Mengapa Sebaiknya Kita Tidak Diam?

Beberapa minggu belakangan ini, ada hal yang mengganggu saya.

Awal mula saya menulis tentang depresi, mungkin sekitar tahun 2014, dan saat itu saya belum sadar bahwa saya mengidap depresi, dan apakah sebenarnya depresi itu. Tahun 2014, saya mengalami relaps, dan menurut psikolog saya belakangan pada tahun 2015 akhir, apa yang saya alami saat itu adalah MDD, atau Major Depressive Disorder.

Saat itu, saya yang belum mengerti apa yang sedang saya alami, hanya memiliki menulis di blog dan twitter untuk mengekspresikan rasa sakit tak tertahankan yang saya alami. Tentu saja bukan hanya menulis yang saya lakukan untuk berusaha menyembuhkan atau setidaknya melarikan diri dari rasa sakit. Saya mengambil sidejob yang banyak, agar bisa melarikan diri dari pikiran saya. Saya menenggelamkan diri dalam alkohol agar bisa lupa dan tidur, ikut komunitas menggambar, traveling, meditasi, tidur sembari mendengarkan soundwave, menggunakan aroma therapy, berkencan, bermain dengan teman-teman saya, olah raga, menonton film, membaca buku, semuanya saya lakukan agar merasa lebih baik.

Menulis hanyalah satu dari sekian pelarian yang saya miliki.

Saya ingat pada masa itu, saya butuh wadah untuk mewujudkan rasa sakit saya dalam bentuk kata-kata. Dan blog ini adalah wadah saya.

Loh, kenapa tidak menulis di buku harian saja? Tentu saja saya punya buku harian, yang berisi pikiran-pikiran tergelap saya. Tapi bagaimana caranya saya bisa membuat orang lain mengerti atau setidaknya tahu apa yang sedang saya alami di kepala saya jika saya tidak menulis di blog?

Tentu saja, menulis di blog ada resikonya. Nggak semua respond positif, kok. Ada teman-teman yang menertawakan tulisan saya, ada yang menjadikan saya bahan ejekan, walau ada juga yang menyemangati saya dan meminta maaf karena tidak tahu apa saja yang saya alami selama ini. Dan jika saya tidak menulis di blog saya, ada kah yang akan datang dan meraih tangan saya?

Akhirnya, setelah hampir dua tahun hidup dengan depresi yang tidak ditangani dengan benar, saya memutuskan ke psikolog. Selain itu, saya juga membaca-baca artikel tentang depresi – bukan artikel pop yang memvalidasi dan meromantisasi depresi, melainkan artikel dan tulisan blog pribadi maupun komunitas yang mengajarkan bagaimana cara melawan depresi, bagaimana cara mengerti depresi, bagaimana cara mengenali gejala depresi dan cara menanganinya.

Tulisan- tulisan ini menolong saya. Menolong saya mengenali depresi, membantu saya tidak merasa sendirian, membantu saya lebih mengerti tentang penyakit saya. Sesuatu yang awalnya saya kira tidak memiliki jalan keluar dan bersifat permanen, sesuatu yang awalnya membuat saya takut untuk terus hidup. Ternyata, depresi adalah penyakit yang cukup banyak diderita orang, pengidapnya mencapai kira-kira 300 juta orang menurut WHO.

FYI, di tahun 2014-2015, ketika saya mencoba mencari informasi tentang depresi di media online, nyaris tidak ada informasi berbahasa Indonesia. Tidak ada tips, trik, penjelasan, info akses psikolog/psikiater yang jelas, komunitas yang bisa membantu. Tidak ada. Semua itu nggak ada. Ada info nomor telepon cegah bunuh diri, yang ternyata tidak aktif. Lalu hotline bunuh diri dari Depkes, saya telepon, tidak ada yang menjawab. Bayangkan betapa putus asanya saya waktu itu. Tidak ada satupun orang, komunitas, institusi, atau apapun yang bisa saya tanya soal apa yang saya alami.

