lewatin ini, kalian juga bisa. Asal kalian mau reach out dan minta pertolongan.

@IntoTheLight

@GetHappyYuk

@YayasanPulih

Kalau kata terapis saya gini, “Depresi itu kayak pilek, kok. Dengan pengobatan yang tepat, pasti bisa sembuh.”

Kalimat itu saya pegang terus menerus sampai sekarang 🙂

4 Salah Paham tentang Depresi

Hampir setahun lalu, saat saya mulai membahas tentang depresi sedikit demi sedikit, saya belum menemukan banyak artikel berbahasa Indonesia yang membahas depresi secara personal, bukan secara klinis. Terutama di twitter.

Ketika saya dalam fase depresi major, saya banyak googling soal gejala dan cara penyembuhannya. Itupun saya masih belum yakin 100% bahwa saya memang mengidap depresi. Artikel berbahasa Indonesia kebanyakan membahas depresi secara klinis, atau menceritakan keadaan pasien. Ada juga artikel tanya jawab konsultasi yang diinisiasi pakar-pakar psikolog. Namun banyak yang tidak update. Saya mengirim email, tidak dibalas. Postingan pun tidak di-update sejak lama.

Jika ada postingan blog, kebanyakan adalah orang-orang yang sedang bersedih dan mengaku depresi. Saya mencocokkan gejala saya dengan mereka, kok beda jauh banget. Kenapa mereka nggak kayak saya? Akhirnya saya memutuskan mencari artikel berbahasa Inggris saja, dan saya menemukan banyak sekali blog personal yang membahas depresi mereka secara detail. Begitu juga tips dan trik dari mereka untuk melawan depresi. Yang sialnya saya ikuti tanpa ke dokter dahulu.

Akhirnya saya hidup dalam depresi nyaris selama 2 tahun. 2 tahun yang melelahkan. Sampai akhirnya saya memutuskan ke psikolog.

Kini depresi sudah biasa dibahas di socmed. Mungkin karena ada beberapa komunitas yang fokus pada kesehatan jiwa yang mulai aktif. Padahal setahun lalu saya tidak menemukan mereka di halaman google. God bless them!

Tapi seiring banyaknya orang yang membahas soal depresi, saya juga mendapati banyak yang masih salah kaprah soal penyakit mental yang satu ini.

Berikut ini beberapa salah paham soal depresi. Dan mohon diingat. Saya membahasnya dalam kapasitas sebagai penderita depresi, bukan sebagai ahli.

1. Depresi = Sedih Berkepanjangan

Sedih dan depresi itu beda. Beda jauh. Pada depresi, ada gejala-gejala lain yang mengikuti selain galau dan murung; perubahan nafsu makan, masalah tidur, gelisah, suicidal, kecenderungan mengasingkan diri, abusing alkohol, perubahan berat badan yang drastis, rasa sakit pada tubuh, dan masih banyak lagi. Dan depresi tidak selalu datang karena ada masalah. Tolong diingat. Kadang depresi datang begitu saja seperti maling, kemudian mencuri semangat hidup kami. Ketika depresi datang, justru kami menjadi sedih akan semua hal. Atau malah sebaliknya, kami nggak bisa merasakan apapun. Makanan nggak ada rasanya, hobi kami jadi tidak menarik, kami melupakan hal-hal yang kami sukai, bahkan kehilangan hasrat seksual.

2. Curhat dan Yoga Bisa Menyembuhkan Depresi

Curhat memang bisa membantu melawan depresi. Karena salah satu yang dibutuhkan pengidap depresi adalah merasa didengar dan dimengerti, melawan perasaan bahwa kami hanya sendirian di dunia ini. Yoga juga bisa membantu, bagi sebagian orang. Ada juga malah yang nggak ngefek pake yoga. Karena setiap orang punya pengalihan yang berbeda. Untuk saya, berenang lebih membantu daripada yoga.