Hanya ada satu artikel blog, dari seorang perempuan yang menderita mental illness dan harus ke psikiater. Artikel itu berhenti di sang perempuan tidak melanjutkan pengobatan karena biayanya terlalu mahal. Tidak ada tips atau penjelasan apapun.

Saat itu, saya merasa sangat sendirian.

Setelah beberapa kali terapi dan mulai bergabung dengan komunitas yang fokus pada mental illness, saya memberanikan diri berbagi tentang penyakit saya secara terbuka di blog ini. Dan tidak lama setelah itu, saya mulai melihat (atau mungkin saya baru menyadari) banyak orang dan komunitas yang berbicara tentang mental illness.

Tujuan awal saya menulis tentang mental illness pada mulanya hanya agar orang lain yang seperti saya tidak merasakan apa yang saya rasakan; tidak merasa sendirian dan kebingungan, dan tahu kapan harus ke psikolog/psikiater. Ditambah lagi saya kemudian bergabung dengan komunitas yang berfokus ke mental illness dan pencegahan bunuh diri, Into The Light.

Dari Into The Light, saya belajar banyak banget, dan mata saya terbuka soal hal-hal yang dihadapi penderita mental illnes. Salah satunya adalah STIGMA. Salah satu fokus dari kegiatan Into The Light; melawan stigma terhadap penderita mental illness. Dan memang itu juga yang saya alami.

Waktu saya belum mengerti bahwa saya mengidap depresi, saya melakukan banyak hal di luar nalar; abuse alkohol, oversharing di internet, dan ngetwit tanpa henti. Kenapa? Simply karena saya nggak bisa mengontrol diri saya dan pikiran saya. Pikiran saya jalan terus, dan saya nggak mungkin nelpon semua orang yang saya kenal selama 24 jam, although, i did call people every single day, to talk about what was going on in my head. Nangis-nangis 2 jam sambil ngomongin hal yang sama berulang-ulang kayak kaset rusak. Pagi, siang, sore, malam. Tapi itu nggak cukup. In between, i tweeted, a lot. Like… A LOT.

Saya jadi bahan ketawaan, dan kadang ada juga orang-orang yang nyuruh saya diem dan berhenti ngetwit. But i couldn’t help it. Saya nggak bisa kontrol diri saya dan isi pikiran saya. That time, i needed help, but no one understood. Yang mereka lihat hanya cewek galau berlebihan yang ngetwit karena caper. Masa itu, nggak ada orang yang ngerti depresi itu apa, termasuk saya sendiri.

Saya yang sekarang, jauh berbeda dengan saya yang dulu. Bertahun-tahun kemudian saya memutuskan ke psikiater (well nggak juga, sih, niatnya ganti psikolog aja tapi saya nggak lihat gelarnya, main bikin janji, tau-tau psikiater). Dan saya bersyukur sudah memutuskan ke psikiater. Apa yang tidak bisa dibantu oleh psikolog saya, ternyata bisa dibantu oleh psikiater. Saya jauh lebih baik.

Tapi keinginan saya untuk menulis tetap ada. Semakin saya mengenali penyakit saya, semakin saya ingin berbagi, agar orang-orang lebih mengerti, agar orang lain yang mengalami hal yang sama dengan saya, nggak merasa sendirian. Karena itu yang saya rasakan ketika akhirnya menemukan blog-blog penderita mental illness dari negara lain yang secara terbuka menjelaskan penyakitnya dan membantu mengajarkan bagaimana cara menanganinya.

Tentu saja, kadang saya menulis bukan karena itu, kadang saya menulis karena saya butuh katarsis untuk mengejawantahkan rasa sakit saya sebagai bentuk fisik yang bisa dilihat. Sebagai tulisan.

Dan mungkin… kadang merupakan permintaan pertolongan yang tidak saya sadari karena saya bingung harus cerita apa ke siapa.

Dalam menulis blog atau twit, bagi saya tantangan terbesarnya adalah stigma.

Itu lah yang akhir-akhir ini mengganggu saya. Saya semakin menyadari bahwa dengan meningkatnya awareness soal mental illness, arus stigmatisasi pun semakin kencang. Salah satu hal yang membuat saya sedih, kadang stigma itu datang dari teman sendiri, maupun dari penderita mental illness.

Kadang saya temukan komentar yang kira-kira seperti ini, “Ah, gue juga penderita mental illness, tapi gue gak se-drama elo, deh.” atau, “Gue penderita mental illness, tapi gak whining kayak lo. Gue fokus ke penyembuhan.”

Kamu punya mental illness dan bisa handle dengan baik? Then good for you.

Tapi apakah semua pengidap mental illness harus sama seperti kamu? Apakah menyuruh orang lain diam dan berpura-pura baik-baik saja bisa menyembuhkan orang lain?

Atau komentar lainnya dari teman-teman sendiri, “Daripada kamu ngetwit galau, mending kamu diem aja dan kontak temen-temen kamu.”

All i can say… Chester Bennington, Robin Williams, dan banyak orang lainnya yang memilih diam, tidak membicarakan tentang mental illnesnya secara terbuka, berakhir membunuh dirinya. Why do you try to silence people with mental illness if you’re not going to help them?

Mental illness nggak melulu soal galau kemudian curhat dan semuanya selesai.

Kadang mental illness adalah tentang keinginan aneh untuk nggak keluar kamar dan melakukan apapun selama berhari-hari, tentang tidak ingin berinteraksi dengan siapapun hingga kalian meng-uninstall whatsapp dan semua aplikasi chat, tentang duduk sendiri di sudut kamar menangis dalam gelap. Tentang tidak ingin melakukan hobi-hobi yang biasanya membuatmu senang, seperti menggambar atau berfoto. Tentang pikiran-pikiran aneh irasional di kepalamu, yang saking nggak masuk akalnya, kamu nggak berani cerita ke siapapun.

Bagaimana caranya curhat ke teman kalau kondisimu seperti itu?

Belum lagi ketika sesama penderita mental illness saling membanding-bandingkan penyakitnya. Kayak, “Gue loh, bipolar + PTSD + depresi + panu kadas kurap, pokoknya penyakit gue lebih parah dari elo, tapi gue gak cengeng kayak lo.”

Saya sih, kalo ada yang ngomong begitu, bawaannya mikir, lah situ emang gak sakit kali? Kok ya bisa ngaku sakit tapi nggak empati? You’ve been there, but you can’t understand how hurt it is? How come?

Banyak cara dilakukan oleh orang-orang untuk merendahkan penderita mental illness dengan stigma. Dan kadang, dari pengalaman saya, stigma itu nggak cuma diberikan oleh orang normal, sesama penderita mental illness pun bisa loh saling discourage. Itu menyedihkan.

Buat saya nggak ada bedanya dengan perempuan yang berkomentar kepada sesama perempuan korban pelecehan seksual, “Saya juga pernah dilecehkan oleh laki-laki, tapi saya lawan. Mbak kenapa diem aja? Harusnya lawan juga, dong.”

Buat apa glorifikasi diri sendiri sebagai survivor mental illness kalau tujuannya adalah untuk menjatuhkan penderita mental illness lainnya?

Ada 2-3 orang dalam linimasa twitter saya, yang kerap melakukan shitposting soal mental illness, yang berteriak betapa mereka ingin mati saja, dan betapa sakitnya mereka. Saya nggak bisa nggak melihat itu sebagai permintaan tolong. Banyak yang bilang mereka caper. Apakah iya mereka caper? Well tentu saja. Karena mungkin hanya cara itu yang mereka tahu untuk menunjukkan ke orang lain bahwa mereka butuh pertolongan. Who am i to judge and to silence them?