Tapi kegiatan tersebut tidak dapat menyembuhkan depresi. Seperti misalnya kalau kamu sakit tyfus. Curhat, dan yoga, atau berenang itu kayak makan bubur, minum air hangat, sebatas membantu kita merasa lebih baik, nggak lebih. Hanya obat dan istirahat yang bisa benar-benar membuat kamu sembuh.

3. Orang yang Depresi Pasti Malu Mengakui Penyakitnya

Kalau kamu googling soal depresi, kamu akan menemukan banyak banget pengidap depresi yang secara terbuka membahas penyakit mereka.

Kenapa? Mungkin karena alasan yang sama dengan saya.

Ketika saya depresi, saya makin down menyadari bahwa hampir tidak ada orang yang mengerti kondisi saya. Saya sampai nyaris putus asa mencari tempat berbagi atau minimal informasi yang bisa membantu saya. Membaca blog para pengidap depresi merupakan semacam oase untuk saya. Saya merasa ada yang mengerti saya. Saya merasa terbantu dengan artikel-artikel mereka, termasuk tips yang mereka bagi.

Karena itu, saya terbuka perihal depresi saya, untuk berbagi dengan orang-orang yang merasakan apa yang saya rasakan. Saya tidak ingin orang lain merasakan apa yang saya rasakan dulu. Putus asa sendirian dan merasa tidak dimengerti. Tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan tentang apa yang saya rasakan.

Di lain pihak, saya nggak pernah sharing soal ini di facebook. Karena di facebook ada saudara dan tetangga. Ya, saya sendiri masih takut pada stigma dari orang-orang tertentu. Saya nggak ingin tetangga atau keluarga besar saya tahu. Karena saya takut dianggap “miring”. Saya takut orang lain juga memandang orang tua saya sebagai orang tua yang tak becus. Saya juga takut jika suatu saat saya pindah kerja, perusahaan baru nanti tidak bisa menerima kondisi saya.

Jadi jawabannya antara ya dan tidak. Untuk di beberapa kondisi, kami tidak malu mengakui mengidap depresi. Tapi mungkin di lingkungan tertentu, kami malah takut banget orang lain tahu.

4. Orang Depresi Selalu Terlihat Emo dan Galau

Seperti yang saya bilang di postingan sebelum ini, kenyataannya pengidap depresi justru sering terlihat aktif dan ceria. Tapiiii… kalau ini depresi major, memang nggak selalu terlihat seperti itu. Bisa aja dia nggak mau keluar kamar 3 bulan, atau terus-terusan membicarakan bunuh diri, atau mengasingkan diri, menangis terus-terusan, atau mabuk-mabukkan tanpa kontrol selama berbulan-bulan. Tapi pada intinya, jangan pernah termakan dengan akting-akting di televisi. Depresi lebih rumit daripada itu.

Pengidap depresi justru pejuang, kami nggak mau terjebak di dalam kondisi seperti ini terus menerus dengan whining, fokus membahas kesedihan kami, apalagi minta dikasihani. Memang sesekali kami drop dan murung. Tapi itu kami lakukan bukan dengan sengaja, bukan karena kami menikmati kesedihan kami. Kami simply kehilangan kemampuan untuk mengontrol pikiran-pikiran negatif atau mengalihkan ke hal lain. Apa yang biasanya berhasil bikin tenang, bisa jadi tidak berefek apapun, dan itu malah bikin kami tambah “down”.

Saya sadar, orang yang nggak pernah depresi nggak akan bisa mengerti kayak apa rasanya. Tapi karena itu lah saya menulis artikel kayak gini. Biar semakin banyak orang yang mengerti, semakin banyak yang aware.

Semoga mereka yang memiliki teman yang sedang depresi, bisa lebih mengerti kondisi pengidap depresi. Tidak menghakimi apalagi mentertawakan (saya soalnya sempat diketawain dan dijadiin bahan ejekan oleh teman-teman saya sendiri).

Dan saat ada seseorang yang nggak sadar dirinya depresi kemudian mencari jawaban di internet, mudah-mudahan dia nyasar ke blog ini, kemudian mengerti kalau dia nggak sendirian.