Ada juga orang-orang dengan diagnosa bipolar dan mental illness lainnya yang nggak pernah posting apa-apa di socmed selain postingan yang hepi-hepi, tapi sesekali akan menelpon saya sambil menangis menjerit-jerit mengatakan mereka nggak sanggup lagi. Yang ketakutan bilang nggak boleh ada satupun kenalan mereka yang tahu penyakit mereka entah karena takut dipecat, atau takut diketawain bisa punya mental illness dan bereaksi berlebihan hanya karena masalah-masalah kecil.

Are we going to be that person who discourage them to express themselves?

I refuse to silence people with mental illness. I refuse to judge how they express their pain. And i refuse to stop writing just because some people in my life told me to do so. Other people’s writings have helped me through my darkest times. Dan ada pula orang-orang yang reach out ke saya via email, blog, DM di instagram dan twitter, yang menyatakan tulisan saya telah menolong mereka. I just don’t post it.

Saya nggak posting email dan DM yang saya terima karena saya nggak mau encourage orang untuk curhat sama saya, since i am not compatible for that. Dan saya juga nggak mau glorifikasi diri saya dan tulisan saya seakan apa yang saya lakukan ini istimewa. But at least i know… tulisan saya ternyata membuat beberapa orang merasa terbantu dan termotivasi. Membuat orang-orang seperti saya nggak merasa sendirian. Dan seenggaknya, membuat beberapa teman saya lebih sedikit mengerti tentang apa yang saya rasakan dan pikirkan.

Tentu, dibandingkan tahun lalu, tulisan saya jauh lebih sedikit karena saya memiliki banyak coping mechanism lain dan saya sendiri merasa jauh lebih baik. Dan kadang saya hanya menulis karena saya sedang mengalami fase yang buruk sehingga butuh katarsis.

Tapi apakah saya harus berhenti menulis? Apakah orang-orang seperti saya harus berhenti mengekspresikan dirinya sendiri hanya agar tidak dihakimi dan dicemooh orang lain?

Jalan menuju kewarasan memang berat, tapi saya rasa, selama kita nggak abuse orang lain, alkohol, apalagi narkoba untuk coping mechanism, seharusnya kita tidak perlu takut dan malu.

Tulis saja dulu. Lawan stigma dengan kejujuran dan niat baik. Selama kita nggak menjelek-jelekkan atau menghina orang lain, kenapa harus takut dan malu? Kalau tidak ada orang yang menulis tentang mental illness, saya nggak akan pernah belajar apa itu depresi dan maju melakukan sesuatu yang real untuk menyembuhkan penyakit saya. Kalau saya tidak menemukan blog orang-orang yang berjuang dengan mental illness dan jujur tentang kegagalan dan ketakutan mereka, saya nggak akan tahu bahwa saya tidak sendirian. Saya akan minder dengan orang-orang yang mengaku bisa melakukan hal-hal hebat disamping mengidap mental illness. Saya akan putus asa melihat orang-orang yang mengglorifikasi keberhasilan mereka melawan mental illness tanpa menjelaskan support dan privillege apa saja yang mereka punya dan perjuangan panjang yang mereka lalui.

Bagaimana dengan stigma? Diterima saja. Sesama penderita mental illness saja bisa melempar stigma, apalagi orang awam yang ngaku “dulu saya depresi, tapi sembuh setelah mendekatkan diri ke tuhan” tanpa mendapat diagnosa resmi dari professional. Bahkan temen deket sendiri pun bisa mencap kita dengan stigma.

Tapi, mungkin dengan menulis, sedikitnya ada 1 orang yang membaca dan dari tidak mengerti jadi mengerti. Dari skeptis menjadi simpati. Atau ada 1 penderita mental illness yang kesepian, kemudian jadi merasa tidak sendiri.

PS: Saya menolak self-diagnose yang tidak dilanjuti dengan penanganan professional. Jika kamu merasa memiliki mental illness dan tidak memiliki dana cukup untuk berobat, silakan hubungi puskesmas atau RSUD untuk penanganan dengan biaya yang lebih terjangkau. Hindari self-diagnose. Please.

4 Salah Paham tentang Depresi

Hampir setahun lalu, saat saya mulai membahas tentang depresi sedikit demi sedikit, saya belum menemukan banyak artikel berbahasa Indonesia yang membahas depresi secara personal, bukan secara klinis. Terutama di twitter.

Ketika saya dalam fase depresi major, saya banyak googling soal gejala dan cara penyembuhannya. Itupun saya masih belum yakin 100% bahwa saya memang mengidap depresi. Artikel berbahasa Indonesia kebanyakan membahas depresi secara klinis, atau menceritakan keadaan pasien. Ada juga artikel tanya jawab konsultasi yang diinisiasi pakar-pakar psikolog. Namun banyak yang tidak update. Saya mengirim email, tidak dibalas. Postingan pun tidak di-update sejak lama.

Jika ada postingan blog, kebanyakan adalah orang-orang yang sedang bersedih dan mengaku depresi. Saya mencocokkan gejala saya dengan mereka, kok beda jauh banget. Kenapa mereka nggak kayak saya? Akhirnya saya memutuskan mencari artikel berbahasa Inggris saja, dan saya menemukan banyak sekali blog personal yang membahas depresi mereka secara detail. Begitu juga tips dan trik dari mereka untuk melawan depresi. Yang sialnya saya ikuti tanpa ke dokter dahulu.

Akhirnya saya hidup dalam depresi nyaris selama 2 tahun. 2 tahun yang melelahkan. Sampai akhirnya saya memutuskan ke psikolog.

Kini depresi sudah biasa dibahas di socmed. Mungkin karena ada beberapa komunitas yang fokus pada kesehatan jiwa yang mulai aktif. Padahal setahun lalu saya tidak menemukan mereka di halaman google. God bless them!

Tapi seiring banyaknya orang yang membahas soal depresi, saya juga mendapati banyak yang masih salah kaprah soal penyakit mental yang satu ini.

Berikut ini beberapa salah paham soal depresi. Dan mohon diingat. Saya membahasnya dalam kapasitas sebagai penderita depresi, bukan sebagai ahli.

1. Depresi = Sedih Berkepanjangan

Sedih dan depresi itu beda. Beda jauh. Pada depresi, ada gejala-gejala lain yang mengikuti selain galau dan murung; perubahan nafsu makan, masalah tidur, gelisah, suicidal, kecenderungan mengasingkan diri, abusing alkohol, perubahan berat badan yang drastis, rasa sakit pada tubuh, dan masih banyak lagi. Dan depresi tidak selalu datang karena ada masalah. Tolong diingat. Kadang depresi datang begitu saja seperti maling, kemudian mencuri semangat hidup kami. Ketika depresi datang, justru kami menjadi sedih akan semua hal. Atau malah sebaliknya, kami nggak bisa merasakan apapun. Makanan nggak ada rasanya, hobi kami jadi tidak menarik, kami melupakan hal-hal yang kami sukai, bahkan kehilangan hasrat seksual.

2. Curhat dan Yoga Bisa Menyembuhkan Depresi

Curhat memang bisa membantu melawan depresi. Karena salah satu yang dibutuhkan pengidap depresi adalah merasa didengar dan dimengerti, melawan perasaan bahwa kami hanya sendirian di dunia ini. Yoga juga bisa membantu, bagi sebagian orang. Ada juga malah yang nggak ngefek pake yoga. Karena setiap orang punya pengalihan yang berbeda. Untuk saya, berenang lebih membantu daripada yoga.

Tapi kegiatan tersebut tidak dapat menyembuhkan depresi. Seperti misalnya kalau kamu sakit tyfus. Curhat, dan yoga, atau berenang itu kayak makan bubur, minum air hangat, sebatas membantu kita merasa lebih baik, nggak lebih. Hanya obat dan istirahat yang bisa benar-benar membuat kamu sembuh.

3. Orang yang Depresi Pasti Malu Mengakui Penyakitnya

Kalau kamu googling soal depresi, kamu akan menemukan banyak banget pengidap depresi yang secara terbuka membahas penyakit mereka.

Kenapa? Mungkin karena alasan yang sama dengan saya.

Ketika saya depresi, saya makin down menyadari bahwa hampir tidak ada orang yang mengerti kondisi saya. Saya sampai nyaris putus asa mencari tempat berbagi atau minimal informasi yang bisa membantu saya. Membaca blog para pengidap depresi merupakan semacam oase untuk saya. Saya merasa ada yang mengerti saya. Saya merasa terbantu dengan artikel-artikel mereka, termasuk tips yang mereka bagi.

Karena itu, saya terbuka perihal depresi saya, untuk berbagi dengan orang-orang yang merasakan apa yang saya rasakan. Saya tidak ingin orang lain merasakan apa yang saya rasakan dulu. Putus asa sendirian dan merasa tidak dimengerti. Tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan tentang apa yang saya rasakan.

Di lain pihak, saya nggak pernah sharing soal ini di facebook. Karena di facebook ada saudara dan tetangga. Ya, saya sendiri masih takut pada stigma dari orang-orang tertentu. Saya nggak ingin tetangga atau keluarga besar saya tahu. Karena saya takut dianggap “miring”. Saya takut orang lain juga memandang orang tua saya sebagai orang tua yang tak becus. Saya juga takut jika suatu saat saya pindah kerja, perusahaan baru nanti tidak bisa menerima kondisi saya.

Jadi jawabannya antara ya dan tidak. Untuk di beberapa kondisi, kami tidak malu mengakui mengidap depresi. Tapi mungkin di lingkungan tertentu, kami malah takut banget orang lain tahu.

4. Orang Depresi Selalu Terlihat Emo dan Galau

Seperti yang saya bilang di postingan sebelum ini, kenyataannya pengidap depresi justru sering terlihat aktif dan ceria. Tapiiii… kalau ini depresi major, memang nggak selalu terlihat seperti itu. Bisa aja dia nggak mau keluar kamar 3 bulan, atau terus-terusan membicarakan bunuh diri, atau mengasingkan diri, menangis terus-terusan, atau mabuk-mabukkan tanpa kontrol selama berbulan-bulan. Tapi pada intinya, jangan pernah termakan dengan akting-akting di televisi. Depresi lebih rumit daripada itu.

Pengidap depresi justru pejuang, kami nggak mau terjebak di dalam kondisi seperti ini terus menerus dengan whining, fokus membahas kesedihan kami, apalagi minta dikasihani. Memang sesekali kami drop dan murung. Tapi itu kami lakukan bukan dengan sengaja, bukan karena kami menikmati kesedihan kami. Kami simply kehilangan kemampuan untuk mengontrol pikiran-pikiran negatif atau mengalihkan ke hal lain. Apa yang biasanya berhasil bikin tenang, bisa jadi tidak berefek apapun, dan itu malah bikin kami tambah “down”.

Saya sadar, orang yang nggak pernah depresi nggak akan bisa mengerti kayak apa rasanya. Tapi karena itu lah saya menulis artikel kayak gini. Biar semakin banyak orang yang mengerti, semakin banyak yang aware.

Semoga mereka yang memiliki teman yang sedang depresi, bisa lebih mengerti kondisi pengidap depresi. Tidak menghakimi apalagi mentertawakan (saya soalnya sempat diketawain dan dijadiin bahan ejekan oleh teman-teman saya sendiri).

Dan saat ada seseorang yang nggak sadar dirinya depresi kemudian mencari jawaban di internet, mudah-mudahan dia nyasar ke blog ini, kemudian mengerti kalau dia nggak sendirian.

Untuk Seorang yang Depresi, Kamu Tidak Terlihat Depresi

“Tapi kok, elo nggak keliatan kayak orang depresi, Le?”

Ini kalimat yang diucapkan oleh seorang teman yang sudah 6 bulan nggak ketemu ketika saya menceritakan sebenarnya saat saya masih sering ketemu dia, saya mengikuti terapi di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta untuk mengatasi depresi saya. Teman saya ini melihat kondisi saya setiap hari saat sedang dalam fase depresi mayor; menangis setiap hari, tidak makan, minum kopi dan merokok secara berlebihan, lupa menghadiri meeting, lupa deadline, mengurus dengan drastis. Saat itu seperti saya, dia juga bingung dengan keadaan saya.

Saya nggak tersinggung mendapat pertanyaan seperti ini. Saya mengerti banget bahwa kebanyakan orang punya persepsi yang salah tentang depresi. Karena, sebelum saya ke psikolog, saya juga salah kaprah soal depresi.

Depresi itu nggak seperti di film-film hollywood. Terlihat seperti anak emo, penuh sayatan di tangan, mengurung diri di kamar, tidak mau ngobrol dengan siapapun. Oke. Memang hal-hal tersebut bisa terjadi. Saya kadang berada di fase mengurung diri di kamar dengan lampu dimatikan, hanya tiduran sambil melamun menatap langit-langit kamar. Ada juga orang lain yang menyayat-nyayat tangan. Intinya, behaviour depresi tidak sama pada semua orang. Dan ketika kamu hidup cukup lama dengan depresi, kamu jadi terbiasa dengan keadaan itu, sehingga kamu bisa tertawa, ceria, aktif, walau kamu mengidap depresi.

Tentang depresi, keadaan ini nggak sama dengan stress atau sedih. Stress dan tertekan sangat wajar dialami manusia. Beberapa hari drop, susah makan, susah tidur, dan murung saat ada masalah, merupakan emosi yang wajar.

Kamu baru bisa bilang dirimu depresi ketika keadaan seperti itu berlangsung hingga hitungan bulan, setiap hari. Iya setiap hari. Bukan hanya saat ada masalah. Dan keadaan itu membuatmu begitu putus asa sampai kamu percaya, kamu nggak punya solusi, dan bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar.

Kalau kalian googling soal depresi, kalian akan menemukan istilah bad days, good days, dan relaps. Itu bener banget.

Saya nggak terlalu mengerti definisi tepatnya ketiga istilah itu. Tapi saya mengkategorikan sendiri berdasarkan gejala saya.

Good days adalah hari di mana saya tidur dengan baik, konsumsi rokok dan kopi saya tidak banyak, kerjaan bisa saya selesaikan dengan cepat dan tetap teliti, makan dengan teratur dan bisa menikmati makanan saya, serta semangat olah raga.

Bad days adalah hari di mana saya susah tidur, tidak nafsu makan, merokok lebih sering, kopi lebih sering, susah konsentrasi di kantor, merasa kesepian dan murung tanpa alasan. Namun, pada fase ini, saya masih bisa nongkrong dan main dengan happy karena bertemu dengan teman-teman saya menjadi semacam obat. Perlu diketahui, bad days datang tanpa alasan. Saya tidak perlu memiliki alasan untuk murung. Semua itu datang begitu saja. Dan saya harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bangun, mandi, ganti baju, bekerja, bahkan sekedar nongkrong di kafe bersama teman-teman saya.

Relaps adalah ketika saya mulai ngaco. Nggak mau ketemu siapapun, sensitif, menangis tanpa alasan, insomnia, ingin bunuh diri, mimpi buruk, overthinking, teringat hal-hal menyedihkan, merasakan ketakutan-ketakutan berlebihan, tidak ingin melakukan apapun selain tidur dan melamun. Dan biasanya ini terjadi menjelang PMS karena pengaruh hormon, atau  ada trigger yang tidak saya sadari dan tidak saya cegah waktu masih dalam fase bad days.

Dalam fase ini kadang saya ingin bertemu terapis saya kembali. Tapi saya menahan diri dan mencoba mencari solusi sendiri karena ingin menghemat uang. Mengingat biaya ke psikolog cukup mahal untuk saya. Biasanya, fase ini akan hilang begitu saja. Terutama setelah saya dibantu kembali ke jalur yang benar oleh sahabat-sahabat saya.

Karena saya pernah berada dalam fase depresi mayor, saya jadi memiliki indikator kapan depresi saya sudah berbahaya. Jika saya menuju fase tersebut, tanpa pikir panjang tentu saja saya akan kembali ke psikolog. Untuk itu, saya belajar mengatur kartu kredit dan menyisihkan gaji untuk tabungan. Kalau-kalau suatu saat saya harus terapi dalam hitungan bulan lagi.

Namun, in general, saya memang terlihat baik-baik saja.

Karena memang seperti itu lah penderita depresi.

Jika kamu sudah memiliki depresi dalam jangka waktu yang lama, kamu akan belajar menyembunyikan kegelisahan, ketakutan, dan kesedihanmu di depan umum. Bukan belajar juga, sih. Semuanya kamu lakukan sekedar karena terbiasa. Seiring waktu, kamu semakin selektif untuk curhat karena kamu sudah tahu mana orang yang mengerti kondisimu, mana yang nggak. Karena ketika kamu curhat lalu lawan bicaramu menanggapi dengan negatif atau skeptis dengan keadaanmu, yang ada kamu malah semakin sedih, merasa bersalah, dan membenci dirimu sendiri.

Mungkin kalau kamu ketemu orang yang sedang mengalami depresi mayor, baru terlihat. Ketika berat badan menurun atau meningkat drastis, ngomongnya mulai ngelantur, atau malah menyembunyikan diri dan tidak mau ketemu siapapun, bahkan sampai tidak mau berangkat kerja. Percayalah. Itu bukan pemandangan yang indah. Buat orang yang nggak paham tentang depresi, malah terlihat alay dan drama.

Dan ada juga yang seperti saya. Dengan kecenderungan depresi sejak usia remaja, tetap terlihat rame, berisik, tidak punya masalah dengan bersosialisasi. Bahkan saya bisa curhat masalah berat saya sambil ketawa. Karena hanya sedikit yang saya beritahu pikiran-pikiran gelap saya. Hanya sedikit yang mendengar saya menangis sambil meracau tentang hal-hal yang cuma ada di pikiran saya.

Depresi tidak seperti apa yang ditunjukkan dalam film atau novel. Dan depresi tidak cukup diatasi dengan berdoa, bersyukur, yoga, olah raga, curhat, travelling, atau menulis buku harian. Nasehat untuk melakukan itu nggak ada gunanya. Karena, percaya lah, kami mencoba melakukan hal-hal yang menurut kami bisa dilakukan untuk melawan depresi. Namun tiap orang memiliki pelarian yang berbeda, dan apa yang berhasil hari ini belum tentu berhasil minggu depan. Kadang, untuk melakukan hal simpel seperti menggambar dan menulis (untuk saya), menjadi terasa sangat sulit dilakukan walau 2 hal tersebut adalah katarsis yang paling saya sukai.

Setiap penderita depresi memiliki perilaku serta “pelarian” yang berbeda. Saya hanya kenal 1 orang yang didiagnosa depresi seperti saya. Tapi kami jelas memiliki sikap dan penenang yang berbeda. Satu yang pasti, kami sama-sama suka tertawa. Kamu nggak bisa memiliki standar general tentang bagaimana seorang depresi harus terlihat, because there’s no such thing.

Maka, lain kali, jika seseorang bilang padamu bahwa ia sedang depresi, jangan memberi penilaian sendiri. Kamu bukan psikolog. Lebih baik dengarkan jika ia ingin curhat. Anjurkan ia untuk mencari bantuan professional, tapi jangan dipaksa.

Mungkin orang itu bukan depresi. Mungkin cuma galau atau stress, dan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Walaupun itu hal yang normal dirasakan oleh siapapun yang sedang dalam masalah atau banyak pikiran, tapi nggak ada salahnya untuk menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi đŸ™‚